Crazy Rich Mencari Cinta

Crazy Rich Mencari Cinta
Bab 71 : Tamparan


__ADS_3

Ditya masuk kembali ke kamar, istrinya masih dalam tampilan polos menggoda berselimut seprai putih.


“Fro, aku harus ke rumah sakit sekarang. Kamu tidak apa-apa kalau ditinggal sendiri?” tanya Ditya, berjalan ke arah Frolline, menempelkan bibir di dahi istrinya yang sedikit berkeringat akibat permainan mereka barusan.


“Ko, kamu akan lama?”


“Koko usahakan kembali secepatnya.” Ditya menjatuhkan tubuh yang terbalut setelan casual itu di sisi tempat tidur. Mengedar pandangan ke sekeliling. Sejak awal melangkah ke kamar yang sekarang mereka tempati, netranya tak sekali pun memperhatikan.


Menyapu setiap sisi kamar yang berukuran tidak terlalu luas. Indra penglihatannya kembali tertuju pada raut menggemaskan, seperti memohon untuk tidak ditinggalkan.


Anggukan pelan disertai segaris senyuman tipis. “Ya, Ko.”


Mengusap rambut panjang istrinya yang tergerai berantakan. “Koko kembali secepatnya,” bisik Ditya, membagi senyuman.


Ditya sudah bergegas keluar, tetapi tidak sampai lima belas menit, laki-laki itu kembali dengan napas tersengal karena berlari memburu waktu.


“Fro ....” Panggilan yang mengejutkan gadis yang masih betah menutup diri dengan seprai.


Sontak Frolline mengangkat pandangannya, menatap nanar pada suami yang tiba-tiba muncul di hadapannya.


Ditya mengeluarkan segepok uang memerah dari dompet dan meletakannya di atas nakas. “Gunakan kalau kamu membutuhkannya, Fro. Kamu harus memegang uang juga selama aku tidak ada di sini,”


“Koko perginya lama?” Frolline mengerutkan dahi. Titipan uang itu seolah menyiratkan sesuatu.


“Tidak, Koko hanya sebentar. Hanya saja, tidak tahu bagaimana kondisi daddy. Kalau kondisi daddy ....” Ditya memilih mengantung kalimatnya. Laki-laki yang berdiri di samping tempat tidur itu tidak melanjutkan perkataannya yang bisa saja menjadi doa.


“Kalau kondisi daddy kurang baik, mungkin koko harus lama di rumah sakit.”


Kedua tangan Ditya membingkai wajah istrinya. Rasanya ingin tetap di sini, menemani Frolline, tetapi daddy membutuhkannya.


“Kenapa pipimu panas, Fro?” tanya Ditya heran.


“Masa sih?” Frolline ikut menangkup kedua pipinya. Matanya memang terasa panas dengan kepala sedikit pusing. Mungkin karena kelelahan, seharian mereka mempersiapkan diri untuk tampil sempurna pesta malam ini.


“Aku tidak apa-apa, Ko. Cepat pergi,” usir Frolline.

__ADS_1


“Koko pergi sekarang. Kenakan pakaianmu!” Ditya menunjukan bungkusan yang dikirim Matt pada mereka.


“Kamarnya dikunci, Fro.”


***


Dengan diantar Matt, Ditya akhirnya sampai ke rumah sakit di pusat kota. Suasana di luar rumah sakit terlihat ramai oleh beberapa orang pemburu berita. Ditya memilih lewat jalan belakang. Terlihat bodyguard berbadan tegap berjaga-jaga di pintu masuk rumah sakit.


Begitu kakinya melangkah menuju ruang ICU bersama Matt, dari kejauhan dia melihat mommy, masih dengan gaun pesta yang sama. Duduk di kursi ditemani asistennya. Joe dan beberapa bodyguard berjaga di dekat pintu.


“Ada apa Mom?” tanya Ditya.


Plakkkk!


Tamparan keras mendarat mulus di wajah Ditya tanpa perlawanan. Laki-laki itu hanya pasrah menerima pukulan.


“Puas kamu, Ko!” omel sang mommy. Wanita lansia itu sudah berdiri menantang di depan putra satu-satunya.


“Ini yang kamu mau, Ko. Kamu tahu kekacauan seperti apa yang sudah kamu buat di pesta tadi!” tuding Nyonya Halim. Awalnya Nyonya Halim masih melunak atas sikap yang diambil Ditya, tetapi saat melihat suaminya ambruk, emosinya ikut memuncak seketika.


“Tidak hanya mempermalukan daddy, kamu juga membuat kekacauan. Mommy tidak bisa membayangkan bagaimana kacaunya perusahaan setelah pengunduran dirimu di depan umum tadi.” Nyonya Halim memijat pelipisnya. Pusing tiba-tiba mendera, menyerang tubuh rentanya.


“Mommy istirahat saja. Aku akan menunggu di sini.” Ditya memanggil Matt untuk membuka kamar. Kondisi Nyonya Halim tidak memungkinkan untuk menunggu di depan ruang ICU.


“Urus semuanya! Laki-laki sejati bukan hanya bisa mengurus istri saja, tetapi harus bisa mengurus keluarga dan perusahaan. Sekarang perusahaan ditanganmu. Terserah mau dihancurkan atau diapakan. Kamu harusnya tahu apa yang mesti dilakukan!” ancam Nyonya Halim.


“Bertindak seenaknya. Kalau daddy bersikap seenaknya, seharusnya kamu jadi yang lebih muda tahu bagaimana menanggapinya.” Kembali Nyonya Halim mengomel di depan para asisten dan bodyguard.


“Nasib puluhan ribu karyawan Halim Group ada di pundakmu. Pernyataanmu tadi bisa saja menghancurkan semuanya!” Wanita itu duduk kembali, setelah puas melampiaskan kemarahannya.


“Joe, kepala ku pusing. Minta sopir membawaku pulang ke hotel. Biarkan anak tidak tahu diri ini mengurus semuanya. Biarkan dia belajar bertanggung jawab. Selama ini dia sibuk bersenang-senang, jadi lupa diri. Hubungi mamamu, sejak tadi dia menghubungiku!” Nyonya Halim.


“Maaf kalau mommy harus memukulmu. Mamamu memintaku melakukannya untuk mewakilinya yang tidak bisa memukulmu dengan tangannya sendiri,” ucap Nyonya Halim, sedikit melunak.


“Jujur, mommy juga tidak mau menyalahkanmu dan Fro, tetapi melihat daddy kritis seperti sekarang. Mommy tidak bisa membenarkan sikapmu barusan.”

__ADS_1


Menatap punggung sang mommy perlahan menjauh, Ditya hanya bisa menghela napas. Matt yang mendampinginya sejak tadi hanya bisa diam, tidak banyak bicara seperti biasa.


Merogoh ponsel dan menghubungi mamanya, Ditya hanya bisa menerima nasib. Nada sambung terdengar singkat, tanpa menunggu lama suara sang mama muncul di seberang telepon.


“Kamu sudah gila, Ko!” cerocos sang mama, dengan suara penuh amarah.


“Ma, maafkan aku.” Ditya hanya bisa mengucapkan sepatah kata itu saja.


“Kamu tahu, Ko. Mama berkorban sebesar ini hanya untukmu. Untuk memastikan posisimu di keluarga Halim Hadinata benar-benar aman. Bersembunyi selama 35 tahun hanya untukmu. Kenapa hanya demi seorang perempuan, kamu harus mengorbankan semuanya. Membuat pengorbanan mama jadi sia-sia.” Terdengar amarah bercampur tangisan di ujung telepon.


“Maaf, Ma.”


“Mama sudah mengetahui semuanya. Kalau kamu tidak bisa menyelesaikan masalahmu dengan daddy, jangan pernah membawa istrimu ke sini.”


“Ma ....”


“Jangan harap mendapatkan restuku kalau kamu tidak bisa menyelesaikan masalahmu dengan daddy. Mama dan mommy bukan tidak menyayangimu, bukan juga tidak mau menerima istrimu. Keadaan daddy seperti ini, bagaimana kami harus membelamu lagi, Ko.”


Ditya melemas, tidak bisa berkata-kata lagi. Tadi, perasaannya begitu bahagia bisa lepas dari semuanya, tetapi sekarang keadaan berbalik. Dia yang dianggap paling bersalah dan bertanggungjawab.


“Ingat, Ko. Sampai terjadi sesuatu pada daddy, jangan pernah membawa istrimu menemuiku. Jangan berharap mendapatkan restuku.” Panggilan itu terputus sepihak. Ditya belum sempat menjawab apa pun, sang mama sudah menuntaskan semuanya.


Matt yang bisa membaca situasi setelah melihat raut wajah Ditya hanya bisa memberi semangat.


“Sabar, Bos. Pasti akan ada jalan keluar untuk masalah ini,” hibur sang asisten.


Ditya menjatuhkan tubuhnya di atas kursi, bersandar sembari memejamkan mata. Berusaha melepas semua beban yang dipikulnya saat ini.


“Aku tidak tahu bagaimana, Matt. Di dalam sana ada daddyku yang sakit karena ulahku. Di luar sana, ada istriku yang sedang menungguku pulang. Aku tidak mungkin membuang keduanya, tetapi aku juga tidak bisa mendapatkan keduanya bersamaan.”


“Sabar ya, Bos. Mudah-mudahan ada jalan keluar.”


Tatapan Matt menerawang. Mengingat masalahnya sendiri. Dia juga sedang bermasalah dengan daddy Rania yang sampai saat ini bahkan tidak menemukan titik temu.


***

__ADS_1


TBC


__ADS_2