
“Ko, kamu jadi pulang hari ini?” tanya Frolline saat melakukan sambungan video dengan suaminya. Entah sudah yang ke berapa kalinya, Ditya sampai menghela napas lelah saat Frolline menghubunginya berulang kali.
“Koko belum tahu, Fro. Dokter belum mengizinkan Koko keluar dari rumah sakit."
Wajah Ibu hamil itu meredup, cemberut dan membuang pandangannya. Dan Ditya sangat-sangat paham dengan perubahan sikap Frolline yang tidak biasa, bahkan terkesan manja di kehamilan kedua.
“Koko akan pulang secepatnya begitu mendapatkan izin dari dokter, Fro.” Ditya menjelaskan.
Frolline menggeleng dan menggembungkan kedua pipi. Wajahnya datar, seolah ingin menunjukan ketidaksukaannya.
“Apa kabar Dragon hari ini, Fro?” tanya Ditya, mengalihkan pembicaraan.
“Baik.”
“Apa kabar bayiku di dalam perutmu, Fro?” tanya Ditya lagi. Pria itu tersenyum saat melihat wajah bertekuk Frolline. Tidak mau menatap padanya, Frolline hanya menjawab pendek-pendek.
“Baik!” Jawaban singkat, tidak kalah ketus dibanding sebelumnya.
“Apa masih mual dan muntah, Fro?”
“Masih!”
“Kamu sudah makan, Fro. Ini sudah jam makan siang. Makan yang banyak supaya bayi kita cepat besar.” Lagi-lagi Ditya berusaha membujuk dengan caranya sendiri.
“Aku tidak nafsu makan. Koko pulang secepatnya.” Frolline kembali ke topik awal.
Terlihat di layar ponsel Ditya tergelak. Tawanya pecah saat melihat wajah asam istrinya. Sebenarnya, ia juga tidak tega harus meninggalkan Frolline dan Dragon sendirian. Apalagi saat ini Frolline sedang hamil muda, membutuhkan pelukan dan perhatiannya.
“Aku matikan dulu, Ko. Aku harus mengurus Dragon dulu,” putus Frolline.
“Fro ... Fro ....” Ditya memanggil Frolline saat merasakan mood istrinya hancur. Ia tahu, Frolline kecewa saat mengetahui kalau ia belum tentu bisa pulang ke Jakarta hari ini.
__ADS_1
***
Melewatkan makan siang begitu saja, Frolline kembali melakukan hal yang sama saat makan malam tiba. Piring keramik berisi nasi dan lauk-pauk lengkap dengan sayuran itu hanya diaduk-aduk dengan sendok dan garpu. Seperti medan perang terkena ledakan bom, demikianlah kondisi piring makanan Frolline. Nafsu makan ibu hamil itu berantakan, bahkan rasa lapar pun enggan singgah di lambungnya. Pikirannya mengembara jauh, teringat malam ini pelukan Ditya akan absen lagi dari tidurnya.
Melalui detik demi detik dengan kekesalan tanpa alasan. Sebagai seorang istri, Frolline sadar kalau ia dituntut untuk mengerti kondisi fisik suaminya yang drop dan butuh perawatan. Namun, di dalam hati kecilnya tetap terselip kecewa, keegoisan dan sisi kekanak-kanakan. Kemanjaan berlebihan yang ingin ditepisnya jauh-jauh. Sisi lemah yang membuatnya menjadi pribadi tidak pengertian, membentuknya menjadi istri egois dan tidak tahu diri. Ia bisa apa, kalau boleh jujur, di saat tersadar seperti ini, ia juga muak dengan sikapnya
“Ko ....” cicit Frolline pelan, tanpa sadar saat ini sedang di meja makan bersama mertuanya. Rasanya ia masih belum bisa menerima kenyataan kalau Ditya yang kembali tidak bisa pulang malam ini. Rindu terlampau membuncah, Frolline membutuhkan sentuhan dan pelukan menenangkan sang suami. Bahkan parfum pria itu tak sanggup membuang kerinduan Frolline yang menggila.
Halim dan Meliana terlihat melempar pandangan. Senyum di bibir pasangan usia senja itu menandakan pengertian mendalam apa yang dirasakan menantunya.
“Habiskan saja makananmu, Fro. Begitu Koko sehat, pasti segera pulang menemuimu dan Dragon.” Meliana berkata sembari memasukan makanan ke dalam mulutnya. Sejak tadi pasangan suami istri itu memilih bungkam, membiarkan meja makan mereka tetap hening seperti biasa. Namun, setelah melihat tingkah Frolline, Meliana terpaksa bersuara.
“Ya, Mom.”
“Makan yang banyak. Kamu melewatkan makan siangmu. Jangan sampai terjadi sesuatu padamu dan kandunganmu, Koko akan menyalahkan kami berdua karena tidak bisa menjagamu dengan baik.”
“Ya, Mom.” Frolline menjawab pelan. Terselip malu saat menyadari sikap kekanak-kanakan berlebihannya yang terlihat nyata di depan pasangan suami istri itu.
Bunyi derap langkah, terdengar samar-samar dari ruang makan. Frolline mengangkat pandangannya dari piring, saat suara langkah kaki itu terdengar mendekat. Begitu menoleh ke arah pintu, mata Frolline membulat saat mendapati sosok Ditya sudah berdiri dengan gagah. Kedua kaki pria itu terbuka dengan kedua tangan terselip di saku celana. Wajah pria itu tampak sedikit pucat, tersenyum kaku di tengah pintu.
“Koko ....” Frolline menendang mundur kursinya saat berdiri dan bergegas menyambut Ditya. Tanpa malu-malu memeluk sang suami. Ia tidak peduli dengan kedua mertuanya. Persetan apa yang dipikirkan Halim dan Meliana. Frolline merasa perlu meluapkan kegembiraannya dengan memeluk Ditya.
Kedua tangan memeluk erat pinggang Ditya, ibu hamil itu membenamkan wajah di dada bidang sang suami.
“Merindukanku?” tanya Ditya. Ia menikmati kemanjaan Frolline yang langka. Berharap pasca kelahiran nanti, Frolline masih bersikap semanis ini, bukan hanya saat mengandung bayi mereka.
“Hmm.”
Frolline mengangguk.
“Habiskan makananmu, Fro. Kasihan bayi kita. Daddy cerita kamu bahkan tidak makan dengan benar sepanjang hari. Tidak tidur semalaman. Benar begitu?” tanya Ditya, mengusap punggung Frolline dengan lembut.
__ADS_1
“Hmm.”
“Ayo, habiskan makan malammu, Fro.” Ditya menarik tangan tangan istrinya agar duduk kembali dan menghabiskan makanannya. Tampak Ditya mengecup kedua pipi gembul Dragon. Pria itu sudah merindukan putranya.
“Apa yang kamu makan, Nak?” tanya Ditya, tersenyum. “Daddy merindukan kalian,” lanjutnya lagi.
***
“Mulai sekarang, aku tidak mengizinkanmu ke luar kota selama Frolline hamil. Serahkan semua tugas keluar kota pada Firstan!” tegas Halim. Setelah menyelesaikan makan malam bersama, Halim memanggil putranya untuk berbicara empat mata di ruang kerja.
“Apa maksudmu, Dad. Apa aku membuat kesalahan?” tanya Ditya heran.
“Aku mengkhawatirkan istrimu dan kandungannya. Seperti yang aku ceritakan sebelumnya padamu di telepon. Aku melihat sendiri, dia tidak bisa tidur nyenyak semalaman. Aku tidak mau cucuku kenapa-kenapa. Jadi sebaiknya selama Frolline hamil dan melahirkan, kamu tetap di Jakarta,” jelas Halim, menerangkan apa yang menjadi pertimbangannya.
“Ya, Dad.” Ditya tidak membantah.
“Serahkan beberapa pekerjaan ke First! Biarkan anak itu juga belajar mengelola perusahaan.” Halim menjelaskan.
“Ya, Dad.”
“Kalau membutuhkan tambahan asisten, aku tidak keberataan.” Halim menjatuhkan bokong di kursi empuk yang menemaninya lebih dari sepuluh tahun,
“Ya, Dad.”
“Kamu boleh kembali ke kamar. Aku tahu, menantuku hampir gila menunggumu. Frolline mirip sekali dengan Lily sewaktu mengandungmu, Ko.” Terdengar suara Halim melunak. Saat menceritakan masa lalu, pria itu tampak berubah. Sisi kelembutannya keluar. Namun sayang, tidak ada cerita masa lalunya dan Lily. Ia memilih tetap bertahan di Indonesia, dan Lily melewati kehamilannya di Australia. Ia hanya menjenguk Lily saat melahirkan. Satu-satunya kontak hanya melalui telepon, dan Lily menghubunginya sepanjang waktu selama sembilan bulan hamil Ditya.
“Hanya saja ... istrimu lebih kalem, bayangkan bagaimana jadinya kalau Lily yang berada di posisi Frolline saat ini. Hancur duniaku!” Halim tergelak pelan, mengingat detik-detik ia menjadi Daddy dari putra satu-satunya.
***
Tbc
__ADS_1