
“Ma, apa you tidak takut darahmu naik mengoceh terus-terusan?” Ditya bangkit dari duduknya dan meraih tangan istrinya supaya mengikuti langkahnya.
“Ko, you mau ke mana?” tanya Mama Ditya berusaha menahan langkah kaki putra dan menantunya. Ia belum puas mengeluarkan isi hatinya.
“Ke kamar. Aku mengantuk mendengar pidato kenegaraanmu. Silakan melanjutkan tugasmu.” Ditya melangkah pergi dengan santainya
Buk! Sebuah bantal sofa melayang dan mendarat tepat di kepala Ditya. Terjatuh ke lantai setelah sempat menghantam tubuh sang calon ayah itu.
“Apa lagi, Ma?” gerutu Ditya kesal.
“Aku belum selesai bicara, you sudah membawa Fro kabur,” gerutu Mama Ditya.
“Pembahasanmu itu tidak berguna. Aku sangat paham kesalahanku, Ma. Tidak perlu diulang-ulang. Aku sangat tahu kebodohan dan keegoisanku saat ini. Ucapanmu itu tidak berguna lagi untukku, tetapi sanggup memberi efek pada kandungan istriku. You harus ingat, kalau sampai kandungan Fro bermasalah, nasib you juga di ujung tanduk. Cucumu lahir selamat, statusmu pun selamat. Don’t forget it!” ancam Ditya.
“Sebaiknya you membantu menjaga Fro, supaya cucu you sehat di dalam sini. Lahir selamat, tidak kekurangan suatu apa pun,” lanjut Ditya, mengusap perut rata Frolline. Ia sudah sangat mengerti apa yang ada di pikiran mamanya. Oleh karena itu, Ditya berusaha menjelaskan dari sudut pandang mamanya.
Mama Ditya terlihat berpikir. Yang dikatakan Ditya ada benarnya juga. Bayi di dalam kandungan Frolline ini cucu dalam Halim. Mau perempuan atau laki-laki, bayi itu keturunan Halim. Apalagi kalau laki-laki, Halim akan sangat bahagia sampai lupa bernapas. Posisinya pun semakin aman dan tidak tersentuh. Bahkan saat Halim tiada, ia akan menggantikan posisi Meliana. Terbayang di benaknya, ia menjadi orang penting di dalam keluarga Halim Hadinata. Ia adalah Nai-nai yang sesungguhnya. Di dalam darah anak Ditya, mengalir darahnya juga. Berbeda dengan Meliana, yang tidak berkontribusi sama sekali.
“Ya, sudah. Kalian istirahat saja dulu, Frolline mau dibuatkan apa? Mama akan memasak untuknya,” tanya Mama Ditya. Sikapnya langsung berubah drastis setelah mendengar semua ucapan Ditya.
“Makanan Indonesia, Ma. Frolline sudah merindukan nasi uduk komplit, lengkap dengan ikan teri kacang, urap sayuran, tempe orek, ikan asin balado dan lain-lainnya. Maunya komplit, Ma. Cucu Halim tidak mau setengah-setengah dan ala kadarnya. Harus sempurna,” ungkap Ditya. Ia sudah ingin tertawa saat melihat wajah panik mamanya.
“Ya Tuhan. Tidak ada makanan lain, kah? Ini Jerman, bukan Mulyorejo,” Mama Ditya terbelalak sembari menyebutkan tanah kelahirannya.
“Itu permintaan Fro atau bayinya? Di Indonesia, makanan ini tidak ada apa-apanya. Ini Jerman, Ko. Disini nasi uduk komplit itu sangat mewah, mahal dan susah dicari bahan-bahannya. Aku harus ke supermaket Asia untuk mendapatkan semua bahan-bahan itu. Besok-besok saja, ya. Jangan sekarang ,” ungkap wanita dengan sweater coklat yang tertutup rapat sampai ke leher.
“Aku belum bertanya jelas. Itu keinginan Fro atau bayi kami, Ma.” Ditya menjawab dengan santainya.
“Itu penting, Ko. Kalau memang hanya keinginan mama si bayi, masih bisa dibicarakan. Kalau keinginan si bayi, mau tidak mau harus dituruti.”
__ADS_1
“Aku ke kamar dulu. Aku perlu bertanya pada anakku. Itu benar-benar keinginannya atau hanya ingin mengerjai Nai-nai saja.”
***
“Ko, apa tidak kelewatan?” tanya Frolline saat mereka sudah berada di kamar tidur Ditya. Dibanding dengan kamar Ditya di Surabaya atau di Jakarta, kamar ini bisa dibilang jauh dari kemewahan. Interiornya khas Eropa. Dengan lantai kayu berlapis permadani. Ada jendela kecil menghadap ke taman belakang. Kamar itu juga dilengkapi penghangat ruangan.
“Biarkan saja, Fro. Supaya mama ada kesibukan dan tidak mengoceh sepanjang hari.” Ditya merebahkan tubuhnya di atas ranjang empuknya. Kedua tangannya terbentang, menikmati lembut dan hangatnya seprai sutra abu-abu yang membungkus ranjangnya.
“Tapi itu sama saja mengerjai mama, Ko.”
“Biarkan saja, Fro.” Ditya menarik tangan Frolline supaya ikut berbaring bersamanya. Begitu istrinya sudah berbaring telentang dengan pandangan tertuju pada langit-langit kamar, ia segera merebahkan kepala di perut Frolline.
“Istirahat sekarang, Fro. Kamu itu kelelahan. Biarkan aku mengobrol dengan anakku sebentar. Aku perlu bertanya beberapa hal padanya,” ucap Ditya menarik baju hangat dan kaos istrinya ke atas. Dalam hitungan detik, perut rata Frolline sudah terpampang nyata.
“Sejak meninggalkan Indonesia, aku merasa kamu berubah, Ko.” Frolline berkomentar.
“Nak, ayo ceritakan pada papa ... apa yang kamu inginkan? Kita bisa meminta banyak hal pada Nai-nai.”
“Selama ini Nai-nai sudah terlalu lama bersenang-senang, Nak. Ayo di detik-detik kelahiran cucunya, biarkan dia sedikit berjuang, Sayang.” Ditya terbahak saat mengucapkan kalimat itu tepat di perut bagian bawah istrinya.
“Katakan pada papa, apa yang kamu inginkan, Nak. Mau meminta Nai-nai mendaki puncak gunung Fujiyama atau berenang di Samudera Hindia. Ayo, jangan ragu-ragu. Kamu boleh meminta Nai-nai memanjat patung liberty atau berkemah di hutan Amazon, Papa akan menyampaikannya langsung pada Nai-nai.”
“Ko, jangan digesek-gesek seperti itu. Jadinya geli,” protes Frolline saat tangan Ditya mengusap perutnya. Bahkan ia bisa merasakan tangan itu mulai nakal dan menjelajah ke mana-mana. Menimbulkan sensasi berbeda yang membangkitkan gairahnya seketika.
“Jangan berisik, Fro. Nanti aku bisa melupakan tujuan awalku,” goda Ditya tersenyum licik. Pria itu sudah mulai melancarkan serangannya kembali sampai istrinya tidak berkutik. Tidak berani protes bahkan tidak berdaya di bawah dominasinya.
Usapan dan belaian hangat itu semakin dalam dan tak tentu arah. Frolline terlihat mulai resah dan sesekali terdengar kalimat protes dari bibir mungilnya. Mereka baru saja tiba, Ditya dengan tidak tahu tempatnya memulai semua tanpa malu.
Walau awalnya menolak, akhirnya Frolline melunak dan menurut. Sekarang tujuan hidupnya hanya untuk Ditya dan buah hatinya. Sebagai istri, ia hanya bisa menuruti semua kemauan suaminya tanpa banyak mengeluh. Mengingat begitu besar pengorbanan Ditya untuknya dan keluarganya, semakin ke sini, Frolline merasa semakin tidak pantas mengeluh dan menuntut.
__ADS_1
Pertempuran sengit keduanya, itu baru usai setelah bunyi ketukan di pintu. Tak lama berselang, terdengar suara Mama Ditya menyerukan nama menantunya.
"Fro, ayo makan. Aku sudah memasak untukmu," teriaknya dengan santai.
Jangan ditanya bagaimana suasana di dalam kamar. Bukan hanya seprai dan selimut yang berantakan. Pakaian berserakan di mana-mana.
"Fro ... kamu baik-baik saja?" tanya Mama Ditya mulai tidak sabar.
"Ya, Ma." Terdengar teriakan Ditya dari dalam kamar. Pria itu sibuk mencari celana panjangnya yang terlilit bersama pakaian Frolline, berhamburan di lantai.
"Ko, pakaianku mana?" tanya Frolline, mendekap selimut untuk menutupi tubuh polosnya. Matanya tertuju ke lantai mencari pakaiannya yang dilempar Ditya tanpa perasaan.
"Fro, aku masuk, ya." Mama Ditya kembali bersuara.
"Inilah salah satu alasanku kenapa lebih memilih tinggal sendiri," gerutu Ditya sembari mengenakan celana panjangnya dengan tergesa-gesa. Bergegas berjalan menuju ke pintu.
"Ko, tunggu. Aku masih belum berpakaian," cerocos Frolline. Ia sudah meloncat turun dari ranjang. Ikut mencari baju dan celananya yang saling tumpang tindih di atas karpet.
"Sudah. Kamu bersembunyi saja di balik selimut. Aku akan menghalau satpol PP ini dulu." Ditya berkata sambil membuka pintu kamarnya.
"Ko, mana istrimu? Aku sudah memasak untuknya." Mama Ditya menerobos masuk ke dalam tanpa bisa dicegah. Ia mau memastikan sendiri kalau menantunya baik-baik saja.
"Membuka pintu saja lama sekali. Apa yang ...." Mama Ditya berhenti melangkah saat mendapati ada yang salah dan tidak biasa di dalam kamar putranya.
"Ya Tuhan, Ko. Istrimu masih hamil muda. Apa tidak kelewatan mengerjainya siang malam," omel Mama Ditya. Berbalik, bertolak pinggang menatap tajam ke arah putranya.
"Mama tenang saja. Aku sudah menerapkannya sesuai dengan protokol kesehatan. Tidak akan ada masalah," ujar Ditya membela diri.
***
__ADS_1