
“Dad, kami harus kembali ke Jakarta. Aku harus bekerja dan Fro juga harus mengurus perusahaannya,” pamit Ditya setelah mereka menyelesaikan sarapan.
“Ya.” Hanya jawaban singkat. Halim memandang putranya sekilas, kemudian melempar pandangan ke taman luar yang terlihat jelas dari jendela kaca lebar di ruang makan. Sinar matahari pagi memaksa masuk menembus kaca jendela. Menyorot langsung makanan yang disajikan di atas meja kayu panjang.
Frolline mengatupkan bibirnya, sejak awal ia memilih diam. Sikap yang sama juga ditunjukan Meliana Hadinata. Wanita lansia dengan gaun selutut dan rambut disanggul sederhana itu hanya diam, menikmati sarapan sehatnya tanpa banyak protes.
“Mengenai pembangunan rumah sakit dengan taraf internasioal yang kamu rencanakan ... sedang aku pelajari. Aku belum bisa berkomentar. Yang bisa kujawab sekarang adalah ... untuk beberapa kota tertentu aku tidak masalah. Untuk yang lainnya, aku akan mengabarimu nanti.” Tiba-tiba Halim mengalihkan topik pembicaraan.
Untuk masalah di perusahaan memang Halim sudah tidak ikut campur dalam mengambil keputusan, tetapi ia masih memantau perkembangannya. Memberi masukan sebagai orang yang lebih tua dan berpengalaman.
“Mengenai RD Group, aku tidak terlalu yakin sebenarnya, tetapi keputusan ada di tanganmu.” Halim berkomentar.
Ditya mengangguk.
Obrolan singkat mengenai perusahaan itu berakhir, Ditya bangkit dari duduknya dan memeluk Daddy.
“Aku harus kembali ke Jakarta sekarang, Dad,” bisik Ditya, di sela pelukannya. “Jaga kesehatanmu,” lanjut Ditya menepuk pelan punggung pria renta itu.
“Ya.” Halim pun melakukan hal yang sama, menepuk kencang pundak Ditya dan memberi putranya semangat. Penerusnya yang akan membawa Halim Group ke tempat lebih tinggi.
Frolline yang ikut mengekor di belakang Ditya hanya tertunduk menyembunyikan gugup. Setelah melihat Ditya beralih memeluk mommynya, ia memberanikan diri bersuara.
“Dad ... aku pa ....” Frolline tidak bisa melanjutkan kalimatnya. Halim sudah mengibaskan tangannya dengan wajah datar. Ekspresi yang bertolak belakang ditunjukan Halim saat memeluk Ditya. Sikap Halim benar-benar tidak ramah. Tidak ada senyuman, bahkan tidak ada sepatah kata yang keluar dari bibirnya.
Deg—
Frolline tertunduk sambil meremas kedua tangannya. Ia terguncang dengan sikap Halim yang masih sama padanya. Frolline terlalu berharap setelah acara makan malam semalam kalau mertuanya akan sedikit melunak. Namun, itu hanya angan-angannya saja. Meski Halim menyambut gembira kehamilannya, tetap saja ia tidak dianggap sama sekali.
Mengalihkan perasaannya yang hancur, Frolline berpamitan dengan Mommy Ditya. Wanita itu sudah menyambutnya dengan tangan terbuka. Senyum di wajahnya begitu meneduhkan.
“Jaga kandunganmu baik-baik, Fro,” ucap Meliana Hadinata di sela pelukan. Tangan keriputnya mengusap pelan perut rata Frolline. Begitu hangat dan menenangkan.
“Ya, Mom.
Mommy masih sempat membingkai kedua wajah cantik Frolline dan menghadiahkan sebuah kecupan hangat di kening menantunya itu. “Hati-hati di jalan. Kalau Koko nakal, kamu bisa mengadu padaku. Aku akan memarahinya,” candanya sebelum melepas menantunya.
“Ya Mom.” Frolline tersenyum.
__ADS_1
***
Sepanjang perjalanan dari Surabaya menuju Jakarta, Frolline menangis. Ditya yang tidak tahu apa penyebabnya dibuat panik. Berusaha membujuk dan menenangkan, tangis Frolline semakin menjadi. Wajah cantik itu basah oleh air mata.
“Kenapa lagi, Fro? Ada yang salah?” tanya Ditya dengan lembut. Kedua tangannya membingkai wajah istrinya, menghapus air mata yang berjejak di pipi.
Bukan jawaban, tangis Frolline semakin kencang. Apalagi saat teringat kembali bagaimana sikap ayah mertuanya. Mungkin ia terlalu berharap untuk bisa diterima di keluarga Ditya. Ia terlalu bermimpi, kehamilannya akan membuatnya mendapat restu dengan mudah.
“Kamu kenapa, Fro? Jangan menangis lagi. Kasihan bayi kita,” bujuk Ditya menenangkan. Memeluk Frolline dengan erat.
“Katakan padaku ... apa Daddy belum merestuiku?” tanya Frolline di sela isakan. Tubuh ibu hamil itu berguncang. Tampak menyedihkan, air matanya terus mengalir tanpa bisa dihentikan.
“Ada apa, Fro? Apa Daddy mengatakan sesuatu padamu?” tanya Ditya, membelai lembut rambut panjang istrinya.
“Tidak.”
“Kalau tidak kenapa berpikiran yang macam-macam. Semua baik-baik saja. Perjodohan Koko dengan Sandra sudah dibatalkan. Daddy juga tidak ada rencana mencari penggantinya.” Ditya menjelaskan.
“Hik ... hik ... tetapi Daddy tidak menyukaiku,” isak Frolline.
“Suatu saat Daddy akan menyukaimu. Jangan dipikirkan, Fro. Sudah jangan menangis lagi, pikirkan bayi kita saja,” bujuk Ditya.
“Sejak awal Daddy memang tidak merestui pernikahan kita, kamu tahu itu, Fro. Untuk mendapatkan restu itu tidak mudah. Bahkan Kak Marisa sampai sekarang masih dalam pelariannya dan Koko tidak akan melakukan itu. Sebisa mungkin, Koko tidak akan melakukan itu.” Ditya menjelaskan.
“Suatu saat Daddy pasti akan menyukaimu, mengakuimu pada semua orang. Mungkin belum sekarang,” lanjut Ditya.
Frolline menyimak dengan wajah berurai air mata.
“Fro, seandainya kamu melihat gaun di sebuah marketplace dan kamu tertarik. Kamu membelinya. Begitu barang dikirim ternyata tidak sesuai dengan yang kamu lihat. Bukan gaun yang kamu inginkan. Dan gaun itu tidak bisa ditukar. Apa kamu akan kecewa?” tanya Ditya.
Frolline mengangguk.
“Kalau itu pakaian, mungkin kamu bisa menyimpannya di dalam lemari. Di bagian yang paling dalam atau memberinya pada orang lain. Setidaknya kamu masih bisa membeli gaun yang baru,” jelas Ditya.
“Daddy tidak bisa melakukan itu. Mau tidak mau Daddy harus menerima menantunya. Dan itu pasti butuh waktu. Mungkin Daddy masih kecewa. Ini juga tidak mudah untuknya. Daddy butuh waktu untuk membenahi hatinya dan belajar menerimamu. Berikan Daddy waktu, suatu hari Daddy pasti menerimamu, Fro,” pinta Ditya.
“Hmmm.”
__ADS_1
“Jangan menangis lagi. Kenapa jadi cengeng seperti ini. Seperti bukan Frolline saja,” ucap Ditya mengecup pucuk kepala istrinya.
Matt dan Zoe yang duduk tidak jauh dari majikannya hanya bisa menonton dalam diam. Tidak bisa berkomentar banyak. Ini bukan urusan mereka, tetapi tangisan Frolline begitu memilukan. Bahkan membuat nyonya majikannya itu kesulitan bernapas.
Tangisan Frolline masih terdengar sampai turun dari pesawat meski tidak sekencang sebelumnya. Matanya dan hidungnya memerah.
“Fro, Zoe akan mengantarmu ke tempat Kak Marisa.” Ditya berkata sembari menggenggam tangan Frolline saat menuruni tangga pesawat.
“Bagaimana dengan perusahaan?” tanya Frolline heran. Tiba-tiba suaminya mengizinkannya menemui Marisa tanpa banyak drama dan protes.
“Aku akan mengurusnya untukmu.”
“Benarkah? Aku boleh menemui Mami ... eh Kak Marisa sekarang?”
Ditya mengangguk. “Bukannya kamu ingin menyampaikan berita kehamilanmu?”
Frolline mengangguk.
“Pulang kantor aku akan menjemputmu di sana. Aku akan menghubungi Kak Marisa,” lanjut Ditya.
Keduanya berpisah di airport, Ditya bersama Matt menuju ke kantor sedangkan Frolline ditemani asistennya, Zoe melaju ke rumah Marisa. Waktu menunjukan pukul 11.25 saat kendaraan beroda empat itu memasuki pekarangan rumah dua lantai dengan pagar tinggi bercat putih.
Suasana rumah tampak sepi, hanya seorang security berjaga di pos depan. Dua mobil terparkir rapi, salah satunya Frolline sangat mengenalinya.
“First tidak ke kantor?” ucap Frolline pelan. Memandang fortuner hitam keluaran terbaru, mobil milik Firstan yang baru dibeli beberapa bulan yang lalu. Frolline ingat, ia sendiri yang memilih dan mencoba mobil itu pertama kalinya bersama Firstan.
Mengetuk pintu utama, Frolline terkejut saat melihat Firstan muncul dibalik pintu dan mempersilakan dirinya masuk ke dalam rumah.
“Mami di dalam sedang menunggumu. Suamimu sudah menghubungi, meminta Mami menemanimu sepanjang hari ini,” ungkap Firstan dengan santai.
“Kamu tidak ke kantor hari ini, First?” tanya Frolline mengalihkan pembicaraan.
“Tidak, aku harus menemui seseorang di luar setelah makan siang,” sahutnya santai.
Kapan-kapan kita mengobrol lagi. Aku harus bersiap sekarang,” ucap Firstan, melangkah masuk ke dalam rumah.
***
__ADS_1
TBC