
Frolline bangkit dari posisi berbaring sembari menggengam erat bantal dan melemparnya keras ke arah Ditya.
“Aw!” Ditya memekik terkejut saat bantal mengenai wajahnya dan terjatuh ke lantai.
“Ini bukan jawaban yang Koko tunggu, Fro,” Ditya tergelak.
“Aku tidak mengizinkan Koko memeluk wanita mana pun!” ancam Frolline mengarahkan telunjuknya ke wajah sang suami.
“Em ... berarti kamu mencintai Koko, Fro. Bukankah secara tidak langsung itu menjawab pertanyaan Koko. Kamu manis sekali. Menyatakan cinta saja harus berputar-putar. Intinya sama saja,” goda Ditya.
“Ahhhhh ....” pekik Frolline tidak bisa terima. Sejak tadi memilih tidak menjawab bukan berarti Ditya bisa berpendapat seenaknya.
“Hahaha ....” Lagi-lagi Ditya tergelak.
“Aku tidak bermaksud begitu, Ko.” Wajah Frolline bersemu merah. Buru-buru memeluk erat Ditya yang duduk tepi ranjang. Perut besarnya beradu dengan punggung kekar Ditya.
“Ya, terserah kamu saja, Fro.” Ditya mengalah.
“Tidak penting juga kata-kata itu. Yang terpenting bagi Koko adalah sikap manismu ini sudah menjelaskan semuanya.”
“Stop! Jangan membahas masalah ini lagi, Ko!” Frolline membungkam bibir Ditya dengan telapak tangannya.
Ditya terbahak, menggigit pelan tangan Frolline. “Kalau menggunakan tangan bukan hal sulit untuk Koko menyingkirkannya, Fro. Cara terampuh itu membungkamnya dengan bibirmu.”
“Itu maunya Koko.” Frolline melupakan pertengkarannya. Ibu hamil itu mendekap Ditya dari belakang sembari merebahkan kepalanya di pundak Ditya. Sikap manis dan manja yang belakangan ini sering muncul di dalam diri Frolline.
“Ya, itu maunya Koko. Ngomong-ngomong ... kita jalan ke mana lagi?” tanya Ditya.
“Spanyol? Italia? Portugal? Austria?” tawar Ditya.
“Aku mau ke Cappadocia. Mau melihat hot air balloon, Ko,” cerocos Frolline. Bersimpuh dengan kedua lutut di atas ranjang, ia mendekap pundak Ditya dari belakang. Begitu erat, lekat dan posesif.
“Hmmm ... sepertinya kita tidak bisa ke sana, Fro. Visa yang kita pegang sekarang tidak bisa digunakan untuk masuk ke Turki. Kita harus mengajukan e-visa, Sayang. Butuh waktu lagi. Kalau visa UK keluar, bulan depan kita terbang ke London.”
Frolline melemas, menjatuhkan dagunya di pundak Ditya.
“Setelah kamu melahirkan dan bayi kita sudah bisa diajak jalan-jalan. Koko akan mengajakmu berkeliling lagi,” hibur Ditya.
“Ya sudah.” Frolline berkata lirih.
“Besok kita periksa kandunganmu. Selama tiga bulan di Eropa, kita tidak mengunjungi bayi kita, Fro.”
“Ko, kalau aku melahirkan di Inggris, bayi kita akan berkewarganegaraan apa?” tanya Frolline tiba-tiba. Ini hal yang menjadi pertanyaannya selama ini.
“Indonesia, Sayang. UK menerapkan asas ius sanguinis. Jadi penentuan kewarganegaraan berdasarkan pertalian darah atau keturunan. Tidak seperti negara yang menerapkan ius soli. Di sana, kewarganegaraan ditentukan oleh tempat kelahiran. Jadi ada kemungkinan anak memiliki kewarganegaraan ganda.”
“Kenapa? Mau anak kita jadi warga negara asing?” tanya Ditya.
Frolline menggeleng.
“Koko jelaskan padamu ... kenapa Koko lahir dan besar di luar negeri, tetapi masih memegang paspor Indonesia. Dan itu juga berlaku untuk anak-anak kita.”
__ADS_1
“Kalau Koko pindah kewarganegaraan, Koko tidak bisa menjadi ahli waris sebagian harta daddy. Karena sesuai dengan hukum di Indonesia, tanah dan bangunan tidak bisa dikuasai oleh warga negara asing. Warga negara asing di Indonesia hanya mempunyai hak pakai terhadap bangunan dan tanah. Mereka tidak bisa memilikinya. Jadi tidak mungkin Koko berganti kewarganegaraan meskipun sempat terpikir untuk memegang paspor Jerman atau Inggris. Koko harus menjalankan Halim Group di Indonesia, termasuk mewarisi aset Halim Group dan daddy, yang juga berupa tanah dan property.”
“Kak Marisa? Apa Kak Marisa tidak cemburu saat Koko mewarisi semua?” tanya Frolline dengan polosnya.
“Daddy sudah menjelaskan padaku, apa saja yang akan diwariskannya pada Kak Marisa. Intinya Kak Marisa juga akan mendapatkan bagiannya meskipun tidak sebanding dengan apa yang Koko dapatkan. Kak Marisa akan mendapatkan 50% dari aset pribadi daddy. Di Halim Group, Daddy tidak akan mewariskan apa pun untuk Kak Marisa, tetapi Mommy memegang 30% saham perusahaan. Di mana 10% sudah diserahkan padamu. Kemungkinan 20% di tangan Mommy sekarang akan jatuh ke tangan Kak Marisa. Daddy tidak mempermasalahkan itu.”
“Dan saat kamu melahirkan anak laki-laki untuk Koko, di saat itu Daddy akan melepas semua saham Halim Group pada Koko. Itu yang Daddy sampaikan di pertemuan terakhir sewaktu di Surabaya kemarin. Dan saat itu tiba, Koko mengambil alih tanggung jawab merawat Daddy dan Mommy termasuk Mama. Semua tanggung jawab itu di pundak Koko, bukan Kak Marisa. Dan artinya sebagai istri Koko, kamu juga bertanggung jawab mengurus Daddy dan Mommy termasuk Mama ke depannya.
Deg—
“Jadi kalau aku tidak bisa melahirkan anak laki-laki, bagaimana Ko?” tanya Frolline mulai resah.
“Ya, tinggal cari perempuan yang bisa melahirkan anak laki-laki untuk Koko.” Ditya menjawab dengan santai. Senyum terkulum saat melihat perubahan wajah Frolline yang menggemaskan.
“Tidak mau. Koko tidak boleh menikah lagi. Aku akan melahirkan anak laki-laki yang banyak untukmu, Ko!” tegas Frolline, mengeratkan pelukannya.
“Hahaha ... Koko tidak masalah. Memiliki anak laki-laki atau tidak, tetap saja pada akhirnya semua akan diwariskan pada Koko. Memang Daddy mau menikah lagi untuk mendapatkan anak laki-laki selain Koko. Tidak, kan? Jadi abaikan saja.” Ditya menenangkan.
“Benarkah?” tanya Frolline memastikan.
“Ya.” Ditya menggengam tangan Frolline dengan erat.
***
Keesokan harinya.
Ditya hampir gila setelah pulang dari dokter kandungan. Senyum bahagia tidak lepas dari wajah tampannya. Meskipun perempuan atau laki-laki tidak memiliki pengaruh apa-apa untuk hati dan perasaannya pada sang istri, tetapi dengan kehadiran bayi laki-laki di dalam kandungan Frolline membuat Daddy tidak berkutik. Bayi laki-laki mereka mengukuhkan posisi Frolline sebagai istrinya. Daddy tidak memiliki alasan untuk memaksanya menikah lagi.
“Boy!” Ditya memeluk sang mama yang sibuk dengan remote di tangannya.
“You tidak sedang mengerjaiku, kan?” tanya Mama Lily.
“No, bayiku laki-laki.” Ditya menegaskan sekali lagi.
“Oh Fro, kemari Sayang.” Mama Ditya meminta sang menantu mendekat. Ditepuknya pelan sofa kosong di sebelahnya.
“Selamat, Fro.” Mama Lily memeluk menantunya. Ia benar-benar bahagia. Perjuangannya selama ini untuk membuat Ditya berada di posisi puncak disempurnakan oleh Frolline yang memberinya seorang cucu laki-laki.
“Terima kasih, Ma.”
“Tugasmu sekarang bertambah berat, Fro. Kamu harus mendidik anakmu untuk menjadi sosok tangguh dan mengajarkanya bertanggung jawab. Dia bukan hanya anak kalian, tetapi dia pemimpin masa depan Halim Group. Seperti saat aku hamil Ditya, ada banyak tugas berat yang dibebankan Halim padaku. Aku memang bukan perempuan baik-baik dan sempurna, tetapi aku dituntut untuk menjadikan Koko anak yang bertanggung jawab untuk keluarga dan perusahaan. Dan yang terpenting, dia harus tahu aturan-aturan keluarga, tata krama dan sopan santun di keluarga. Zaman memang berubah, tapi dasar itu tetap harus diajari.”
Pandangan Mama Lily beralih pada Ditya. “Kamu sudah mengabarkan Daddy-mu?”
“Belum ....” Ditya tertunduk. Disaat diingatkan seperti ini, rasa bersalahnya semakin menjadi.
Mama Lily mengambil ponselnya di atas meja. Tanpa bertanya, ia menghubungi Halim. Perbedaan waktu enam jam antara Jerman dan Indonesia di saat musim panas, bisa dipastikan saat ini Halim baru bangun dari tidurnya.
Nada sambung terdengar jelas saat speaker ponsel sengaja dinyalakan. Tak lama, terdengar suara Joe, asisten Halim di ujung panggilan.
“Bisa sambungkan dengan Halim. Katakan Ditya ingin bicara dengannya.” Mama Lily berkata sambil menyerahkan ponsel pada sang putra.
__ADS_1
“Kalian bicara sendiri. Aku masih ada keperluan,” pamit Mama Lily setelah berhasil menyambungkan panggilan itu pada suaminya.
Tak lama terdengar suara serak Halim di seberang. “Rung Wei, Pulang dan urus perusahaan!” ucap Halim.
“Maafkan aku, Dad.” Suara Ditya terdengar pelan.
“Aku sudah melupakannya. Setelah puas bermain, pulang dan urus perusahaan!” pinta Halim lagi.
“Bagaimana kabar, Daddy?” tanya Ditya ragu-ragu.
“Kamu tidak perlu khawatir. Aku belum bisa meninggal sekarang, masih ada tanggung jawab di pundakku.” Halim menjawab dengan ketus.
“Maafkan aku, Dad. Setelah Fro melahirkan bayi laki-laki keluarga kita, kami akan pulang.”
Deg—
“Cucuku laki-laki?” tanya Halim memastikan.
“Ya ....”
“Sudah berapa bulan?” tanya Halim lagi.
“Jalan enam bulan.”
“Melahirkan di mana?” tanya Halim
“UK.”
Halim terdiam sejenak. “Tidak perlu mengunakan fasilitas pemerintah UK. Gunakan private doctor dan private midwife.”
“Maksudnya, Dad?”
“Bukankah di sana hamil dan melahirkan dibiayai pemerintah?”
“Yes, Dad.”
“Gunakan private saja. Menggunakan fasilitas pemerintah akan lebih rumit dan harus menunggu jadwal. Yang aku dengar, saat akan melahirkan pun tidak bisa sembarangan pergi ke rumah sakit. Harus mengikuti prosedur. Aku tidak keberatan mengeluarkan uang sebanyak apa pun, asalkan cucuku mendapatkan yang terbaik dan lahir dengan selamat. Sewa private midwife untuk menemani istrimu. Aku tahu di sana kalian sendiri.” Halim memerintah.
“Yes, Dad.”
“Mana, Fro?” tanya Halim dengan suara garangnya.
“Dad ....” Terdengar suara Frolline pelan. Ia selalu ketakutan saat berhadapan dengan mertunya.
“Jaga baik-baik kandunganmu.” Halim berpesan singkat. Tidak ada banyak kata-kata, pria tua itu selanjutnya berbicara pada Ditya.
“Kabari mommy-mu!” pinta Halim. “Aku tidak akan menyampaikannya, aku harap kamu menyampaikan langsung padanya dan meminta maaf!” lanjut Halim dengan penuh ketegasan.
“Ya, Dad.”
***
__ADS_1