
Frolline mengalah, terpaksa menyeret Ditya keluar dari rumahnya dan membawa pria tampan yang sedang dilanda emosi itu pulang. Bukan tanpa alasan, Ditya yang sedang di puncak amarah, masih saja menyerang Firstan dengan membabi buta.
“Dit, ayo kita pulang!” seru Frolline, menarik kembali tubuh Ditya, sembari memeluk erat pinggang lelaki itu. Tidak mau melepasnya sedetik pun. Saat ini, hanya itu yang bisa dilakukan Frolline.
Dia cukup bersyukur, setidaknya pelukan dan dekapannya masih berfungsi. Pria tampan yang saat ini kelakuannya seperti anak kecil langsung menurut.
Menyeretnya ke mobil dengan wajah masam. Frolline masih bisa melihat tampang Firstan, yang terdiam menatapnya. Ada kesedihan dan penyesalan terpancar di matanya.
“Aku lelah. Aku sedang tidak ingin diganggu,” ucap Frolline, setelah menghempaskan tubuhnya di kursi belakang. Duduk bersandar, melepas lelah dan kesedihan yang berusaha disembunyikannya, mengulang kembali semua yang baru saja terjadi di depan matanya.
Baru saja mereka tiba di rumah setelah prosesi pemakaman mamanyas, kesedihan belum lenyap, kelelahan belum hilang, tiba-tiba Ditya berdebat dengan Marisa, berujung dengan pergumulan dengan Firstan. Frolline tidak tahu harus berbuat apalagi, terpaksa mengikuti apa kata lelaki tampan yang belakangan berstatus kekasihnya.
Dan sekarang disinilah dia berada. Terpaksa mengikuti kemauan Ditya, daripada membuat masalah menjadi panjang dan melebar kemana-mana.
Mobil yang dikendarai Han, menerobos jalanan ibukota. Dengan kecepatan penuh, Han diam dan berkonsentrasi pada jalanan. Berbeda dengan lelaki di sampingnya, Matt sibuk dengan ponsel di tangannya. Entah apa yang dilakukan asisten kesayangan tuan muda itu, tetapi sepertinya ada urusan penting yang sedang diselesaikannya.
Ditya sendiri hanya duduk diam, sembari sesekali mengajak bicara Frolline. Gadis yang duduk dengan wajah sedih di sampingnya.
“Kemarilah Schatzi,” ucap Ditya, merangkul pundak Frolline dan membawanya ke dalam pelukan hangat.
“Maafkan aku. Aku kesal dengan mantan kekasihmu itu,” ujar Ditya, mengeratkan dekapannya. Sesekali menepuk lembut pundak Frolline.
“Mau menangis lagi,” tawar Ditya.
“Aku mau tidur,” sahut Frolline, memejamkan mata. Berusaha menyembunyikan kesedihan dan kesal yang ditahannya.
Kehilangan mamanya bukanlah hal yang mudah. Sewaktu papanya pergi, dia masih bisa berdiri tegar karena masih ada mamanya.
Dan tiba-tiba , dia juga harus kehilangan mamanya. Sekarang dia sudah tidak punya siapa-siapa lagi. Hubungannya dengan sang kakak, Angella tidak bisa dibilang baik. Apalagi sejak pernikahan Angella dengan Firstan, hubungannya dengan sang kakak bisa dibilang hanya baik di luar saja.
Tidak ada seorang pun bisa bersikap baik-baik saja, setelah mengalami apa yang mereka bertiga alami. Kalau pun terlihat baik, hanya untuk menjaga tali kekeluargaa saja. Dalam hati kecil, tetap saja terselip kecewa menggunung.
Setengah jam berlalu, mobil sedan hitam itu masuk ke area kediaman Ditya. Terlihat mengekor di belakang, sedan lainnya yang berisi dua orang bodyguard yang juga selalu mengikuti kemana saja langkah Ditya, sang tuan muda.
***
“Kamu bisa menggunakan kamarku mulai sekarang,” ucap Ditya, sesaat setelah masuk ke dalam penthouse mewahnya.
Terlihat Matt yang baru saja masuk dengan menenteng koper milik Frolline dan meletakannya di dalam kamar yang dimaksud.
“Bos, aku permisi dulu,” pamit Matt, setelah selesai menyimpan koper. Asisten itu berjalan mendekati rak yang ada di dekat pintu keluar dan mengeluarkan kotak obat.
__ADS_1
“Bos, aku letakan disini,” lanjut Matt, menunjuk ke arah kota obat yang diletakannya di atas meja, sebelum keluar dari penthouse majikannya.
Ditya mengangguk. Melirik sekilas dan bergegas masuk ke kamar, menyusul Frolline. Begitu melangkahkan kakinya ke dalam kamar, Ditya menangkap pemandangan menyedihkan.
Frolline sedang menangis, duduk di sisi ranjang menatap ke arah dinding kaca yang menampilkan pemandangan gedung-gedung pencakar langit dengan lampu kerlap kerlip di tengah kegelapan malam.
Menghela nafas kasar, Ditya ikut menghempaskan tubuhnya, duduk di sebelah Frolline. Menatap lekat kekasihnya yang selalu bersedih sepanjang hari.
“Masih ada aku. Aku akan menjagamu, Fro,” bisik Ditya. Merangkul tubuh lemah, tidak bertenaga itu untuk bersandar padanya.
“Jangan menangis lagi,” bujuk Ditya, mengangkat dagu lancip Frolline dan menghapus bulir-bulir air mata yang terus saja berjejak di pipi gadisnya itu.
Tidak sampai di situ, sebuah kecupan hangat, tanpa permisi dilabuhkan Ditya di bibir tipis Frolline. Kecupan ringan, hanya menyapu sesaat.
“Mulai sekarang, aku yang akan menjagamu. Aku yang akan bertanggung jawab padamu, aku yang akan melindungimu dengan kedua tanganku,” ucap Ditya dengan penuh keyakinan.
Tidak ada jawaban, Frolline diam. Hanya mendengar, sesekali menatap Ditya.
“Kita akan ke Surabaya, menemui kedua orang tuaku.” Ditya berkata.
“Apakah harus secepat itu?” tanya Frolline, meragu.
“Dit, aku serius!” protes Frolline.
Anggukan disertai keyakinan. “Aku serius. Aku tidak pernah main-main denganmu,” tegas Ditya.
Pria itu terlihat beranjak dari duduknya. Membuka laci, di salah satu lemari kamarnya. Entah apa yang dicarinya, tampak Ditya menyimpan sesuatu di saku celananya.
“Ikut aku!” ajak Ditya.
Seperti sebelumnya, Ditya mengajaknya di pinggir kolam. Lagi-lagi, pria itu menarik tangannya dan menceburkan diri ke dalam kolam.
Air adalah tempat favorit Ditya. Karena di dalam sana, dia bisa menyembunyikan banyak hal. Dia bisa menangisi hidupnya sampai puas tanpa seorang pun yang tahu. Dia bisa menyamarkan kegembiraannya supaya tidak banyak orang yang tahu.
Dia bisa melampiaskan kesal dan keputusasaannya, menyalurkan kesedihan dan kelehahannya tanpa banyak orang yang tahu. Kalau boleh jujur, menjadi seorang Ditya Halim Hadinata sungguh melelahkan dan menguras emosi.
Dia harus belajar berpura-pura dan menutupi perasaannya sendiri. Dia harus rela hidupnya dibatasi aturan keluarga, dibatasi ruang geraknya, bahkan seringkali menyembunyikan banyak hal dari dunia agar nama besar Halim Hadinata itu tetap terjaga.
Dan yang menyedihkan, istri dan anaknya kelak akan mengalami hal yang sama. Ketenaran dan kemewahan itu harus ditebus dengan harga yang mahal.
“Dia suka sekali dengan air dan kolam ini!” batin Frolline setelah mengeluh, tidak berani protes.
__ADS_1
Tanpa bicara dan masih dengan memeluk, saat keduanya masuk ke dalam air. Ditya dengan cekatan mengeluarkan sesuatu dari saku celananya. Sebuah cincin bermata berlian yang berkilau indah disematkan Ditya di jari manis Frolline
Frolline hanya bisa pasrah, tidak bisa membantah. Sejak memutuskan menerima Ditya, dia lebih banyak menurut. Mengikuti apa saja yang diinginkan Ditya, tidak banyak protes seperti sebelumnya. Dia cukup tahu diri, pria yang sekarang memeluknya di dasar kolam sudah berbuat banyak untuknya, untuk keluarganya.
Tentu dia tahu jelas, tidak akan sanggup membayarnya. Tidak sanggup mengganti semua yang telah dilakukan Ditya untuk kedua orang tuanya.
Sebuah pelukan hangat dan singkat. Ditya buru-buru menarik Frolline ke atas. Terlalu lama mereka di dalam, gadisnya akan kehabisan nafas.
“Besok kita menikah. Aku sudah meminta Matt mengurus semuanya. Setelah menikah, aku akan membawamu pulang ke rumah orang tuaku,” jelas Ditya, tersenyum menatap cincin yang melingkar di jari manis Frolline.
“Apakah harus secepat ini? Kedua orang tuaku baru saja meninggal,” bisik Frolline.
Ditya tersenyum. “Aku bahkan sudah meminta restu mereka tadi siang, saat kita di pemakaman,” cerita Ditya, yang bahkan sudah memikirkan jauh-jauh hari. Mempersiapkan semuanya. Terbukti dari cincin yang sekarang melingkar di jari manis Frolline. Ditya memesannya sehari setelah Frolline menerima lamarannya beberapa waktu lalu.
“Mulai sekarang, biasakan dirimu dengan kehidupanku. Perlahan, aku akan mengenalkan duniaku padamu,” jelas Ditya.
“Bagaimana dengan kedua orangtuamu?” tanya Frolline. Sedikit heran dengan rencana pernikahan mendadak yang diutarakan Ditya, bahkan sebelum mengajaknya menemui kedua orang tuanya.
“Bagaimana aku mengatakan padamu, kalau orang tuaku pasti tidak akan menyetujuimu. Aku berharap, setelah mengenalkanmu sebagai istriku, mereka tidak akan berkutik,” batin Ditya.
“Kita tinggal bersama, aku takut khilaf. Sebaiknya kita menikah saja ,” sahut Ditya, memberi alasan.
“Tapi.." Frolline tidak dapat meneruskan kalimatnya, Ditya sudah memotong perkataannya.
“Aku tidak masalah, toh kita sudah tinggal bersama. Menikah sekarang atau nanti, sebenarnya bukan masalah untukku. Aku lelaki. Kalau terjadi sesuatu dengan kita, aku tidak dirugikan sama sekali.”
“Akan tetapi, pernikahan ini ada untuk menjaga nama baikmu, harga dirimu sebagai wanita. Dan membuatmu memiliki hak untuk menguasaiku,” jelas Ditya tersenyum.
***
T b c
Love you All
Terima kasih
__ADS_1