
Meja makan itu sudah rapi dengan piring kosong disertai sendok dan garpu yang siap menyambut makanan. Sudah lama sekali rasanya Frolline tidak masuk ke dapur. Ada sensasi tersendiri saat memegang peralatan tempur itu dibanding duduk di belakang meja, memegang pulpen dan komputer.
Aroma sup menyeruak memenuhi ruang makan yang menyatu dengan ruangan lainnya. Dengan sedikit kepulan asap saat Frolline meletakan semangkok besar makanan berkuah itu di tengah meja.
Baru saja menyelesaikan tugas terakhirnya, tiba-tiba dari belakang seseorang memeluk erat tubuhnya.
“Schatzi, jangan marah lagi,” ucapnya berbisik pelan di telinga, mengalun lembut menenangkan. Tangan kekar itu masih membelit tubuh mungil bercelemek polos, menyibak pelan rambut tergerai dan mengecup lembut tengkuk mulus istrinya.
“Segera bersiap. Aku akan membawamu ke kantor baru. Kamu ingin bekerja kan,” ujar Ditya, mengeratkan pelukan. Kali ini mengecup basah di pipi mulus bak pualam, sebelum melepaskan istrinya untuk membersihkan diri.
Frolline tidak banyak protes seperti biasa. Rasanya percuma juga melawan Ditya, yang ada hanya membuang tenaganya sia-sia. Lelaki itu punya 1001 cara untuk membuatnya menurut.
Tanpa banyak bicara, Frolline bergegas ke kamar dan membersihkan diri. Tak butuh waktu lama, dia sudah keluar dengan tampilan cantik, bergabung dengan sang suami di meja makan.
“Ayo kita sarapan!” seru Ditya, begitu Frolline sudah duduk di hadapannya. Sengaja lelaki itu menunggu istrinya untuk sarapan bersama. Menikmati pagi bersama sebagai sepasang pengantin baru.
Membalikan piring menangkup di atas meja, tepat di depan duduknya. Ditya sempat terperanjat saat Frolline mengambil ahli piring kosong miliknya dan mengisi dengan sup.
“Koko mau nasi?” tanyanya pada Ditya, dia memang tidak terbiasa dengan sarapan berat di pagi hari. Makanya hanya menyajikan sup ayam kental dengan potongan sayur di dalamnya. Namun, dia sempat menanak sedikit nasi untuk berjaga-jaga kalau suaminya menginginkan sarapan dengan makanan pokok itu.
“Tidak, ini saja cukup,” sahut Ditya tersenyum. Menikmati sensasi menjadi suami seutuhnya.
Keduanya sarapan dalam diam. Tidak ada pembicaraan hangat layaknya keluarga bahagia di atas meja makan. Satu-satunya suara hanya dari dentingan pelan sendok dan garpu yang tak sengaja membentur piring.
Terlihat asisten rumah tangga yang sedang membersihkan rumah dengan vacum cleaner, diam-diam tersenyum menatap majikannya. Pemandangan yang tidak biasa tentunya. Selama bekerja pada Ditya, biasanya dialah yang membuat sarapan untuk lelaki itu. Namun sekarang tugasnya sedikit ringan. Tugas memasaknya diambil alih oleh sang Nyonya rumah. Frolline sudah berpesan padanya, ke depannya dialah yang akan memasak, kecuali dia tidak sempat.
Bunyi pintu lift yang terbuka mengalihkan konsentrasi keduanya. Frolline terlihat menyunggingkan senyumannya saat Matt dan Zoe menyapa. Kedua asisten itu menunggu di depan televisi sembaru berbincang pelan.
__ADS_1
“Fro, habiskan sarapanmu. Ada yang harus aku sampaikan pada Matt,” ucap Ditya, menmbersihkan mulutnya dengan lap putih, kemudian meneguk habis air putih di dalam gelas yang sudah tersedia. Lelaki dengan setelan kerja hitam itu segera menemui Matt.
Dengan langkah meyakinkan, satu tangan terselip di saku celana, Ditya menyela percakapan kedua asistennya.
“Matt..”
“Siap Bos, selamat pagi,” sapa Matt, buru-buru berdiri diikuti Zoe melakukan hal yang sama.
“Istriku hari ini mulai bekerja di perusahaan papanya. Tolong cari orang untuk membantunya, seperti asisten tetapi yang menguasai banyak hal sehingga Fro bisa belajar banyak darinya,” titah Ditya, mengambil posisi duduk dengan kaki terlipat di depan kedua asisten.
“Zoe, kamu sudah tahu jelas kan tugasmu?” tanya Ditya pada asisten istrinya itu.
“Siap Bos!”
“Aku ingin membuat istriku menjadi wanita hebat,” ucap Ditya pelan, tersenyum melirik Frolline yang masih sibuk dengan sarapan. Pagi ini Frolline tampak cantik dengan setelan kerja sederhananya, meskipun wajahnya selalu saja tampak imut menggemaskan.
“Baik, Bos!”
“Zoe, aku titip istriku padamu,” ujar Ditya lagi, mengeluarkan ponselnya. Lelaki itu sudah berselancar dengan gawai pipih mewahnya sembari menunggu Frolline menyelesaikan sarapannya.
***
Sepanjang perjalanan, Frolline lebih banyak diam. Duduk di sisi Ditya yang sibuk menatap padanya penuh arti. Matt yang semobil dengan kedua majikannya duduk disamping Han yang sibuk dengan kemudi.
“Berhenti menatapku seperti itu,” tegas Frolline, membuang pandangannya keluar jendela. Menatap kendaraan lain yang juga mulai memadati jalanan.
“Kenapa? Aku sedang menatap istriku sendiri. Apa itu salah?” Ditya balik bertanya.
__ADS_1
Melihat Frolline diam, Ditya berinisiatif merengkuh pundak yang sejak masuk mobil memilih duduk menjauh darinya.
“Sudah jangan marah-marah lagi. Aku minta maaf,” bisik Ditya, membawa tubuh Frolline bersandar di pundaknya.
“Ada banyak hal yang sulit aku jelaskan, tetapi seiring waktu kamu akan paham apa yang aku maksudkan. Setidaknya saat ini yang bisa dilakukan hanya bersabar dan belajar banyak hal. Suatu saat bukan hanya mertuamu, tetapi semua orang akan menghargai dan menghormatimu,” jelas Ditya.
“Dan pada saat itu, aku hanya ingin mendengar satu hal saja dari bibirmu. Bukan terimakasih atau pujian, tetapi kamu bahagia karena tidak salah telah memilih bersamaku hari ini,” lanjut Ditya, menghadiahkan kecupan hangat di sudut pelipis istrinya dengan mata terpejam.
Tidak lama iringan mobil Ditya dan asistennya itu masuk ke sebuah gedung yang tidak terlalu besar. Hanya dengan menatap saja, Frolline seakan kembali diingatkan sosok sang papa yang sekarang sudah tiada. Dulunya, dia sering diajak sang mama berkunjung ke sini sewaktu masih kecil.
Muncul sesal dalam hati, kenapa tidak menerima tawaran papanya untuk bekerja di perusahan keluarga mereka sejak dulu. Setidaknya ada banyak cerita san kisah lebih yang dimilikinya saat seperti sekarang, saat kedua orang tuanya sudah tidak bersama dengannya lagi.
Bukan masalah materi dan ilmu yang akan didapatnya, karena kedua hal ini masih bisa dikejarnya sekarang, tetapi kenangannya. Tidak banyak kenangan yang bisa dirangkai dengan papa dan mamanya semasa hidup.
Dulu dia terlalu sibuk dengan kesenangannya, hari-harinya disibukan dengan jalan-jalan, ke mall, kuliah dan nonton, kumpul dengan teman-teman. Sebagian besar waktunya dihabiskan dengan Firstan dan teman-temannya. Berbeda dengan Angella yang sudah terjun ke perusahaan sejak menamatkan SMA-nya, bahkan kakaknya itu kuliah sambil bekerja di perusahaan keluarga. Tidak pernah terlibat pacaran, tidak banyak teman. Hari-hari Angella lebih banyak untuk perusahaan dan keluarganya yaitu mama dan papanya.
“Ayo turun, sekarang,” titah Ditya, membuyarkan lamunan Frolline. Mengulurkan tangan kanannya untuk membantu istrinya turun dari dalam mobil.
“Ini perusahaanmu sekarang!” jelas Ditya ketika mereka sudah berdiri menatap bangunan sederhana di depan mereka. Gedung tiga lantai yang ukurannya tidak terlalu besar.
“Aku menyesal,” bisik Frolline, meneteskan airmatanya.
“Ada banyak hal yang sudah kulewatkan. Dan sekarang tertinggal sesal. Andai aku bisa memutar ulang waktu yang terlewat, aku akan menghabiskan banyak waktuku dengan mereka,” ucap Frolline dengan nada bergetar menahan tangisnya supaya tidak keluar.
“Tunjukan pada orangtuamu, kalau kamu bisa membanggakan mereka sekarang” ujar Ditya merangkul pundak istrinya.
“Mungkin terlambat, tetapi lebih baik daripada tidak sama sekali,” lanjutnya lagi.
__ADS_1
***
TBC