Crazy Rich Mencari Cinta

Crazy Rich Mencari Cinta
Bab 109 : Buat janji bertemu dengan Pram


__ADS_3

Frolline duduk sisi tempat tidur, merenungi ucapan suaminya. Ia tidak terpikir sejauh itu. Terlanjur bahagia dengan berita kehamilannya, ia bahkan menerima mentah-mentah semua informasi yang disampaikan dokter padanya. Tidak bertanya lebih jauh bagaimana perhitungannya.


Lima menit terdiam, ia memberanikan diri menatap sang suami yang berdiri dengan raut wajah kebingungan.


"Bukankah aku hanya denganmu, Ko." Frolline membuka suara, mengingatkan Ditya akan malam pertama mereka.


"Ya juga. Fro tidak dengan yang lain. Aku yang pertama, kenapa harus berpikiran yang bukan-bukan." Ditya menelan ludah. Senyum terkulum, melempar pandangan pada istrinya.


"Ko?" Frolline memanggil setelah melihat Ditya terdiam.


"Ya, Fro. Koko tidak mencurigaimu. Hanya bingung saja. Koko tidak paham bagaimana bisa hamil lima minggu." Ditya beralasan. Ikut duduk di sebelah Frolline.


"Memang dokter mengatakan apa saja padamu?" tanya Ditya lagi.


"Tidak ada. Hal yang normal-normal saja. Diminta menjaga kesehatan dan tidak boleh terlalu lelah. Boleh melakukan kegiatan seperti biasa asal tidak boleh berlebihan dan terlalu memaksa. Makanan bergizi dan mengurangi makanan dengan pengawet dan siap saji." Frolline berdiri mengeluarkan sesuatu dari dalam dompetnya.


Foto usg yang tadi dikirimkan pada Ditya, sekarang sudah berada di genggaman tangan pria itu.


"Ko, coba perhatikan ini. 5W 4D apa ini maksudnya 5 minggu 4 hari, ya?" tanya Frolline bingung melihat tulisan kecil kombinasi huruf dan angka tercetak di foto hitam putih itu.


Ditya menggeleng. Pria itu memilih fokus pada bagian tengah yang tak berbentuk, hanya bercak hitam putih. Kemungkinan itu foto calon bayinya. Terlalu terpana, Ditya menyunggingkan senyuman tanpa sadar.


"Terima kasih, Schatzi." Kembali pria tampan itu mengucapkan kalimat yang sama sembari merengkuh tubuh Frolline supaya mendekat padanya. Pelukan semakin erat dengan kecupan hangat di pucuk kepala.


"Besok kita ke dokter lagi, Fro."


***


Selesai membersihkan diri, sepasang suami istri itu pun keluar kamar. Wajah berseri-seri keduanya tidak bisa menipu siapa pun. Mama Ditya yang sejak tadi sudah bersiap untuk makan malam memandang putra dan menantunya keheranan.


Sore tadi Ditya buru-buru pulang tanpa banyak bicara. Tak lama Frolline pun menyusul. Keduanya mengunci diri di kamar, baru keluar menjelang makan malam.


"Ayo makan sekarang. Aku khusus memesan chinese food malam ini." Mama Ditya mempersilakan. Sejak mendapat ultimatum, ia memilih menurut dan tak mau berulah lagi. Takut benar-benar dipulangkan Ditya ke Jerman.


Deg--


Menatap beraneka makanan yang tersaji di atas meja, Ditya tiba-tiba menjadi was-was.


"Fro, kamu tidak ada pantangan makan, kan?" tanya Ditya. Sejak mengetahui Frolline hamil, entah kenapa ia jadi takut sendiri. Ini pengalaman pertamanya dan ia tidak tahu apa-apa. Ia ingin yang terbaik untuk Frolline dan calon anaknya.


"Aku tidak bertanya sejauh itu, Ko."


"You kenapa, Fro?" tanya Mama Ditya heran. Keduanya bersikap aneh.

__ADS_1


"Fro hamil." Ditya menjawab singkat sambil menarik kursi makan untuk istrinya.


"Serius? Jadi you benar-benar hamil?" tanya Mama Ditya memastikan.


"Ya, Ma. Berapa kali harus menjawab sampai you yakin." Ditya menjawab sembari menjatuhkan bokongnya di kursi tepat bersebelahan dengan Frolline.


Pernyataan hamil sang menantu, membuat wanita cantik di usia pertengahan abad itu terperanjat. Meski ia sudah menduga tetapi tetap saja tidak semudah itu menerimanya.


Bukannya ia tidak bersyukur, bukan juga menolak titipan. Hanya saja ia tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi Halim andai mengetahui kehamilan Frolline. Kalau Halim bisa menerima dengan tangan terbuka tanpa embel-embel yang membuat putranya meradang, tentu saja ia akan bahagia menyambut cucunya.


Yang ditakutkannya adalah Halim masih tidak mau merestui dan membuat hubungan ayah dan anak itu tegang kembali. Ditya pasti akan memilih istri dan anaknya. Putranya itu bisa saja mengikuti jejak kakaknya. Membayangkan itu kepalanya berdenyut. Sakit seketika.


Meskipun begitu, Mama Ditya tetap berdiri dan menghampiri Frolline.


"Selamat Sayang. Sudah berapa bulan?" tanya Mama Ditya dengan tangan mengusap lembut perut Frolline yang ikut berdiri menyambut pelukannya.


"Berapa bulan? Aku menikah saja belum sebulan. Mau hamil berapa bulan? Aku baru saja mau mengomeli dokternya. Apa tidak salah hitung!" gerutu Ditya.


"Maksudnya, Ko?" tanya Mama Ditya heran, menatap Ditya yang mengomel tak jelas.


"Aku menikah tanggal 27 bulan kemarin. Ini baru tanggal 24, dokter mengatakan kalau istriku hamil lima minggu. Aku bingung sendiri." Ditya mengeluh akan ketidakpahamannya.


"Memang sudah telat berapa lama, Fro?" tanya Mama Ditya, kembali ke tempat duduknya.


"Oh hamil sebulan lebih. Benar juga itu, Ko." Mama Ditya menjawab dengan santai. Sontak membuat Ditya membulatkan matanya.


"Hah? Bagaimana bisa?" Sejak tadi Ditya sibuk bertanya, berbeda dengan Frolline yang lebih memilih memulai acara makannya.


"Itu dihitung dari hari pertama menstruasi terakhir, Ko. Bukan dihitung kapan jadinya." Mama Ditya tergelak.


"Serius?" tanya Ditya menatap Frolline.


"Ini kehamilanku yang pertama, aku juga tidak begitu paham, Ko. Ya, ketika bertemu dokter, memang ditanya kapan menstruasi terakhir." Frolline tampak mengingat kembali dengan mulut penuh makanan.


"Ya kalau dihitung dari menstruasi terakhirku, memang lima minggu, Ko." Frolline terlihat berpikir sebelum menjawab.


Ditya tampak mengeluarkan ponsel mahalnya, mencari tahu apa yang baru disampaikan mamanya. Pria itu senyum-senyum sendiri setelah membaca informasi yang disampaikan google padanya. Bahkan ia bisa menghitung hari perkiraan lahiran dari HPHT ( Hari Pertama Haid Terakhir ). Terucap syukur di dalam hatinya. Andai mamanya tidak memberitahu, mungkin besok ia akan mempermalukan dirinya sendiri akan ketidaktahuannya di depan dokter.


"Nah begitu, Ko. Ponsel mahal cuma dipakai untuk melihat gadis cantik! Kalau begitu terlihat ada gunanya ponselmu, Ko," goda Mama Ditya.


Wanita itu sudah akan terbahak melihat Ditya yang mengkerut saat Frolline mengirim tatapan mematikan begitu gadis cantik disinggung di obrolan mereka.


***

__ADS_1


"Matt, buat janji bertemu dengan Pram dari RD Group!" perintah Ditya di ponsel yang menempel di telinga.


Ia berdiri di depan jendela besar kamarnya. Mata elangnya sedang memandang gemerlapnya ibu kota di saat malam. Lampu jalan bergabung dengan lampu-lampu mobil, menampilkan keindahan kota Jakarta yang tidak pernah ada matinya.


"Baik, Bos!" Matt menurut. Ia tidak paham dengan tujuan Ditya yang minta diatur jadwal bertemu dengan lawan seterunya setahun yang lalu.


"Maaf Bos. Kalau ...."


"Urusan pribadi. Katakan padanya aku ingin bicara secara pribadi dengannya," potong Ditya.


"Baik, Bos. Kira-kira kapan?" tanya Matt.


"Secepatnya. Aku akan membawa Fro pulang ke Surabaya." Ditya menjelaskan.


"Baik, Bos."


Percakapan majikan itu terhenti saat Ditya merasakan dua tangan memeluk erat tubuhnya yang terbalut piyama tidur. Pelukan hangat pada pinggangnya dari belakang.


"Ada apa, Fro? Kenapa jadi manja seperti ini?" Ditya memutuskan sambungan telepon dan melempar ponsel ke atas sofa yang terletak tak jauh dari tempatnya berdiri.


"Koko bahagia?" tanya Frolline.


"Kehamilanmu?" tanya Ditya.


"Hmmm."


"Tentu saja Koko bahagia. Fro ...."


"Hmmm."


Terdengar helaan napas panjang. Sejak tadi Ditya berpikir keras. Kejadian yang menimpa mereka berdua, membuatnya tersadar akan satu hal.


"Koko tidak begitu paham tentang kehamilan begitu pun kamu. Ini sama-sama pengalaman baru untuk kita. Ini baru awal, ke depan kita akan menemukan hal-hal baru lagi, kebingungan baru lagi. Kita mungkin bisa sama-sama belajar, tetapi kita juga butuh support orang yang lebih paham. Seperti mama, yang sudah lebih berpengalaman dari kita." Ditya menghentikan ucapannya. Pria itu mengelus lembut tangan Frolline yang sedang mengunci perutnya.


"Kamu sudah tidak memiliki mama yang bisa ditanyai. Dengan mamaku, pasti kamu tidak merasa nyaman. Koko mengizinkanmu menemui Kak Marisa, kalau kamu memang membutuhkan tempat untuk bertanya atau berkeluh kesah. Koko berusaha untuk membuatmu nyaman dengan kehamilanmu meskipun Koko sebenarnya tidak rela."


"Aku boleh menemui Mami lagi?" tanya Frolline memastikan.


"Ya, asal tidak menemui First!" tegas Ditya.


***


TBC

__ADS_1


__ADS_2