Crazy Rich Mencari Cinta

Crazy Rich Mencari Cinta
Bab 77 : Apa aku nikahi saja


__ADS_3

“Kurang ajar! Apa yang kamu lakukan di dalam?” tanya Ditya berlari dan menghampiri Firstan. Tanpa bertanya, laki-laki itu melabuhkan sebuah pukulan tepat di rahang keponakannya.


Baku hantam berikut sumpah serapah terdengar dari bibir keduanya. Dendam yang selama ini dipendam Om dan keponakan itu tersalurkan sudah. Satu pukulan berlabuh di rahang Ditya, berikutnya wajah Firstan mendapat giliran yang sama. Bergumul di lantai dengan wajah bengkak tak karuan, keduanya saling tindih menindih bergantian sampai pekik nyaring suara Marisa yang terganggu dengan suara gaduh di ruang keluarga.


“Ya Tuhan, apa yang terjadi ini?” Marisa dengan sodet kayu di tangan kanannya, memukul keduanya supaya mau saling melepas. Aroma ikan asin yang menyengat, berbagi di tubuh keduanya. Sodet berminyak itu sekarang bersih tak bersisa.


“Apa-apaan ini!” omel Marisa, menarik tubuh putranya yang sedang mengunci adiknya. Dia sedang menggoreng ikan asin untuk teman sayur asem.


“FIRST!! Berhenti!! Stop!!” pekik Marisa saat keduanya masih belum mau selesai dengan perkelahiannya.


“DIT!!”


Kedua laki-laki dewasa itu akhirnya memilih menyudahi pergelutan. Ditya dengan mengusap sudut bibirnya yang luka dan Firstan mengusap luka di pelipisnya.


“Sudah puas?” tanya Marisa masih kesal.


“Apa ini?” Ditya menarik kaosnya dan mencium aroma ikan asin di tubuhnya.


“Kalau masih kurang, aku bisa menyirammu dengan kuah sayur asem.” Marisa menambah lagi.


“Kak ....”


“Kenapa? Datang-datang tanpa permisi, tanpa suara, tiba-tiba sudah bertengkar saja dengan keponakanmu sendiri. Masalahnya apa?” gerutu Marisa. Wanita itu sudah bertolak pinggang di depan keduanya.


“Kamu lagi! Bukannya berangkat kerja. Apa maumu di depan kamar Frolline. Jangan katakan kamu sedang mengintip tantemu tidur!” lanjut mengomel putramu.


“Bukan begitu, Mi ....”


“Sudah! Pergi ke kantor sana. Jangan membuat masalah lagi.” Marisa bergegas ke dapur meninggalkan keduanya.


Sepeninggalan Marisa, Ditya langsung memberondong Firstan dengan banyak pertanyaan. “Apa yang kamu lakukan, di kamar istriku. Katakan!” tanya Ditya. Sorot mata teduh itu berbinar penuh amarah kembali saat tertinggal mereka berdua.


Tertawa sinis, Firstan menjawab.


“Sama seperti yang kamu lakukan dulu. Ingat bukan? Kalau lupa, aku bisa mengingatkannya. Bagaimana liciknya dirimu, memisahkanku dan Fro.”


“Aku peringatkan, sampai kapan pun kamu tidak akan mendapatkan hati Fro sepenuhnya. Kamu tidak tahu apa yang sudah kami lewati bersama.”


“Kamu datang belakangan, dengan curang menggunakan segala cara merebutnya dariku.” Firstan menahan amarahnya dengan tangan terkepal. Bergegas pergi meninggalkan Ditya mematung di tempat.

__ADS_1


***


Ditya melangkah masuk ke dalam kamar tidurnya. Amarah yang sempat meluap perlahan menghilang saat melihat istrinya tertidur lelap.


"Mudah-mudahan cuma ketakutanku saja." Ditya bicara pada dirinya sendiri.


Menjatuhkan tubuh lelahnya di atas ranjang, Ditya masih sempat mengusap dahi Frolline. Memastikan istrinya baik-baik saja. Panas itu sudah tidak menyengat, suhu tubuh Frolline mendekati normal.


Pergerakan kecil, mengusik lelap sang putri tidur. Kelopak mata itu mengerjap beberapa kali. Membuka sempurna bersamaan suara khas bangun tidur. “Ko, kamu sudah datang?” tanya Frolline, berusaha bangkit dari tidurnya.


“Ya, koko baru datang. Kamu sudah baikan?” tanya Ditya. Terlintas pikiran buruk telah terjadi sesuatu antara istri dan keponakannya. Bisa saja beberapa jam terakhir mereka bersama. Mata pekat itu mencari kebenarannya dari manik mata istrinya. Meskipun tidak menemukan fakta apa-apa di sana.


Lagi-lagi Ditya mengedarkan pandangan ke sekeliling, mencari secuil bukti untuk dugaannya. Berharap hanya ketakutannya saja.


“Ko ....” ulang Frolline, melihat suaminya tidak fokus.


“Ya, Schatzi Sayang. Ada apa?”


“Koko yang ada apa? Frolline menatap suaminya sebelum akhirnya menjerit panik.


“Astaga Ko, apa yang terjadi?” tanya Frolline, menangkup wajah suaminya dengan kedua tangan. “Ini apa? Koko bertengkar dengan siapa?” tanya Frolline lagi.


“Ini? Tidak apa-apa.” Ditya ikut mengusap pelan sudut bibirnya yang sobek.


Segera bangkit, dan bergegas keluar kamar. Frolline pergi tanpa berkata-kata.


“Fro, kamu mau ke mana?” tanya Ditya heran.


“Duduk di sana! Jangan ke mana-mana, aku akan segera kembali,” titah Frolline, mengarahkan telunjuknya.


Tak lama, dia sudah kembali dengan handuk dan es batu beserta kotak obat. Menghempaskan tubuh di sebelah suaminya.


“Buka bajumu! Benar-benar bau ikan asin!” omel Frolline. Sakitnya hilang saat melihat kondisi Ditya yang mengenaskan. Ada luka sobek dan bengkak di sekitar pelipis.


Kedua tangan itu sudah menarik lepas pakaian atas suaminya. Melemparnya kasar ke lantai kamar, membiarkan tubuh kekar itu bertelanjang dada. “Koko tidak jauh beda dengan ikan asin,” gerutu Frolline, Fokusnya pada wajah tampan Ditya. Mengusap es batu yang terbungkus handuk kecil itu di pelipis Ditya yang membiru.


“Seperti anak kecil saja! Berebutan mainan!” Bibir Frolline tak henti menggerutu.


“Aduh! Ini sakit, Sayang. Bisa pelan-pelan, kah?” pinta Ditya, mengernyit saat istrinya dengan kasar mengusap bengkak di wajahnya.

__ADS_1


“Sakit apanya? Koko pukul-pukulan tadi tidak meminta lawanmu memukul dengan lembut!" gerutu Frolline.


"Jadinya tidak hancur begini, kan? Ini sudah lembut! Apa yang kalian rebut?” tanya Frolline. Dia tahu jelas apa yang terjadi, saat keluar tadi, dia melihat sendiri Marisa sedang mengobati luka Firstan.


"Aduh, Sayang. Usapnya yang pelan," keluh Ditya saat Frolline menekan lukanya dengan keras dan tak berperasaan.


“Koko tidak merebut. Koko sedang mempertahankan milik Koko. First yang merebut!” lanjut Ditya, masih menahan perih saat Frolline mengoles salep di sudut bibirnya.


Tersenyum saat sapuan lembut jemari istrinya mengenai wajah, Ditya memilih meraih pinggang Frolline dan memeluknya erat. Menatap lekat istrinya dan mengabsen setiap lekuk wajah cantik yang sudah menjadi miliknya, haknya.


“Kalau aku tidak mempercayaimu, bukankah memberi kesempatan setan kecil itu masuk di hubungan kita. Semoga, kamu masih menjaga setiamu, dengan sisa hati yang bahkan belum berhasil ku miliki.” Ditya membatin.


“Fro ... kamu ....” Ditya membingkai wajah istrinya dengan kedua tangannya. Berharap bisa menyampaikan perasaannya hanya lewat tatapan mata. Ingin mengumbar cemburunya, tetapi malu pada umur dan kepercayaan yang sebelumnha sudah diberikan pada sang istri.


Frolline menggeleng. “Tidak terjadi apa pun antara aku dan First. Bahkan sejak menginjak kakiku di sini, aku belum mengobrol sama sekali dengannya. Aku sudah berjanji padamu, Ko.” Frolline menjelaskan tanpa diminta. Dia mengerti Ditya menunggu pernyataannya.


Tangan yang tadi menangkup wajah, berganti mendekap tubuh istrinya. Dekapan begitu erat, sampai keduanya kesulitan bernapas.


“Ko, jangan seperti ini,” pinta Frolline, menepuk punggung telanjang sang suami.


“Terimakasih, Nyonya Ditya.”


Kecupan beruntun pada wajah Frolline, membuat wanita dengan gaun tidur satin selutut itu terkekeh kegelian.


Sekali sentakan keduanya sudah berguling ke tengah ranjang. Masih dengan posisi saling memeluk, Ditya membuka suara.


“Fro, mommy meminta kita kembali ke penthouse dan mengambil alih perusahaan. Bagaimana menurutmu?” tanya Ditya. Laki-laki itu sedang menikmati tubuh sang istri yang sedang menempel manja di dada telanjangnya.


“Lalu bagaimana dengan perjodohanmu, Ko? Apa daddy mau mengalah?” tanya Frolline, menggelitik lekuk dada suaminya dengan ujung telunjuk.


Ditya menggeleng. “Atau ... em ... apa aku nikahi saja, ya?” goda Ditya, sengaja menunggu reaksi sang istri.


Mendengar itu, Frolline langsung menindih tubuh Ditya. Duduk di atas perut roti sobek yang telanjang, kemudian mencekal kedua tangan suaminya dan mengunci di atas kepala.


“Ouwhh, Nyonya. Kamu sudah berani melecehkanku!” ucap Ditya tersenyum mendapati respon yang tidak biasa. Laki-laki itu pasrah, telentang di atas ranjang, menunggu hukuman dari istrinya.


“Katakan sekali lagi, Koko mau menikahi siapa?” pinta Frolline dengan wajah cemberut.


Tawa Ditya pecah saat melihat cemburu itu nyata di manik mata istrinya. “Katakan dulu apa hukumannya, baru Koko akan menjawab!” Ditya memancing kembali.

__ADS_1


***


TBC


__ADS_2