
“Kenapa istriku jadi manja sekali sekarang?” Kedua sudut bibir Ditya tertarik ke atas, dengan tangan kiri melingkar di punggung Frolline. Mendekapnya dengan begitu posesif.
“Hmmm ....” Hanya terdengar suara pelan dari bibir Frolline, ia masih menikmati tubuh empuk suaminya. Begitu hangat, begitu nyaman dan ia merasa dilindungi.
Burung besi itu melesat ke udara, menembus awan putih. Membelah cakrawala dengan gagah, terbang di atas hamparan laut biru. Ini adalah kunjungan kedua Frolline ke kota Pahlawan, kota yang terkenal dengan patung buaya dan ikan hiunya.
Frolline tahu kalau kunjungannya kali ini belum tentu mendapat respon yang baik dari mertuanya, tetapi ia tidak bisa menolak niat baik Ditya. Apalagi ia melihat sendiri bagaimana bahagianya Ditya menyambut kehamilannya. Bahkan sejak kunjungan mereka ke salah satu rumah sakit milik Halim Group kemarin siang, Ditya menjadi lebih posesif padanya. Pria 35 tahun itu menjaganya dengan berlebihan.
Membayangkan sikap Ditya dua hari belakangan, perempuan muda itu tersenyum. Kedua tangan yang melingkar di pinggang Ditya semakin erat.
Menghabiskan kurang lebih 1,5 jam di udara, pesawat pribadi milik Halim Group itu pun mendarat mulus di Surabaya. Cuaca mendung menyambut begitu mereka menginjakan kaki ke kota terbesar kedua di Indonesia setelah Jakarta.
Turun dari pesawat, mereka sudah disambut sopir keluarga Halim yang memang diminta untuk menjemput. Tentu saja Ditya mau Frolline menikmati fasilitas keluarganya. Termasuk sopir dan pengawalan lengkap. Istrinya sedang hamil, ia akan memberikan pelayanan terbaik untuk Frolline dan calon anak mereka.
“Ko, Daddy tahu kalau kita mau berkunjung ke Surabaya?” tanya Frolline setelah duduk nyaman di dalam mobil mewah keluarga Halim. Matt dan Zoe menumpang di mobil belakang bersama dua orang pengawal berbadan besar.
“Tahu, aku sudah mengabari Mommy semalam.”
Raut wajah Frolline berubah. Bingung, khawatir dan tentu saja terselip rasa takut. Ia belum siap menerima kenyataan kalau ditolak lagi untuk sekian kalinya. Kalau sebelumnya, tidak ada bayi Ditya di rahimnya, berbeda dengan sekarang. Ada calon anak mereka tumbuh bersamanya. Akan lebih menyakitkan kalau penolakan itu terulang.
“Sudah. Jangan dipikirkan, Schatzi. Semua akan baik-baik saja. Seperti biasa, Koko tidak akan bosan mengatakan kalimat yang sama. Cukup lihat Koko saja, cukup percaya Koko. Jangan pernah lelah menggengam tangan Koko.” Ditya berusaha menenangkan. Jari-jemarinya ditautkannya di jemari lentik milih Frolline. Saling menggenggam dan menguatkan.
***
Empat puluh lima menit membelah jalanan Surabaya, iringan mobil yang ditumpangi Ditya dan asistennya masuk ke area kediaman mewah Halim Hadinata. Kunjungan keduanya, Frolline tidak terkejut lagi seperti awal kedatangannya.
“Aku harap kamu masih mengingat bagaimana cara kamu keluar dari rumah ini,” celetuk Ditya tersenyum. Ia sengaja mengingatkan istrinya yang berani kabur tengah malam, meninggalkannya tanpa permisi.
“Ko!” Panggilan singkat bernada protes. Wajah Frolline bersemu merah saat diingatkan kembali tentang kebodohan dan sikap kekanak-kanakannya. Tentu saja itu sangat memalukan. Setiap teringat dengan keberaniannya keluar dari kediaman mertuanya seperti seorang pencuri di tengah malam buta, ia malu sendiri.
__ADS_1
“Jangan mengulanginya lagi, Fro. Jangan melakukan sesuatu yang akan mempermalukan dirimu sendiri. Jangan memberi kesempatan orang lain mencelamu dan melihat keburukanmu. Jangan mempermalukan Koko. Buktikan pada semua orang, kalau Koko tidak salah memperjuangkanmu,” pinta Ditya, mengulas senyuman.
“Ya, Ko. Maafkan aku untuk kelakukanku sebelumnya.” Frolline tertunduk.
Pada akhirnya mobil yang mereka tumpangi berhenti. Dua orang security berlari untuk membuka pintu mobil dan mempersilakan Frolline dan Ditya untuk keluar.
“Ayo, Fro. Jangan takut,” Ditya menyodorkan tangannya. Ia tahu bagaimana perasaan istrinya saat ini. Genggaman tangannya sangat berarti dan mampu menguatkan perempuan yang sedang mengandung darah dagingnya.
Memasuki rumah mewah dengan nuansa putih dan keemasan, jantung Frolline semakin berdetak kencang. Keringat membasahi telapak tangannya yang dingin. Kakinya pun ikut gemetar, seiring langkah kaki yang membawa mereka semakin masuk ke dalam rumah.
Menjejaki kaki ke ruang tamu, Ditya dan Frolline sudah disambut Meliana Hadinata. Sang mommy dengan tampilan sederhana dan berkelasnya, memeluk putra dan menantunya. Sambutan hangat seperti biasa. Wanita tua ini selalu ramah di setiap kesempatan.
Dibandingkan dengan mama Ditya, sifat mommy bagaikan langit dan bumi. Frolline akui, keduanya memperlakukannya dengan sama baik. Tidak ada gambaran mertua kejam seperti di sinetron ataupun novel yang dibacanya. Meskipun Halim menolak memberi restu, tetapi keduanya tetap menghargainya sebagai istri Ditya Halim Hadinata. Memberinya tempat yang layak di kediamannya sendiri maupun di tengah keluarga besar Halim.
“Ko, bagaimana penerbangannya?” sapa Mommy di sela pelukannya.
“Lancar, Mom.”
“Fro, apa kabarmu, Sayang?” tanya Mommy. Tangan kanan putih mulus berhias keriput itu mengusap pelan perut rata Frolline.
“Sudah berapa minggu usia kandunganmu?” tanyanya lagi.
“Lima minggu, Mom.”
“Congratulation, Dear.” Meliana meraih tubuh menantunya dan memeluk erat, sembari mengusap punggung ibu hamil itu dengan lembut.
Pelukan singkat namun bagi Frolline begitu berarti. Dekapan yang hanya berlangsung beberapa detik itu mampu meruntuhkan kegugupannya.
“Ayo temui Daddy. Dia sudah menunggu kalian sejak tadi.” Meliana menggenggam tangan Frolline dan mengajaknya menuju ke kamar. Terlihat Ditya berjalan mengekor di belakang keduanya. Mencuri dengar percakapan sederhana mertua dan menantu yang membahas seputar kehamilan Frolline.
__ADS_1
Ditya sedikit bernapas lega, setidaknya respon mommynya lumayan baik. Ia berharap daddy juga bisa bersikap baik pada Frolline. Apalagi kalau sampai bisa merestui istrinya, kebahagiaan calon ayah itu akan berlipat ganda.
***
“Dad, aku membawa istriku mengunjungimu.” Ditya membuka suara begitu masuk ke dalam kamar. Tangannya terus menggengam erat tangan istrinya.
Mommy yang mengantar sampai ke kamar, tidak ikut menunggu. Ia berpamitan setelah putra dan menantunya bertemu langsung dengan Halim. Ada aturan tidak tertulis yang sudah dipahaminya. Selama pernikahan mereka, ia tahu jelas batasannya. Ada situasi di mana ia tidak bisa ikut campur terlalu jauh, tetapi ada hal-hal tertentu di mana ia juga bisa ikut terlibat. Semua ada aturannya.
Apalagi Ditya jelas-jelas bukan putra kandungnya. Ia harus sadar di mana posisinya, ia harus tahu sejauh mana bisa berpendapat. Walau Ditya terdata sebagai putra yang lahir dari pernikahan mereka, kenyataannya Ditya memiliki ibu biologis. Tentu saja untuk masalah Ditya, Halim lebih memilih mendiskusikannya secara pribadi pada ibu kandungnya.
“Bagaimana kesehatanmu? Daddy terlihat jauh lebih sehat,” lanjut Ditya. Ia berjalan mendekat dan memeluk Halim dengan erat.
Mengekor di belakangnya, Frolline yang meremas erat punggung kaos putih Ditya. Ibu hamil itu tampak gugup. Tertunduk, ia tidak berani beradu tatap dengan ayah mertuanya yang sejak dulu tidak pernah berubah. Sorot mata Halim menakutkan sekaligus mengerikan. Usia senja tidak sanggup menutupi betapa mata itu sanggup mengintimidasi siapa saja.
“Aku baik-baik saja, Tuan muda. Aku dengar istrimu hamil. Selamat.” Tepukan kencang beberapa kali di punggung Ditya, Halim tersenyum lebar.
Pria tua itu terlihat jauh lebih sehat dibanding dua hari yang lalu saat Ditya mengunjunginya. Wajahnya sudah tidak pucat dan napasnya pun terdengar lebih tenang dan teratur. Mengenakan piyama tidur bermotif garis kombinasi putih dan biru langit, Halim memainkan tongkat kayunya sambil menatap putra dan menantunya bergantian.
Ditya menyenggol pundak Frolline. Memberi kode supaya istrinya ikut menyapa.
“Dad,” sapa Frolline ragu-ragu. Bahkan ia tidak berani mengangkat pandangannya. Sejak tadi memilih menunduk.
“Hmmm,” gumam Halim sedingin biasanya.
“Ko, menginap di sini malam ini. Mommy sudah menyiapkan jamuan makan malam untuk merayakan kehamilan istrimu. Sudah lama kita tidak makan semeja, berkumpul bersama.”
Deg—
Frolline memberanikan diri menatap mertuanya. Bingung dengan respon Daddy atas kehamilannya. Melihat gerak-gerik yang masih saja dingin, tampaknya daddy masih belum merestuinya. Namun kalau mendengar ucapan Daddy, ada secercah harapan untuknya. Entahlah, Frolline bingung dengan keluarga Ditya.
__ADS_1
***
TBC