Crazy Rich Mencari Cinta

Crazy Rich Mencari Cinta
Bab 83 : Kepercayaan


__ADS_3

“Aku tidak mau, Ko.” Frolline kukuh menolak.


Nada suaranya terdengar manja menggoda, mengalun seiring desiran angin musim panas yang menyengat. Simpulan tangan di leher Ditya pun semakin mengerat, hangat dan begitu posesif.


“Kenapa tidak boleh?” pancing Ditya. Memberi jarak setelah berhasil mengurai belitan tangan di lehernya.


“Aku tidak mau. Walaupun pura-pura, pasti Daddy mengira sungguhan. Kalian akan berbagi kamar nantinya selama di Surabaya. Lalu ... lalu ....” Frolline malu sendiri membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya.


“Lalu suamimu akan tidur berdua dengan istri gadungannya, berbagi ranjang, kemudian terjadilah apa yang seharusnya terjadi. Begitu?” Ditya melanjutkan kalimat yang seharusnya. Sontak wajah cantik penuh rona kemanjaan itu mendengus kesal dan kecewa.


“Ko, jangan bicara seperti itu!” protes Frolline.


“Aku sudah menamatkan kisah ini dengan luka berdarah-darah. Aku tidak mau mengulang sakit yang sama.”


“Saat mendapat kabar, Kak Angella hamil, duniaku hancur. Apalagi saat tahu yang menghamili adalah First, laki-laki milikku sendiri. Aku tidak mau mengulang lagi ....” Nada suara itu terdengar mengiris, perih dan bergetar.


“Sekarang masih terasa sakitnya?” tanya Ditya tiba-tiba. Mengalihkan topik pembicaraan.


Mata hitam pekat itu tertuju pada satu titik. Fokus Ditya mengarah pada raut wajah yang menyembunyikan sembilu. Luka itu masih terlihat, sakit itu masih kentara dan jelas. Sebanyak apa pun cinta yang dipersembahkannya untuk Frolline, trauma itu masih membekas.


Kesalahannya dulu tidak memperhitungkan semua ini. Seharusnya dia menyembuhkan luka itu perlahan, baru membawa masuk gadis ini melangkah di kehidupannya yang terbilang keras.


Menikah dengannya tanpa cinta di tengah luka yang masih menganga. Luka ditinggal First, luka ditinggal kedua orang tuanya, luka ditinggal kakak satu-satunya. Ini belum termasuk luka yang masih disembunyikan Ditya, kalau kenyataannya Frolline bukanlah keturunan Gunawan .


Tidak sampai di situ saja, masuk ke keluarga Halim yang penuh aturan dan pencitraan. Di mana harus tersenyum di kala hati sedang menangis. Diharuskan bahagia di saat hati sedang teriris. Ada adab dan sopan yang dijunjung dengan ketat. Ada orang tua yang gila hormat demi nama besar dan nama baik di tengah publik.


Buat Ditya ini hal biasa. Sejak kecil dia sudah besar di lingkungan ini, tetapi tidak untuk Frolline. Gadis itu kembali harus belajar dari awal. Di tengah tuntutan yang tidak sejalan dengan waktu yang diberikan untuk belajar. Dia dipaksa harus sekarang, tanpa bisa menunggu besok.


Frolline mengangguk. “Sedikit. Aku memilikimu, Ko. Aku memilikimu sekarang.” Frolline menjawab dengan jujur.


“Sudah jangan menangis lagi. Dunia itu sempurna saat kamu hanya melihatnya dari sisi keindahan, tetapi akan menjadi nestapa saat kamu hanya fokus pada lukanya.” Ditya mengenggam tangan Frolline yang saling meremas menahan rasa bergejolak, menahan perih yang mengiris luka.


“Selamanya hidup itu akan seperti ini. Ada senyuman, tetapi Tuhan melengkapinya dengan tangisan. Sejak awal hidup memang begitu, tidak ada yang berubah sedari Adam bertemu Hawa.”

__ADS_1


Frolline mengangkat pandangaannya.


“Senyum untukku sekarang, Fro,” bisik Ditya masih dalam posisi berlututnya.


Kedua sudut bibir itu tertarik ke atas. Wajah sendu itu perlahan berubah cerah. Luka itu mencair tiba-tiba, tersapu angin. Tangan Ditya yang tadinya mengenggam, berpindah mengusap kecil dagu lancip Frolline, sebelum akhirnya bibir itu mendekat dan menyapu tipis bibir merah istrinya.


“Mulai sekarang, cukup melihat indahnya dunia saja. Kedua tangan Koko ini akan menyapu lukamu, menghapus air matamu. Saat semua kepahitan itu datang tanpa sengaja, percayakan pada Koko. Kamu masih memiliki tempat berpegang yang nyata selain pada Tuhan.” Ditya menenangkan dengan deretan kalimat yang menentramkan hati.


Frolline mengangguk.


“Hidup itu memang tidak mudah, Fro. Lebih sulit dari matematika, lebih rumit dari fisika. Hidup itu hitungan-hitungannya tidak jelas. Penyelesaian setiap masalah tidak seperti teori yang kamu dapatkan di bangku sekolah.”


“Mungkin ada hal-hal yang harus diselesaikan di luar akal sehat. Koko tidak butuh apa-apa darimu, Fro. Hanya butuh senyum, dukungan dan kepercayaan saja. Itu sudah cukup,” sambung Ditya.


“Kamu percaya pada Koko, kan?” tanya Ditya memastikan. Laki-laki itu tersenyum menunggu jawaban.


Sebuah anggukan diiringi senyuman manis, mengantarkan laki-laki itu di gerbang kepercayaan diri tertinggi.


“Kamu tahu Fro, setelah menikah Koko baru tahu. Berumah tangga itu tidak seindah yang Koko bayangkan. Indahnya hanya saat malam tiba. Itu pun kalau kamu mengizinkan Koko menyentuhmu. Indahnya hanya saat kita berbagi rasa di atas ranjang.” Ditya tergelak hebat dengan Frolline merona malu.


Jangan tanya di mana Matt. Asisten itu sedang menguping dan mengintip. Bergidik ngeri saat mendengar ungkapan sang majikan yang mengatakan berumah tangga itu tidak seindah yang dibayangkan. Niat tulusnya selangkah surut saat mencerna kalimat Ditya.


“Perjuangannya saja sudah begini sulit. Melewati rintangan yang sengaja dipasang ayah daddy mertua. Apalagi kalau aku jadi menikah dengan Ran-Ran.” Laki-laki itu terpikir untuk mundur. Namun, saat membayangkan wajah manis Ran-Ran, semangat Aa Teo kembali berkobar.


Matt tersentak dari lamunannya saat terdengar suara Ditya memanggilnya.


“Matt! Apa yang kamu lakukan di sana?” tanya Ditya dengan tatapan berapi.


“Maaf Bos, aku tidak berani menganggu.” Matt buru-buru menghampiri, menyerahkan sekantong rujak buah.


“Tidak pedas, kan?” tanya Ditya lagi.


“Tidak Bos.”

__ADS_1


“Kamu boleh pergi. Kabari Zoe, istriku akan pulang bersamaku hari ini,” titah Ditya lagi.


“Ko ... aku masih ada pekerjaan di kantor. Aku tidak bisa menunggu di sini,” tolak Frolline, memandang punggung Matt menghilang di balik pintu.


“Temani Koko hari ini. Badan Koko benar-benar tidak enak.” Ditya beralasan.


Frolline sedang membuka isi bungkusan yang disodorkan Matt barusan. Terbelalak saat melihat buahan-buahan segar yang sudah dipotong tersusun di kotak mika.


“Ko, kamu baik-baik saja?” Frolline bergidik melihat potongan mangga muda dan nanas muda yang berwarna kuning pucat menghuni deretan pertama kotak mika. Disusul bengkuang dan mentimun.


“Ya, entah kenapa lidahku tak berasa apa-apa. Minta diberi makanan yang asam segar.” Ditya menjawab dengan santai. Laki-laki yang sejak tadi tidak mau mengisi perutnya dengan makanan apapun, segera menusuk mangga muda itu dengan garpu dan memasukannya ke dalam mulut.


“Tidak asam, Ko?” tanya Frolline, menelan saliva.


“Tidak, ini membuat lidahku berasa. Mau coba?” tawar Ditya.


“Tidak. Terimakasih.” Sekali lagi Frolline mengernyit dan menelan saliva yang tiba-tiba mengumpul di dalam mulut.


***


Menunggu sang suami menyelesaikan pekerjaan, Frolline memilih duduk sembari mengecek pekerjaannya melalui email yang dikirim sekretarisnya. Gadis manja yang dulunya tidak tahu apa-apa, sejak menikah dengan Ditya dikenalkan dengan dunia yang berbeda. Frolline jadi wanita dengan karirnya, menjadi istri yang membuatkan sarapan dan makan malam di kala pulang kantor, bahkan menjadi partner bercinta di saat malam tiba.


Bersama Ditya, Frolline menyambut dunia baru yang belum dikenalnya sebelum ini. Pencapaian yang drastis dalam sekejap mata. Harus bersyukur atau mengeluh, tetapi kehadiran Ditya di dalam hidupnya adalah anugerah Tuhan yang luar biasa.


Ditya dan Frolline baru saja turun dari mobil yang dikendarai Han. Matt tampak mengekor di belakang, bersiap menemani kedua majikannya menuju ke private lift yang akan mengantar pasangan suami istri itu ke kediaman mereka.


“Fro, nanti buatkan aku salad, ya.” Ditya meminta dengan manja. Berjalan, bergandengan tangan dengan mesranya. Matt buru-buru mengeluarkan kartu aksesnya untuk membuka pintu lift.


Langkah ketiganya terhenti saat terdengar suara lembut seorang wanita memanggil dari arah belakang.


“Ko ....”


***

__ADS_1


TBC


__ADS_2