Crazy Rich Mencari Cinta

Crazy Rich Mencari Cinta
Bab 101 : Ikut aku pulang


__ADS_3

Ditya tertegun, menikmati sensasi bibir manis yang sedang menyapu bibir atasnya. Tidak biasanya Frolline bersikap seperti ini, apalagi di depan banyak orang. Amarah yang sempat singgah, menguap sejenak. Lenyap bersama manisnya perlakuan sang istri. Begitu mengejutkan, bahkan pria tampan itu hampir kehilangan kesadarannya saat pelukan Frolline mengunci erat tubuhnya.


Lima menit terdiam. Ditya tersadar dan berusaha mengurai belitan tangan istrinya. Tanpa berkomentar lebih jauh, ia meneriakan asistennya kembali.


“Matt, tolong bawa istriku ke mobil!” perintahnya. Suaranya terdengar garang, murka itu kembali menyapa.


“Ko, jangan marah lagi. Aku minta maaf. Jangan berkelahi dengan First.” Suara Frolline terdengar memelas, memohon dengan tangan menarik kemeja suaminya.


“Matt!” ulang Ditya setelah mendapati asistennya tak kunjung mendekat untuk mengevakuasi istrinya.


“Ko, jangan bertengkar. Aku mohon,” ucap Frolline mulai mengeluarkan senjata terakhir berupa air mata yang mengalir di kedua pipi. Berharap dengan melihat isak tangisnya, kemarahan Ditya akan mereda.


“Koko bukan berkelahi, tetapi mau mencabut nyawa orang.” Setelah menunggu Matt tak kunjung mendekat, dengan kasar Ditya sendiri yang menyeret istrinya ke mobil.


Tidak menggubris permintaan memohon, Ditya dengan langkah lebar-lebar membawa Frolline menuju ke mobil yang terparkir di halaman rumah. Terlihat Han menyimpan tanya dan heran saat mendapati kericuhan yang terjadi di antara kedua majikannya. Sang majikan pria terlihat murka dan majikan wanita menangis tak berkesudahan. Pemandangan yang tidak pernah terjadi di dalam kehidupan majikannya.


“Han! Kunci pintu mobil. Sampai istriku keluar, tamat riwayatmu!” ancam Ditya, mengarahkan telunjuknya ke arah Han. Sopir Ditya itu mengangguk. Memilih setia menunggu di tempatnya, di depan kemudi tanpa banyak protes.


“Koko, jangan berkelahi. Aku mohon,” teriak Frolline, menggedor kaca jendela yang tidak bisa dibuka. Masih berusaha mencegah suaminya dengan upaya terakhirnya.


“Han! Buka pintu mobilnya!” perintah Frolline.


“Maaf, Nyonya. Aku tidak berani.” Han berkata pelan.


Ditya seakan tidak peduli dengan gedoran kencang di kaca mobil, menutup rapat indra pendengarannya. Frolline hanya bisa menatap punggung suaminya berjalan masuk kembali ke dalam rumah, menghilang di balik pintu utama,


***


Dengan sekali cekal, Ditya sanggup menarik paksa Firstan yang terduduk lemah di lantai. Marisa yang sejak tadi berusaha membujuk putranya tampak panik saat Ditya melampiaskan kemarahannya kembali. Mengulang kejadian beberapa menit yang lalu.


Layaknya orang hilang akal, bahkan Firstan tidak melawan dan tidak juga membantah. Siap menerima pukulan dengan sukarela. Tidak ada yang lebih menyakitkan bagi pria muda itu selain penolakan Frolline beberapa menit yang lalu. Sedikit pukulan memang diperlukannya untuk mengenyahkan sakit yang mengiris ulu hatinya.


“Kamu apakan istriku?” tanya Ditya. Ungkapan kemarahan itu lebih mengarah pada tuduhan. Sorot mata mengerikan, seakan siap mencabik-cabik lawannya.

__ADS_1


“Dit, sudah. Firstan tidak mungkin berbuat macam-macam pada Fro.” Marisa angkat bicara, membantu putranya yang saat ini bahkan tidak sanggup melawan. Terdiam membeku seperti kehilangan nyawa, layaknya raga tak bertuan.


“Bangun Brengs’ek!” Ditya bersiap mengamuk kembali. Tangan terkepal sejak tadi sudah bersiap melayang ke udara dan dilabuhkan di wajah tampan keponakannya.


“Dit, jangan gila, ya. Aku yakin tidak terjadi apa-apa pada Fro. Kamu pulang sekarang!” usir Marisa, menahan tangan Ditya supaya tidak kembali memukul.


“Kak, putramu ini kelewatan. Dia berani mengganggu istriku! Padahal dia jelas-jelas tahu kalau Fro istriku!” ungkap Ditya dengan mata memerah.


“Ya, mulai sekarang kurung saja istrimu di rumah supaya tidak ada yang mengganggu! Kalau tahu akan seperti ini, aku akan menolak kunjungan Fro.” Marisa bersuara kembali.


“Sebaiknya begitu. Kalau Kak Marisa tidak bisa menjamin putramu ini akan bersikap baik, sebaiknya jangan menerima Fro di sini. Aku juga sudah menerapkan ini sejak awal, tetap istriku selalu membantah.” Pandangan menakutkan itu tak beralih sedikit pun dari wajah sang keponakan.


Marisa menggeleng. “Apa tidak kelewatan kamu, Dit?”


“Tidak, selagi putramu masih bersikap tidak tahu diri. Aku rasa apa yang aku lakukan itu tidak kelewatan. Kamu tahu, Kak ... aku sedang berjuang untuk mendapatkan restu daddy dan semuanya akan menjadi masalah kalau sampai daddy tahu kelakuan istriku dan First!” jelas Ditya.


“Aku tidak akan melarang Fro bertemu denganmu. Aku hanya tidak mau keduanya melangkahi batasan. Fro istriku dan dia masih memiliki perasaan tertinggal pada putramu! Puas sekarang!”


Deg—


“Kembalikan Fro padaku. Untuk apa kamu menahannya kalau memang dia tidak mencintaimu?” tanya Firstan.


“Aku tidak menahan, kenyataannya Fro istriku. Tentu saja dia harus berada di tempat seharusnya.” Ditya meralat pernyataan keponakannya.


Firstan tersenyum kecut.


“Hubungan kami jelas, bukan hubungan tanpa status atau kejelasan seperti yang kalian lakukan sebelumnya. Kami terikat hubungan suami istri, makanya aku harus membantu Frolline menjaga kehormatannya sebagai seorang istri. Terlepas cinta atau tidak, kami sudah terikat komitmen di depan Tuhan dan hukum. Aku hanya membantu istriku menjaga komitmen itu,” tegas Ditya.


“Lepaskan dia! Dia tidak mencintaimu. Untuk apa kamu menahannya?” tanya Firstan.


“Breng’sek! Sejak awal aku katakan kalau aku tidak menahannya. Kalau Fro mau, bisa saja dia meminta berpisah dariku. Namun sampai saat ini, dia masih bertahan di sampingku. Jadi jangan bermimpi,” jelas Ditya


“Selagi Frolline masih bertahan di dalam pernikahan kami, aku anggap dia masih memilihku dibanding masa lalunya,” lanjut Ditya lagi.

__ADS_1


Sebuah pukulan telak mengenai pelipis Ditya tiba-tiba. Firstan meradang mendengar kalimat yang diucapkan beruntun oleh sang paman.


“Cukup!” Marisa menengahi, setelah keadaan mulai memanas. Bahkan putranya mulai memberi perlawanan.


“Aku janji ... mulai sekarang tidak akan menerima Frolline di rumahku selagi kedatangannya tidak bersamamu.”


“Mi, kasihan Fro,” tolak Firstan.


“Cukup First, ini juga kesalahanmu. Harusnya kamu tahu bagaimana bersikap.” Marisa mengangkat tangannya meminta putranya berhenti bicara.


“Aku titip putriku. Kalau sampai terjadi sesuatu padanya, aku sendiri yang akan mengambilnya dari tanganmu,” ancam Marisa.


“Kamu bisa pergi sekarang, aku jamin putraku tidak akan melakukan hal yang melewati batasannya,” usir Marisa.


***


Matt buru-buru membuka pintu kiri mobil bagian belakang, saat Ditya keluar dari pintu rumah Marisa dengan setengah berlari. Aura kemarahan masih tercetak jelas di wajah tampan pria 35 tahun itu. Menjatuhkan kasar tubuhnya di kursi belakang mobil, Ditya mengabaikan Frolline.


“Ko ....” sapa Frolline menggeser duduk supaya lebih mendekat pada suaminya.


Ditya bergeming. Memilih bersandar, memejamkan mata dengan merentangkan tangan kanannya menyusuri sandaran kursi.


“Jangan marah, aku minta maaf. Tidak terjadi apa-apa, First hanya mengajakku mengobrol.” Frolline melempar penjelasan tanpa diminta. Melihat sikap dingin yang ditunjukan Ditya, perasaannya tercubit. Ada sesuatu yang aneh merambat masuk ke dalam hatinya.


“Ko ....” Panggilan biasa itu terdengar lebih manis, mendayu manja mendominasi di setiap lekukan nadanya. Frolline menjatuhkan kepalanya di pundak Ditya. Berharap sikap manisnya bisa melunakan sang macan asia yang sedang mengamuk dalam diam.


“Matt, antar istriku pulang, setelah itu antar aku ke club. Sudah lama tidak berkumpul dengan teman-temanku,” perintah Ditya, sembari memaksa tubuh Frolline menjauh dengan lengannya.


Secepat kilat merogoh kantong celana, mencari ponsel untuk menghubungi para sahabat yang ditinggalnya tanpa pesan sejak memutuskan menikah dengan Frolline.


“Koko tidak boleh ke mana-mana. Ikut aku pulang!” tegas Frolline, memeluk pinggang Ditya dengan erat sembari menempelkan tubuhnya pada dada bidang yang terbungkus kemeja hitam.


***

__ADS_1


TBC


__ADS_2