Crazy Rich Mencari Cinta

Crazy Rich Mencari Cinta
Bab 66 : Bencana Nasional


__ADS_3

“Honey ....”


Baik Ditya, Matt maupun Zoe, menelan saliva. Teringat kembali ancaman yang sempat diucapkan sang nyonya bos.


Frolline sedang menyesap es lemon teh saat suara lembut itu tertangkap pendengarannya. Gadis manis bergaun putih itu segera mengalihkan pandangan pada sang suami.


“Ko, itu ada yang memanggilmu!” seru Frolline, menatao tajam pada laki-laki yang masih mengenggam erat ponsel mahalnya.


“Fro, kamu salah dengar. Itu bukan memanggil namaku. Namaku Ditya Halim Hadinata,” sahut Ditya bersilat lidah. Laki-laki itu bersikap setenang mungkin meskipun dalam hatinya ketar-ketir.


Matt dan Zoe yang berdiri dengan tangan menggengam di depan tubuh, bernafas lega. Bosnya benar-benar jenius. Setidaknya kalau Ditya bisa meloloskan diri dari hukuman Frolline, mereka pun akan terbebas dari hukuman yang jauh lebih mengerikan.


Selepas meloloskan diri, buru-buru Ditya menengok ke belakang. Mendengar suara wanita yang memanggil, tanpa melihat pun Ditya sudah mengenali.


“Hai Sandra, apa kabarmu?” Ditya berdiri menyambut gadis berambut pendek dengan gaun biru toscanya. Laki-laki itu segera memeluk, mengecup pipi kiri dan kanan Sandra sembari berbisik.


“San, mulai sekarang jangan memanggilku dengan sapaan Honey lagi. Istriku bisa mengamuk.” Ditya mengedipkan matanya.


“Lalu aku harus memanggil apa? Semua gadis juga memanggilmu seperti itu. Apa aku diizinkan memanggil koko juga,” goda Sandra, tersenyum licik.


“Jangan bermimpi, San! Panggilan koko hanya untuk orang-orang spesial.” tegas Ditya, memainkan alisnya.


Merapikan tuksedo hitamnya, Ditya membungkuk dan berbisik di telinga istrinya. “ Fro, ada Sandra.”


“Hai Sandra, apa kabar?” Frolline segera berdiri dan menyodorkan tangannya, ikut menyapa wanita yang menjadi tunangan suaminya.


“Aku baik-baik saja,” ucap Sandra, memilih memeluk setelah menerima uluran tangan Frolline. Melakukan ritual yang sama setiap bertemu Ditya, kecup pipi kiri dan kanan.

__ADS_1


Gadis manis yang masih berstatus tunangan Ditya itu memilih menyapa mama Nyonya Halim. Tidak mau berlama-lama setelah mengetahui kabar kecemburuan Frolline. Semakin lama berdiri di sana bukan tidak mungkin akan membuat runyam masalah.


***


Bara masih menyeret putrinya sembari mencari sang istri. Kesalnya tidak terkira saat baru saja kembali dari toilet melihat Rania yang tertawa cengegesan dengan Matt.


“Bell, kelewatan kamu Bell.” Bara menggerutu setelah menemui istrinya sedang mencicipi mini cake lezat yang tertata rapi di atas meja prasmanan.


Tentu saja ibu muda itu terkejut, masih dengan mulut penuh potongan cake Bella berbalik menatap tajam pada suaminya.


“Ada apa lagi, Mas?” tanya Bella, meskipun dia sudah tahu jelas apa yang terjadi setelah melihat Bara menggandeng Rania dan membawa putri tertua mereka itu padanya. Perbedaan umur Bella dengan Rania yang hanya terpaut tujuh tahun membuat keduanya akrab dan tidak seperti ibu dan anak pada umumnya.


“Sebelum berangkat aku sudah memintamu menjaganya. Jangan sampai bertemu dengan orang-orangan sawah itu. Kenapa kamu sampai membiarkannya. Beruntung aku datang tepat waktu. Telat sedikit saja putrimu sudah ditelan RAHMAT HIDAYAT!” omel Bara, menyebut nama lengkap asisten pribadi Ditya Halim Hadinata itu.


“Aduh Mas. Mereka cuma berbincang sebentar. Kenapa harus marah-marah! Lagipula, untuk apa membatasi Rania. Biarkan saja dia bergaul dengan siapa saja, tugas kita itu hanya membimbingnya mana yang baik, mana yang salah. Kalau sekiranya salah jalan dan tersesat, kita baru membawanya pulang. Anak-anak itu perlu dilepas, diberi kesempatan untuk bersosialisasi dengan siapa saja, Mas. Tugas kita, orang tua itu mendampingi, memantau. Bukan mengatur!” omel Bella, tidak mau kalah.


“Bergaul apanya, Bell! Kakak ini pacaran dengan bangkotan itu!” seru Bara.


“Bangkotan? Jangan kelewatan, Mas. Matt hanya bujang lapuk yang tidak laku-laku, tetapi itu bukan salah dia. Coba Mas berkaca, merenung di depan cermin. Dulu sewaktu kita menikah, apa Mas kurang bangkotan, kurang lapuk. Mas itu ibarat remahan rengginang di kaleng Khong Guan. Dari luar saja keren kalengnya Mas, dalamnya hanya rengginang sisa.”


Mata Bara membulat sewaktu istrinya menyamakan dirinya dengan rengginang sisa. Hampir tujuh tahun menikah, dikarunia 2 anak kandung dan 2 anak angkat. Kehidupan rumah tangga mereka memang berwarna. Apalagi usia Bella yang jauh lebih muda darinya membuat pria itu sering tidak berkutik setiap beradu mulut. Belum lagi kenakalan Kailla yang selalu mengajari istrinya banyak hal yang membuat Bara geleng-geleng kepala.


“Sudah, aku tidak mau berdebat lagi, Bell. Aku tidak mau tidur di luar malam ini.” Bara melunak.


“Mas, bukan aku yang mengajak berdebat. Mas yang duluan menabuh genderang perang.”


“Aku cuma mau bilang, mendapatkan Rania, suatu anugerah buat Matt, tetapi itu musibah untuk Rania kita, itu saja yang cukup kamu ketahui, Bell.” Bara melenggang pergi untuk mendinginkan hatinya.

__ADS_1


“Tunggu Mas. Kamu juga harus tahu, Mas. Kalau bagi Rania, mendapatkan Matt itu musibah. Bagi Matt, mendapatkan ayah mertua sepertimu itu adalah bencana, Mas. Bencana Nasional,” seru Bella tidak mau kalah, menarik tangan putrinya supaya mendekat.


“Sudah Kak, jangan pikirkan daddy. Yang terpenting kakak belajar yang benar, jangan macam-macam di luar sana. Sekolah yang benar, berteman dengan siapa saja boleh. Asal tetap pendidikan nomor satu, belajar jangan ditinggalkan.


***


Acara puncak perayaan ulang tahun Halim Group, malam itu diisi dengan sepatah dua patah dari petinggi sekaligus pemilik salah satu perusahaan farmasi terbesar di Indonesia.


Pria tua itu naik ke atas podium dengan dibantu Joe asistennya dan sebuah tongkat di tangan kanannya. Riuh tepuk tangan menyambut langkah Halim. Dengan kaki gemetar hebat di usia senjanya yang masih sanggup memegang tampuk tertinggi kepemimpianan, dan menerbangak Halim Group ke puncak tertinggi menyingkirkan pesaing-pesaing lainnya.


“Selamat malam semuanya,” ucapnya dengan suara penuh wibawa dan ketegasan. Semua tamu undangan yang hadir di ballroom langsung memfokuskan diri pada satu titik di tengah panggung. Halim Hadinata sedang berdiri di podium dengan secarik kertas di tangan.


“Terimakasih sudah bersedia hadir di perayaan Ulang Tahun Halim Group. Sampai saat ini, Halim Group masih berdiri kokoh dan jadi yang terdepan, tidak lain berkat doa dan support rekan-rekan sekalian, kerja keras dan perjuangan tidak kenal lelah keluarga besar Halim Group.”


“Terimakasih yang tidak terhingga juga untuk semuanya, dari petinggi sampai jajaran terbawah yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu. Yang sudah berdiri berpegangan tangan membawa bendera Halim Group tetap berkibar dan berjaya.”


“Halim Group ada di titik seperti sekarang adalah kerja keras kita bersama. Dan acara malam ini saya persembahkan untuk kalian semua.”


Riuh tepuk tangan terdengar membahana dari segala sisi ruangan. Sebagian tamu undangan tampak berdiri memberi penghormatan atas apa yang baru disampaikan Halim Hadinata.


Setelah suasana hening, Halim meneruskan kalimatnya yang sempat terputus.


“Malam ini juga, aku akan mengumumkan ....” Jeda sejenak, Halim menatap Ditya dari kejauhan. Putra tunggal yang sejak kecil memang dipersiapkannya untuk meneruskan kerajaan bisnisnya, melanjutkan perjuangannya di bidang farmasi, mengibarkan nama besar Halim Hadinata ke tempat yang lebih tinggi.


Ada keraguan sebenarnya di benak Halim, dia belum bisa membaca akan sikap putranya setelah dia mengumumkan hal terpenting, yang juga akan mempengaruhi perusahaan tentunya.


“Maaf sedikit keluar dari dari topik acara hari ini. Malam ini saya akan berbagi kebahagiaan, bersama rekan-rekan sekalian. Ini menyangkut putraku satu-satunya, Ditya Halim Hadinata ...”

__ADS_1


***


TBC


__ADS_2