
Pergulatan panas semalam jauh lebih manis dibanding malam pertama. Frolline lebih bisa diajak bekerja sama dan menurut. Gadis itu juga mulai memberikan rasa, merespon setiap sentuhan nikmat Ditya. Tidak sehambar pergumulan mereka di malam pertama.
Menyambut pagi, masih bergelung, memeluk erat di balik selimut. Kulit tubuh masih saling menempel, bersentuhan satu sama lain.
Frolline terbangun dengan menahan malu, saat lengan Ditya dengan posesifnya mengunci pinggang telanjangnya. Tidak sampai disana saja, hembusan nafas teratur suaminya itu berhembus di kulit dadanya, membuat Frolline mengelinjang tanpa sengaja.
“Ko, bangun. Aku harus menyiapkan sarapan untukmu,” bisik Frolline, memijat lembut kulit kepala suaminya. Berharap Ditya segera berpindah, tidak menumpang tidur di dada telanjangnya.
Panggilan lembut kedua kalinya, Ditya membuka mata. “Hmmmm,” gumam Ditya, pelan.
“Jam berapa, Fro?” tanya Ditya dengan suara serak.
“Jam enam. Ayo pindah. Aku harus menyiapkan sarapan, setelah itu harus ke kantor juga,” jelas Frolline.
Bukannya berpindah, Ditya semakin membenamkan wajahnya di tubuh polos Frolline, bahkan mengecup dan memberi tanda kemerahan lebih di sana.
“Ahhhh, Ko...!” pekik Frolline, terkejut, lagi-lagi Ditya mengigit pelan gundukan kembarnya bergantian. Dengan tangan ikut meremas.
“Beberapa hari lagi ulang tahun perusahaan, Fro. Cari gaun terbaikmu, aku akan mengenalkanmu pada dunia,” jelas Ditya, berhenti menggoda istrinya.
“Daddy akan datang juga?” tanya Frolline.
“Tentu saja. Dia masih memegang tampuk pimpinan tertinggi. Pesta tidak akan dimulai tanpanya, tidak akan usai tanpa aba-abanya,” jelas Ditya, membenamkan wajahnya di ceruk leher sang istri, menikmati kulit tubuh Frolline dengan aroma mawarnya.
Wajah resah Frolline tercetak jelas, begitu memastikan kehadiran ayah mertuanya.
“Bersabar sedikit lagi untukku. Apapun yang terjadi, terlihat atau tidak, aku selalu berdiri di sampingmu,” bisik Ditya.
“Hanya saja aku tidak bisa menentang orangtuaku terang-terangan. Papa mamamu sudah tiada, aku tahu kamu menyimpan sesal sampai sekarang, aku yakin kamu bisa mengerti apa yang aku rasakan.”
Frolline mengangguk pelan.
“Nanti siang aku akan membawamu ke makam papa dan mamamu. Kita belum kesana lagi setelah pernikahan. Sekalian berpamitan, kita akan terbang ke Jerman.”
***
Sepi menyapa kala teriknya mentari di atas ubun-ubun. Dedaunan melambai, tertiup hembusan angin musim kemarau. Dua anak manusia itu sedang duduk di salah satu paviliun, area makam di komplek pemakaman mewah, di pinggiran kota Jakarta.
__ADS_1
Hampir setengah jam, Ditya dan Frolline menyapa pada batu nisan berjejer, tertera nama papa dan mamanya disana. Sedih menyeruak, tangisan hampir berkunjung kembali setiap Frolline mengingat perjalanan kedua orang tuanya untuk sampai ke titik keabadian ini.
“Mereka sudah bahagia, Schatzi,” bisik Ditya mendekap erat pundak Frolline, berbisik pelan di telinga, menghadiahkan kecupan di pelipis.
Manis! Ditya berharap perlakuan manisnya akan semakin meluluhkan Frolline. Setelah merasa cukup, lelaki itu mengandeng sang istri untuk berpamitan. Pekerjaan menuntut mereka harus kembali ke kantor masing-masing.
Saat keduanya melangkah, tiba-tiba Ditya menangkap suara wanita asing, tetapi terdengar familiar di telinganya.
“DITYA!!” pekiknya pelan tertahan.
Sontak saja sepasang suami istri itu berbalik, menatap langsung ke sumber suara. Wanita cantik menggendong bayi laki-laki, tersenyum hangat menyapa mereka. Dibelakangnya terlihat laki-laki jauh lebih tua, ikut menggendong bayi laki-laki dengan wajah serupa yang digendong sang wanita. Ada beberapa asisten dan gadis berseragam suster mengekor di belakang.
“Kailla??” tanya Ditya memastikan, mata lelaki itu berbinar indah. Sudah lama dia tidak melihat gadis manis yang meruntuhkan hatinya di pandangan pertama.
“Iya, Dit. Apa kabarmu?” tanya Kailla menyerahkan bayi di gendongannya ke salah satu pengasuh.
“Baik, kenalkan istriku, Frolline,” ucap Ditya, memeluk erat pinggang Frollline. Menyembunyikan perasaan yang sedikit terguncang di pertemuan pertama setelah sekian lama terpisah.
Kali ini Kailla tidak sendiri. Kalau dulu berstatus istri seseorang, sekarang Kailla menambah status baru sebagai mama muda untuk putra kembarnya.
“Frolline,” ucap Frolline, menyambut uluran tangan Kailla, melirik Kailla dari kepala sama ke kaki.
Pram, suami Kailla juga ikut menyapa dan berkenalan. Lelaki itu tampak biasa, tidak seperti pertemuan mereka sebelumnya, selalu dalam situasi yang tidak menyenangkan.
“Bagiamana bisa ada disini?” tanya Kailla heran.
“Aku mengunjungi makam mertuaku,” sahut Ditya, menunjuk ke arah nisan berjejer di dekat mereka.
Baik Kailla maupun Pram mengikuti arah telunjuk Ditya. Mata Pram membulat hebat saat mengenali salah satu nisan dengan nama dan tanggal lahir yang sangat dikenalnya. Pandangan lelaki itu beralih menatap Frolline dari ujung rambut sampai ujung kaki, meneliti dan mencari kemiripan dengan sang istri.
“Oh ya, daddyku juga di sini,” sahut Kailla memecah keheningan sesaat. Wajahnya berubah sedih, menunjuk paviliun tak jauh dari tempat mereka berdiri. Dari kejauhan tampak dua nisan berjejer.
Pertemuan singkat itu berakhir, Frolline yang sejak tadi mengamati perubahan wajah Ditya mengumpul banyak tanya di benaknya.
“Ko, mereka siapa?” tanya Frolline, saat mereka sudah di dalam mobil.
Matt yang duduk di kursi depan, sedang menyeruput air mineral dari dalam botol harus tersedak mendengar pertanyaan Bos Nyonya. Tidak mungkin Ditya mengaku kalau Kailla cinta pertama yang membuat lelaki itu tergila-gila.
__ADS_1
“Dia hanya kenalan,” sahut Ditya santai.
“Bukan salah satu koleksimu lagi, kan?” todong Frolline. Terselip cemburu di dalam kalimatnya.
“Tidak, Fro Sayang. Kamu tidak melihat itu yang digendongannya sudah dua,” sahut Ditya, merangkul pundak istrinya, berusaha mengirim kepercayaan penuh kalau saat ini hanya Frolline lah satu-satunya wanita di hidup dan hatinya, bukan orang lain.
“Aku melihat tatapanmu tadi, Ko!” serang Frolline.
“Memang tatapanku seperti apa?” tanya Ditya memancing.
Frolline menggeleng, menyembunyikan rasa cemburu yang disembunyikannya. “Aku tidak suka kamu dekat dengan perempuan lain!” tegas Frolline, membuang tatapannya keluar jendela.
Deg—
Ditya mencerna kembali kata-kata yang baru saja dilontarkan Frolline, sampi pada kesimpulan yang membuatnya tersenyum simpul.
“Kamu apa tadi, Fro?” Ditya menggeser duduknya, mendekat ke arah istrinya. Mengapit supaya Frolline tidak bergerak kemana-mana.
“Aku tidak apa-apa. Anggap saja tidak mendengar,” ucap Frolline, menggigit bibir menahan malunya.
“Bagaimana bisa tidak mendengar, aku sudah mendengarnya.”
“Ya sudah, kalau koko sudah mendengar, jangan bertanya dan memintaku mengulang lagi,” protes Frolline.
Ditya belum sempat menjawab, Frolline kembali bersuara. “Matt, antarkan aku ke kantor, ya!” titahnya mendahului sang suami.
“Iya Nyonya,” sahut Matt, tersenyum.
“Kalau Nyonya bersikap semanis ini, aku pasti akan mendapat bonus besar dari Pak Boss. Lumayan, buat tabungan untuk melamar Rania,” batin Matt.
Tak lama, terdengar bunyi pesan masuk di ponsel Matt. Jantung asisten itu berdetak kencang saat ada bukti transfer masuk ke rekeningnya dengan pesan teks di bawahnya.
Matt, cari alasan supaya aku dan istriku bisa menghabiskan waktu bersama sepanjang hari ini. Dia terlihat manis sekali, aku tidak akan membuang kesempatan ini.
***
To be continue
__ADS_1