Crazy Rich Mencari Cinta

Crazy Rich Mencari Cinta
Bab 48 : Bertahanlah


__ADS_3

Dengan memanfaatkan ingatannya, akhirnya Frolline bisa kembali ke kamar tidur yang terletak di lantai lima kediaman Halim, yang tak lain dan tak bukan mertuanya sendiri. Mertua yang bahkan tidak memandang dan menganggap keberadaan sekaligus statusnya.


Dia baru saja menghempas kasar tubuhnya. Duduk di tempat tidur yang harus dibayarnya mahal. Untuk bisa tidur di kamarn yang mewah ini, dia harus membayarnya dengan terinjaknya harga diri oleh sang ayah mertua.


Masih saja mendengus kesal, Frolline menatap kopernya yang berdiri di sudut ruangan. Pandangannya beralih, menatap dompet suaminya yang tertinggal di atas nakas. Tanpa membuang waktu, Frolline meraih dompet mahal berbahan kulit. Tentu saja dompet dengan merk terkenal. Suaminya tidak pernah memakai barang kw-an. Hanya hati Ditya saja yang imitasi dan tidak original. Terbukti dari sikap Ditya yang diam tanpa bicara saat melihatnya dihina-hina.


Frolline terkejut menatap isi dompet suaminya yang kosong melompong. Hanya terdapat beberapa lembar uang merah seratusan rupiah. Terdapat berderet kartu dari berbagai bank, tersusun rapi disisi lainnya.


“Cih, ternyata isi dompet sultan hanya begini saja,” celetuk Frolline, menarik semua uang yang ada di dalam dompet dan menyimpan untuknya. Dikiranya crazy rich dompetnya seperti atm, tidak pernah kosong, uangnya tanpa limit. Ternyata dompet Ditya lebih menyedihkan dari dompetnya.


Saat akan mengembalikan dompet ke tempat semula, terdengar ketukan ringan di pintu kamarnya. Baru saja akan mengomel, tetapi suara pelan wanita memanggil dari balik pintu membuatnya urung bersikap kasar.


“Fro, ini Mommy,” panggilnya.


Gadis itu segera membuka pintu dan mempersilahkan sang ibu mertua melangkah masuk ke dalam kamar.


“Fro.”


“Bisa kita bicara,” lanjutnya lagi, mengedarkan pandangannya, menyapu tiap sudut kamar. Kalau boleh jujur, ini pertama kali masuk ke kamar putranya. Hubungan ibu dan anak diantara mereka hanya sebatas status, membuatnya menjaga jarak dan sopannya setiap Ditya kembali ke rumah.


Frolline mengangguk. Berjalan di depan, membawa ibu mertuanya ke ruangan yang terdapat satu set sofa.


“Ada apa Mom?” tanya Frolline, berusaha terlihat biasa. Melupakan emosi yang tadi sempat mengelora.


“Maafkan daddy,” ucap perempuan tua itu. Di posisinya, dia mengetahui jelas bagaimana perasaan menantunya saat ini.


Terlihat keduanya duduk saling berhadapan. “Iya Mom,” sahut Frolline singkat.


“Mommy tahu bagaimana perasaanmu. Dulu mommy pernah berada di posisi yang hampir sama. Harus berbagi suami dengan wanita lain,” cerita Nyonya Halim.


Frolline tertunduk.


“Setelah melahirkan Marisa, mommy harus angkat rahim dan tidak bisa hamil lagi.” Nyonya Halim memulai ceritanya.

__ADS_1


“Bagaimana bisa?” tanya Frolline, menutup mulut dengan kedua tangannya.


“Mommy melahirkan Marisa secara caesar dan pasca melahirkan mommy mengalami pendarahan hebat. Untuk menyelamatkan nyawa mommy, dokter terpaksa melakukan operasi pengangkatan rahim,” jelas nyonya Halim. Bulir-bulir cairan bening, tiba-tiba turun tidak terbendung. Meninggalkan jejak di pipi keriputnya.


“Sepuluh tahun pernikahan, tentu saja keluarga besar daddymu mulai protes saat mommy tidak kunjung hamil. Dan disitulah, semua rahasia besar mengenai mommy tidak bisa hamil lagi, yang selama ini kami berdua tutupi, terbongkar,” lanjutnya.


Frolline masih menyimak untaian kata demi kata yang keluar dari bibir mama mertuanya.


“Keluarga besar daddymu sangat mengagungkan kehadiran anak laki-laki. Bagi mereka, anak laki-laki adalah pewaris sekaligus membawa nama besar mereka tetap ada sampai ke generasi selanjutnya. Berbeda dengan anak perempuan, begitu mereka melahirkan, anak-anak mereka akan membawa nama dan marga ayahnya. Jadi bagi keluarga daddymu, tidak cukup hanya dengan kehadiran Marisa.”


Frolline terperanjat. Ada begitu banyak aturan di keluarga Ditya yang sampai saat ini belum diketahuinya.


“Sampai akhirnya, mertuaku menyodorkan seorang wanita muda, yang dibelinya untuk melahirkan pewaris mereka. Itu mamanya koko,” ucap nyonya Halim.


“Dan tentu saja mommy tidak bisa apa-apa. Semua keputusan diatur para orang tua, termasuk mommy. Mommy juga menikah dengan daddy karena perjodohan yang diatur oleh kedua orang tua kami,”


Frolline menggeleng. Hampir tidak percaya, di zaman semaju ini masih menerapkan sistem perjodohan ala Siti Nurbaya.


Sampai disini, air mata nyonya Halim tidak berhenti turun. Mengingat kembali kisah sedih perjalanan rumah tangganya, memaksa wanita itu membuka kembali luka masa lalunya.


“Ini tidak adil untuk mommy, tetapi lebih tidak adil untuk mamanya Koko,” ucapnya lagi.


“Mommy harus berbagi suami, meski hanya status. Daddy memang selalu disamping mommy setiap saat. Daddy bahkan tidak pernah menemui istri keduanya setelah koko lahir. Namun, tetap saja ada rasa berbeda. Secara hak, mamanya koko juga memiliki hak yang sama seperti mommy.”


“Mom...” Frolline berpindah duduk. Memilih menjatuhkan tubuhnya disamping ibu mertuanya.


“Jangan menangis. Setidaknya mommy memiliki hak penuh atas rumah tangga mommy. Memiliki tempat terhormat di rumah ini dan disamping daddy, berbeda dengan mamanya koko. Yang disembunyikan dari semua orang,” hibur Frolline.


“Dia memang harus bersembunyi demi putranya mendapatkan tempat tertinggi di keluarga ini dan di kerajaan bisnis Halim Hadinata. Dan mommy harus tetap bertahan demi putriku, Marisa. Mommy tetap disini untuk menjaga apa yang seharusnya menjadi hak putri kandungku, Marisa.”


“Kalau mommy memilih pergi dari daddymu, Marisa tidak akan mendapatkan apa-apa. Padahal di dalam Marisa dan putranya juga mengalir darah Halim Hadinata. Ini tidak adil,” ucap Nyonya Halim.


Wanita itu tersentak, tersadar kalau dia sudah menceritakan banyak hal yang selama ini disembunyikannya. Dan orang itu adalah Frolline, menantunya. Yang sebenarnya adalah menantu dari istri kedua suaminya. Saingannya.

__ADS_1


“Bertahanlah. Hadiahkan cucu laki-laki untuk Halim Hadinata. Mungkin daddy akan berubah pikiran. Setidaknya tempatmu jauh lebih kuat dibandingkan mommy dulu,” jelas nyonya Halim.


Frolline hanya menatap kebingungan setelah melepaskan pelukannya.


“Kamu masih memiliki cinta dari suamimu, berbeda dengan mommy. Bahkan daddy tidak pernah mencintai siapa pun dari kami berdua. Tidak ada cinta di hidup daddy untuk mommy atau mamanya koko,” tegas nyonya Halim.


***


Sepeninggalan mama mertuanya, Frolline mengurung diri di kamar. Dia juga melewatkan makan malamnya. Menghabiskan waktu dengan berpikir dan menangis sendiri. Tidak mengizinkan Ditya mendekat dan berbicara dengannya. Semua ucapan Ditya dan pembelaan Ditya ditolaknya mengah-mentah.


Rumah tangga yang baru berjalan beberapa hari, sudah harus menerima ujian. Ini bukanlah perkara mudah dan bisa diselesaikan dengan cepat. Setiap mengingat Ditya, amarah dan kecewanya mengumpul kembali.


Sampai malam menjemput, Frolline masih belum mau bicara dengan suaminya. Beribu cara dilakukan Ditya untuk membujuk dan merayu, sekaligus meminta maaf dengan tulus. Namun, tidak ada satu pun yang membuahkan hasil. Frolline tetap keras kepala. Bahkan dia memilih tidur dengan memunggungi suaminya demi menahan agar kesalnya tidak semakin merajalela kala melihat wajah tampan Ditya.


Ditya baru bisa memeluk istrinya saat dengkuran halus Frolline terdengar teratur di sisi ranjangnya. Setelah memastikan, laki-laki itu meraih tubuh indah istrinya yang baru saja kemarin malam berbagi nafas dan rasa dengannya.


“Maafkan aku, Schatzi. Really really love you,” ucap Ditya pelan di telinga Frolline. Berharap ungkapam perasaannya itu bisa masuk ke dalam alam mimpi dan menyampaikan pada gadis cantik di dalam dekapannya.


Tak lama, Ditya menyusul terlelap. Masih dengan memeluk erat istrinya. Ini kali pertama tidur di kamarnya diteman seorang wanita yang sudah sah menjadi istrinya. Meskipun perjalanan rumah tangganya masih berliku dan tersandung watak keras daddynya, Ditya akan berjuang menjadikan Frolline satu-satunya menangi Halim Hadinata di istana ini atau pun di hadapan dunia.


Malam berlalu, pagi pun menjemput hari. Ditya yang terjaga karena sengatan semburat mentari menyorot panas tepat mengenai wajahnya. Perlahan matanya membuka, hari kedua berstatus suami dari Frolline, Ditya belum sepenuhnya ingat di setiap bangun tidurnya. Butuh beberapa menit untuk mengembalikan memorinya yang kocar kacir karena mimpi malamnya.


Begitu ingatan itu mengumpul, laki-laki itu menatap ranjang kosong di sebelahnya. Mulai mendingin, tetapi Ditya masih berpikir positif. Istrinya sedang berendam di kamar mandi atau berjalan-jalan di taman.


Namun pikiran positif itu kian terkikis dan berubah menjadi kepanikan, saat hampir sejam mencari keberadaan istrinya dan berakhir sia-sia. Hampir seisi rumah dibongkarnya bersama Matt dan Zoe, semuanya tidak membuahkan hasil. Tidak ada istrinya di rumah, tidak ada Frolline di kediaman Halim Hadinata!


***


T b c


Love You all


Terimakasih.

__ADS_1


__ADS_2