
Indonesia
Kondisi fisik Halim Hadinata sedikit menurun pasca kepergian diam-diam Ditya. Meskipun kondisi Halim tidak separah biasanya. Entahlah, mungkin karena tanggung jawab yang besar terhadap perusahaan membuat Halim berusaha tegar dan kuat di usia tuanya. Pria renta itu memilih tetap tinggal di Jakarta supaya bisa mengawasi perusahaannya lebih dekat. Dibantu istrinya Meliana, kedua orang tua lanjut usia itu mengurusi perusahaan kembali.
Siang itu, setelah tiga hari kepergian Ditya, akhirnya Marisa yang ditemani Firstan datang mengunjungi kedua orang tuanya. Halim dan istrinya yang kembali menghuni rumah lama mereka di daerah Menteng, harus mulai terbiasa dengan segala rutinitas pekerjaan yang sempat ditinggalkan selama beberapa tahun belakangan.
"Dad, Mom ...." Marisa menyapa kedua orang tuanya bergantian.
Halim yang duduk di sofa ruang tamu ditemani istrinya, Meliana tampak kaku dan tidak bereaksi.
"Ci ...." Meliana menyapa Marisa dengan berlinang air mata. Kedua tangannya terbuka, siap menyambut putrinya yang telah lama hilang. Biasanya ia hanya bisa memeluk Marisa dalam mimpi, menatap Marisa dalam bentuk foto yang dikirim orang-orang Halim. Namun, sekarang Marisa benar-benar datang setelah dua puluhan tahun pergi.
"Mommy ...." Marisa setengah berlari, memeluk ibunya. Air matanya tumpah, rindu yang selama ini disimpan di dada menyesak keluar.
"Ci, akhirnya Mommy bisa memelukmu." Ada nada kelegaan di dalam suara wanita lanjut usia itu. Seperti beban yang diangkat dari pundaknya.
"Mommy selalu berdoa, berharap Tuhan segera mendatangkan hari ini. Mommy takut ... tidak memiliki kesempatan memeluk anak Mommy selagi masih bernapas. Mommy merindukanmu, Sayang." Meliana mendekap erat Marisa. Diciumnya sampai puas. Walaupun Marisa bukan anak kecil lagi, bagi Meliana tetap saja Marisa anaknya yang ingin terus dipeluknya.
Setelah mengurai pelukannya pada Mommy, Marisa beralih menatap Halim. Daddy terlihat mengerikan seperti biasa. Wajah kaku dengan garis rahang keras, tidak ada kelembutan sama sekali.
"Dad ...." Marisa berjalan mendekat dengan ragu. Melihat Halim tidak bereaksi dan bersuara, ibu dari seorang putra itu memberanikan diri memeluk.
"Dad, maafkan aku baru datang sekarang. Aku tahu, aku salah sudah menentangmu selama ini." Marisa menangis kencang di pelukan Halim. Tubuhnya bergetar, merosot jatuh ke lantai. Bersimpuh dan memeluk kaki Halim.
"Dad, maafkan aku sudah tidak berbakti padamu." Marisa bersuara kembali.
Tidak ada jawaban, tetapi mata Halim berkaca-kaca. Tangan keriput itu gemetar, perlahan menepuk pucuk kepala Marisa.
"Pulanglah, bantu aku mengurus perusahaan." Halim berkata datar. “Adik nakalmu itu sungguh menyusahkan."
Deg--
Kebahagiaan Marisa benar-benar membuncah hanya dengan satu kalimat yang keluar dari bibir Halim.
"Ya, Dad," ucap Marisa sembari mengusap kasar air matanya. Ia berbalik menatap putranya, Firstan.
"First, sapa Wài gõng," pinta Marisa.
"Dan ini Wài pó," lanjut Marisa menunjuk ke arah Meliana.
Firstan bingung dengan panggilan yang tidak biasa di lidahnya. Menurutnya cukup memanggil Opa dan Oma seperti orang kebanyakan. Meskipun begitu, ia tetap menurut.
"Wài gõng ...."
"Wài pó ...." sapa Firstan.
"Kemarilah!" pinta Halim.
Dengan ragu-ragu, Firstan mendekat dan memeluk kakeknya yang dipanggil Wài gõng.
"Kamu sudah sebesar ini. Belajarlah di Halim Group, kamu bisa membantu Mami dan Jìu jìu." Halim berpesan.
Firstan mengangguk. Ia bisa merasakan tepukan lembut tangan sang kakek di punggungnya.
Acara mengharu-biru itu tidak berlangsung lama. Halim mengundang putrinya dan cucu pertamanya itu untuk menikmati makan siang bersama.
"Suamimu tidak datang?" tanya Mommy di sela acara makan siang bersama. Untuk pertama kalinya, Marisa makan satu meja kembali bersama keluarganya.
__ADS_1
Marisa terdiam. Pandangannya beralih pada Halim. "Suamiku masih ada sedikit pekerjaan." Marisa menjawab pelan. Tidak mau menjawab jujur, kalau suaminya tidak bersedia datang karena tidak mau menerima penghinaan lagi dari daddy-nya.
Mendengar jawaban Marisa, Halim tertawa sinis. "Tetap saja sombong. Dari dulu tidak pernah berubah. Tidak ada aturannya aku sebagai orang tua mendatanginya dan memberi maaf. Bukankah seharusnya, yang lebih muda yang melakukannya," sindir Halim.
"Aku mau lihat, dia bisa bertahan sampai kapan. Jangan sampai nanti setelah aku sudah terbujur kaku di dalam peti mati baru mau datang meminta maaf," lanjut Halim dengan nada tegas.
"Ya, Dad. Maafkan suamiku." Marisa berkata pelan.
"Bukan tugasmu menyampaikan permintaan maaf atas namanya. Permintaan maaf itu tidak bisa diwakilkan!" tegas Halim.
"Baik, Dad."
"First, ini untukmu." Halim yang sudah menyelesaikan makan siangnya tiba-tiba melepas cincin yang melingkar di jari tengahnya. Cincin emas dengan bentuk naga berhias batu permata itu diletakannya di atas meja.
"Joe, tolong ambilkan tempatnya," perintah Halim pada asistennya.
"Ini hadiah dari papaku sebelum dia meninggal. Aku menghadiahkannya padamu, cucu pertamaku, Firstan Samudra." Halim berkata sambil tersenyum.
"Terima kasih, Wài gông."
***
Netherlands ( Belanda )
Selama beberapa hari berkeliling Belanda. Ditya akhirnya memboyong Frolline ke Belgia. Sudah banyak tempat yang mereka kunjungi. Amsterdam, Den Haag, Rotterdam, Utrecht dan ada beberapa kota lagi.
Selain menyusuri kanal Amsterdam yang begitu indah, Ditya juga membawa Frolline mengunjungi Begijnhof. Sebuah lapangan yang terletak di pusat kota Amsterdam. Ada banyak tempat di Amsterdam yang dikunjungi keduanya. Dari Royale Palace of Amsterdam, Bloemenmarkt ( Floating Flower Market ) sampai Oosterpark. Musim semi di Belanda membuat Ditya leluasa mengajak istrinya berkeliling. Mengeksplor negeri kincir angin itu.
Mereka juga mengunjungi taman bunga Keukenhof. Sempat mampir di Desa Kinderdijk atau desa 1000 kincir. Sebuah desa wisata yang terletak di daerah Alblasserwaard.
Ada banyak tempat wisata yang mereka kunjungi. Dari Taman Safari Berkse Bergen, Rijksmuseum, Madurodam ( kota miniatur dengan skala 1 : 25 ) yang berlokasi di Scheveningen, Den Haag. Ditya juga sempat mengajak Frolline mengunjungi Jordaan dan Leiden.
"Fro, apa kamu baik-baik saja?" tanya Ditya melihat istrinya duduk di atas tempat tidur sambil memijat betis. Mereka baru saja kembali ke apartemen, setelah menikmati makan malam di salah satu restoran Asia. Selama tinggal di Belanda, Ditya memilih menetap di apartemen.
"Kakiku sakit, Ko," keluh Frolline. Selama berkeliling Belanda, ia dan Ditya lebih sering berjalan kaki dibanding saat masih tinggal di Indonesia, ke mana-mana turun naik mobil.
"Mau dipijat?" tawar Ditya.
"Mau, Ko," sahut Frolline dengan manjanya.
Menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur, Ditya memindahkan kedua kaki Frolline ke atas pangkuannya.
"Di sini?" tanya Ditya, mulai memijat betis istrinya.
"Ya, Ko. Di situ."
Pijatan Ditya yang lembut sanggup membuat penat dan lelah itu hilang sejenak. Frolline hampir tertidur sambil bersandar di tumpukan bantal saat ponselnya bergetar di atas nakas.
"Ko, tolong ambilkan." Frolline menodongkan tangannya, bersiap menyambut ponsel.
"Siapa Fro yang menghubungimu malam-malam begini?" tanya Ditya penasaran.
Frolline menggeleng. Jemari lentiknya sedang menggeser untuk mencari tahu. Ia membeku sesaat setelah membuka video yang dikirimkan seseorang. Nomor yang tidak terdaftar di dalam kontaknya.
"Dad ...." terdengar suara Ditya di rekaman video itu.
"Apa itu, Fro?" Ditya panik begitu mendengar suaranya sendiri.
__ADS_1
"Aku tidak tahu, Ko. Biarkan aku mendengarnya sampai selesai."
"Kemarikan ponselmu, Fro," pinta Ditya, meminta Frolline tidak melanjutkan video rekaman itu sampai selesai.
"Tidak! Biarkan aku melihatnya sampai selesai, Ko," tolak Frolline kembali melanjutkan.
Ibu hamil itu menangis, air matanya bercucuran menahan kesedihan sesaat setelah melihat rekaman video Ditya yang ditujukan pada Daddy.
"Ko, kenapa harus melakukan ini. Ayo kita pulang kembali ke Indonesia. Kasihan Daddy," ucap Frolline dengan suara bergetar.
"Tidak, Fro. Kita tetap di sini." Ditya langsung menghambur memeluk Frolline. Diusapnya pelan rambut panjang istrinya.
"Setelah bayi kita lahir, kita baru kembali ke Indonesia," lanjut Ditya, mengusap pelan perut rata Frolline.
"Koko ingin membuatmu bahagia selama kehamilan ini. Koko ... Koko tidak mau melihatmu menangis lagi, Fro. Tahukah kamu, Fro? Setiap kamu menangis, bayi kita juga menangis." Ditya berkata lembut.
Kata-kata Ditya begitu menyentuh. Wanita mana yang tidak terharu diperlakukan seperti itu. Ditya melepas banyak hal untuk membawanya ke sini. Frolline tahu itu. Namun, ketika melihat suaminya berlutut meminta maaf pada Daddy, ia benar-benar terenyuh. Ia melihat pengorbanan Ditya untuknya dan anak mereka yang masih di kandungan.
"Koko, maafkan aku. Apa aku begitu egois?" tanya Frolline, menghambur memeluk Ditya dengan erat.
"Sudah tidak apa-apa. Saat ini kamu yang terpenting untuk Koko, Fro." Ditya mengurai pelukannya dan mengecup bibir Frolline sekilas.
"Aku tidak masalah kalau Koko mau kembali ke Indonesia."
"Tidak, kita nikmati saja liburan ini. Setelah kamu melahirkan, kita kembali ke Indonesia. Anak kita butuh nama dari Daddy."
"Hah?" Frolline tidak paham.
"Kemarilah. Koko akan menjelaskan padamu. Bayi kita itu akan menjadi cucu pertama Daddy yang meneruskan marga Lim."
"Koko juga tidak terlalu paham, tetapi nama tengah anak kita itu akan menunjukan identitas dia. Bahwa dia lahir di generasi ke sekian keluarga Lim. Seperti nama Koko, Lim Rung Wei. Nama Rung di tengah itu menunjukan generasi. Setiap keluarga Lim yang lahir di generasi yang sama dengan Koko, akan memiliki nama tengah yang sama."
"Ya Tuhan, ini serius Koko?" Frolline ternganga.
Ditya mengangguk.
"Apakah sebegitu berartinya anak ini untuk keluargamu, Ko." Frolline mengusap perutnya sendiri.
"Ya ...." Ditya tertunduk.
"Jadi Koko mohon, kamu mau mengerti sikap Daddy yang menentang pernikahan kita. Sikap Daddy yang begitu mementingkan bibit bebet dan bobot untuk istriku. Karena bayi yang lahir dari rahim istriku, anak-anakku, keturunanku itu adalah penerus keluargaku. Sedikit berbeda dengan Kak Marisa. Apapun pilihan Kak Marisa, itu tidak terlalu berpengaruh pada keluarga. Kak Marisa saat menikah sudah tidak menjadi bagian dari keluarga Lim.”
"Kamu tahu, Fro. Saat Daddy tahu Kak Marisa menikah dengan suaminya. Daddy menangis sesengukan di depan semua orang karena sayangnya pada Marisa. Daddy ingin memastikan kalau putri kesayangan yang dibesarkannya dengan penuh cinta diserahkan pada keluarga yang memang bisa dipercayainya, tetapi ternyata Kak Marisa menentukan sikapnya sendiri. Di tradisi keluargaku, saat anak perempuan menikah, itu saatnya keluarga melepas. Kak Marisa sudah menjadi milik orang lain. Milik keluarga mertuanya. Kak Marisa harus membantu suaminya mengabdi pada keluarga mertuanya."
"Di keluargaku semua anak itu sama, Ko. Tidak seperti ini. Tidak ada yang mendapat perlakuan spesial. Semua anak sama."
Ditya tersenyum. "Daddy juga sama. Dia menyayangiku dan Kak Marisa sama besarnya, tetapi Koko itu anak laki-laki di keluarga. Tanggung jawab Koko itu besar. Koko bukan hanya hanya harus mengurusi perusahaan, Koko juga harus mengurus Daddy dan Mommy sekaligus Mama. Bahkan Koko harus bertanggung jawab pada Kak Marisa dan putranya juga kalau diperlukan. Koko harus memastikan keluarga tidak tercerai berai setelah Daddy tidak ada lagi. Koko mengambil alih tugas Daddy dan menjadi kepala keluarga. Berbeda dengan Kak Marisa, dia tidak memiliki tanggung jawab untuk itu."
Frolline ternganga. Jujur saja, saat ini Frolline tersentuh dengan semua hal yang dilakukan Ditya untuknya.
"Ko, maafkan aku. Selama ini aku tidak tahu."
"Fro, selama ini Koko bukannya tidak mau meninggalkan Daddy demi dirimu, tetapi Koko memiliki tanggung jawab. Bahkan saat Daddy dan Mommy meninggal, Koko masih memiliki bertanggung jawab untuk mengantar keduanya ke peristirahatan terakhir. Dan itu hanya bisa dilakukan anak laki-laki, bukan anak perempuan," jelas Ditya.
***
Wai gong adalah panggilan untuk kakek dari pihak ibu.
__ADS_1
Wai po adalah panggilan untuk nenek dari pihak ibu.
Jiu jiu adalah panggilan untuk adik atau kakak laki-laki dari ibu.