
“Wanita itu rumit, Matt!” ucap Ditya pelan. Berbaring di sofa ruang keluarga kediaman Marisa, menunggu istrinya terlelap di kamar yang tak jauh dari tempatnya meluruskan badan. Matt, sang asisten hanya duduk diam mendengarkan tuan muda itu mengoceh tidak karuan.
“Saat sebelum menjadi istri, dia terlihat manis layaknya kelinci putih yang baru disodorkan wortel begitu penurut dan imut, tetapi jangan ditanya saat sudah menikah,” ucap Ditya mengantungkan kalimatnya, membuat penasaran Matt, sang jomblo sejati yang nasibnya ngenes. Belakangan ini dia mendekati seorang gadis bau kencur, tetapi belum apa-apa, sang calon ayah mertua sudah mengenggam pedang panjang yang siap dihunuskan kapan saja kalau dia berani mendekat.
“Saat menikah pasti lebih manis lagi, Bos?” tanya Matt.
“Huh!” dengus Ditya.
“Manis apaan. Sedetik setelah menikah, langsung keluar taringnya siap mencabik-cabik kulit tubuhku. Aku salah bicara sedikit, bola matanya hampir terlepas. Seperti singa betina kelaparan. Aku heran bagaimana hanya dalam sekejap, kelinci putih imut itu berubah jadi singa mengerikan,” ucap Ditya, menelan ludah dengan wajah terkejut.
Bagaiamana tidak terkejut, ucapannya berbarengan dengan keluarnya Frolline dari kamarnya. Melirik dengan sudut mata, tanda ketidaksukaannya.
“Wah, Nyonya sidak Tuan,” celetuk Matt, bersamaan dengan suara pintu dibanting kencang.
“Astaga! Kenapa wanita bisa begitu mengerikan saat marah?” tanya Matt, kebingungan sendiri dan berpikir. Meskipun yang dipikirkannya saat ini bukan masalah rumah tangga majikannya. Dia sibuk memikirkan pujaan hati yang belum lama dikenalnya. Sayangnya, gadis manis itu memiliki ayah yang mengerikan seperti macan Afrika.
Perbincangan ngalor-ngidul majikan dan asisten itu baru berhenti saat bunyi jam dinding antik berdenting sebanyak dua belas kali. Ditya menghitung dalam hati, seketika melonjak bangun, menyadari rembulan yang sudah di atas kepala.
“Ayo Matt, siapkan mobil. Sudah waktunya permaisuri kembali ke istananya, sudah jam dua belas,” canda Ditya, bergegas masuk ke kamar tamu, dimana istrinya tidur.
Sebelum dia sudah berpamitan pada kakaknya, akan memboyong istrinya pulang saat istrinya terlelap. Bukannya apa-apa, sebagai suami rasanya aneh istri menumpang tinggal di rumah orang lain, meskipun itu keluarga sendiri. Bahkan, masalah rumah tangganya ditonton semua orang pun rasanya memalukan.
Hanya saja sebagai laki-laki dewasa, dia cukup memaklumi tindakan istrinya yang lebih banyak menggunakan emosi dibandingkan perhitungan. Toh, sewaktu dia seumuran Frolline, dia juga mengambil sikap yang sama meskipun tidak seberani Frolline.
Senyum mengulas di wajah tampan yang kelelahan dan mengantuk itu saat melihat istrinya tidur dalam balutan gaun tidur Marisa yang dipinjamnya.
“Andaikan saat terjaga kamu begini mengemaskannya, tidak akan ada salah paham yang menyelimuti hubungan kita,” bisik Ditya.
“Maat kita harus pulang malam ini,” ucapnya pelan, menyisipkan kedua tangannya di bawah punggung Frolline dan menggendong istrinya ala bridal style, membawa masuk ke dalam mobil dan bersipa pulang ke apartemen mereka.
Sepanjang perjalanan, Ditya bisa berpuas diri menatap, memandang , mengagumi keindahan wajah cantik dan imut Frolline yang begitu kalem dan tidak melawan. Menikmati detik-detik indah, setelah ini dia yakin begitu Frolline terbangun, pasti istrinya akan mengamuk seperti tadi. Tidak akan terima, tiba-tiba dibawa pulang dengan paksa.
***
__ADS_1
Pagi, di apartemen Ditya.
Frolline yang sudah puas tidur, terjaga lebih dulu. Merasakah berat di bagian dadanya, seperti tertindih benda yang berat. Mata itu mengerjap beberapa kali, sebelum membuka sempurna meskipun belum mengumpulkan ingatannya, belum menyadari keadaannya.
Tangan kelar Ditya yang menumpang di tubuh mungilnya, membuat gadis itu kesulitan bernafas.
“Ah koko!” keluhnya. Berusaha memindahkan lengan Ditya yang terasa lebih berat.
Bangkit duduk, mengedar pandangannya ke sekeliling. Tentu dia mengenali kamar ini, kamar dengan banyak kaca yang sekarang menjadi kamar tidurnya dan Ditya.
Hening sejenak, merenggangkan kedua tangannya lebar-lebar, memiringkan lehernya ke kiri dan kanan untuk menghilangkan kaku karena kelamaan tidur.
Buk! Frolline memukul punggung Ditua yang tidur menelungkup saat menyadari kecurangan lelaki itu semalam.
“Bangun!” teriaknya sambil mengoncang kasar tubuh lelaki yang menjadi suaminya sekarang.
“Kenapa mencurangiku! Katanya aku boleh menginap di tempat mami!” gerutu Frolline, memukul tubuh Ditya hingga lelaki itu terpaksa bangun di tengah rasa kantuknya.
“Maaf.”
“Kita punya rumah sendiri, tidak enak kalau harus menumpang tidur di rumah kakakku. Apalagi ada Firstan di sana. Aku tidak ingin ada yang berpikiran buruk padamu, jelas Ditya.
“Huh! Yang berpikiran buruk hanya kami saja,” degus Frolline, bangkit dari tidurnya, menjepit rambut panjangnya. Segera setelah itu, berlari ke kamar mandi. Tak lama, Frolline sudah keluar dan berjalan menuju pintu.
“Kamu mau kemana, Fro?” tanya Ditya, duduk bersandar di ranjang.
“Aku mau membuatkan sarapan,” sahut Frolline, tanpa menoleh ke suaminya sama sekali. Dia sudah melenggang keluar menuju dapur untuk menyiapkan sarapan pagi mereka.
Mendengar itu tentu saja Ditya menjadi bersemangat. Membuang rasa kantuknya, ikut mengekor di belakang istrinya. Dia ingin menyaksikan langsung Nyonya Ditya Halim Hadinata melakukan rutinitas paginya.
“Kamu mau membuat sarapan apa?” tanya Ditya. Lelaki itu sudah berdiri di depan meja island, menatap penuh kagum pada istri yanb berbalut celemek putih.
“Sup.”
__ADS_1
Frolline menjawab singkat, padat dan jelas, tanpa menoleh pada si lawan bicara. Berharap lelaki menyebalkan di hadapannya itu tidak mengajaknya bicara lagi.
“Kamu serius mau bekerja?” tanya Ditya lagi. Masih menatap istrinya tak berkedip.
“Serius.”
“Selesai membuat sarapan, bersiaplah. Aku akan menunjukan perusahaanmu. Zoe akan membantumu bekerja. Dan Matt akan mencari tenaga ahli di bidangnya untuk membantumu menguasai banyak hal yang belum kamu ketahui.”
Frolline mengangkat pandangannya kali ini. Masih dengan pisau dapur mengkilap di tangannya.
“Aku ingin bekerja di bidangku. Aku lulusan IT, aku mau bekerja disana,” tolak Frolline.
“Come on, Fro. Untuk bisa maju, kita tidak boleh berhenti belajar. Jangan pernah membatasi dirimu sendiri untuk semua kesempatan yang datang di depan matamu. Kalau tidak mencoba, kamu tidak akan tahu kemampuanmu dimana. IT itu pilihanmu, tetapi belum tentu bakat dan passionmu di sana. “
“Aku juga tidak bekerja sesuai dengan bidang yang aku ambil di kuliah. Tetapi aku terdampar di perusahaan farmasi raksasa milik keluarga. Aku memiliki beberapa restoran di London meskipun aku tidak bisa menguasai masakan apapun.”
“Aku sekolah penerbangan dan memiliki lisensi untuk menerbangkan pesawat, tetapi lagi-lagi itu tidak pernah digunakan. Aku duduk di belakang meja sekarang. Meskipun jabatanku belum sehebat Halim Hadinata. Aku hanya direktur di salah satu anak perusahaan Halim Group saat ini.”
“Aku juga tidak punya apa-apa. Semua kemewahan ini milik orang tuaku. Aku juga hanya orang biasa, kekayaanku belum ada apa-apanya dibandingkan daddyku.”
“Dan itu yang membuatmu takut melawan Daddymu dan membelaku,” todong Frolline.
“Hahaha..” Tawa Ditya pecah, saat Frolline salah menduga.
“Aku tidak takut pada mereka, aku hanya menghormati orang tuaku.”
“Sudah, aku tidak mau berdebat. Suatu saat Kak Marisa dan suaminya akan bercerita padamu apa yang mereka rasakan selama 27 tahun ini. Kesuksesan mereka apakah bisa membuat mereka hidup tenang karena menabuh genderang perang dengan orang tuanya.”
“Suatu saat kamu akan paham, Fro.”
***
__ADS_1
TBC