Demi Sebuah Kata Bakti (Kau Abaikan Anak Istri)

Demi Sebuah Kata Bakti (Kau Abaikan Anak Istri)
Ungkapan Rasa


__ADS_3

Setelah melakukan pemeriksaan mereka berempat berkumpul di sebuah kafe yang berada di sebelah klinik. Wajah bahagia ditunjukkan Agus sejak ia keluar dari ruang pemeriksaan. Sedangkan Dila dia hanya terdiam sejak tadi. Dia tidak tau apa yang ia rasakan saat ini.


Setelah memesan minuman dan cemilan mereka mulai membuka obrolan.


"Bagimana keadaan calon keponakanku, Dil? " tanya Dika yang membuka obrolannya.


Dila diam saja tidak menjawab.


"Alhamdulillah, baik mas. Semua sehat, ibu dan bayinya. " Akhirnya Agus yang menjawab.


Dika menghembuskan nafasnya kasar karena melihat sikap Dila yang seperti itu


"Dila...Mas tau kamu masih kesal sama mas, karena sudah membawa Agus ke tempat ini. Tapi ini harus mas lakukan Dila. " Dika mulai berbicara lagi pada Dila yang keras kepala


"Kenapa? Kenapa mas membawanya kemari? "


"Karena dia mau bertanggung jawab atas anak yang kamu kandung Dila, dia ingin menikahimu.


" Tapi istrinya sudah membunuh anakku mas, dan apa mas tidak takut, kalau dia hanya ingin anakku, dan tidak menginginkan ku? " kata Dila dengan sedikit emosi.


Deg,


Sebuah fakta yang tidak pernah dipikirkan oleh Dika. Dia lalu melirik tajam ke arah Agus yang langsung tertunduk setelah mendengar ucapan Dila.


"Apa maksud kamu, Dila. Bisa kamu jelaskan sama, mas? "


Dila lalu menceritakan kenapa dia kabur dari rumah, dan sebuah kesepakatan yang telah ia setujui dengan Agus. Dia akan memberikan anak itu, jika ini adalah anaknya. Tapi jika bukan maka Dila akan pergi dari rumah Agus bersama anak ini.


Mendengar itu, Dika menjadi lemas. Kenapa adiknya bisa membuat kesepakatan sepeeti ini dengan Agus.


"Tapi aku tidak akan memberikan anak ini kepadanya mas, walau anak ini adalah anaknya. Karena istrinya telah membunuh salah satu anakku, dan aku tidak akan terima akan hal itu. " Dila akhirnya menumpahkan segala emosi dan air matanya. Maya yang duduk di sampingnya langsung memeluk Dila.


"Dil... " ucapan Agus terpotong .


"Biarkan dia tenang dulu. " ujar Dika memotong ucapan Agus.


Setelah Dila berhenti menangis, Agus ingin memegang tangannya, tapi langsung di tepis Dila.


"Dila, awalnya memang seperti itu kesepakatan kita, tapi sekarang aku berjanji akan menikahimu, aku akan bertanggung jawab padamu dan pada anak kita. '


" Cih, kau bahkan menceraikan istrimu hanya untuk mendapatkan bayi ini. lalu bagaimana sengan nasibku nanti? "


"Dil, pernikahanku dengan istriku sudah tidak sehat selama beberapa tahun ini. " Agus akhirnya menceritakan kisah rumah tangganya dengan mantan istrinya.


"Dan aku membalasnya dengan membayarmu waktu itu. Dan percayalah hanya kamu dan istriku yang aku sentuh. Aku tidak pernah menyentuh wanita lain selain kalian berdua. " ujar Agus setelah menceritakan semuanya.

__ADS_1


"Aku juga sudah melakukan tes dna dengan bayi kita yang sudah meninggal. Dan ternyata hasilnya 99% anak itu adalah anakku, Ibu sangat bahagia mendengar itu, Dil. Dia langsung menyuruh ku menceraikan istriku agar aku bisa menikah denganmu. Sesuai pesan yang kau tulis untukku, waktu itu. Dia sangat bahagia karena akan memiliki cucu. Jadi, kumohon menikahlah denganku. Biarkan aku menjadi ayah dari anak ini. Kata Agus sambil menyentuh perut Dila dan mengusapnya perlahan.


Mendengar itu semua, Dila sudah tidak bisa lagi membendung air matanya.


"Apa kau berjanji akan memperlakukan ku sebagai seorang istri, bukan pembantu. "


"Tentu saja, setelah kita menikah kau akan jadi istriku. Kalau pembantu kan sudah ada bi Lilis di rumah. " Kata Agus dengan memberikan senyuman hangat kepada Dila.


Dila memandang ke arah kakaknya. Meminta pendapatnya


"Mas... "


Dika mengangguk, menyetujui permintaan Agus.


"Kamu sudah besar, Dila. Kamu sudah bisa memutuskan mana yang terbaik untukmu. Pikirkan juga anak dalam kandunganmu, jangan pernah egois memikirkan dirimu sendiri. Karena anakmu kelak pasti merindukan kasih sayang seorang ayahnya. Jangan sampai seperti mas... " ucapan Dika terputus saag dia mengingat Aksa.


"Mas sudah punya anak, tapi mas menelantarkannya dan tidak pernah memberikan kasih sayang kepadanya. Sampai sekarang Aksa tidak pernah menghiraukan, mas. Dia takut sama mas. Dan yang lebih menyakitkan dia memanggil orang lain dengan sebutan papa, sedangkan kepada, mas dia tidak pernah memanggil panggilan apapun. Dan itu sangat menyakitkan. " kata Dika yang ikut mencurahkan isi hatinya, sebagai seorang ayah.


"Mas.... " lirih Dila.


"Mas harap kamu bisa bahagia bersama Agus. Binalah rumah tangga yang baik dengannya. Jika ada masalah jangan pernah berhenti berkomunikasi, karena itu sangat penting. " Dika memberikan nasehatnya kepada Dila.


"Bagaimana Dil? apa kau mau menikah denganku?" tanya Agus lagi.


Dika dan Agus saling berpandangan. Lalu Duka menganggukkan kepalanya kepada Agus agar memberi Dila ruang untuk berfikir. Melihat itu, Agus mendesah pasrah.


"Baiklah Dil, aku akan memberikanmu waktu. " tulis Agus pada akhirnya. "Tapi aku berharap, jawabanmu nanti adalah, kau mau menikah denganku. " kata Agus sedikit memaksa.


Mereka semua akhirnya merasa lega, karena permasalahan Dila sudah menemukan titik terang. Sekarang giliran Dika.


"Gus kamu antarkan Dila ke tempat, kostnya. agar kamu tau dimana Dila ngekost. Tapi ingat, jangan beri tau ibuku tempat Dila ngekost. Sampai anak Dila lahir nanti, atau sampai kalian memutuskan akan menikah. " kata Dika memberikan peringatan.


"Sudah pulang sana, kasihan anak dalam kandunganmu kalau terlalu malam. " perintah Dika kepada adik dan calon iparnya itu.


Ucapan Dika di angguki Dila dan Agus. Mereka berdiri dan keluar menuju mobil Agus setelah sebelumnya mereka mengganti kendaraan mereka.


Maya yang ingin berdiri dan mengikuti mereka, langsung di cekal tangannya oleh Dika.


"mbak Maya mau kemana? " tanya Dika dengan polosnya.


"Mau ngikut mereka lah, Dik. Masa iya aku ditinggal disini sendiri, tar aku baliknya naik apa? ' protes nya karen merasa Dila dan Agus semakin menjauh.


" Duduklah mbak, masa ia mbak Maya mau gangguin mereka berdua. "


"Tapi Dika... "

__ADS_1


"Duduklah mbak, aku juga mau ngomong sama mbak Maya. Penting. Nanti aku yang nganter mbak maya, tapi pake motor, nggak pake mobil, soalnya aku nggak punya mobil sekarang.


Maya kembali duduk berhadapan dengan Dika.


" Katakan ada apa? Apa yang ingin kau katakan kepadaku, sampai-sampai kamu mencekal tanganku sampai seperti ini. " ujar Maya sambil memegangu pergelangan tangannya.


"Ini tentang perasaanku mbak. "


Maya mengernyit heran setelah mendengar ucapan Dika.


"Memang kenapa perasaanmu. Jangan bilang kamu belum bisa move on dengan Yesha, atau merasa kehilangan di tinggal mati Vio. " tebak Maya, sesuai keadaan yang dialami Dika saat ini.


Tapi respon yang di berikan Dika adalah gelengan kepala.


"Lalu apa? " kesal Maya karena semua jawabannya salah.


"Mbak... mbak, mau nggak jadi istri aku. ' kata Dika dengan menatap manik mata hitam Maya yang membulat setelah mendengar ucapan Dika.


" Dik Apa kamu masih waras? atau kamu sudah gila? " pekik Maya tertahan dan hendak meninggalkan Dika. Tapi tangan maya langsung dicekal lagi oleh Dika.


"Dik... lepas nggak. " kata Maya mencoba melepaskan pegangan tangan Dika, tapi sia-sia. Karena cekalan tangan Dika sangat kuat.


"Dik.... "


Dika langsung membawa Maya keluar sari kafe karena dia tidak ingin drama mereka dilihat banyak orang.


"Kamu apa-apaan sih Dik. " pekik Maya saat mereka berada di sebuah taman yang sedikit sepi.


"Aku mau tanya sama kamu, May. Maukah kamu menikah denganku? " Dika mengulang pertanyaannya lagi.


"Dik, Please... ini nggak lucu, jangan bercanda. " kata Maya mencoba mengontrol emosinya.


Dika menghembuskan nafasnya kasar. dia tau Maya nggak akan mudah percaya dengan pernyataan cintanya.


"Aku ingin membangun sebuah rumah tangga yang sederhana bersama dengan seorang wanita biasa. Sama seperti Yesha dulu. Bukan wanita kaya atau berduit. Aku ingin dicintai dan mencintai dengan tulus bukan semata karena nafsu. Aku benar-benar ingin membangun rumah tanggaku May. " Dika menghirup nafas dalam-dalam dan mengeluarkannya perlahan.


"Jadi aku pikir tidak ada salahnya jika aku menikahimu. Aku memikirkan Arum, diusianya yang masih kecil dan butuh kasih sayang ayahnya, tapi dia tidak memiliki sandaran untuk itu.Aku tidak ingin nasib Arum menjadi seperti Aksa. Yang kekurangan kasih sayang dari ayahnya. " Dika berkata panjang lebar menceritakan semua keinginannya.


Maya yang mendengar semua itu jadi terharu, dia tidak menyangka mantan adik iparnya itu memikirkan Arum.


"Beri aku waktu untuk memikirkannya. Aku juga harus bertanya kepada Arum. " kata Maya sedikit ragu.


"Baiklah, aku akan memberimu waktu untuk berfikir dan bersiap. " kata Dika sambil mengulur kan tangannya kepada Maya agar ikut berdiri.


"Ayo aku antar pulang. Karena mobilku aku juaal, jadi sekarang kita naik sepeda motor aja ya. '

__ADS_1


__ADS_2