
Tangisan Frolline semakin kencang saat wajahnya beradu dengan pundak Ditya. Meremas lengan kemeja Ditya, Frolline menumpahkan isi hatinya yang hancur berantakan hanya karena foto di sebuah majalah tanpa tahu kejelasannya.
“Sudahlah, Fro. Jangan terlalu sering menangis untuk hal yang tidak penting,” hibur Ditya menepuk pelan punggung istrinya yang bergetar. Pria itu sedang menikmati sensasi pundaknya yang basah oleh air mata Frolline.
“Aku tidak mau Koko menikah lagi,” ungkap Frolline di tengah isaknya yang tak kunjung reda.
“Siapa yang mau menikah lagi, Fro. Koko tidak menerima wawancara dengan majalah mana pun sebulan ini, Daddy juga masih betah di Surabaya. Jadi bisa dipastikan majalah itu majalah lama,” jelas Ditya.
“Lagipula, Daddy sudah tidak ada rencana menjodohkanku dengan gadis mana pun, menantunya sedang hamil. Walau tidak punya hati, Daddy masih punya otak.”
“Maksudnya?” Frolline melepas belitan kencang di leher suaminya.
“Walau Daddy tidak punya perasaan, paling tidak Daddy masih bisa berpikir. Istriku sedang hamil dan semua masalah perjodohan ini akan mempengaruhi ibu hamil yang manjanya semakin menjadi. Kalau ibu hamil yang cantik ini stress, bagaimana nasib cucu Halim Hadinata di dalam sini,” jelas Ditya tersenyum mengusap perut rata Frolline.
“Koko ....” Frolline tersenyum dengan netra berurai air mata.
“Jangan menangis lagi.” Ditya ikut tersenyum sembari menjepit hidung lancip Frolline yang memerah dengan jemarinya. Setelah memastikan Frolline sedikit tenang, Ditya segera bangkit.
“Koko mau ke mana?” tanya Frolline, meraih tangan sang suami dan menahannya.
“Mau mandi Fro, setelah itu baru bisa memanjakanmu lagi,” sahut Ditya mengedipkan mata.
“Koko sudah makan? Mau aku masakan sesuatu?” tanya Frolline, melepas cekalan tangannya.
“Belum. Koko sudah meminta Matt memesan makanan,” sahut Ditya santai. Membuka kancing-kancing kemejanya dan melempar ke keranjang pakaian kotor di sudut kamar.
Tak lama sudah terdengar gemericik air kran di kamar mandi. Hampir satu jam Ditya menikmati acara mandi malamnya dengan berendam air panas di dalam bathtub. Pria itu keluar dengan wajah segar dan handuk melilit di pinggang, memamerkan perut rata berkotak.
“Fro, kamu sudah tidur?” tanya Ditya setelah menjatuhkan tubuhnya di sisi tempat tidur. Ia bisa melihat napas teratur dan tenang, naik turun dari gaun tidur satin tipis yang melekat di tubuh Frolline.
Senyum tersungging, Ditya mengusap lembut pipi istrinya yang putih mulus setelah menyingkirkan beberapa helai rambut dan menyelipkannya di balik telinga. Kelopak mata bengkak itu tertutup rapat. Masih ada jejak air mata di sudut mata.
“Maafkan Koko, menikah dan hidup seperti ini tidak pernah ada di dalam mimpimu. Koko tahu, ini bukan kehidupan yang kamu impikan,” ucap Ditya pelan sembari mengukir lekuk wajah Frolline dengan ujung jemarinya.
Raut wajah Ditya berubah, pria itu menghela napas lelah. Banyak pertimbangan, ada keluarganya terutama Daddy yang sudah tua dan tidak bisa ditinggalkannya begitu saja. Ada perusahaan dengan ribuan karyawan yang mengantungkan nasib padanya. Pilihan sulit, saat ia juga harus memikirkan bayi mungil yang baru berusia dua bulan lebih di dalam kandungan Frolline.
Semuanya tidak ada yang lebih diprioritaskan, semuanya sama penting untuk Ditya. Obrolannya dengan Firstan beberapa waktu lalu membuat pria itu dilema, matanya terbuka. Ia mulai mengerti seperti apa Frolline. Bagaimana Frolline yang sesungguhnya.
***
“Aku akan melepaskan posisiku di Halim Group!” ucap Ditya sembari menggengam gelas kaca berisi jus jeruk. Saat ini, ia sedang berdiri di pinggir kolam renang kediaman kakaknya.
Marisa yang berdiri bersebelahan dengan sang adik hanya tersenyum kaku. Wanita paruh baya itu tidak bisa mencegah atau menyetujuinya. Ia juga melakukan hal yang sama dua puluhan tahun silam.
Tadinya ia sedang menyiapkan makan siang saat bel pintu berbunyi berulang kali. Cukup terkejut, saat membuka pintu dan mendapati Ditya yang mengunjunginya tanpa mengabari terlebih dulu.
“Apa kamu sudah yakin?” tanya Marisa. Pandangannya tertuju pada riak air kolam yang tenang tertiup angin sepoi-sepoi. Sorot matahari begitu menyengat, menyilaukan mata. Memantul dari air kolam yang jernih.
“Ya, aku sudah mempertimbangkannya.” Ditya menjawab dengan yakin. Terlihat ia menyesap jus jeruk di tangan kanannya.
“Kamu tidak memikirkan Daddy?” tanya Marisa, mengalihkan pandangan pada Ditya.
__ADS_1
Ditya mengangguk. “Kembalilah ke Halim Group, bantu aku mengurusnya.” Ditya berkata pelan. Suaranya terdengar seperti memohon.
“Frolline hamil dan keadaan ini mempengaruhi kondisi mentalnya. Aku sudah bertahan selama sebulan ini, tetapi semakin ke sini, Frolline semakin tertekan. Walau Frolline tidak berterus terang, tetapi aku mencoba untuk memahaminya dengan caraku sendiri.” Ditya menjelaskan.
Deg—
Marisa tersentak. “Fro terlihat baik-baik saja.”
“Tidak, dia tidak baik-baik saja.” Terdengar Ditya menghela napas lagi. Lebih berat dan dalam.
“Pernikahan kami hanya berdasarkan cinta yang bertepuk sebelah tangan. Kondisi ini semakin diperburuk dengan Daddy yang belum merestui sampai sekarang. Frolline tertekan dengan kondisi ini, tetapi tidak memiliki tempat mengadu dan mengeluh. Dia sendirian tanpa keluarga saat ini. Dia hanya menggantungkan hidupnya padaku. Kehamilan membuatnya semakin terpuruk.”
“Kalau istri lain akan menyambut bahagia kehamilannya, tidak dengan istriku. Kehamilan membuatnya ketakutan. Dia takut, aku meninggalkannya. Apalagi Kak Marisa tahu sendiri bagaimana Daddy yang begitu tidak menyukainya dan lebih memilih gadis lain untuk calon istriku,” lanjut Ditya.
“Apa yang kamu rencanakan?” tanya Marisa.
“Frolline belum mencintaiku, meskipun dia sudah berjuang untuk itu. Kehamilan adalah buah perjuangannya untuk mencintaiku. Sebagian hatinya masih milik First. Dia tidak memiliki kepercayaan padaku sebesar pada First, karena dia tidak mecintaiku seperti pada First.”
“Kakak ingat, sewaktu First menikahi Angella, Frolline masih setia menunggu dengan kepercayaan penuh pada First. Sebesar itu cintanya pada First. Dan dia tidak mempercayaiku. Dia selalu ketakutan padaku. Takut sewaktu-waktu aku akan meninggalkannya dan anak kami lalu menuruti semua permintaan Daddy.”
“Aku sadar, posisiku di atas angin. Aku bisa meninggalkannya tanpa beban kalau aku mau,” lanjut Ditya.
“Lalu apa yang akan kamu lakukan dengan semua kondisi ini?”
“Aku akan membuatnya bahagia, menghilangkan ketakutan. Mengambil kepercayaan dan tentunya mengambil hakku sebagai suaminya. Dia harus mencintaiku, bukan orang lain. Dia harus mencintai ayah dari anaknya, bukan pria lain. Aku akan membuatnya mencintaiku,” jelas Ditya.
Marisa hanya bisa menyimak. Mencerna kalimat demi kalimat yang keluar dari bibir Ditya.
“Tolong jaga Daddy dan perusahaan, aku tidak bisa melakukannya. Aku sudah memutuskan membawa Frolline pergi dari sini.”
Ditya mengangguk. “Aku akan membawa Frolline ke Inggris, dia akan melahirkan di sana.”
“Kenapa sejauh itu?” Marisa terbelalak.
“Setidaknya akan lebih baik kami tidak di Indonesia selama kehamilannya. Aku tidak mau terjadi hal buruk pada istri dan anakku. Pergi jauh dari sini akan mengurangi semua tekanan yang datang padanya. Dari keluarga, dari pemberitaan media, dari wanita-wanita masa laluku. England adalah tempatku setelah Jerman dan Indonesia. Aku menghabiskan sebagian waktuku di sana. Aku memiliki usaha di sana.”
“Tunggu-tunggu! Maksudmu bagaimana? Kamu sudah merencanakan ini jauh-jauh hari?”
Ditya mengangguk. “Mungkin sebelum ke Inggris, aku akan membawanya berkeliling Eropa, seperti impian masa kecilnya yang ingin berkeliling dunia.”
“Kalian sudah apply visa UK?” tanya Marisa.
“Belum. Sementara kami masih memegang visa schengen. Mungkin kami akan apply visa UK dari Jerman. Butuh waktu untuk itu, tidak bisa mendadak. Apalagi Frolline sedang hamil, pasti akan ada banyak persyaratan yang harus dilengkapi. Aku bukan terbang ke Singapura, bisa bolak balik tanpa visa.” Ditya menjelaskan.
Marisa mengangguk.
“Kak, pulanglah ke Surabaya. Temui Daddy dan Mommy. Mereka juga merindukanmu. Cukuplah bertarung dengan mereka. Sehebat apa dirimu sekarang, akan terasa ada yang kurang saat restu mereka belum kamu dapatkan. Kamu akan merasa kebahagiaanmu sempurna saat Daddy dan Mommy menepuk pucuk kepalamu dengan penuh kebanggaan.”
Deg—
Kalimat Ditya menghantam langsung ke relung hati Marisa. Jantungnya berdenyut, seperti membuka luka lama yang sebenarnya belum sembuh sempurna.
__ADS_1
“Apa Daddy pernah menyinggung tentangku?” tanya Marisa dengan mata berkaca-kaca.
Ditya mengangguk. “Mereka menyayangimu. Walau sekeras apapun menolakmu, tetap saja Daddy dan Mommy menyimpan namamu di dalam hatinya. Mau dibuang kemana pun, hubungan orang tua dan anak itu tidak akan terputus. Saat Daddy dan Mommy sudah tidak ada di dunia, pasti kita anak-anaknya yang diminta pertanggungjawabannya.”
“Jangan sampai menyesal. Daddy dan Mommy sudah tua. Ketika kamu masih memiliki kesempatan melihatnya tersenyum, berdiri menyambutmu dengan tangan terbuka, kenapa harus memilih menatap pusaranya saja.”
Deg—
Kalimat kedua yang kembali menghantam Marisa. “Maksudmu?”
“Kalau Kak Marisa masih bersikeras tidak mau menemui Daddy sekarang, apa Kak Marisa mau mengunjunginya nanti, setelah Daddy dan Mommy meninggal. Kalau itu terjadi, bukankah percuma saja. Aku yakin Kak Marisa akan menyesalinya.”
“Kamu sendiri?” tanya Marisa. Bukankah kamu juga bermaksud meninggalkan Daddy dan Mommy?” todong Marisa.
Ditya menggeleng. “Aku akan pulang ke Surabaya bersama anak dan istriku, meminta restu kembali pada Daddy. Hanya saja untuk sekarang, aku pikir lebih nyaman kami menjauh sementara. Aku tidak ingin situasi ini mempengaruhi kehamilan Frolline.”
“Kembalilah, percuma berperang dengan Daddy. Menang jadi arang, kalah jadi abu. Daddy juga belajar banyak, terbukti dia tidak berani menekanku secara berlebih. Aku yakin sekarang Daddy menyimpan sesalnya hanya saja tidak mau mengakui. Pulanglah!”
***
Seminggu setelah berpamitan dengan Marisa, Ditya benar-benar mengundurkan diri dari Halim Group. Sepucuk surat pengunduran diri diletakannya di atas meja kerja bersama sebuah ponsel. Ditya tidak berpamitan pada siapa pun, tidak pada mamanya juga Daddy dan Mommy. Hanya menyampaikan keinginannya pada Marisa dan Matt. Asisten kepercayaannya itulah yang mengatur semuanya secara diam-diam, tanpa diketahui siapa pun,
Malam itu sepulang dari kantor, Ditya mengendap-endap masuk ke dalam kamarnya. Mendapati Frolline sedang serius dengan tablet dan buku catatan, ide usil pun melintas di otaknya.
Pria itu melepas satu persatu pakaian kerjanya. Tatapan tertuju pada punggung Frolline yang terbalut piyama tidur.
“Serius sekali, sampai tidak menyadari kedatangan suaminya,” gumam Ditya sambil membuka kancing kemeja hitamnya.
“Dia benar-benar tidak menyadari kedatanganku,” lanjut Ditya melepas kancing di pergelangan tangannya.
Berjalan mendekat, Ditya sudah tidak sabar ingin melihat respon istrinya saat ia menyampaikan berita bahagia ini. Ditya yakin, Frolline akan meloncat kegirangan.
“Fro, siapkan pakaianmu. Besok kita akan terbang ke Belanda!” ucap Ditya setelah melempar pakaian kerjanya di atas tempat tidur. Suaranya pelan, tidak mau sampai terdengar mamanya yang sedang menonton di ruang depan.
“Serius?” tanya Frolline berbalik seketika. Ia sedang membaca email yang dikirimkan sekretarisnya. Laporan kerja dari pengawas proyek di lapangan yang sebagian sudah deadline.
Ditya mengangguk dengan wajah lelahnya. Seminggu ini ia harus bekerja keras menyelesaikan semua pekerjaan di kantor.
“Kita akan berkeliling Eropa. Kamu menyukainya?” tanya Ditya merentangkan tangannya bersiap menyambut pelukan Frolline.
“Suka!” Frolline menghambur memeluk Ditya yang sudah bertelanjang dada.
__ADS_1
***
TBC