
Ditya masuk ke dalam ruang rapat dengan menahan emosi. Susah payah lelaki itu menyembunyikan perasaan cemburunya. Baru saja dia meminta pada Matt supaya menyingkirkan keponakan kesayangannya, tetapi yang terjadi bukannya menjauh malah sekarang lelaki itu menempel pada istrinya.
“Sayangku,” panggil Ditya, berjalan menghampiri Frolline, meletakan bungkusan makanan yang tadi ditenteng Han. Dia sengaja memanggil Frolline dengan panggilan yang tidak biasa digunakannya, untuk menunjukan rasa cinta dan kepemilikannya pada sang istri.
Sebuah kecupan mendarat di bibir Frolline, tiba-tiba dilabuhkan Ditya tanpa malu-malu. Bahkan Ditya me’lumat bibir istrinya sedikit lebih lama, tanpa peduli dengn kehadiran Firstan di tengah mereka. Beruntung, Frolline tidak menolaknya dan protes.
“Ko..” Akhirnya setelah sekian lama, Frolline menepuk pundak Ditya, memohon lelaki itu menyudahi.
“Eitts, aku tidak melihat ada orang disini,” sahut Ditya dengan santai, mengusap bibirnya yang basah dengan ujung ibu jarinya.
“Maaf, keponakanku. Sedang apa disini?” tanya Ditya, melirik sekilas laptop yang masih menyala di hadapan Firstan.
Baik Frolline maupun Firstan memilih diam seribu bahasa. Meskipun begitu, layar menyala itu cukup menjawab semuanya. Sang istri sedang mempelajari banyak hal tentang perusahaan ini dengan bantuan Firstan, tentunya kalau tidak ada udang di balik batu.
“Reunian?” tanya Ditya, memeluk pundak Frolline dari belakang.
“First sedang menjelaskan tentang perusahaan ini,” jelas Frolline, membuka suara.
“Oh.. hanya sebatas atasan dan bawahan.” Ditya mencoba menutupi kecemburuannya dengan bersikap santai.
“Aku membawakanmu makan siang. Kita makan sekarang, aku sudah lapar,” bisik Ditya di telinga istrinya.
Melihat interaksi Frolline dan Ditya, Firstan cukup tahu diri, tanpa diminta lelaki itu berpamitan.
“Sweet, nanti kita lanjutkan lagi,” pamit Firstan, sengaja memancing Ditya dengan panggilan sayang yang biasa digunakannya dan Frolline sewaktu masih berstatus pacaran.
“Sweet?” tanya Ditya, mengulang kembali panggilan yang barusan didengarnya keluar dari bibir Firstan.
“Hmmm,” gumam Frolline, memilih fokus pada makan siang yang dibawakan Ditya.
“Kenapa dia memanggilmu begitu?” todong Ditya.
“Karena kamu juga sengaja memancingnya terlebih dulu,” sahut Frolline santai.
“Jangan katakan dia masih cemburu, berarti dia masih ada rasa padamu,” tebak Ditya lagi.
“Sudah aku tidak mau membahasnya, Ko. Apa yang kamu bawakan untuk makan siang?” tanya Frolline, sibuk membongkar bungkusan yang dibawakan suaminya. Ada nasi tim lengkap dengan acar.
__ADS_1
“Fro, bisakah jangan terlalu dekat dengan First,” ucap Ditya tiba-tiba. Lelaki itu sudah mengambil posisi duduk di kursi yang sebelumnya diisi keponakannya.
“Ya ampun, Ko. Aku hanya belajar mengenai perusahaan darinya. Kami tidak ada hubungan apa-apa,” sahut Frolline, membela diri.
“Senyummu itu membuatku cemburu,” ucap Ditya terus terang. Tanpa malu-malu, lelaki itu mengakui perasaannya.
“Hanya tersenyum saja, harus protes!” keluh Frolline, membuka kotak makanan dan menyiapkannya di depan suaminya.
“Makan sekarang, Ko. Kalau perutmu kenyang, kamu tidak akan memikirkan hal yang aneh-aneh,” tegas Frolline, menyerahkan sendok plastik pada lelaki yang membuka lebar matanya.
“Fro, aku tidak mau makan dengan tampilan seperti ini. Minta karyawanmu menyiapkan piring dan sendok yang layak. Aku juga mau secangkir teh hangat,” pinta Ditya, menatap kotak makanan dari mika dan sendok plastik yang melengkapi.
“Ko, kenapa cerewet sekali?” dengus Frolline, kesal.
“Bekerja penting, tetapi makan juga penting. Aku tidak peduli apa menu yang disajikan, tetapi aku ingin tampak layak,” cerocos Ditya.
Frolline hanya bisa menahan kesal, baru saja dia akan beranjak keluar untuk meminta karyawan pantry menyiapkan semua pesanan suaminya.
“Eh, mau kemana Fro?” cegah Ditya menahan lengan Frolline.
“Mau meminta karyawan menyiapkannya untukmu,” sahut Frolline, merengut.
“Fro, ayo duduk di tempatmu tadi mengobrol dengan First,” pinta Ditya, menarik istrinya duduk di atas meja.
“Apa-apan ini, Ko.” Frolline melayangkan protes dengan wajah tidak bersahabatnya.
Sebaliknya Ditya, lelaki itu tampak begitu kekanak-kanakan dengan sikap dan permintaannya yang aneh.
“Fro, jangan cemberut seperti ini. Apa kamu tidak merasa kalau ini tidak adil untukku?” tanya Ditya mengingatkan.
Kalimat Ditya seakan menampar, tanpa menyentuhnya. Lembut memohon tetapi menusuk.
“Fro, aku suamimu. Kamu masih ingat kan, kalau kita sudah menikah?” ucap Ditya, menegakan duduknya, lalu meraih kedua tangan Frolline dan menggengam. Jemarinya sedang mengusap cincin nikah yang diselipkannya di jari manis Frolline saat mengucapkan janji suci di depan Tuhan.
“Iya..”
“Aku cemburu. Aku iri dengan lelaki yang tidak memiliki hak apapun atas hidupmu, tetapi dia bisa membuatmu tersenyum begitu lepas. Berbeda saat denganku,” ucap Ditya, perlahan membawa tangan kiri Frolline menyentuh dadanya.
__ADS_1
“Kamu bisa merasakan, Fro,” bisik Ditya pelan, mendekatkan wajahnya pada sang istri.
Frolline menggelengkan kepala. “Maaf.”
“Di dalam sini sedang meletup-letup seperti anak krakatau siap menumpahkan isi perutnya, memanas dan siap membakar diriku,” lanjut Ditya tersenyum.
“Aku butuh es untuk mendinginkannya,” ucap Ditya, tersenyum kecut menatap Frolline yang sungkan padanya. Berbeda perlakuan saat bersama Firstan. Istrinya bisa lepas dan menjadi dirinya sendiri.
Lama Ditya menatap, menunggu respon Frolline, lelaki itu sudah menyodorkan pipi kanannya supaya mendapat hadiah manis dari sang istri, tetapi memang ikatan hati itu tidak bisa dipaksa. Seberapa besar dia memaksa Frolline mendekat padanya, tetap akan tersisa jarak diantara mereka. Cinta itu belum tumbuh, bahkan belum ada sama sekali.
“Aku hanya memiliki ragamu, tetapi tidak hatimu. Sampai kapan aku harus menunggumu, Fro. Bahkan kamu sendiri tidak ingin memulainya,” ucap Ditya menelan kecewa. Frolline bahkan tidak bisa membaca kode darinya.
“Maafkan aku, Ko. Kalau selama ini aku belum bisa mencintaimu, tetapi aku akan mencoba,” bisik Frolline tertunduk.
“Matt sudah menyiapkan semua dokumen keberangkatan kita ke Jerman. Dalam minggu ini kita akan terbang dan bersiap bertemu dengan mamaku. Aku mohon saat bertemu dengan mamaku bersikaplah lebih manis.”
“Iya.”
“Mamaku tidak peduli dari keluarga mana istriku berasal. Mama juga tidak peduli, kamu bisa memasak atau tidak, bisa berkarir atau tidak. Yang terpenting untuknya, menantunya bisa membuat putranya bahagia. Itu sudah lebih dari cukup untuk mama.”
Ditya menggengam tangan Frolline dengar erat. “Mungkin kita memulainya dengan terpaksa, tetapi ketika kita mengatakan “Ya, aku bersedia” di hadapan Tuhan, artinya kita harus menjaga komitmen itu.”
“Iya..”
“Sebenarnya kalau kamu mencintaiku, senyuman hangatmu ketika berbincang dengan Firstan itu tidak ada artinya, tetapi karena kamu tidak mencintaiku, semuanya terasa begitu menyakitkan.”
“Maafkan aku,” bisik Frolline pelan.
Kedua sudut bibir lelaki itu tertarik ke atas.
“Aku tidak membutuhkan kata maafmu, Fro, aku hanya butuh cintamu. Sedikit tempat di hatimu. Aku tidak meminta seluruhnya, hanya sedikit tempat.”
“Maafkan aku,” bisik Frolline, mengulang kembali, tetapi kali ini dia menghambur dan memeluk erat Ditya.
“Aku akan belajar untuk itu,” lanjut Frolline pelan, mengecup pipi Ditya, membuat lelaki itu berbunga-bunga.
***
__ADS_1
TBC