Crazy Rich Mencari Cinta

Crazy Rich Mencari Cinta
Bab 99 : Kamu tidak mencintainya, kan?


__ADS_3

Ditya melangkahkan kaki, keluar dari jet pribadi milik keluarga Halim Hadinata. Wajahnya terlihat datar, menyembunyikan panik dan khawatir. Begitu mendengar istrinya berkunjung ke rumah sang kakak, pria itu menggila. Dan Matt, sang asisten menjadi pelampiasan.


Setengah berlari, keluar dari bandara Halim Perdana Kusuma. Matt mengumpat kesal saat harus ikut mengekor di belakang sang majikan.


Bruk!


Tabrakan tubuh tak terelakan. Ditya yang buru-buru tanpa sengaja menyenggol seseorang di parkiran.


“Maaf, saya buru-buru.” Tanpa melihat lagi siapa yang ditabraknya, ia melenggang pergi begitu saja.


“Crazy Rich Surabaya ... Ditya Lim!” teriak seorang pria, menatap punggung Ditya yang baru saja menabraknya dan pergi begitu saja tanpa basa-basi.


Deg—


Suara yang begitu familiar. Tentu saja ia mengenal jelas suara ini. Ditya berbalik untuk memastikan si pemilik suara.


“Wow! Crazy Rich Jakarta, Pratama Wirayudha.” Ditya berjalan mendekat, memeluk pria yang biasa disapa Wira.


“Ah, kamu bisa saja. Aku belum ada apa-apanya dibanding dirimu. Pewaris Halim Group,” ucap Wira, menolak panggilan crazy rich.


“Aku lebih parah lagi kalau begitu. Aku masih memanfaatkan uang daddyku,” sahut Ditya, terbahak.


“Yang orang tahu, Ditya Lim ... ya si crazy rich.” Wira terbahak.


“Apa kabar, Bro?” tanya Ditya, menepuk punggung Wira dengan kencang. Begitu senang bisa bertemu lagi dengan rekannya setelah sekian lama.


Pria single, tampan dengan sejuta pesona di hadapannya adalah salah satu sahabat yang tergabung di klub mobil super cepat berlambang banteng. Meskipun baru setahun Wira tergabung di sana, Ditya lumayan dekat dengannya.


“Baik, Bro. Dari mana?” tanya Wira. Melepas pelukannya. Wajahnya terlihat sumringah, bisa bertemu dengan Ditya. Sahabat baiknya ini tiba-tiba menghilang. Tidak aktif di berbagai komunitas mobil mewah.


“Semarang. Kamu sendiri dari mana? Jangan katakan masih mencari mantan istrimu yang hilang,” todong Ditya.


“Aku baru dari Yogyakarta. Ya, begitulah ... kata panglima Tian Feng, sejak dulu begitulah cinta, deritanya tiada akhir,” sahut Wira terkekeh.


“Come on! Move on dong, Bro. Di sekelilingmu banyak wanita cantik dan seksi. Tinggal menunjuk dengan ujung jari, mereka akan melepas gaun seksinya dan mengikutimu tanpa banyak berpikir,” tegas Ditya, ikut tertawa.


“Wanita bukan prioritas lagi. Aku lebih jatuh cinta pada proyek kelas kakap atau mobil sport keluaran baru, itu lebih menggairahkan, Bro. Lebih terlihat seksi,” sahut Wira dengan santai.


“Ke mana saja selama ini? Aku tidak melihatmu di berbagai acara,” lanjut Wira.


“Aku sudah menikah,” sahut Ditya.

__ADS_1


“Really?”


Ditya mengangguk.


“Congratulation, Bro. Aku senang mendengarnya.” Wira kembali menyalami dan memeluk Ditya. Meluapkan kegembiraan akan kabar bahagia yang disampaikan sahabatnya.


“Ah, kamu senang karena sekarang sudah tidak memiliki saingan. Kamu jadi satu-satunya pria single di klub.” Ditya menuduh.


“Ya ... itu juga alasannya.” Wira terbahak.


“Dengan Sandra?” tanya Wira mencari tahu.


“Bukan, istriku hanya orang biasa. Berbeda kelas dengan Sandra.” Raut wajah Ditya berubah saat menceritakannya.


“Ok, aku buru-buru, Bro. Nanti malam harus terbang ke Bali. Next time kita kumpul lagi” pamit Wira.


“Ok, Bro. Take care!”


***


Sepanjang perjalanan, Ditya tampak resah. AC mobil mewahnya tidak sanggup meredam hati yang kian memanas. Membayangkan Frolline bersama Firstan yang bisa saja mencuri kesempatan di dalam kesempitan. Dia tidak mau sampai rumah tangganya hancur berantakan karena orang ketiga di tengah usaha meminta restu orang tuanya.


Apalagi, ia tahu jelas bagaimana kisah cinta istrinya dengan sang keponakan. Semakin membuat pria 35 tahun itu menggila. Ia seperti diingatkan kembali sepak terjangnya dulu. Diakui atau tidak, pernah menjadi duri di dalam rumah tangga orang lain. Semakin ke sini, rasa bersalah semakin menghantuinya.


Sekarang keadaannya berbalik. Rumah tangganya yang diguncang orang ketiga, meskipun masih dalam bentuk ketakutannya saja.


Ponsel di tangan yang tak henti menghubungi Frolline, Ditya semakin panik saat tak satu pun panggilannya berhasil tersambung.


“Matt, tolong hubungi Zoe, pastikan istriku tidak bertemu dengan First,” perintah Ditya, memejamkan matanya. Lelah perjalanan sudah tidak dirasakan lagi. Saat ini, dia ingin segera sampai ke rumah Marisa dan membawa pulang istrinya.


“Bos, Nyonya masih di sana, tetapi keponakanmu belum terlihat sejak tadi. Atau mungkin masih di kantor.” Matt menjelaskan apa yang diketahuinya.


***


Frolline kembali masuk ke dalam rumah setelah berpamitan dengan Marisa. Baru saja hendak mengambil tas tangan yang ada di atas meja ruang tamu, tiba-tiba Firstan muncul di hadapannya.


“First? Kamu sudah pulang dari kantor?” tanya Frolline heran, menatap jam di pergelangan tangannya.


Firstan menggeleng. “Aku tidak ke kantor hari ini. Sedang tidak enak badan,” sahut Firstan.


Spontan, Frolline menempelkan punggung tangannya di dahi pria dengan setelan casual itu. Kaos rumahan yang dipadankan dengan celana selutut.

__ADS_1


“Kamu sudah minum obat, First?” tanya Frolline saat mendapati badan Firstan panas.


“Belum.” Firstan menjawab singkat. Netra hitam legam itu menatap lekat wajah cantik Frolline. Sorot mata itu sendu, menyimpan luka.


Tanpa diduga, pria itu menarik tangan Frolline dan membawa ke kamarnya. Tidak peduli dengan penolakan dan perlawanan Frolline, Firstan menulikan pendengarannya. Mengabaikan semua permohonan perempuan yang sekarang berstatus tantenya sendiri.


“First, jangan begini. Apa yang ingin kamu bicarakan? Kita bicara di sini saja.” Frolline menolak, tetapi tenaganya tidak sebanding. Firstan berhasil menyeretnya masuk ke kamar.


Pintu kamar itu tertutup rapat. Bunyi anak kunci yang diputar dan dilempar asal membuat Frolline bergidik. Biasanya ia tidak pernah merasakan ketakutan setiap berhadapan dengan Firstan, tetapi sekarang semuanya terasa berbeda. Ia teringat pada Ditya. Suaminya akan marah lagi kalau sampai tahu, ia berada di kamar Firstan.


“Apa maumu, First?” tanya Frolline berusaha menjaga jarak sejauh mungkin.


Setiap Firstan melangkah maju dan mendekat, Frolline akan melangkah mundur dan menjauh. Menyapu setiap sudut kamar yang sudah sangat familiar untuknya. Ia bahkan sering tidur di kamar ini dulunya. Aromanya masih tertinggal di sini.


“Kamu benar-benar hamil, Fro?” tanya Firstan. Setelah sekian lama bungkam, pria itu membuka suara.


“Aku tidak tahu, First.”


“Kamu serius menikahinya?” tanya Firstan. Sorot matanya tampak menyedihkan.


Frolline bergeming.


“Kamu benar-benar tidur dengannya. Kamu bisa melakukannya, Fro? Kamu bisa melakukannya dengan pria yang tidak kamu cintai, Fro?” tanya Firstan, putus asa.


“Maaf ... tetapi Ditya suamiku. Aku bisa apa. Aku tidak bisa menolak pria yang memiliki hak penuh atas diriku.” Frolline berkata lirih.


Firstan tersenyum kecut. Kali ini hatinya benar-benar hancur. Mengetahui Frolline menikah, ia hampir gila. Namun, saat tahu Frolline hamil anak pria lain, ia sudah tidak sanggup lagi.


“Aku bahkan tidak pernah menyentuh Angell selama pernikahan kami, Fro. Aku tidak bisa mengkhianatimu. Aku dan Angell adalah kecelakaan. Kalau aku sadar, aku tidak mungkin menyentuhnya.” Firstan terduduk lemas di lantai.


Selama ini, ia masih menyimpan harapan. Ia tahu jelas pernikahan Frolline dan Om-nya tidak didasari cinta. Berharap suatu saat Frolline akan sadar dan kembali padanya. Hubungan mereka bukannya singkat. Ada banyak kenangan yang tidak bisa dibuang begitu saja.


Masih menyebut nama Frolline di setiap doanya, Firstan masih berharap mereka berjodoh suatu saat nanti. Sampai hari ini masih menunggu di tempatnya karena ia tahu tidak bisa mengintervensi hubungan rumah tangga Frolline.


Namun penantiannya sia-sia. Frolline bukannya sadar akan perasaannya sebaliknya wanita yang dicintainya itu semakin jatuh ke dalam pelukan Ditya. Bahkan melihat ketakutan di wajah Frolline saat ini, ia tahu kalau hati Frolline bukan miliknya lagi.


“Katakan kalau kamu masih mencintaiku, Fro. Kamu tidak mencintainya, kan?” tanya Firstan.


“Kamu tidak hamil anaknya, kan?”


***

__ADS_1


TBC


Yang penasaran kisah Wira, si crazy rich Jakarta, bisa baca di Tatap Aku, Suamiku.


__ADS_2