
Sepanjang hari Ditya uring-uringan. Sejak memuntahkan isi perutnya di restoran tadi pagi, suasana hati Ditya juga tak kalah bergejolaknya. Semua orang terkena semprotan laki-laki 35 tahun itu. Yang terparah adalah Matt, asisten kesayangan sekaligus tempat pelampiasan.
Ditya kembali melayangkan protes sesaat setelah menyelesaikan rapatnya. Ada saja bahan untuknya mengomel, ada saja materi untuk laki-laki itu menggerutu kecewa.
“Matt, kenapa parfum ruangan ini jadi aneh aromanya?” Mengenggam tablet di tangan kanannya, Ditya keluar dari ruang rapat. Setelan hitam dengan rambut klimis basah menunjang ketampanannya yang semakin hari semakin menjadi. Apalagi sejak menikah, auranya semakin memancar keluar.
“Parfum yang sama, seperti biasa kesukaanmu, Bos.” Matt mengernyit. Sebagai asisten kesayangan Ditya, tentu saja Matt sudah menamatkan banyak hal termasuk kesukaan dan ketidaksukaan majikannya.
“Kamu tidak salah pesan parfum, kan?” tuding Ditya, berjalan kembali ke ruangannya sambil menahan gejolak di perutnya.
“Tidak Bos. Ini parfum yang sama. Merk dan aromanya sama.” Matt membela diri.
Seminggu ini, dia bekerja keras untuk mengurus kepindahan Ditya ke kantor pusat Halim Group. Sejak Ditya memutuskan mengambil alih kepemimpinan Halim Hadinata dengan berbagai syarat yang telah disepakati tentunya.
“Tolong ganti lagi, Matt. Aku benar-benar tidak menyukainya.” Ditya memberi perintah.
Melenggang masuk ke ruangannya, Ditya buru-buru menghempaskan tubuh ke kursi kebesaran yang dulunya adalah milik sang daddy. Ada rasa berbeda saat mengambil alih semuanya.
“Matt ....”
“Ya, Bos!” Buru- buru berjalan mendekat.
“Coba carikan permen untukku!” titah Ditya mengecap mulutnya yang terasa aneh sejak pagi.
“Memang rasanya bagaimana, Bos?” tanya Matt lagi. Penasaran akan perubahan Ditya yang tidak biasa dan tiba-tiba.
“Perutnya masih sakit, Bos?” tanya Matt lagi.
“Aku sudah katakan kalau aku tidak sakit perut. Hanya saja perutku rasanya aneh, lidahku juga. Bergejolak minta dikeluarkan. Apalagi kalau mencium parfummu!” omel Ditya.
Deg—
“Maaf, Bos. Aku tidak menggunakan parfum sudah beberapa hari. Kebetulan stok parfumku habis,” ucap Matt.
Asisten itu tidak mungkin berterus terang. Sengaja menyisihkan uang yang tadinya ingin digunakan untuk membeli parfum. Semuanya demi Ran-Ran, kekasih hati yang ingin membeli kado spesial untuk calon ayah daddy mertua.
“Nah mungkin itu masalahnya. Cepat beli parfum! Pantas saja perutku sejak tadi rasanya aneh, hidungku juga mencium aroma tidak sedap. Ternyata kamu biang keroknya!” gerutu Ditya.
“Pakai parfum salah, tidak pakai parfum salah juga!” ucap Matt, melangkah keluar dari ruangannya.
“Kamu berani mengomel?” todong Ditya, menatap bibir asistennya yang komat-kamit.
“Ti ... tidak, Bos. Bukan seperti itu.”
“Keluar sekarang. Cari permen untukku. Mulutku rasanya aneh!”
Sendirian di dalam ruang kerja, sembari menunggu Matt kembali. Ditya tiba-tiba teringat dengan istrinya. Suasana hatinya kacau balau sejak pagi.
“Fro ....” Berbisik lirih, Ditya segera meraih ponsel dan menghubungi istrinya.
__ADS_1
Tak lama terdengar nada sambung yang mengalun lembut sebelum akhirnya suara merdu yang dirindukan memecahkan rasa yang membuncah di dada.
“Ko, ada apa?” tanya Frolline dengan suara ceria seperti biasa.
“Kamu sedang apa, Fro? Sudah makan siang?” tanya Ditya.
“Belum, aku masih banyak pekerjaan, Ko. Seminggu libur, pekerjaanku menumpuk.” Frolline berkeluh kesah.
Terdengar Ditya menghela napas kasar. “Makan sekarang! Koko tidak mau kamu sakit lagi,” titah Ditya.
“Ya, nanti aku akan meminta Zoe memesan makan siang.” Frolline menjawab.
“Ko ....”
“Mmmm ... ada apa, Fro?”
“Tadi pagi ... Koko sudah menemui Sandra?” tanya Frolline ragu-ragu.
“Ya, ada apa?” tanya Ditya.
“Aku boleh tahu ... em ... apa yang koko bahas dengannya?” tanya Frolline lagi.
“Sampai rumah koko akan membahasnya denganmu.”
“Kenapa? Kamu cemburu, Fro?” todong Ditya. Perasaannya berbunga-bunga setiap saat mendapati aura kecemburuan di setiap pertanyaan istrinya.
“Tidak, aku tidak cemburu, Ko. Aku hanya tidak mau Koko menikah lagi.”
“Sebentar Fro, ada yang mengetuk pintu ruanganku.” Ditya meletakan ponselnya di atas meja.
Tak lama terdengar suara Ditya berteriak kencang saat melihat Matt muncul dengan sekantong belanjaan berisi bermacam-macam permen aneka rasa.
“Sandra, kamu mengunjungiku?” tanya Ditya, menempelkan telunjuknya di bibir. Meminta asistennya itu menutup mulut rapat-rapat.
“Ada apa? Mau makan siang bersama?” ucap Ditya lagi, sengaja berbicara keras supaya istrinya mendengar.
Setelah menyelesaikan dramanya, Ditya buru-buru meraih ponselnya kembali. “Fro, sudah dulu, ya. Koko ada keperluan,” ucap Ditya. Tanpa menunggu jawaban, segera mematikan ponselnya dengan senyum licik terukir di wajah tampannya.
Matt hanya menggeleng kepala. “Banyak kemajuan sekarang, Bos.”
“Kamu lihat saja, istriku akan berlari secepat kilat ke sini. Pesankan makan siang untuknya. Makanan kesukaan Fro. Dan pesankan bunga mawar merah yang ukuran besar.” Ditya memberi perintah.
“Aku sudah lama tidak memberinya kejutan. Sejak menikah, aku hanya memberinya luka dan masalah,” lanjut Ditya lagi.
Laki-laki itu meraih bungkusan berisi permen dari tangan Matt dan berjalan keluar dari ruangannya.
“Bos, disini?” tanya Matt, menghentikan langkah Ditya.
“Rooftop!”
__ADS_1
“Ok!” Matt tersenyum.
“Aku menunggu di ruang rapat. Kalau semua sudah siap dan istriku sudah datang. Kabari aku segera. Kepalaku pusing, perutku tidak enak seharian ini. Butuh Fro untuk mengobatinya.”
***
Hampir satu jam menunggu, terdengar bunyi pintu terbuka. Ditya duduk bersandar memejamkan matanya dengan kedua kaki terjulur di atas meja rapat. Laki-laki itu hampir tertidur saat Matt masuk tanpa permisi.
“Bos, Nyonya mengamuk!” ucap Matt, mengulum senyuman.
“Di mana istriku sekarang?” tanya Ditya, menurunkan kaki panjangnya dan merenggangkan tangan. Membuat otot-otot yang tadinya kaku menjadi sedikit santai.
“Sudah di rooftop. Aku tidak yakin, akan baik-baik saja. Tadi saja marah-marah di ruang kerjamu, Bos.” Matt menjelaskan.
“Biarkan saja.” Ditya berlari menyusul ke puncak gedung Halim Group. Jantungnya berdetak kencang. Gemuruh di dadanya persis seperti pertama kali menyatakan cinta pada Frolline.
Ketika langkah kaki semakin dekat, senyum pun semakin terkembang. Ketika pintu menuju rooftop itu terbuka, tampak Frolline sedang berdiri di depan sebuah meja yang sudah diatur Matt dengan indah.
“Schatzi, kamu datang.” Ditya tersenyum. Reaksi berbeda ditunjukan Frolline. Istrinya cemberut dengan kedua tangan bertolak di pinggang.
“Di mana Sandra?” Frolline bertanya dengan suara tegas.
“Tidak ada Sandra di sini. Hanya ada koko dan kamu, Fro.” Ditya mulai melancarkan aksinya.
Berjalan mendekat untuk melunakan singa betina yang siap mengamuk. Itu terlihat jelas dari sorot mata indah yang mengandung amarah.
“Ayo, kita makan sekarang. Kamu belum makan, kan?” tanya Ditya, meraih tangan Frolline.
Bahagia itu terlihat jelas saat Frolline menghempas kasar tangannya, Ditya tahu saat ini istrinya sedang dilanda cemburu buta.
“Jangan marah, Koko hanya bercanda. Tidak ada Sandra di sini. Hanya ada Frolline ....”
“Di mana Koko menyembunyikan Sandra?”
Ditya tidak menjawab, tetapi laki-laki segera menghubungi Sandra melalui panggilan video. Tak butuh waktu lama, wajah Sandra muncul memenuhi layar ponsel Ditya.
“San, istriku mencarimu!” ucap Ditya segera berjalan mendekati istrinya. Tanpa malu-malu memeluk Frolline dari belakang. Keduanya sama-sama menatap Sandra yang sedang menikmati semilir angin pantai.
“Hai, Fro. Ada apa mencariku.” Sandra membuka pembicaraan, sembari melambaikan tangan ke ponselnya.
Frolline membeku di tempat, beralih menatap suami yang sedang mendekap erat tubuhnya.
“Kamu sudah di Pangkalpinang?” tanya Ditya lagi.
“Ya, jam sebelas tadi sudah tiba di Bangka.” Sandra menjelaskan.
“Happy holiday, Dear!” Ditya memutuskan panggilannya.
Fokusnya berganti pada sang istri. "Fro, jangan marah lagi, Sayang. Ini semua untukmu. Tidak ada Sandra disini." Pelukan itu semakin erat, seiring kecupan hangat berlabuh di pundak Frolline.
__ADS_1
***
TBC