Demi Sebuah Kata Bakti (Kau Abaikan Anak Istri)

Demi Sebuah Kata Bakti (Kau Abaikan Anak Istri)
Pernikahan Maya dan Mario


__ADS_3

Kurang lebih hampir dua bulan Mario mengurus berkas-berkas pernikahannya dengan Maya, dan akhirnya hari ini, mereka akan melakukan prosesi pernikahan. Sebelumnya Maya meminta kepada Mario agar tidak terlalu berlebihan untuk memepersiapkan pernikahan mereka.


Maya hanya menginginkan sebuah prosesi ijab qobul saja disebuah masjid. Karena yang Maya inginkan hanya sebuah pernikahan sederhana, cukup sah dimata hukum dan agama. Dan ada foto bukti pernikahan mereka untuk mereka kenang kelak. Lagi pula, baik orang tua Mario maupun Maya tidak ada yang hadir karena mereka semua sudah meninggal.


Maya tengah berada dirumah Yesha untuk melakukan rias pengantin. Karena beberapa hari lalu Mario dan Maya sendiri yang datang di kediamana Yesha dan Abhi untuk persiapan prosesi pernikahan Mereka berdua. Yah, Yesha hanya membantu persiapan pernikahan saja, karena keadaannya sendiri tidak memungkinkan dengan perut besarnya. Yesha mau membantu Maya, mengingat Mario adalah asisten suaminya. Dan Maya sendiri adalah pegawai tokonya. Jadi mau tidak mau Yesha sedikit membantu pernikahan mereka. Yang membuatnya kasihan juga karena orang tua kedua belah pihak tidak ada. Jadi Abhi dan Yesha merasa iba kepada mereka berdua.


Persiapan mempelai wanita sudah siap. Maya didampingi Lusi duduk di kursi penumpang, sedangakan Abhi dan Yesha duduk di kursi depan, anak-anak duduk di kursi belakang dengan anteng. Mereka menuju sebuah masjid yang telah di siapkan Mario untuk melakukan prosesi janji suci mereka.


Disana Papa Pradipta dan Mama Erina juga sudah hadir mendampingi Mario untuk menjadi saksi pernikahan mereka. Sungguh Mario sangat beruntung karena pemilik perusahan dan anaknya mau menghadiri pernikahan nya dengan Maya. Maya berjalan berdampingan dengan Lusi dan Arum, sedangkan Abhi, Yesha, Aksa dan Jihan mengiringinya berjalan dibelakang mereka.


Hingga sampai di meja Akad, Maya duduk berdampingan dengan Mario. Mario sedikit melirik kesampingnya, melihat calon istrinya itu yang terlihat cantik dengan gaun kebaya putih yang membalut tubuhnya.


Penghulu memberikan nasehat nasehat pernikahan kepada mereka berdua, agar mereka berdua bisa menjalani biduk rumah tangga yang sakinah mawaddah warohmah hingga ke jannah.


Setelah itu barulah Mario melakukan sesi yang paling menegangkan dalam hidupnya. Dia telah bersumpah untuk menjaga Maya dan anaknya hingga akhir hayatnya nanti. Dann...


Seruan kata "Sah." menggema di dalam msjid itu. Dan itu menandakan kalau mereka berdua sudah sah menjadi suami istri.


"Selamat ya Mario, akhirnya penantian kamu ini tidak sia-sia. Kamu akhirnya menemukan seseorang yang kamu cari sejak dulu. " Abhi memberikan ucapan selamat kepada asistennya itu. Begitu juga Pradipta dan istrinya.


Yesha lalu memeluk Maya dan mengucapkan selamat kepadanya. "Selamat ya mbaK, semoga ini pernikahan yang terakhir. bagi kita berdua. Dan kita bisa menjalani biduk rumah tangga kita ini sampai akhir hayat. "


"Aamiin... Terima kasih Yesha. Semoga aku bisa menyusulmu menuju kebahagiaan. " ucap Maya di pelukan Yesha.


"Baiklah, karena acara sakral ini sudah selesai. Kami mengundang bapak-bapak sekalian dan para tamu yang hadir disini untuk makan bersama di rumah makan sebelah. Karena kami sudah membookingnya. " ujar pak Pradipta kepada semua orang yang hadir untuk menikmati makan bersama di tempat yang sudah disiapkan.


Tanpa sepengetahuan semua orang bahkan kedua mempelai sendiri, Pak Pradipta sudah menyiapkan semuanya. Sebagai hadiah untuk Mario yang sudah bekerja keras selama ini, mulai dari menemani Abhi di Jerman. Hingga menjadi asisten Abhi sekarang.


Mario sangat berterimakasih kepada bos besarnya itu, yang sudah peduli padanya.


Di rumah makan itu mereka semua menikmati hidangan yang tersedia tanpa sungkan-sungkan lagi.

__ADS_1


"Mario, aku berikan ini sebagai hadiah pernikahanmu. " ujar Abhi sambil memberikan sebuah amplop kepada Mario.


"Apa ini tuan?" Mario yang duduk berdampingan dengan istrinya pun merasa penasaran.


"Bukalah, " kata Abhi.


Dengan semangat Mario membuka hadiah pernikahan dari bosnya.


Voucher menginap di hotel mewah selama tiga hari dengan fasilitas suite room.


"Beneran ini tuan. " tanya Merio tak percaya.


"Iya.. nikmati lah bulan madu kalian. Maaf tidak bisa memberikan tiket bulan madu yang jauh, karena ada sesuatu yang ku pikirkan. " ujar Abhi sambil menunjuk ke arah Arum yang sedang lahap memakan makanannya.


Mario yang mengerti pun bisa memahaminya.


"Kami sudah putuskan selama kalian menginap di hotel nanti Arum biar tinggal di rumah kami selama tiga hari, dia akan tidur bersama Jihan. " kini Yesha yang angkat bicara.


"Apa tidak apa-apa, Yesh. Aku takut merpotkanmu." ujar Maya kini yang merasa sungkan.


"Iya mbak May, nggak apa-apa. Nanti Arum tidur denganku. " ucap Jihan.


"Kenapa Arum tidur sama Mbak Jihan? kan kita mau ke rumah ayah Mario. "


Akhirnya kata yang ditunggu Mario keluar juga dari mulut Arum. Dia memanggilnya dengan sebutan Ayah. Mario yang tak bisa mengontrol kebahagiaannya langsung memeluk Arum dengan penuh haru. Membuat semua orang penasaran dengan apa yang dilakukan Mario. Tapi rasa penasaran mereka, mereka tahan karena tidak ingin merusak momen bahagia ini.


"Arum... Arum pengen punya adik kayak Aksa nggak. " tanya Yesha kepada Arum sambil mengelus perut buncitnya.


"Mau dong tante. Kalau Arum punya adikkan bisa jadi temen Arum main " jawab Arum dengan polosnya.


"Kalau begitu biarkan ayah Mario dan ibu pergi berlibur buat ngadonin dedek. " cicit Jihan dengan tawa jahilnya.

__ADS_1


Semua orang yang mendengar ucapan Jihan tertawa terbahak-bahak tapi tidak dengan Mario dan Maya yang menunduk malu.


"Iya, biarkan ibu dan Ayah Mario berlibur selama tiga hari saja, biarkan mereka menikmati masa-masa menjadi pengantin baru berdua. Arum tinggal sama tante dulu ya, nemenin Aksa main. Setelah itu, ayah Mario akan mengajak Arum dan ibu pulang ke rumahnya. " ujar Yesha memberi pengertian kepada anak itu.


Arum memandang kedua orang tuanya secara bergantian. Lalu dia tersenyum dan mengangguk.


"Baiklah, selama tiga hari ya, bu, yah? " Arum memberikan ijin itu kepada kedua orang tuanya. Dan di angguki oleh Mario dan Maya.


"Terimakasih, Arum. " bisik Maya di telinga Arum saat memeluknya.


"Nanti buatin dedek yang cantik atau ganteng ya bu. " bisik Arum juga di telinga ibunya.


Ibunya tersenyum dan mengangguk.


Setelah acara makan-makan itu selesai, semua orang membubarkan diri dan kembali ke rumah masing-masing. Begitu juga dengan Abhi dan keluarganya. Kali ini Mario dan Maya akan pergi ke tempat kost Maya untuk mengambil baju gantinya sekaligus mengantarkan Arum ke rumah Yesha.


"Arum baik-baik di sini ya. Jadi anak baik, penurut dan nggak boleh ngerepotin tante Yesha karena tante kan lagi hamil. " pesan Maya sebelum pergi.


"Iya bu, Arum akan jadi anak baik dan penurut. " jawab Arum.


Mario mengambil dompetnya dan mengambil tiga lembar uang ratusan ribu, dan diberikannya kepada Arum.


"Nak, ini buat jaga-jaga kalau kamu pengen sesuatu dan buat uang saku di sekolah. Boleh buat jajan tapi nggak boleh berlebihan ya? "


Arum memandang ke arah ibunya sebelum menerima uang itu.


"Ambillah nak, itu kan di kasih ayahmu. Jadi terimalah. " ujar Maya yang mengerti maksud tatapan Arum.


Arum meneima uang pemberian Mario lalu memeluknya. "Terima kasih ayah. Aku berharap ayah akan menjadi ayah terbaik untuk Arum dan adik-adik Arum nanti. "


Mario yang mendengar harapan dari Arum pun tak dapat membendung air matanya.

__ADS_1


"Ayah akan memberikan yang terbaik untuk kalian berdua, mulai saat ini. "


Pemandangan itupun tak luput dari Abhi dan Yesha yang berada di dalam rumah. Mereka jadi penasaran sebenarnya apa yang terjadi pada mereka bertiga?


__ADS_2