
"Mungkin memang seharusnya kamu mengetahui alasanku menolak mengakui istrimu sampai sejauh ini." Nada bicara Halim sedikit melunak, tidak sekeras sebelumnya.
Pria tua itu mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan.
"Joe, tinggalkan kami berdua sekarang!" pinta Halim. Ia ingin membahas masalah pribadi yang tidak mau sampai didengar orang lain. Seburuk apapun Frolline di matanya, orang luar tidak perlu tahu alasannya.
Bunyi pintu tertutup, membuat Halim memulai semuanya. Setelah memastikan tertinggal mereka berdua di dalam kamar, barulah ia membuka suara. Mengungkapkan apa yang menjadi keberatannya pada sang menantu.
"Ko, ambil map hitam di laci nakas," pinta Halim sembari menunjuk ke arah meja kecil di samping tempat tidur.
Ditya menurut tanpa protes. Ia tahu saat ini ada informasi penting yang ingin dibagi daddy untuknya. Baru saja map hitam itu berada di genggaman, suara Halim kembali terdengar.
"Buka dan bacalah! Itu alasanku kenapa tidak merestui istrimu sampai sekarang. Kalau kamu bertanya apa yang aku tidak sukai dari Frolline, di dalam map itu ada jawabannya" Halim menjelaskan.
"Kalau kamu bertanya apa yang harus istrimu lakukan supaya mendapatkan restuku, aku akan menjawab tidak ada. Karena memang tidak ada yang bisa istrimu ubah terkait masa lalu," lanjut Halim.
Ditya membaca dengan teliti semua informasi yang sudah dikumpulkan daddy tentang Frolline, istrinya. Tanpa yang ada terlewati sedikit pun. Jantungnya berdetak kencang saat lembaran demi lembaran itu berhasil dibacanya.
Senyum pria itu terkembang saat menatap foto-foto Frolline yang begitu dirindukannya saat ini. Bahkan ada foto pernikahan mereka di dalam sana. Sebuah pernikahan sederhana tanpa resepsi apalagi restu yang sampai saat ini belum mereka kantongi.
"Dia gadis manis, perempuan baik-baik. Tidak ada yang salah dengan dirinya kecuali caranya menikah denganmu yang tanpa restu dan masa lalu kedua orang tuanya yang mengerikan." Halim menjelaskan tanpa diminta. Membiarkan Ditya tenggelam dengan segala informasi yang sedang dibacanya.
"Bagaimana aku bisa merestuinya, Ko." Halim masih duduk di sisi tempat tidur, tersenyum sinis.
Kekesalannya akan pemutusan pertunangan sepihak oleh papi Sandra mulai bisa diterimanya. Ia belajar menata hatinya kembali setelah mendapatkan semburan dan kemarahan dari Wangsa, sahabatnya. Meskipun sampai harus jatuh sakit karenanya, ia mulai menerima semua kenyataan di depan mata.
Namun, diminta untuk merestui Frolline tentu saja tidak semudah itu. Ada banyak pertimbangan sampai hari ini ia masih tidak menyetujui. Masih belum bisa memberi restu.
"Bagaimana? Sampai sejauh ini kamu paham, Tuan muda?" tanya Halim sinis. Bersiap menunggu jawaban putranya.
"Terlahir dari seorang ibu yang pekerjaannya ...." Halim memilih tidak melanjutkan kalimatnya. Kata-kata selanjutnya akan terdengar kasar kalau diteruskan.
"Mereka tiga saudara, dua perempuan dan satu laki-laki. Memiliki pekerjaan sama hinanya. Kalau perempuanmu sebelum ini, mungkin aku masih bisa menerimanya meskipun terpaksa. Dia dari keturunan jelas, Riadi Dirgantara, tetapi istrimu sekarang ...." Halim menghela napas kasar.
__ADS_1
"Bahkan tidak jelas siapa ayahnya. Coba kamu bayangkan ketika istrimu masuk ke keluarga kita, masa lalunya pun akan dikuliti semua orang. Coba kamu pikirkan saja sendiri. Yang tercoreng bukan hanya nama baik kita, istrimu pun akan terluka dengan semua masa lalunya." Halim kembali bersuara.
"Aku mencintainya, Dad. Aku sudah menikahinya. Tentu saja aku akan melindunginya dan bertanggung jawab." Ditya akhirnya membuka suara setelah sekian lama diam.
"Jujur aku kecewa dengan putusnya pertunanganmu dengan Sandra. Dia gadis yang pintar dan dari keluarga baik-baik. Yang tak kalah penting, Sandra setara dengan keluarga kita. Apalagi dia putri teman baikku." Halim mengungkapkan isi hatinya.
"Dad, aku mohon restui istriku." Ditya tiba-tiba berlutut. Map hitam yang tadi dipegangnya, ikut diletakannya di atas lantai marmer kamar.
"Aku mungkin tidak bisa mengubah pandangan dan pendapatmu tentang Fro, setidaknya tolong pertimbangkan lagi. Itu masa lalu kedua orang tuanya. Bukan kesalahan Fro harus terlahir di tengah keluarga seperti itu." Ditya tidak bisa melakukan apa pun setelah mengetahui alasan daddy menolak Frolline.
Halim menggeleng. "Mungkin kalau kakaknya, aku masih bisa mempertimbangkan. Setidaknya ... siapa namanya ... em Angella." Halim melempar pandangannya ke tempat lain. Tidak mau melihat putra kesayangannya memohon seperti itu.
"Berdirilah!" pinta Halim.
"Seperti aku tidak bisa memaksamu menikah dengan gadis pilihanku, kamu juga tidak bisa memaksaku untuk merestui perempuan pilihanmu saat ini. Pulanglah! Urus perusahaan dengan baik. Kamu bisa membawa istrimu di semua acara keluarga yang tertutup untuk umum, tetapi jangan pernah membawanya di acara terbuka maupun acara perusahaan! Kalau tidak ... aku takut akan mempermalukannya lagi!" ancam Halim.
***
Ditya tertunduk lemas, berjalan keluar kamar daddy. Segala upayanya selama ini tidak membuahkan hasil. Ia sudah berusaha membuat Frolline layak dan pantas masuk ke keluarganya. Mengajarnya berbisnis dan memiliki karir sendiri. Namun, kalau yang dipermasalahkan daddy tentang masa lalu orang tuanya, Ditya tidak tahu harus berbuat apa lagi.
"Bos ...."
"Matt, aku mau bertemu mommy sebentar." Ditya berucap dengan suara lemah. Kaki panjangnya baru saja melangkah, tiba-tiba ponsel miliknya yang dititipkan pada Matt berbunyi.
"Bos, nyonya." Matt menyodorkan gawai mahal itu ke tuannya. Sebuah pesan masuk di salah satu aplikasi dengan logo berwarna hijau. Matt mengetahuinya setelah sempat masuk dan melihat siapa yang baru saja mengirim pesan.
"Fro?" Ditya menyambut ponselnya. Pria itu mengerutkan dahi setelah melihat foto hitam putih yang dikirimkan padanya.
"Apa ini?" tanya Ditya heran. Tentu saja ia bingung sendiri melihat foto tanpa berita apa pun setelahnya. Hanya sebuah foto tanpa keterangan.
"Ada apa, Bos?" tanya Matt, heran. Melihat Ditya mematung sembari mengamati ponsel.
"Ini apa maksudnya, Matt? Fro salah kirim, kah?" tanya Ditya, menyodorkan foto hitam putih tak berbentuk itu ke hadapan Matt.
__ADS_1
Matt menggeleng. "Nyonya mengirim fotocopy dokumen apa itu, Bos? Kenapa tidak terbaca sama sekali tulisannya?"
"Aku tidak tahu, Matt." Ditya memilih menyimpan kembali ponselnya. Meneruskan langkah menuju ke kamar mommy, sembari menyimpan tanya di benaknya
Pikiran pun tak lepas dari foto yang dikirimkan sang istri. Entah apa maksud Frolline mengirim foto usg itu padanya.
"Apa aku hubungi saja, ya." Ditya kembali merogoh ponsel dari saku celana. Sebaiknya memang mencari tahu langsung pada sumbernya.
"Memang sebaiknya begitu, Bos. Siapa tahu penting dan darurat. Bisa saja nyonya sedang terjebak di gudang yang gelap gulita dan membutuhkan bantuanmu, Bos. Jadi fotonya seperti itu." Matt mengemukakan pendapatnya setelah tadi sempat mengintip gambar yang dikirim Frolline.
"Jangan bicara sembarangan!" gerutu Ditya sambil menempelkan ponsel dengan logo apel sisa gigitan itu ke telinganya.
Tak butuh waktu lama, terdengar suara lembut mengalun merdu menyapanya.
"Ko, kamu di mana sekarang?" tanya Frolline sudah tidak sabaran. Ia menunggu telepon Ditya sejak tadi.
"Masih di tempat daddy. Apa yang kamu kirimkan padaku itu, Fro?" tanya Ditya dengan polosnya.
"Koko sudah lihat?" tanya Frolline bersemangat.
"Sudah ... lalu untuk apa kamu mengirimkan foto itu?" tanya Ditya lagi.
"Itu hadiah dariku untukmu, Papa." Frolline menjawab dengan kebahagiaan yang meletup-letup.
Ditya tertegun sejenak, berusaha memahami apa yang baru saja didengarnya. Sedetik kemudian, ia berteriak. "Ini serius, Sayang?"
"Ya ...."
"Koko akan jadi papa?" Ditya memastikan.
"Yes." Frolline menjawab dengan penuh keyakinan.
"Koko pulang ke Jakarta sekarang!" ucap Ditya beralih menatap Matt yang ikut tersenyum bahagia.
__ADS_1
***
TBC