Crazy Rich Mencari Cinta

Crazy Rich Mencari Cinta
Extra part 5


__ADS_3

Dragon ...." Frolline menghampiri putranya di tengah kecemasan melanda hati. Ia tidak bisa berpikir positif lagi saat Ditya melewatkan janjinya dan tidak bisa dihubungi.


Bukan pulang sebelum makan malam, bahkan suaminya sudah membuatnya menunggu dalam khawatir di beberapa jam terakhir. Panggilan teleponnya tak ada satu pun yang tersambung. Begitu juga dengan Matt, asisten Ditya juga tidak bisa dihubungi. Ponsel Matt sedikit lebih baik. Masih tersambung walaupun tidak mendapat jawaban.


"Dad, biarkan Dragon bersamaku." Frolline mengambil alih putranya dari sang ayah mertua. Pria berusia senja itu sedang berjuang menenangkan sang cucu kesayangan.


"Jangan menangis, Sayang." Frolline mendekap dan menimang putranya agar tertidur kembali.


"Fro, kamu istirahat saja dulu. Daddy akan mencari tahu apa yang terjadi pada Ditya."


"Ya, Dad." Frolline menurut. Tanpa banyak protes, ia membawa putranya ke kamar. Samar-samar, ia bisa mendengar Halim memerintahkan asisten Joe untuk segera mencari tahu.


***


Meletakan tubuh Dragon yang sudah terlelap kembali setelah lelah mengamuk di atas ranjang, Frolline ikut merebahkan diri di kamar putranya. Ia sudah lelah berdoa, lelah menunggu, lelah berharap dalam ketidakpastian. Kepalanya berdenyut, pikirannya kacau. Bahkan ia tidak mengisi perutnya dengan baik saat makan malam. Nafsu makannya hilang bersama keresahan yang mengumpul di dalam hati.


Meluruskan tubuh lelahnya, Frolline tersentak saat ponselnya berdering. Ia sudah bahagia, tetapi senyuman itu lenyap saat memastikan si penelepon bukanlah Ditya, melainkan Mommy.


"Ya, Mom." Frolline menjawab dengan suara lemas.


"Daddy baru saja menghubungi. Ditya belum kembali dari Palembang?" tanya Meliana Halin di telepon. Terdengar kecemasan yang sama di dalam nada bicara sang mommy mertua.


"Ya, Mom." Suara Frolline terdengar bergetar.


"Mommy pulang sebentar lagi. Kamu mau dibawakan sesuatu?" tawar Meliana.


"Tidak, Mom."


"Apa Dragon rewel?"


"Tidak, Mom. Dragon sedang tidur." Frolline menjelaskan.


"Baiklah. Jangan khawatir, Ditya pasti baik-baik saja." Meliana memutuskan panggilannya.

__ADS_1


***


Frolline tertidur setelah kelelahan menunggu di ruang keluarga. Terlihat ibu hamil itu terlelap dengan mendekap ponselnya. Tidak hanya panggilan, bahkan puluhan pesan teks dikirimkan pada suaminya dan belum mendapat jawaban. Ditya seakan hilang ditelan bumi. Dan Daddy, sejak ia keluar dari kamar putranya, pria tua itu menghilang. Ingin bertanya kabar, tetapi ia sungkan. Tidak enak mengetuk kamar mertuanya.


Terbangun saat jam di ruang tengah berdentang sebanyak dua belas kali, Frolline terkejut saat melihat Halim juga melakukan hal yang sama. Pria tua itu terjaga, berjalan menuju ke ruang tamu dengan dipapah Joe.


"Dad, kenapa bangun?” tanya Frolline.


"Tidurlah di kamar. Orangku sudah mendapatkan kabar kalau Ditya sudah di Yogyakarta bersama Matt."


Frolline terkejut. "Kenapa Koko tidak mengabariku?" tanya Frolline mengerutkan dahi.


"Ada sedikit masalah dengan perusahaan di Yogyakarta. Dan Ditya ambruk sesaat tiba di bandara. Terlalu kelelahan, jadi harus beristirahat sehari di rumah sakit. Matt sibuk mengurusnya, jadi belum sempat mengabari." Halim menjelaskan.


"Koko sekarang di mana?" tanya Frolline.


"Masih dirawat di rumah sakit."


Tubuh Frolline melemas, terjatuh duduk di sofa. Ia tidak bisa berpikir tenang. Terbayang suaminya sendirian di rumah sakit. Bahkan, ia tidak bisa merawat Ditya. Air matanya menetes, tanpa bisa ditahan. Selama kembali ke Indonesia, Ditya harus bekerja keras. Bahkan suaminya tidak punya banyak waktu untuk sekedar beristirahat. Setahun di Eropa, ada banyak pekerjaan yang terbengkalai, dan Ditya harus membereskannya satu per satu.


"Ya, Dad."


***


Melewati sisa malam dengan perasaan sedikit lebih tenang, Frolline sudah tidak sabar lagi menunggu matahari terbit. Saat azan Subuh memanggil, ibu hamil itu segera menghubungi Matt. Ia ingin segera mendengar sendiri kabar suaminya. Ia ingin mendengar suara Ditya, memastikan kalau papa dari anaknya baik-baik saja.


Mengusap layar gawai putihnya, Frolline hampir gila saat mendengar suara Ditya yang menyambut panggilannya.


"Ya, Schatzi ...." Terdengar suara pelan Ditya dari seberang.


"Koko ke mana saja? Kenapa tidak mengabariku. Aku mengkhawatirkanmu sepanjang malam." Frolline berkeluh kesah, menumpahkan perasaan yang berusaha di tahannya.


"Maafkan, Koko ...."

__ADS_1


"Koko di mana? Masih di rumah sakit?" tanya Frolline lagi. Ingin rasanya terbang menemui Ditya saat ini juga. Ia ingin memeluk suaminya. Menikmati aroma tubuh Ditya yang bercampur keringat.


"Kemarin ... seharian Koko sibuk, telat makan. Saat hendak kembali ke Jakarta, tiba-tiba dapat laporan dari pimpinan di Yogyakarta. Ada sedikit masalah, jadi Koko putuskan langsung terbang ke Yogya saja. Lagi pula besoknya Koko akan ke Yogya juga, kan. Koko pikir begitu sampai di sini ... baru mengabarimu. Ternyata Koko ambruk dan Matt harus membantu Koko mengurus masalah di perusahaan sementara Koko beristirahat di rumah sakit." Ditya menjelaskan.


“Ah ... aku ingin melihat Koko sekarang. Matikan dan kita video call,” putus Frolline.


Tak lama, kerinduannya terbayar. Frolline bisa melihat wajah pucat suaminya yang bersandar di brankar rumah sakit.


“Sudah, jangan sedih lagi. Kalau kondisi Koko membaik, sore ini Koko kembali ke Jakarta. Ada rapat penting besok siang. Koko tetap harus kembali ke Jakarta secepatnya.” Ditya berusaha tersenyum.


“Kenapa bangun pagi-pagi sekali. Apa Dragon rewel?” tanya Ditya.


Frolline menggeleng sambil menatap wajah Ditya yang memenuhi layar ponselnya.


“Tidur yang benar! Makan yang benar. Kamu sedang hamil, Fro. Ingat itu. Koko baik-baik saja,” tutur Ditya menunjukan tangannya yang tertancap jarum infus.


“Koko hanya kelelahan. Tidak ada masalah serius, Fro. Jangan khawatir.” Ditya menenangkan.


“Tetap saja! Aku tidak bisa tidur. Tidak ada yang memelukku.” Frolline tersenyum malu-malu.


“Jangan bicara yang manis-manis di sini. Kasihan Matt.” Ditya berbisik.


“Kenapa?” tanya Frolline.


“Matt bertengkar dengan pacarnya karena tidak jadi pulang ke Jakarta. Dia ada janji makan malam bersama keluarga calon mertuanya. Sampai sekarang masih uring-uringan.” Ditya bercerita sembari tergelak.


“Serius, Ko?”


“Ya, dia meminta Koko datang ke tempat calon mertuanya dan menjelaskan langsung. Pacarnya mengancam, meminta putus.”


“Hah! Bagaimana bisa, Ko?” tanya Frolline.


“Calon mertuanya mengamuk kemarin malam. Diminta memilih putus atau pacarnya mau dikirim ke luar negri.” Ditya menatap iba pada Matt. Asistennya itu sedang berjongkok di sudut kamar perawatan dengan wajah memelas.

__ADS_1


***


Tbc


__ADS_2