
Frolline bergeming. Keinginan untuk mengikuti saran Marisa begitu besar, tetapi sebagai seorang istri harus mengantongi izin suaminya. Ucapan suaminya adalah aturan tak tertulis di rumah tangga mereka.
“Mami, aku tidak bisa pergi tanpa seizin suamiku,” tegas Frolline. Kalimat penolakan itu keluar juga dari bibir merah yang sedikit kering.
Berat, tetapi saat ini hanya itu yang bisa Frolline lakukan. Di saat suaminya sedang melakukan tugas dan kewajiban sebagai putra dari Halim Hadinata, dia dituntut harus bisa mengurus dirinya sendiri di tengah sakitnya.
Marisa menatap gadis manis yang mengenakan kaos kebesaran milik Ditya, bahkan tanpa mengenakan dalaman. Sejak masuk, dia fokus dengan kondisi kamar hotel sampai mengabaikan keadaan Frolline.
“Kamu masih sakit, Sayang?” Marisa maju beberapa langkah, kemudian menempelkan punggung tangannya ke dahi panas Frolline. Gadis yang sudah dianggap putrinya sendiri.
“Sudah agak mendingan, Mi. Sudah minum obat apotik,” sahut Frolline.
“Tidak Fro, kamu akan semakin sakit kalau tetap di sini. Mau makan saja susah. Ini bukan penthouse kalian, ini hotel. Kamu tidak akan leluasa,” jelas Marisa, berusaha membujuk.
Gadis itu menggigit bibir keringnya. Pusing berdenyut di kepalanya semakin terasa saat dia menunduk. Menarik kaos Ditya yang panjang sebatas paha, Frolline jadi malu sendiri. Khawatir sang mami mengira yang tidak-tidak.
“Fro, mami akan menghubungi Ditya. Kamu tidak perlu khawatir. Suamimu itu sangat pengertian, mami yakin dia sangat mengerti.”
Wanita dengan rambut panjang tergerai itu tampak mengeluarkan ponsel dari dalam tas tangannya. Dan sesuai dengan yang diungkapkan sebelumnya, menghubungi Ditya, sang adik satu-satunya.
Nada sambung itu mengalun perlahan, beberapa detik kemudian terdengar suara maskulin menyapa dari seberang.
“Ya, Kak. Ada apa lagi?” Suara Ditya terdengar kesal. Bagaimana dia tidak kesal, baru saja berpisah beberapa menit yang lalu, bahkan dia baru saja menginjakan kaki ke parkiran rumah sakit, Marisa menganggunya lagi.
“Istrimu ... aku akan membawa istrimu pulang ke rumahku.”
Bagai petir menggelegar tiba-tiba. Hal yang ditakutkan Ditya sejak tadi, terjadi juga. Ingin menolak, tetapi tak kuasa. Ingin mengiyakan, hatinya tidak rela. Bagaimana pun, dia belum bisa sepenuhnya percaya pada Firstan, apalagi Frolline. Dia mendengar sendiri bagaimana perasaan istrinya pada sang keponakan.
“Eem ....”
“Aku akan menjaga istrimu dengan baik, Dit. Kamu tidak kasihan istrimu sendirian di sini. Yang ada semakin sakit bukan bertambah sembuh,” jelas Marisa.
“Kak ...”
“Apa? Apa alasanmu tidak mengizinkanku membawa istrimu pulang?” todong Marisa lagi.
__ADS_1
Frolline sejak tadi hanya menyimak, tidak berani ikut campur sampai diminta pendapatnya.
“Kak ... aku sudah menikah. Tidak bisa seenaknya seperti ini. Ini keluargaku, aku yang memutuskan semuanya, termasuk tentang istriku.” Ditya memberi penolakan.
“Dit dengar ... cinta bukan berarti membuat logika seseorang jadi tidak jalan. Kamu itu pemimpin di rumah tangga dan perusahaan, harus bisa mengambil keputusan terbaik untuk istri dan para bawahanmu.”
“Kamu tidak lihat betapa menyedihkannya Fro, di sini sendirian. Sumpek, sempit, tidak bisa apa-apa. Mau makan saja susah!” gerutu Marisa.
“Mi ... aku baik-baik saja.” Frolline menimpali, setelah merasa sang suami disudutkan.
“Coba pikirkan posisi Frolline, jangan egois. Di tempatku, aku akan merawatnya. Setidaknya sampai Fro sembuh dan bisa bepergian kemana-mana sendiri.”
“Bayangkan di kamar sendirian, tidak bisa keluar. Tidak bisa apa-apa.,” lanjut Marisa, mengomel tidak berkesudahan.
“Kak, ada Zoe menjaganya. Fro bisa meminta apapun yang dia mau. Zoe selalu siap untuknya 24 jam.” Ditya membela diri.
Terdengar helaan napas kasar berulang kali, Marisa benar-benar kukuh dengan keinginannya. “Dit, aku mohon kasihan istrimu.”
Lama tidak terdengar suara Ditya, laki-laki itu berpikir di ujung panggilan. Ada banyak pertimbangan, meskipun yang dikatakan Marisa benar adanya. Dia memang egois, tetapi sejak kapan cinta itu begitu murah hati. Cinta memang membuat seseorang jadi egois.
“Aku matikan sekarang, Kak!” Ditya memutuskan sambungan telepon. Berganti menghubungi istrinya secara langsung.
***
“Ya, Ko.” Frollline menempelkan ponsel itu di telinganya. Bersiap menunggu kalimat selanjutnya.
“Kamu sudah merasa baikan? Kak Marisa masih di sana?” Ditya membuka pembicaraan.
“Sudah mendingan. Kak Marisa juga masih di sini. Ada apa?” tanya Frolline. Belum lama Ditya memutuskan panggilan teleponnya dengan sang kakak. Tiba-tiba sekarang menghubunginya.
“Fro ... kamu lebih nyaman di kamar hotel atau di tempat Kak Marisa?” Akhirnya keluar juga pertanyaan itu dari bibir Ditya. Setelah mendengar ucapan Marisa, hati dan otaknya berpikir ulang. Menelaah kembali ucapan demi ucapan yang dilontarkan Marisa.
“Aku ... aku ... terserah koko saja.” Frolline menjawab terbata. Setengah berdusta, tidak ingin mengecewakan Ditya.
“Fro, katakan padaku. Apa yang kamu inginkan?” Ditya kembali bertanya.
__ADS_1
“Tidak ada. Aku menurut koko saja. Kalau diizinkan, aku pergi dengan Mami ....”
“Fro ....” Ditya menyela, memanggil nama istrinya dengan alunan lembut dan manja.
“Kak Marisa maksudku. Kalau koko tidak mengizinkan, aku menurut.”
Berat! Keputusan berat yang harus diambil Ditya. Di satu sisi memang akan lebih baik, Frolline tinggal bersama Marisa sampai dia ada waktu untuk mengurusi istrinya, tetapi ada keponakannya yang setiap saat bisa mengancam hubungan mereka.
“Kamu boleh pergi. Aku mengizinkanmu ikut Kak Marisa. Nanti, setelah pulang dari rumah sakit, aku akan menemuimu di tempat Kak Marisa,” putus Ditya.
“Ya, Ko.”
“Minta Mami mengantarmu ke penthouse sebentar. Ambil pakaianmu di sana!” ucap Ditya lagi.
“Ya.”
Laki-laki itu terdiam sebentar. Agak ragu mengucapkan kalimat selanjutnya, tetapi dia harus melakukannya.
“Koko berusaha mempercayaimu, jaga dirimu untukku. Koko tahu sebagian hatimu masih tertinggal padanya, tetapi kamu harus ingat ... kamu sekarang adalah Nyonya Ditya, bukan Frolline Gunawan yang bisa bersikap seenaknya.”
“Di depanku atau di belakangku, kamu harus ingat setiap melakukan hal apapun, harga diriku sebagai suamimu itu dipertaruhkan. Karena apapun yang kamu lakukan itu menjadi tanggung jawabku. Hal sekecil apa pun yang kamu kerjakan di luar sana, suamimu akan ikut terseret. Kamu mengerti, Fro?”
“Ya, aku tahu.”
“Koko mencintaimu. Begitu tiba di rumah Kak Marisa, segera mengabariku.”
“Ya, Ko.”
Pada akhirnya laki-laki itu mengalah. Ya, Ditya memilih untuk tidak menjadi egois meskipun dia berhak untuk egois. Memutuskan memberi kepercayaan pada istrinya, walau masih ada secuil ketidakrelaan. Setidaknya jauh lebih baik dibanding harus mengurung istrinya terus menerus, membatasi Frolline.
Mungkin lebih baik begini, memberi kesempatan Frolline belajar mengerti posisinya. Karena sejatinya, masalah bukan pada hubungan keduanya di masa lalu, tetapi bagaimana istrinya menyingkapi semua masa lalu dan perasaannya sendiri.
Bagaiamana istrinya bertanggung jawab pada rumah tangga mereka saat ini. Bagaimana istrinya bersikap dan menghadapi Firstan yang sekarang berstatus keponakan.
Cemburu itu pasti ada, tetapi Ditya berharap bisa menjadi laki-laki dewasa, yang menempatkan cemburu itu benar-benar di tempatnya dan sesuai porsi.
__ADS_1
***
TBC