Crazy Rich Mencari Cinta

Crazy Rich Mencari Cinta
Bab 73 : Tunggu aku, Ko


__ADS_3

Badanmu panas, Fro. Kita ke dokter sekarang?” tawar Ditya. Menempelkan punggung tangannya di dahi sang istri.


“Aku hanya demam biasa, Ko. Minum obat juga nanti baikan.” Frolline menolak.


“Ayolah, Fro. Jangan seperti ini. Koko khawatir,” ujar Ditya, lelaki itu menatap kamar hotel. Saat ini, mereka bukan di rumah. Bahkan mencari kompresan saja susah.


“Aku tidak mau. Koko sudah memutuskan untuk lepas dari daddy, aku tidak mau kembali ke rumah itu lagi,” tolak Frolline.


“Koko sudah meminta Matt mencarikan apartemen yang baru untuk kita, tetapi untuk masuk ke sana butuh waktu beberapa hari. Tidak bisa langsung saat ini juga. Matt perlu menambah beberapa perabotan yang belum ready di sana,” jelas Ditya.


“Aku tidak apa-apa, Ko. Hanya demam biasa.” Frolline menarik selimut, menutupnya sampai ke leher, tersisa kepala dengan rambut panjang yang berantakan.


Melihat keteguhan hati Frollie, Ditya akhirnya mengalah. Merapikan kembali pakaian mereka yang berantakan dan membuang sisa-sisa makanan di atas nakas.


“Koko akan meminta Matt membeli obat di apotik sekalian membeli makanan. Kamu mau makan apa, Fro?” tawar Ditya.


“Aku tidak mau apa-apa, Ko. Kepalaku sakit, lidah pun tidak ada rasa sama sekali,” sahut Frolline pelan. Mata itu masih terpejam.


“Kamu tunggu di sini. Koko akan menemui Matt sebentar di luar,” bisik ditya, menepuk pelan tubuh yang terbalut selimut.


Tidak sampai setengah jam, Ditya sudah kembali. Menenteng kotak makanan dan sebuah paper bag mungil berisi obat-obatan. Senyum laki laki itu terkembang melihat handuk polos putih yang dia tahu jelas apa kegunaannya.


“Matt memang bisa diandalkan.”


Menjatuhkan bokong di atas tempat tidur, Ditya menatap tubuh istrinya yang mulai menggigil.


“Schatzi Sayang, bangun sebentar. Makan sedikit, setelah itu minum obat,” ucap Ditya. Kedua tangannya sudah membantu sang istri duduk bersandar di tumpukan bantal.


“Makan sedikit saja, Matt membelikanmu sup ayam. Setelah itu minum obat,” bujuk Ditya, menyuapkan sup itu sesendok demi sesendok dengan telaten. Berulang kali Frolline mendorong pelan, tetapi Ditya tidak kenal menyerah. Dari satu sendok, dua sendok akhirnya isi cup plastik itu berpindah ke dalam perut.

__ADS_1


“Minum obatnya, setelah itu kamu boleh melanjutkan tidurmu.” Ditya mengeluarkan obat demam yang dibelikan Matt dan menyerahkannya berikut sebotol air mineral yang sudah dibuka penutupnya.


“Ko, daddy baik-baik saja?” tanya Frolline, menutup mulut menahan mual setelah meminuk obatnya.


Ditya menggeleng. “Daddy kritis.”


Rasa bersalah tampak jelas di balik senyum terpaksa Ditya. Bagaimana pun, dia bukan anak yang durhaka. Melihat kondisi daddy yang tidak sadarkan diri tentu saja membuatnya terpukul.


“Maafkan aku.” Frolline berbisik pelan, menggengam tanga Ditya.


“Bukan salahmu. Tidak ada yang salah. Semua juga memiliki alasan. Hanya saja koko yang tidak sejalan dan sepemikiran dengan daddy. Daddy tidak salah kalau menginginkanku menikah dengan gadis pilihan yang menurutnya tepat.”


Ditya menghela napas pelan. “Koko juga tidak pernah merasa bersalah karena memilih mengikuti perasaan dibandingkan logika. Koko tidak pernah menyesal sudah memilihmu.” Ditya menjelaskan. Telapak tangan kirinya mengusap pelan pipi Frolline yang terasa seperti kompor panas.


“Jangan dipikirkan. Tetap berdiri di sampingku, Fro. Koko akan memperjuangkanmu,” lanjut Ditya lagi.


“Ko, kepalaku pusing. Aku mau tiduran lagi,” ucap Frolline.


“Fro, kamu lagi-lagi tidak mengenakan dalaman?” tanya Ditya memastikan. Menurunkan selimut, mencari tahu.


Dan benar saja, sesuatu tercetak jelas di kaos putih kebesaran miliknya yang dikenakan Frolline.


“Ya, tidak ada sehelai pun pakaianku di sana.” Frolline menunjuk ke arah bungkusan atas sofa.


“Kurang ajar Matt! Aku sudah memintanya membawa pakaianmu juga,” gerutu Ditya. Laki-laki itu baru saja akan mengomeli asistennya, tetapi lengannya sudah ditahan.


“Ko, jangan marah-marah. Matt mana berani menyentuh pakaian dalamku,” jelasnya pelan. Kepalanya semakin pusing mendengar ocehan Ditya.


Laki-laki yang belum berganti pakaian sejak semalam itu menelan saliva. Ucapan istrinya seolah menyadarkannya. Ada benarnya juga, tidak mungkin asistennya selancang itu. Pakaian dalam istrinya adalah barang-barang pribadi yang hanya boleh tersentuh olehnya.

__ADS_1


“Nanti koko yang akan mengambilnya untukmu,” ucap Ditya pelan. Perlahan laki-laki itu berjalan menuju kamar mandi dengan handuk kecil. Beberapa saat kemudian keluar dengan handuk basah, siap untuk mengompres istrinya.


“Dikompres sebentar Fro, supaya cepat turun panasnya.” Meletakan handuk itu di dahi istrinya.


Tak lama, laki-laki itu berbaring di samping Frolline. Sejak semalam, dia tidak bisa tidur dengan benar. Hanya duduk, sesekali memejamkan matanya.


“Sudah, ayo kita tidur sekarang. Koko mengantuk,” ucapnya pelan. Memeluk tubuh sang istri yang panasnya di atas rata-rata.


***


Keduanya masih berpelukan mesra dengan mata terpejam rapat. Di keheningan malam, bermandikan cahaya keemasan hanya terdengar deru napas teratur bersahut-sahutan.


Terlihat Frolline bergerak perlahan di dalam dekapan suaminya. Mata indahnya membuka sempurna. Sakit kepalanya perlahan menghilang, handuk yang digunakan untuk mengompres juga sudah tertimpa kepala suaminya.


Ada haru menyapa, saat netra indah menatap wajah Ditya. Laki-laki itu kelelahan, terlihat jelas dari lingkar hitam yang enggan berlari pergi. Dari dekat, Frolline bisa melihat suaminya sedang tidak baik-baik saja. Bahkan bunyi dengkuran itu menandakan seberapa letihnya lelakinya.


“Maafkan aku. Aku tahu, koko berkorban banyak untukku, untuk pernikahan kita. Entah dengan apa aku harus membayar semuanya. Hatiku tertinggal setengah ... kalau kamu bersedia, aku akan menyerahkan sisanya untukmu,” ucap Froline pelan. Jemari lentiknya sedang mengukir di garis wajah tampan Ditya yang sekarang tidak lagi membawa nama besar Halim Hadinata. Ditya meninggalkan semua kemewahan dan haknya demi untuk bisa bersama dirinya.


Tampak Ditya berbalik perlahan membelakangi Frolline. Berguman tak jelas di dalam tidurnya. Mungkin laki-laki itu bermimpi, demikianlah senyum Frolline mengartikannya.


Namun tanpa diketahui, Ditya meneteskan air mata. Menyembunyikan kecengengannya. Dia mendengar semua ucapan Frolline. Dengan jelas!


“Sampai sejauh ini, First masih enggan pergi dari hati istriku. Dia sudah menyerahkan semuanya padaku, tetapi tidak seluruh hatinya. Sebut saja aku egois, kalau menginginkan seluruhnya. Tidak akan ada laki-laki manapun yang rela diduakan,” batin Ditya mengumandangkan kalimat puitis yang semakin menyayat hatinya sendiri.


Laki-laki itu bisa merasakan, ada dua tangan gemulai yang membelit pinggang dan mengunci di perut ratanya. Ditya juga bisa merasakan gundukan kembar yang begitu jelas menempel di kulit punggungnya.


“Ko, aku akan belajar mencintaimu,” bisik Frolline, mengecup pelan pundak Ditya lembut dan berulang kali.


“Tunggu aku, Ko!” lanjutnya lagi, berucap pelan tidak mau membangunkan sang suami.

__ADS_1


***


TBC


__ADS_2