Crazy Rich Mencari Cinta

Crazy Rich Mencari Cinta
Bab 76 : Anak Merpati vs Elang jantan


__ADS_3

“Menikahlah dengan Sandra dan aku berjanji tidak akan merecoki pernikahanmu dengan Frolline!” Halim Hadinata yang belum lama sadar dari komanya, sudah sanggup berkoar-koar dengan rencana gilanya.


“Aku tidak memanggilnya dengan embel-embel Gunawan, karena memang dia bukan putri Gunawan.” Halim melanjutkan. Menunjukan seberapa banyak yang diketahuinya tentang Frolline, menantu yang sampai saat ini tidak mau diakuinya.


Tidak ada raut keterkejutan sama sekali di wajah keduanya. Ayah dan anak itu seolah mengerti satu sama lain, bahwa masa lalu Frolline telah terang benderang tanpa harus saling membuka.


“Nikahi Sandra dan aku akan merestui pernikahanmu dengan Frolline. Kembali ke perusahaan, ambil kembali apa yang menjadi milikmu.”


“Tidak!” Jawaban Ditya masih sama seperti dulu, bahkan terdengar lebih tegas.


“Alasannya?” tanya Halim. Laki-laki tua yang duduk bersandar di atas brankar rumah sakit itu.


Ditya terdiam. Akan terdengar lucu saat dia mengatakan sepatah kata cinta untuk alasannya menolak. Sejak kecil, semua orang sudah menanamkan di dalam otaknya, tujuan hidupnya seperti apa, pasangan hidupnya akan seperti apa. Bahkan sudah ada aturan tidak tertulis, kepada siapa saja dia boleh bergaul dan harus bergaul.


Sejak kecil dia selalu diingatkan di mana posisinya, di mana bumi tempatnya berpijak. Sebelumnya, Ditya seolah tidak peduli dengan semua aturan itu. Baginya hanya menikmati hidup dan bersenang-senang. Tidak penting dengan pernikahan, dengan siapa dia menikah nantinya.


Pertemuannya dengan seorang gadis, dua tahun yang lalu, mengubah semuanya. Kalau ditanya apa yang berkesan, semuanya. Tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata. Kalau di dalam hati Frolline, setengahnya terisi Firstan Samudra. Di hatinya masih berbekas Kailla Riadi Dirgantara. Gadis manis yang mengubah dunianya dan pandangan hidupnya di perjumpaan pertama mereka.


Menatap putranya dengan wajah garang, mungkin tidak ada seorang pun yang mengira kalau laki-laki tua itu kemarin tergolek koma di ICU. Meskipun alat medis masih menancap di kulit tubuh, Halim tak gentar sama sekali. Melihat seringai mematikan Halim Hadinata, malaikat maut pun akan menciut.


“Cinta!?” ucapnya dengan kencang.


“Setelah lepas dari jeratan putri Riadi Dirgantara yang lahir dari ibu seorang pela’cur, kemudian kamu menambatkan dirimu pada sepupunya, yang masih satu garis keturunan yang sama. Sayangnya, kamu terlalu terlena. Bersembunyi dengan satu kata yang namanya CINTA. Sampai lupa, mencari tahu darimana istrimu berasal.”


Ditya terkejut. Tentu saja, selama ini dia tidak mencari tahu asal usul Frolline lebih jelas. Mengetahui istrinya bukan putri Guanwan pun, laki-laki itu dikabari sang ayah mertuanya langsung.


“Kailla ... Frolline?” Ditya mengucap dua nama itu dengan nada bergetar. Dihadapkan pada kenyataan kalau dua wanita yang mengisi hatinya masih memiliki darah yang sama.


“Dad?” Ditya meminta penjelasan. Rasanya tidak percaya dengan fakta yang baru saja diungkapkan daddynya.


“Tidak perlu mengurusi perempuan-perempuan keturunan tidak jelas itu. Yang harus kamu lakukan sekarang, menikah dengan Sandra. Dengan izin istrimu atau tanpa izin istrimu. Setahu istrimu atau tanpa sepengetahuan istrimu!”


***

__ADS_1


Ditya duduk termenung di sofa menunggui daddy yang masih terlelap. Matt dan Joe tampak mengobrol santai di pojok ruangan. Bunyi pintu terbuka mengejutkan ketiganya,. Semua mata tertuju pada satu titik. Tampak Nyonya Halim berjalan tertatih digandeng oleh asistenya.


Setelah beberapa hari, perempuan lansia itu berkunjung kembali. Kondisi fisiknya juga sempat drop, mengikuti jejak sang suami. Namun dia bisa bernapas lega, saat kondisi Halim Hadinata dikabarkan membaik.


“Mom, aku harus pulang dulu.” Ditya berdiri dan segera berpamitan.


“Ya ....”


“Aku akan kembali lagi nanti siang.”


“Tidak perlu. Mulai sekarang, fokus pada perusahaan. Halim Group lebih membutuhkanmu dibanding daddy. Itu jauh lebih penting saat ini. Satu nyawa dibanding puluhan ribu nyawa. Ambil alih tampuk kepemimpinan. Kondisi daddy sudah tidak memungkinkan lagi duduk di sana.” Nyonya Halim menjatuhkan tubuhnya di sofa perlahan.


“Mom ....”


“Kembali ke penthousemu! Bawa istrimu pulang,” lanjut Nyonya Halim seketika membuat langkah Ditya terhenti.


“Mom, kalian masih memata-mataiku?” tanya Ditya. Setelah daddynya koma, Ditya berpikir hidupnya sudah bebas merdeka.


“Jangan sampai istrimu membuat skandal baru dan menjatuhkan nama Halim Group. Bawa pulang Frolline ke rumah.”


“Mom ....”


Kaki Ditya membeku di tempat, beberapa jam ini, dia dihadapkan pada satu kenyataan kalau kedua orang tuanya sudah mengetahui semua hal dengan jelas, bahkan lebih dari dirinya. Mommy dan daddy tahu banyak.


“Jangan tanya kenapa daddy tidak menyetujui istrimu. Ada banyak hal, termasuk hubungan percintaan dan masa lalu kedua orang tuanya.” Nyonya Halim membuka sedikit tabir yang selama ini disembunyikan suaminya. Kenapa dan mengapa, restu itu tak kunjung turun.


“Mom, apa daddy akan merestui Fro suatu saat nanti?” tanya Ditya dengan polosnya.


“Tergantung Ko. Itu tergantung istrimu, pantas atau tidak mendapat restunya. Ada banyak cara menunjukan kualitas diri. Ketika kamu terlahir dari keluarga biasa, perkayalah dirimu dengan ilmu dan adab. Ilmu itu bukan hanya duduk di bangku sekolah dan belajar. Belajarlah tentang hidup, belajarlah tentang semua hal. Ketika kamu berhadapan dengan orang yang kekayaannya di atasmu, setidaknya kamu tidak dipandang sebelah mata dan tidak rendah diri. Setidaknya ada kekayaan lain yang bisa dibanggakan, yaitu ilmu dan adabmu.


“Dunia itu kejam, hidup itu keras. Yang miskin dan malas akan tersingkir, yang kaya dan tekun akan semakin kaya. Uang hanya akan mendekat pada orang berilmu, beradab dan mau mau berjuang keras tanpa kenal kata menyerah.”


Ditya menatap wanita tua yang duduk di hadapannya tanpa berkedip.

__ADS_1


“Sini, Ko!” Wanita tua itu berjalan ke arah jendela. Menyibak pelan tirai putih dengan perlahan.


“Kamu lihat, bapak tua yang sedang duduk menunggu dagangannya. Berat bukan hidupnya, harus mencari uang dengan berpanas-panasan. Hanya untuk recehan.”


Ditya kebingungan sendiri. “Daddy dan mommy bekerja JAUH LEBIH KERAS dari yang dilakukan bapak itu. Untuk sampai di posisi saat ini, Daddy dan mommy bekerja dua kali lipat lebih berat dari yang bapak itu lakukan. Meskipun kami terlihat memiliki segalanya, bisa ongkang-ongkang kaki dan menikmati hidup tanpa kerja keras, tetap kami masih bekerja keras seperti orang biasa.”


“Uang memang bukan segalanya, tetapi penting. Ada masanya dimana kamu akan tahu kalau menghidupi anak-anakmu tidak cukup dengan cinta yang kamu bangga-banggakan itu. Memberi anakmu makan, tidak akan kenyang dengan cinta. Membayar spp anakmu tidak akan diterima oleh pihak sekolah menggunakan cinta. Mungkin Frolline-mu bisa bahagia dengan semua cintamu, hidup seadanya asal ada cinta, tetapi dunia tidak seperti itu. Tunjukan cintamu lewat kerja keras dan perjuangan!”


"Kami tidak ada waktu untuk duduk menunggu pembeli datang seperti itu. Dan sekarang, silahkan kalian menikmati dan meneruskannya ke generasi Halim selanjutnya.”


“Kembali ke perusahaan. Bawa terbang Halim Group bersamamu. Setidaknya kamu bisa menunjukan pada daddy dan dunia, saat bersama Frolline, kamu selangkah lebih maju dibandingkan kamu sendirian.”


Ditya sejak tadi hanya menyimak. Sejak dulu mommy adalah orang yang sering mengajarkannya banyak hal. Seni berkehidupan, seni berjuang dalam pekerjaan dan banyak lagi.


“Ko ... saat ingin maju berperang, bekali dulu dirimu sendiri! Apalagi saat orang itu jauh lebih kuat dan segalanya darimu. Jangan mau mati konyol!”


“Hitung kemampuan dirimu, Ko. Daddy bisa berbuat lebih jauh dari sekarang, karena dia punya segalanya.” Nyonya Halim menghela napasnya, sesekali melirik ke brankar suaminya.


“Anak burung merpati ingin bertarung dengan elang jantan. Setidaknya belajar mengepakan sayap dulu. Saat sudah bisa terbang, baru pergi menantang sang elang,” ucap Nyonya Halim, berharap Ditya paham apa yang disampaikannya panjang lebar.


Seutas senyum terlihat muncul di bibir Halim Hadinata yang sedang tertidur, tanpa ada seorang pun yang meyadarinya.


***


Mobil Matt masuk ke halaman rumah Marisa. Tak lama, Ditya turun dengan menenteng jaket kulitnya. Laki-laki tampan yang sedang menahan kantuknya itu melenggang masuk setelah asisten rumah membukakan pintu.


“Mbak, Frolline di mana?”


“Di kamar, Pak.” Sang asisten menunjuk kamar di pojok ruangan.


“Terimakasih.” Bergegas menuju kamar yang dimaksud. Langkah kaki Ditya terhenti saat matanya menangkap sosok keponakan yang baru saja keluar dari kamar yang dimaksud.


“Kurang ajar! Apa yang kamu lakukan di dalam?” tanya Ditya berlari dan menghampiri Firstan. Tanpa bertanya, laki-laki itu melabuhkan sebuah pukulan tepat di rahang keponakannya.

__ADS_1


***


TBC


__ADS_2