
Ditya masih berbalut bathrobe, duduk di sofa kamarnya. Sedangkan Frolline terlihat duduk di depannya dengan memangku kotak P3K.
“Jangan seperti ini. Koko bukan anak kecil lagi!” omel Frolline, membasahi kapas dengan beberapa tetes obat merah dan mengusapnya pelan di sudut bibir Ditya.
“Sssshhhh,” terdengar suara Ditya mendesis. Ngilu dan perih, menahan rasa yang tercipta saat lelehan obat merah itu mengenai lukanya.
“Sakit, Sayang.” Ditya berucap pelan.
“Kenapa sewaktu bergumul Koko tidak merasa sakit? Baru sekarang mengeluh sakit,” gerutu Frolline, dengan sengaja menekan luka itu sedikit lebih kencang. Sontak Ditya menjerit kesakitan.
“Aww! Ini sakit Fro.”
“Kalau nanti masih saja seperti tadi, aku akan tutup mata, Ko. Biarkan saja Koko babak belur!” omel Frolline lagi.
“Maafkan aku, Fro. Jangan marah-marah lagi. Ya?” rayu Ditya setelah mendapati emosi Frolline semakin menjadi.
Yang awalnya hanya protes kecil, semakin lama menjadi gerutuan. Meningkat lagi menjadi omelan. Lengkap sudah misinya, sekarang Frolline sedang melipat tangan di dada menatap tajam pada suaminya. Tujuan awal ingin mengobati luka, pada akhirnya Frolline meradang.
“Maafkan Koko,” bisik Ditya pelan. Mengunci tubuh si pemilik wajah kesal itu dengan kedua tangannya.
“Jangan marah lagi. Koko janji tidak akan baku hantam setelah ini,” lanjut Ditya, berusaha menenangkan.
Memaksa tersenyum, Frolline meraih handuk basah dan es batu, mengusapnya perlahan di pelipis Ditya yang membiru. “Lihat sendiri! Apa enaknya kalau sudah begini. Yang sakit koko juga,” gerutu Frolline. Tangannya mulai mengusap luka suaminya, bibirnya melanjutkan omelan.
“Ya, Fro Sayang. Maaf, Koko salah. Jangan marah lagi” bujuk Ditya tersenyum, mencuri kecupan di bibir Frolline sambil meringis menahan sakit saat sudut bibirnya tersenggol.
“Koko, jangan begini!” protes Frolline, menepuk pelan pundak Ditya sebagai bentuk protes. Dia bahkan belum selesai mengobati luka Ditya, tetapi suaminya itu sudah berulah lagi.
“Fro ....”
“Hmm.”
“Kamu belum menjawab pertanyaanku tadi. Kamu tidak keberatan ikut dengan Koko ke mana saja. Di Inggris, Koko memiliki usaha sendiri. Koko memiliki beberapa restoran di sana. Koko bisa menghidupimu dan anak-anak kita dengan uang Koko sendiri.”
“Ya ... tetapi aku tidak bisa meninggalkan Indonesia terlalu lama. Meskipun papa dan mama sudah tidak ada, aku tetap harus mengunjungi makam mereka.”
“Kita bisa diam-diam pulang ke Indonesia kalau memang kamu merindukan papa dan mamamu,” ujar Ditya.
Frolline mengangguk.
“Terima kasih, Fro.”
Pria tampan itu menyandarkan tubuh penatnya di sofa setelah Frolline selesai mengobati lukanya. Matanya terpejam, menghela napas pelan. Terdiam beberapa saat, berputar-putar dengan kejadian yang baru saja dilaluinya.
“Fro ....” Kelopak mata itu masih menutup rapat.
“Koko, tidak tahu mama separah ini,” lanjut Ditya, memecah kesenyapan malam. Ingin berbagi kisah sejak tadi.
“Bukankah Koko memintaku untuk tidak mengingatnya. Lalu kenapa diingat lagi?” sahut Frolline, tidak ambil pusing.
“Dulu ... sewaktu kecil ... Koko banyak menghabiskan waktu belajar di sekolah. Sampai di rumah masih ada seorang guru yang akan protes andai Koko bersikap buruk.”
__ADS_1
Frolline sedang menyimak, menatap lekat wajah terpejam yang bersandar melepas lelah di sofa.
“Selepas itu, Koko ke Inggris melanjutkan kuliah. Selesai S1, sempat sekolah penerbangan di Amerika. Balik lagi ke Inggris, memulai usaha kuliner sembari melanjutkan S2 di sana. Koko tidak memiliki waktu untuk mama,” cerita Ditya.
“Gambaran mama terbaik yang selama ini ada di ingatan Koko, hancur dalam sekejap. Koko tahu mama suka fashion, suka ke salon, suka ke gym, tetapi Koko tidak pernah tahu apa yang dilakukannya di luar sana.”
“Mama begitu mengerti semua tentangku, mama tidak pernah mengeluh, tidak pernah protes meskipun daddy bahkan tidak menganggap keberadaannya.”
“Koko bahkan tidak keberatan kalau mama menikah lagi dan meninggalkan daddy. Kehidupan yang mama jalani benar-benar tidak layak disebut kehidupan. Mama juga berhak bahagia dengan kehidupannya sendiri. Mama berhak atas kebebasan, bukan hanya di penjara di dalam ikatan tanpa kejelasan,” lanjutnya.
“Ko, jangan seperti ini,” bisik Frolline tiba-tiba memeluk Ditya.
“Koko tidak keberatan mama menikah lagi dengan siapa pun, tetapi bukan yang seperti yang tadi. Kehidupan apa itu, Fro.” Ditya mengucapkannya juga setelah sejak tadi memendamnya sendiri.
Sebuah kecupan mendarat di bibir Ditya. Sekilas, begitu cepat hampir tidak terasa. “Sudah, jangan dipikirkan lagi, Ko,” hibur Frolline.
“Cium Koko sekali Fro. Seperti tadi, tetapi sedikit lebih lama.” Ditya membuka matanya dan tersenyum usil. Mengusap bibirnya dengan ujung telunjuknya, menikmati rasa yang tersisa.
“Aku tidak mau lagi. Itu hanya bonus. Bukan gaji tetap yang bisa diulang lagi bulan berikutnya, Ko,” sahut Frolline, terkekeh.
“Ayolah, Fro,” bisik Ditya, mengunci pinggang istrinya supaya tidak bisa menjauh lagi darinya.
“No ....”
Ditya tersenyum. “Fro, tahukah kenapa Koko memilihmu?” Ujung jemari kanannya sedang melukis di wajah cantik istrinya. Mengirim perasaan cintanya yang begitu besar lewat sentuhan kulit.
Frolline menggeleng.
“Koko katakan pada diri Koko pada saat itu, mungkin ini adalah gadis yang tepat untuk Koko ajak bertempur melawan Halim Hadinata.” Ditya terkekeh.
Frolline menutup mulut dengan mata terbelalak. “Jadi Koko sudah berencana mengajakku masuk ke kehidupan Koko yang rumit ini.”
“Maafkan Koko. Saat itu Koko melihatmu adalah wanita yang kuat, yang tidak akan meninggalkan pasangannya di saat tersulit sekalipun.”
“Dan Koko berharap pilihan Koko tidak salah. Kamu tahu, Fro ... sulit untuk mendapatkan wanita yang tidak menyerah di tengah masalah. Koko harap itu kamu, Koko harap tidak salah memilihmu.”
Frolline berbinar-binar saat mendapat pujian Ditya. Tanpa malu-malu mengecup kedua pipi suaminya.
“Koko mencintaimu, Fro.” Pria itu sedang menikmati kecupan basah di kedua pipinya.
“Ko ... apa aku boleh bertanya padamu?”
“Hmm. Bertanya apa, Schatzi?” Ditya membuka mata, menatap binar bening yang bercahaya. Ada rona bahagia di mata istrinya.
“Emmm ... sebelum denganku, apa Koko pernah jatuh cinta?” tanya Frolline tiba-tiba.
Ditya terbahak. “Kenapa sekarang ... istriku jadi ingin banyak tahu tentang kehidupanku. Bukankah biasanya dia tidak peduli.”
“Ko ....” Sapaan Frolline terdengar lebih manja dari biasanya.
“Pernah. Gila apa kalau tidak pernah jatuh cinta, Fro. I”m 35 years old, now.” Ditya kembali tergelak setelah melihat perubahan wajah gadis manis di depan matanya.
__ADS_1
“Siapa? Jangan katakan dia adalah salah satu gadis yang menghiasi ranjangmu seperti diberitakan di media, kan?” tuduh Frolline.
“Kalau Koko katakan cuma kamu yang menghiasi ranjang Koko ... apakah kamu percaya, Fro?” Ditya balik bertanya.
Frolline menggeleng.
“Denganmu yang pertama, Fro. Dengan yang lain tidak pernah. Koko tidak pernah investasi di sembarang tempat,” jelas Ditya.
“Serius?” Frolline terbelalak.
“Ya. Koko tidak mau gadis bekas laki-laki lain, jadi Koko juga tidak akan memberi bekas Koko pada laki-laki lain,” jelas Ditya.
Frolline menutup mulutnya. “Lalu, kenapa ada banyak wanita cantik yang telanjang di dekatmu. Jejak digital itu tidak bisa berbohong, Ko,” tuduh Frolline.
“Mereka melakukannya karena uang. Ada hiburan di depan mata, tidak mungkin disia-siakan, Fro. Koko masih laki-laki, masih memiliki nafsu ... tetapi hanya disentuh saja, tidak di bawa ke ranjang.” jelas Ditya.
“Serius? Bisa bertahan selama ini?” Frolline masih tidak percaya. Firstan yang anak baik-baik saja, masih bisa terjatuh oleh nafsu di saat mabuk.
“Kemari Fro, Koko jelaskan.” Meraih tangan Frolline agar duduk nyaman di sebelahnya,
“Sejak kecil, Daddy selalu mengajarkan Koko banyak hal. Ada banyak serigala berbulu domba, ada banyak jebakan. Semakin tinggi kita berdiri, jebakan itu akan semakin banyak. Dan laki-laki biasanya akan terjebak dengan yang namanya wanita.”
“Koko selalu ingat pesan Daddy, laki-laki itu selalu takluk dengan yang namanya wanita ... jadi Daddy meminta Koko selalu menjaga itu. Koko tidak mau dijebak dan harus menikah dengan wanita sembarangan.”
Frolline masih tidak yakin.
“Koko peminum, tetapi ada sebagian jenis minuman yang tidak bisa bersahabat dengan Koko. Biasanya Koko akan menghindari. Tidak mau mati konyol seperti Firstan.”
“Lagipula bodoguard daddy itu di mana-mana, dia tidak akan membiarkan anaknya tidur dengan sembarangan perempuan.”
Frolline mengangguk. “Siapa perempuan yang Koko cintai sebelumku?” tanya Frolline saat ingatannya kembali ke pertanyaan sebelumnya.
Ditya terbahak. Binar bahagia itu berubah menjadi cemburu, dan Ditya tahu saat ini istrinya akan mengamuk. Satu nama wanita saja keluar dari bibirnya, malam ini Frolline akan takluk karena cemburunya.
“Kailla Riadi Dirgantara.” Ditya menjawab dengan senyum terkulum. Siap menerima kecemburuan istrinya yang pasti akan terasa manis sekali.
***
TBC
Yang ingin masuk grup chat, tolong sebutkan nama lengkap tokoh pria di salah satu novelku ya.
-Reynaldi Pratama
-Barata Wirayudha
-Ditya Halim Hadinata
-Pratama Wirayudha.
Mohon dengan sangat, supaya admin bisa konfirmasi. Terimakasih ya.
__ADS_1