Crazy Rich Mencari Cinta

Crazy Rich Mencari Cinta
Extra part 7


__ADS_3

Ditya dan Frolline baru saja melangkah masuk ke dalam rumah setelah pulang dari dokter kandungan, Dragon yang sudah mulai bisa berjalan tampak berlari kecil menemui kedua orang tuanya. Beberapa kali tampak Dragon terjungkal dan bangun kembali. Kedua pengasuhnya hanya menjaga di belakang dan menonton bayi itu bangun sendiri dari posisi terjerembabnya. Sesuai instruksi dari sang kakek, Halim Hadinata meminta cucu kesayangannya diajarkan mandiri sejak sedini mungkin.


Ditya hanya berjongkok dari kejauhan dengan tangan terulur ke depan, siap menyambut putra tertuanya.


"Pa ... pa ...." Dragon memekik sembari berjalan sempoyongan. Bayi lucu yang sebentar lagi berulang tahun untuk pertama kali itu baru saja bisa berjalan dua minggu terakhir. Jalannya belum terlalu seimbang, masih sering terjatuh.


"Ayo, Sayang. You can do it!" Ditya menyemangati. Pria yang sebentar lagi akan menjadi ayah untuk kedua kalinya itu tampak berlutut di lantai siap menyambut putra sulungnya yang terjatuh kembali dan menolak berjalan. Dragon memilih merangkak untuk sampai ke tempat Ditya.


"Ini curang, Drag!" Ditya berkomentar saat putranya menggapai tubuhnya dan memeluk erat.


Frolline terlihat berdiri di samping Ditya dengan gaun hamil bermotif floral, mengusap perut buncitnya. Ia ikut melabuhkan ciuman di bibir Dragon setelah Ditya menyodorkan wajah sang putra mendekatinya.


"Cium Dìdì." Ditya mendekatkan Dragon pada perut buncit Frolline dan meminta Dragon ikut mengecup sang adik laki-laki yang masih meringkuk di rahim sang Mama.


"Good job, Gēgē." Ditya meluruskan tubuh mungil Dragon dan mengajak putranya masuk ke dalam rumah.


"Mbak, Yéyé dan Năinai sudah sampai?" tanya Frolline pada pengasuh putranya sembari mengekor di belakang Ditya. Sudah hampir tiga bulan kedua mertuanya kembali ke Surabaya. Mereka memutuskan ke Jakarta setelah mengetahui Dragon yang akan berulang tahun sebentar lagi.


"Sudah, Nyonya. Baru satu jam yang lalu." Salah seorang pengasuh menjawab.


"Oh ... mereka di mana?" tanya Ditya yang ikut mendengar.


"Di taman belakang, sedang mengobrol dengan Firstan Gēgē," sahut salah seorang pengasuh, ikut memanggil sama dengan Dragon karena mereka harus mengajari Dragon memanggil setiap kerabat di keluarga besar Halim Hadinata dengan benar.


"Ada First?" Ditya mengerutkan dahi, pandangannya tertuju pada Frolline.


Kisah masa lalu istrinya dengan sang keponakan memang sudah berlalu. Bahkan Firstan sudah menikah lagi dengan salah satu cucu keluarga Wangsa. Meski begitu, semua fakta itu seakan tidak cukup membuat Ditya tenang. Hubungan Frolline dan Firstan bukan sekedar cinta monyet biasa. Ia bahkan sulit membedakan antara dirinya dan Firstan, mana yang bisa disebut sebagai cinta sejatinya Frolline. Mengingat keduanya memaknai cinta begitu dalam, sampai rela berkorban meski sudah tersakiti. Seperti Frolline yang rela menunggu Firstan saat masih berstatus suami Angella, dan Firstan yang masih berharap pada Frolline walau sudah mengandung dan berstatus istrinya.


Ditambah lagi gosip yang gencar belakangan ini, kalau pernikahan Firstan terancam oleh orang ketiga. Ada selentingan kabar di luar sana yang menyatakan Cia-Cia, istrinya Firstan berselingkuh dengan salah satu model pria dewasa. Namun, Ditya bingung melihat respon keponakannya yang terlihat santai dan tidak ambil pusing.


'Masuk ke kamar dan istirahat, Fro!" titah Ditya, menyimpan cemburunya. Selama tiga bulan, ia bisa tenang. Firstan tidak menginjakan kakinya ke kediamannya. Namun, begitu Halim menetap di Jakarta, ia mulai was-was. Firstan akan sering bertamu dengan alasan mengunjungi sang kakek dan nenek.


"Aku mau menyapa Daddy dan Mommy dulu, Ko" Frolline protes.


"Jangan protes, Fro. Koko akan mewakilimu dulu. Nanti sore saat minum teh, baru menyapa mereka. Pasti mereka tidak keberatan. Daddy juga maklum kalau menantunya kelelahan dan harus beristirahat. Membawa cucu laki-laki kedua keluarga Lim di di dalam perut, bukanlah pekerjaan mudah." Ditya beralasan. Tampak ia menyerahkan Dragon pada pengasuhnya.


"Drag, dengan Mbak dulu, ya. Papa mau berdebat dengan Mama dulu." Ditya tersenyum tipis saat mendapati istrinya cemberut. Berjalan dengan langkah lebar dan menghentak menuju ke dalam lift yang akan mengantar ke lantai dua rumah mewah mereka.


***

__ADS_1


"Fro, dengarkan Koko dulu." Sejak hamil, Frolline begitu moody dan susah ditebak. Wanita itu bahkan tidak paham kalau sekarang Ditya sedang mengatasi cemburunya seorang diri.


"Schatzi ... jangan begini, Sayang." Ditya merengkuh lengan Frolline yang baru saja masuk ke dalam kamar tidur mereka.


"Koko minta maaf. Bukan tidak mengizinkan bertemu Daddy sekarang. Kita baru pulang dari dokter, kasihan Baby Tiger kecapekan di dalam perut mamanya." Ditya membujuk. Dengan cekatan memeluk tubuh gemuk Frolline dari belakang. Ia tidak mengizinkan Frolline berontak.


Tidak terhitung sudah berapa kali Ditya memohon maaf pada sang istri selama kehamilan kedua ini. Selalu saja ada yang membuat emosi ibu hamil itu terpancing. Kehamilan kali ini, Frolline sangat sensitif.


"Aku tidak mau bermasalah dengan Daddy karena dianggap tidak sopan." Frolline menjelaskan.


"Alasan!" gerutu Frolline kesal.


"Tidak. Ini serius, Sayang. Nanti ... tidur sebentar, baru kita temui Daddy," bujuk Ditya.


"Koko juga tidak ke sana. Kita tidur saja sekarang. Nanti baru temui Daddy." Ditya menarik ibu hamil itu berbaring ke atas tempat tidur.


"Aku pijat kakinya, ya," tawar Ditya berusaha bersikap manis.


Senyum terukir di bibir Frolline saat merasakan sentuhan jemari Ditya yang menari dari tumit, melewati betis dan berakhir di lutut. Sejak kandungannya semakin besar, kedua kakinya pun ikut kesemutan, mudah merasa lelah menopang berat tubuhnya yang kini hamil tujuh bulan.


"Mamanya manja, anaknya juga pasti sama manjanya." Ditya berkata pelan, masih terus memijat.


"Bos ... Bos ...."


"Tunggu sebentar, Sayang. Matt sepertinya kurang sesajen." Ditya berkata kesal. Ia jarang memiliki waktu berdua dengan Frolline di saat siang seperti ini, tetapi Matt mengacaukan semuanya.


"Ada apa?" tanya Ditya ketus.


"Dipanggil Bos Halim. Bos dan Nyonya diminta menemui Tuan Besar di taman belakang." Matt menjelaskan tujuannya.


Deg-


Ditya menatap ke arah istrinya. Jujur saja, ia tidak mau sampai Froline bertemu dengan Firstan. Sebisa mungkin, ia akan mencari cara agar mantan pasangan kekasih itu bertemu.


"Harus sekarang?" tanya Ditya memastikan


"Ya, Bos." Matt mengangguk.


"Fro harus ikut juga?" tanya Ditya lagi.

__ADS_1


"Permintaan Tuan Besar begitu, Bos." Matt mengangguk dengan penuh keyakinan.


Pundak Ditya melemas, menatap nanar pada ibu hamil yang juga sudah menyusul turun dari ranjang.


"Fro, Daddy meminta bertemu." Ditya berkata pelan.


***


"Bagaimana keadaanmu, Fro? Cucuku baik-baik saja?" tanya Halim. Kedua tangannya membentang, siap memeluk menantunya yang sedang hamil besar.


"Baik, Dad." Frolline memeluk mertua laki-lakinya sebentar, beralih memeluk ibu mertuanya.


"Sudah tujuh bulan, kan?" tanya Meliana, mengelus perut buncit Frolline.


"Ya, Mom." Frolline menarik kursi dan duduk di samping ibu mertuanya.


Ditya tampak tersenyum menyapa Firstan sekilas, sebelum akhirnya menarik kursi dan duduk di sebelah keponakannya. "Ada apa, Dad?" tanya Ditya dengan wajah datar. Sejak tadi, ia mengawasi sang keponakan. Berulang kali, Firstan mencuri pandang pada istrinya.


"Aku menghadiahkan rumah untuk cucu-cucuku. Aku sudah meminta Firstan mengurusnya sejak enam bulan yang lalu. Nanti pergi lihat bersama First. Mudah-mudahan Frolline menyukainya." Halim berkata dengan senyum menghiasi wajah.


"Hah!" Baik Frolline maupun Ditya terkejut. Tidak menyangka akan mendapatkan hadiah sebuah rumah.


"Setelah Frolline melahirkan ... kalian bisa pindah ke rumah baru," lanjut Halim.


Frolline tersenyum lega. Terbayang ia akan hidup mandiri, jauh dari mertuanya. Bukannya Halim dan Meliana bersikap buruk padanya, hanya saja ia merasa tidak nyaman saat harus tinggal seatap dengan mertuanya, meskipun hanya beberapa bulan.


"Lily akan tinggal bersama kalian. Aku memutuskan, mengizinkan perempuan gila itu kembali ke Indonesia dan membantu mengawasi kedua cucuku di saat Frolline kembali bekerja di perusahaan setelah melahirkan nanti."


Bola mata Frolline membulat, baru saja ia merasakan kelegaan yang mendalam, tetapi sedetik kemudian ia dihempaskan ke bumi. Lepas dari Halim dan Meliana, ia akan bertemu dengan sosok Lily setiap hari.


"Tapi saat aku berkunjung ke Jakarta, menginaplah di sini. Aku ingin menghabiskan waktu dengan cucu-cucuku. Dan kamu juga First, ajak Cia-cia menginap di sini," ucap Halim, tersenyum lebar.


Firstan mengangguk tanpa bersuara.


"Kapan ... kamu akan memberiku cicit?" tanya Halim tanpa ragu-ragu.


***


Tbc

__ADS_1


__ADS_2