Crazy Rich Mencari Cinta

Crazy Rich Mencari Cinta
Bab 116 : Impian Frolline


__ADS_3

“Selamat siang!” sapa Firstan, meletakan kunci mobilnya di atas meja. Pria muda itu tampak kaku. Bahasa tubuh yang tidak sesantai biasanya.


Sebuah restoran chinese food di salah satu hotel bintang lima menjadi tempat pertemuan antara Firstan Samudra dan Ditya Halim Hadinata. Paman dan keponakan itu setuju untuk bertemu setelah Ditya secara khusus menghubungi Firstan, sesaat setelah menginjakan kaki kembali di ibu kota.


“Ada apa mencariku?” tanya Firstan. Kacamata hitam masih membingkai di wajah, menutup dua mata beningnya. Ia menarik kursi, duduk tepat di depan Ditya yang sudah tiba setengah jam lebih dulu.


“Mau pesan apa?” tanya Ditya, meraih secangkir teh hijau dan menyesapnya pelan.


“No, thank you. To the point saja. Ada apa mencariku?” tegas Firstan. Dari balik kacamata hitamnya, ia bisa meneliti sang paman dengan puas.


Ditya berdeham, kemudian menegakan duduk sambil menatap Firstan dengan senyuman tipis menghiasi wajah tampannya.


“Frolline hamil dan aku ingin membuatnya nyaman dengan kehamilannya. Bisakah kamu menceritakan padaku tentang Frolline. Pasti banyak yang tidak aku ketahui dan ... aku tahu siapa yang paling mengetahui istriku ....” Ditya menjelaskan. Tidak ada kecemburuan. Kehamilan Frolline membuat pria itu sedikit lebih tenang.


“Hahaha ....” Firstan terbahak. Hampir lima menit, pria muda itu menertawai Ditya. Bahkan ia harus melepas kacamata hitamnya dan mengusap mata yang berair. Jujur saja, kalimat yang disampaikan Ditya membuat Firstan ingin tertawa dan menangis dalam waktu bersamaan.


Nyeri sampai di ulu hati saat Ditya menyatakan Frolline hamil, tetapi ia cukup bahagia kala sang paman mengakui kalau dirinya adalah orang yang paling memahami Frolline.


“Apa maksudmu menceritakan kehamilan Fro padaku?” todong Firstan.


Ditya menggeleng.


“Kamu pasti ingin meminta pengakuan dariku. Seberapa hebatnya dirimu, bisa menghamili wanita yang hatinya masih milik orang lain,” sindir Firstan tersenyum mengejek.


“Tidak, bukan begitu. Aku hanya mencoba berdamai denganmu. Mencoba menyelesaikan masalah kita dengan cara dewasa.” Ditya berkilah.


“Hahaha ... sebelumnya kamu merebut milikku dengan cara paling licik. Sekarang setelah kamu mendapatkan semuanya, kamu mencoba berdamai denganku.” Firstan masih menyerang lewat kata-kata pedas. Bahkan anak muda itu tidak menggunakan panggilan Om pada Ditya.


“Maafkan aku, First. Aku mencintainya, aku tahu aku bersalah padamu. Sekarang ... Frolline istriku. Kalau di dalam hatimu masih ada sisa cinta untuknya, tolong izinkan aku membahagiakannya. Aku berjanji akan membuatnya tersenyum,” ucap Ditya pelan. Tidak ada amarah atau emosi seperti pertemuan mereka sebelumnya yang selalu diwarnai pertengkaran bahkan perkelahian.


Firstan terbahak kembali. Setelah berhasil menguasai diri, ia menatap lekat pada sosok tampan yang terlihat tenang melihat tingkahnya.


“Kenapa kamu bisa percaya diri sekali. Bisa saja aku tidak mau diajak bekerja sama atau bisa saja aku memilih untuk tidak membantumu. Apa kamu tidak tahu kalau aku selalu menunggu pernikahanmu dan Frolline berantakan?" tanya Firstan tersenyum sinis.

__ADS_1


"Aku menunggu Frolline kembali lagi padaku seperti dulu. Aku menunggunya sama seperti saat dia menunggu ketika aku menjalani pernikahan dengan Angella," lanjut Firstan.


Ditya terlihat tenang, kembali menyesap teh hijau dari cangkir keramik di atas meja dan meletakannya perlahan.


"Tidak perlu menunggunya. Sampai kapan pun, aku tidak akan melepaskan Fro untukmu atau untuk pria mana pun. Fro istriku, dia ibu dari anak-anakku," tegas Ditya.


Firstan melempar pandangan ke sekeliling restoran. Tertegun menatap langit biru yang tercetak di jendela kaca. Restoran yang terletak di lantai delapan sebuah hotel berbintang itu, hanya menampilkan pemandangan gedung pencakar langit dengan langit cerah berawan putih sebagai latarnya.


Lama tertegun, terdengar helaan napas berat Firstan sebelum membuka suara.


"Kami tumbuh bersama, kami belajar mencintai bersama. Kalau Fro mengatakan Firstan Samudra adalah cinta pertamanya, aku juga akan mengatakan hal yang sama. Frolline Gunawan adalah cinta pertamaku." Sorot mata Firstan meredup, bola matanya berkaca-kaca ketika menceritakan hubungannya dengan Frolline yang berantakan.


"Kami memiliki impian bersama. Impian masa kecil Fro, yang akhirnya menjadi impian kami berdua. Hanya aku dan Frolline," lanjut Firstan.


Ditya menegakan duduknya, menyimak semua cerita yang keluar dari bibir sang keponakan. Tidak ada satu pun kata yang terlewati. Pria itu tertunduk, sesekali meremas kedua tangannya saat cerita cinta istrinya dibuka. Menahan cemburu yang bergejolak, Ditya hanya bisa menyembunyikannya dengan mengulas senyuman getir dan terpaksa.


Perih, nyeri berlomba-lomba menguasai hatinya. Bahkan ciuman pertama Frolline begitu istimewa dikisahkan Firstan. Ia hanya bisa menguatkan hatinya untuk tetap mendengarkan kisah cinta bak Romeo dan Juliet itu sampai usai. Tidak ada pertentangan, kedua keluarga menyetujui kisah cinta mereka, tetapi Tuhan tidak merestui. Pada akhirnya seberapa kuat dan besar cinta keduanya, Frolline jatuh ke pelukannya. Frolline menjadi miliknya sekarang.


"Terima kasih." Ditya berkata pelan setelah Firstan mengakhiri kisahnya. Pria itu berdiri dan menyalami keponakannya.


"Harus ada seseorang yang berani menurunkan egonya. Ketika para orang tua memilih untuk tetap keras hati, apa salahnya kita generasi muda yang memilih mengalah. Dalam keluarga tidak ada istilah yang menang atau kalah. Tidak ada pertarungan. Memilih berperang dengan keluarga sendiri, sama saja seperti berperang dengan diri sendiri. Menang dan kalah tetap tidak akan jadi apa-apa," ungkap Ditya.


"Aku tidak bisa berdebat dengan Mamimu, kami berbeda pemikiran." Ditya melanjutkan.


"Kalau tidak mau datang menjenguk Opa dan Oma-mu, setidaknya datang untuk melihat apa yang seharusnya menjadi hakmu, yang masih ditahan Halim Hadinata. Mereka pasti senang menyambutmu meski tidak tahu apa tujuanmu yang sebenarnya saat datang menemui mereka." Ditya menepuk pelan pundak Firstan.


Terlihat Ditya memanggil seorang pelayan, meminta secarik kertas. Dengan pena mahalnya, pria tampan dengan setelan hitam itu menggoreskan tinta dengan lincah. Setelah itu, ia menyodorkannya ke depan Firstan.


"Ini alamatnya. Kamu bisa menemui mereka kapan saja. Cukup katakan kalau kamu adalah Firstan Samudra, Halim Hadinata akan membuka gerbang istananya bahkan menggelar karpet merah untuk menyambut cucu pertamanya." Ditya tersenyum.


***


Sebulan berlalu, kehamilan Frolline terlihat normal saja. Tidak ada drama muntah dan mual di pagi hari. Kisah mengidam dengan menu aneh bin ajaib pun tidak melanda ibu hamil muda itu.

__ADS_1


Frolline masih disibukan dengan pekerjaannya mengurus perusahaan dan Ditya juga disibukan dengan segala macam urusan kantornya. Berada di puncak tertinggi Halim Group membuat Ditya tidak memiliki waktu lebih untuk bersenang-senang seperti dulu. Hampir tidak pernah berkumpul lagi dengan teman-temannya. Hari-harinya habis dengan pekerjaan dan keluarga.


Apalagi kehamilan membuat mood Frolline naik turun seperti rollcoaster. Terkadang bisa bahagia sepanjang hari, sedetik kemudian Frolline bisa menangis tersedu-sedu saat mengingat pernikahan mereka yang tidak mendapat restu.


Malam itu, Ditya pulang sedikit lebih larut dari biasanya. Pria dengan wajah lelah, menenteng jas di tangan kanannya. Masih sempat menyapa mamanya yang duduk manis di depan televisi menonton salah satu sinetron yang sedang terkenal seantero negri.


"Ma, Fro di mana?" tanya Ditya dengan langkah kaki terseok-seok. Sebulan ini, ia harus kerja keras untuk memastikan perusahaan tetap berjalan lancar, ribuan karyawan tetap tenang mengantungkan semua impian mereka pada Halim Group.


"Di kamar. Sejak pulang kerja, istrimu uring-uringan lagi," adu Mama Ditya. Wanita paruh baya itu masih dengan santainya duduk memangku sepiring buah potong untuk makan malamnya. Sudah seminggu mengeluh berat tubuhnya naik satu kilogram, Mama Ditya memilih diet ketat tanpa karbohidrat untuk bisa mendapatkan berat tubuh idealnya lagi dalam waktu cepat.


"Kenapa lagi?" Ditya setengah berlari masuk ke dalam kamarnya. Panik dan khawatir menyerangnya saat mendapati mood Frolline yang sedang hancur.


Dan benar saja, begitu kakinya melangkah masuk ke dalam kamar, istrinya sedang tertelungkup di atas tempat tidur. Menangis pilu sampai seluruh tubuhnya bergetar hebat.


"Ada apa lagi, Fro?" tanya Ditya melempar jas sembarangan. Ia menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur sambil mengusap pelan punggung Frolline.


"Koko ...." pekik Frolline segera bangkit duduk dan menghambur memeluk Ditya.


"Hmmm," gumam Ditya. Ia hampir tumbang saat Frolline memeluk erat dan membelit erat lehernya.


"Koko ...." ucap Frolline dengan manjanya, terisak di pundak Ditya.


"Kenapa menangis lagi, Fro?" tanya Ditya mengulum senyuman. Tangan kiri dan kanannya begitu lincah, bergantian mengusap punggung Frolline.


"Aku melihat fotomu bersama seorang gadis di majalah," adu Frolline.


"Ada Daddy juga di dalam majalah itu. Apa Koko mau menikah lagi?" tanya Frolline dengan polosnya. Kehamilan memang tidak membuat Frolline meminta banyak hal aneh, tetapi selalu membuat Frolline menangis untuk hal-hal yang tidak penting. Bahkan, ia bisa menangis saat ada masalah di proyek atau pekerjaannya dikomplain.


"Ya Tuhan Fro, majalah apalagi yang kamu lihat Kamu sudah baca isinya?" tanya Ditya.


Frolline menggeleng.


***

__ADS_1


TBC


__ADS_2