
Ditya mengejar pergerakan istrinya yang berjalan cepat sembari mengangkat gaun panjang terurai menyentuh lantai.
“Schatzi Sayang, tunggu ....”
Jangankan menjawab, Frolline menoleh pun tidak. Beberapa kali Ditya memanggil, Frolline bergeming. Langkah kaki keduanya terhenti saat di depan berdiri Halim Hadinata yang ditemani asistennya, Joe.
“Dad ....” Ditya menyapa terlebih dulu, mempercepat langkahnya, mengikis jarak. Laki-laki itu sudah berdiri tepat di samping istrinya.
“Dad ....” Frolline ikut menyapa dan tersenyum. Tangannya dengan lincah merengkuh lengan suaminya, seolah tidak terjadi apa-apa sebelumnya.
Halim tidak menjawab, menatap keduanya sekilas kemudian meneruskan langkahnya.
“Fro, kamu cantik sekali malam ini,” bisik Ditya merayu, menahan tangan istrinya agar tetap memeluk lengannya.
“Ya, Honey Bunny.” Frolline menjawab sembari melempar granat di matanya. Jakun laki-laki itu naik turun menelan saliva. Malam ini Frolline seperti orang lain saja, begitu mengerikan.
“Kita ke tempat mommy,” ajak Ditya, mengandeng mesra tangan istrinya.
Ditya sudah bersiap menarik kursi mempersilakan istrinya duduk saat netranya tanpa sengaja menatap meja sebelah yang sudah hampir terisi penuh.
“Fro, ikut denganku.”
“Mau kemana, Ko?” Frolline masih sempat melempar pertanyaan.
“Ikut saja.” Ditya mengedipkan matanya dan tersenyum.
“Selamat malam, Om Wangsa.”
Laki-laki berbadan gempal dengan rambut yang mulai menipis di usia senjanya itu menoleh. Memicingkan matanya menatap Ditya dari atas sampai bawah.
“Ditya?” tanya memastikan. Laki-laki itu segera berdiri, memeluk. Menepuk pundak Ditya dengan sedikit kencang.
“Menantuku!” ucapnya terbahak, berbicara dengan istrinya.
“Bagaimana bisa suamiku menjadi menantunya. Ada-ada saja!” batin Frolline dalam hati.
Ditya ikut menyapa istri Wangsa yang ikut berdiri.
“Sandra dan kokonya nanti menyusul, anak nakal itu masih dalam perjalanan.” Om Wangsa kembali bersuara.
“Oh ya, kenalkan ini Frolline istriku, Om.”
Ditya merengkuh pinggang Frolline, dan mempersilakan istrinya untuk ikut menyapa sekaligus berkenalan.
“Frolline, Om, Tante.” Gadis manis itu mengangguk dengan sopan. Maju selangkah supaya bisa lebih dekat.
__ADS_1
Kedua lansia itu tentu saja terperanjat. Memandang Frolline tak berkedip.
“Istri?” Nyonya Wangsa akhirnya bersuara. Sempat tertegun dan tidak yakin dengan pendengarannya.
“Ya, ini istriku. Kami baru menikah,” cerita Ditya lagi. Senyum tersimpan di sudut bibir laki-laki itu. Sejak lama, dia menunggu momen ini. Waktu tepat untuk mengenalkan Frolline pada kedua orang tua Sandra. Tentu saja, ini juga upaya menghentikan rencana daddynya yang masih kukuh melanjutkan perjodohannya dan Sandra.
Wangsa yang sejak tadi diam, tidak sanggup bersuara. Hanya diam menatap dengan pikiran menerawang. Dia harus mencari tahu sendiri kebenaran kabar ini dari sahabatnya, Halim.
Pasalnya belum ada pembicaraan pembatalan perjodohan atau semacamnya. Malahan pihak keluarga sudah menyiapkan pernikahan putra putri mereka yang masih terhitung minggu. Undangan sudah dicetak dari beberapa minggu yang lalu. Bahkan tadinya, Halim dan Wangsa akan mengumumkan pernikahan putra putri mereka di puncak acara malam ini.
***
Di sudut lain, masih di perayaan ulang tahun perusahaan Halim Group. Terlihat Bella sedang merapikan tatanan rambut putrinya, Rania.
“Mi, ini kenapa tersangkut?” tanya Rania. Gadis itu sudah menyodorkan antingnya yang tersangkut di rambut panjangnya yang tergerai indah.
“Sebentar, Kak. Tolong bantu pegang clutch mommy.” Bella menyerahkan tas tangannya, merapikan anting panjang putrinya yang tersangkut.
“Sudah, Sayang. Putri mommy sudah cantik,” celetuk Bella mengambil alih kembali clutchnya.
“Mi, apa aku boleh bertemu Teo?” tanya Rania ragu-ragu. Gadis berusia 17 itu sengaja memaksa ikut ke pesta setelah tahu kalau yang memiliki hajatan adalah atasannya Matt.
Bella mengedarkan pandangan, mencari keberadaan Bara, suami yang selalu mengomel setiap saat putri tertua mereka bertemu dengan Matt yang biasa dipanggil Teo oleh Rania.
“Jangan lama-lama ya, Kak. Nanti daddy marah.” Akhirnya Bella memberi izin, setelah memastikan Bara sedang sibuk mengobrol dengan beberapa rekan bisnisnya.
Gadis itu sudah melenggang menemui Matt yang malam itu tampil menawan dengan setelan jas hitamnya. Dengan senyum menghias wajah cantiknya, gadis muda itu menyapa Matt yang berdiri di balik standing flower.
“Teo ....” sapa Rania, melempar senyuman malu-malu.
“Ran-Ran cantik sekali malam ini,” puji Matt, tak berkedip menatap pujaan hatinya.
“Ayah daddy mana?” tanya Matt, mengedarkan pandangannya, mencari keberadaan Bara.
“Daddy sibuk mengobrol dengan teman-temannya, Teo,” jelas Rania.
“Ran-Ran sudah makan?” tanya Matt, canggung. Tidak tahu harus mengobrol apa. Berbeda saat berbincang di ponsel atau di wa. Laki-laki itu bisa menggombal dan melempar rayuan maut.
“Nanti saja, Teo.” Gadis manis itu tersenyum. Hatinya berbunga-bunga, menatap Matt yang jauh lebih tampan dari biasanya.
Keduanya terlihat berbincang, sesekali saling tertawa bersama. Tidak jarang Matt melempar pujian, membuat sang pujaan hati merona, pipinya memerah bak delima.
“Teo, aku harus kembali, tidak enak kalau sampai ketahuan daddy. Nanti bertengkar lagi dengan mommy,” pamit Rania setelah hampir lima belas menit mengobrol.
“Ah, Ran-Ran, baru juga sebentar,” rengek Matt, asisten itu lupa sudah dengan tugas utamanya mengawal Ditya. Pesona Rania membuatnya lalai akan pekerjaannya.
__ADS_1
“Nanti malam kita lanjut di telepon.” Rania sudah berbalik, memberi kode dengan jari jempol dan kelingking mengarah ke telinga.
Baru saja Rania akan melangkah pergi, tiba-tiba muncul sosok Bara yang entah datang dari mana.
“Kak, kamu menemui bangkotan ini lagi!” omel Bara, menatap sinis pada putrinya. Beralih menatap Matt yang sudah menciut tak berdaya. Tertunduk tidak bisa membantah.
“Dad, kami cuma mengobrol,” sahut Rania membela diri.
“Kamu lagi-kamu lagi!” omel Bara. Kali ini laki-laki itu melangkah ke arah Matt.
“Apa tidak ada perempuan lain yang bisa dimakan, sampai harus menggoda anak gadisku!” todong Bara.
“Maaf ... ayah daddy ... maaf Om ... aduh, Pak Bara.” Matt terbata, tidak berani melawan.
“Kamu tahu, putriku ini baru 17 tahun. Untuk apa mendekatinya? Apa kamu lupa umurmu berapa?” tanya Bara, masih dengan menahan amarah.
“Bukan begitu ....” Matt tidak dapat melanjutkan kata-katanya, Rania sudah menyela.
“Dad, sudah, Teo tidak salah. Kakak yang menemuinya di sini,” ucap Rania, merengkuh lengan Bara.
“Apa? Aku tidak salah dengar. TEO? Nama curut ini Rahmat, Kak. RAHMAT!” ulang Bara, semakin kesal.
“Dad ....” Rania memohon.
“Kalau mau cari pacar setidaknya jangan yang bentuknya seperti ini, Kak. Masih banyak laki-laki di dunia ini. Kamu masih muda, sekolah yang benar. Jangan pacaran dulu.”
“Lagipula, apa bagusnya Teomu ini. Laki-laki ini hanya sisa-sisa pabrik yang tidak laku terjual, Kak. Makanya sampai sekarang masih jomblo. Bayangkan saja Kak, yang satu tahun produksi dengannya saja sudah laku semua. Yang model begini, diobral saja belum tentu laku, Kak.”
“Ya Tuhan, ucapan ayah daddy mertua menusuk ke hati yang terdalam. Kalau bukan karena sudah cinta mati ke Rania, pasti sudah kutraktir secangkir kopi,” batin Matt menahan kesal.
Ayo kita temui mommy. Ini juga pasti ulah mommymu sampai anaknya ditempel makhluk jadi-jadian, dia tidak tahu,” gerutu Bara, menyeret putrinya menjauh.
Laki-laki itu masih sempat mengepalkan tangan dan mengarahkan pada Matt. Bibirnya menggerutu kesal.
***
Matt kembali bergabung dengan Zoe, setelah berhasil menemui Rania sebentar, meskipun berakhir dengan terinjak-injak kembali harga dirinya karena ulah Bara.
Terlihat Ditya sedang duduk di samping istrinya yang mengobrol dengan Nyonya Halim. Laki-laki tampan yang menjadi sorotan malam ini, tampak sibuk dengan ponsel di tangan sambil sesekali berbisik di telinga Frolline.
Perbincangan di meja bundar itu terhenti, saat terdengar suara feminim menyapa Ditya.
“Honey ....”
Baik Ditya, Matt maupun Zoe, menelan saliva. Teringat kembali ancaman yang sempat diucapkan sang nyonya bos.
__ADS_1
***
TBC