
"Bagaimana kalau kamu nge kost atau kontrak di sini? "
"Maaf bu, maksud ibu gimana ya? " tanya Maira tak mengerti.
"Ya, kamu bisa tinggal di sini. Di rumah ini ada dua kamar kosong. Satu yang kamu tempati itu, kamar punya adiknya Dika dia sudah menikah dan jarang pulang. Kalaupun pulang dia tidak pernah menginap, karena mertuanya juga hidup sendiri. " jelas bu Ayu.
"Dan yang itu, " bu Ayu menunjukkan kamar satunya yang kosong. " Itu adalah kamar milik kakaknya Dika. Entah dimana dia sekarang, ibu dan Dika tidak peduli. Karena dia juga tidak peduli kepada kami. Tapi kamar itu tetap kami kosongkan karen takut dia tiba tiba kembali. "
Maira hanya manggut-manggut mendengar cerita bu Ayu.
"Maaf bu, tapi saya tidak mempunyai uang untuk membayar uang kost atau kontrakan. " kata Maira dengan menundukkan kepalanya.
"Apa ibu boleh ngasih solusi untuk masalahmu itu? " tanya bu Ayu hati-hati.
Maira mengangguk pelan sebagai jawaban.
"Sebelumnya ibu minta maaf bukannya ibu mau memanfaatkan ketidakmampuanmu dalam membayar uang kontrakan atau kekuranganmu mencari uang. " ujar bu Ayu pelan-pelan.
"Ibu akan memberimu tempat berteduh dirumah ini, asalkan kamu mau membantu ibu di rumah ini. membantu pekerjaan rumah ibu. "
"Maksudnya? " tabya Maira tak mengerti.
"Tinggalah di rumah ini selama yang kamu mau asalkan kamu membantu pekerjaan ibu di rumah ini. Seperti memasak, membersihkan rumah dan... pokoknya pekerjaan rumah lah. Sebenarnya Ibu tidak cukup tua untuk melakukan pekerjaan rumah. Tapi kalau ibu boleh jujur padamu, sebenarnya kaki ibu sakit jika berjalan atau berdiri terlalu lama. "
Maira mengernyitkan keningnya tak mengerti, Mendengar curhatan wanita tua di hadapannya ini.
"Kalau sakit kenapa tidak dibawa ke rumah sakit bu? " tanya Maira hati-hati.
"Karena ibu tidak mau merepotkan Dika, nak. Dia sudah bekerja keras selama ini untuk membiayai kehidupan kami berdua. Ibu tidak ingin membebaninya lagi dengan penyakit ibu. Jadi ibu hanya mengerjakan pekerjaan rumah semampu ibu saja. " cerita bu Ayu.
"Apa mas Dika tidak memiliki istri, maaf bu. " tanya Maira masih dengan hati-hati.
"Dika pernah menikah dua kali, pernikahan pertamanya gagal dan mereka bercerai. Pernikahan keduanya cukup singkat, karena istri Dika yang ke dua meninggal karena sakit. Dan dia masih betah sendiri sampai saat ini, tanpa memikirkan pernikahan lagi. " Bu Ayu menceritakan keadaan mereka berdua, berharap Maira iba dan menerima permintaannya.
"Bagaimana Maira? apa kamu setuju untuk tetap tinggal disini? " tanya bu Ayu lagi.
"Tapi bu, saya tidak enak tinggal disini tanpa membayar, biaya bulananya. '
__ADS_1
" Maira.... Gini deh, kalau kamu tidak mengerti bahasa halus yang ibu maksud, ibu akan jelaskaan dengan bahasa kasar mungkin kamu bisa mengerti. " ujar bu Ayu yang merasa gemas dengan gadis muda dihadapannya ini.
"Kamu bisa tinggal di sini tanpa membayar uang kost atau kontrakan. Kamu bisa mengganti uang itu dengan tenagamu, yaitu dengan membantu ibu melakukan pekerjaan rumah. Kamu bisa tinggal di sini sampai kapanpun kamu mau. Apa kamu sudah mengerti, Maira? " tanya bu Ayu memastikan
Maira mengangguk ragu.
"Kalau mau di perdengarkan bahasa kasar lagi begini. Kamu butuh tempat tinggal untuk berteduh, dan kami butuh pembantu atau seseorang untuk membantu pekerjaan rumah. Aku punya rumah, dan kau punya tenaga. Kita akan saling memberi dan menerima dan saling menguntungkan, bagaimana? apa kau sudah mengerti? Ibu tidak akan meminta uang sepeserpun padamu untuk biaya tempat tinggal mu. Karena sudah kau temani saja ibu merasa bahagia, punya teman ngobrol. "
Maira mengangguk mengerti. Sebenarnya dia sudah tau maksud bu ayu sejak awal. Tapi dia pura-pura tidak mengerti untuk meyakinkan dirinya.
"Tapi bagaimana dengan mas Dika? Apakah dia tidak akan keberatan kalau aku tinggal disini?"
"Kalau masalah Dika itu akan menjadi urusan ibu. Kamu tenang saja. Jadi bagaimana? "
Saya akan menerimanya, jika mas Dika menerima saya tinggal di sini. Kalau mas Dika menolak, saya akan pergi dari sini. " putus Maira pada akhirnya.
Bu Ayu mengangguk mengerti, benar yang dikatakan Maira. Bagaimana pun di rumah ini masih ada Dika yang harus di mintai pendapat nya.
"Ya sudah kalau begitu , kamu sekarang bisa istirahat . Ibu juga ingin istirahat ." ujar bu Ayu kemudian.
"Baiklah bu . Terimaksih makan siangnya. Sambal buatan ibu mantap. "
Maira masuk ke kamarnya dengan kaki yang masih bengkak, sedangkan bu Ayu mengunci semua pintu sebelum dia masuk kamar untuk tidur siang.
Sore harinya, seperti kata bu Ayu tadi siang, bu Ayu memasak lagi untuk makan malam Dika dan dirinya, jangan lupakan Maira yang sekarang ada di rumah itu.
Dika tiba di rumah tepat pukul lima sore seperti apa yang dikatakan bu Ayu pada Maira. Dia segera
menuju dapur, karena mendengar suara orang mengobrol dari sana. Dilihatnya ibunya sedang memasak dibantu Maira, walau dengan kaki yang sedikit pincang.
Hati Dika langsung menghangat melihat pemandangan itu, ibu nya telah berubah. Dari yang dulu sangat keras kepala, sombong dan angkuh, kini berubah lebih baik. Dan mau berinteraksi dengan orang lain yang baru di kenalnya. Mungkin tiga tahun ditinggalkan orang-orang disekitaranya sudah membuatnya sadar, kalau sendiri itu tidak lebih baik. Manusia butuh orang lain di sekitarnya karena manusia adalah makhluk sosial yang saling membutuhkan.
"Semoga ibu, tetap bisa bersikap seperti ini. " batin Dika.
"Assalamu'alaikum.. "
"Wa'alaikum salam. " jawab bu Ayu dan Maira bersamaan.
__ADS_1
"Kamu sudah pulang Dik? " Bu Ayu langsung menghampiri Dika, dan Dika langsung menyalami tangan ibunya.
"Iya bu, baru sampai dan langsung kesini, karena mencium bau masakan yang sedap banget sepertinya. "
"Iya nih, ibu dibantu Maira masak. Ternyata Maira pinter masak lho. " kata bu Ayu sambil tersenyum.
"Ya udah, aku mau mandi dulu, setelah itu ke masjid. " kata Dika sambil berlalu menuju kamarnya.
Tak berapa lama Dika keluar lagi dari kamarnya dengan mengenakan baju koko dan sarung serta peci di kepalanya. Penampilan Dika yang seperti itu membuat Maira yang sedang menyiapkan makan malam tertegun beberapa saat, sebelum dia sadar kembali.
"Ya, ampun. Ternyata kalau penampilannya seperti itu, mas Dika ganteng banget. Beda kalau penampilan biasanya, lebih terkesan dingin. " gumam Maira dalam hati.
Dika lalu pamit kepada ibunya untuk jama'ah di masjid. Dan setelah kepergian Dika, bu Ayu dan Maira juga menuju kamar masing-msing untuk melaksanakan ibadah.
Setelah melakukan sholat maghrib, kini semua orang sudan berkumpul di meja makan untuk makan malam. Makan malam sederhana, hanya ada sop sayuran, perkedel kentang dan ayam goreng. Tak lupa sambal buatan bu Ayu yang kata Maira sangat enak.
"Gimana? enak nggak? " tanya bu Ayu ditengah mereka makan.
"Enak, sayurnya beda seperti biasanya. " ujar Dika.
"Ohhh, itu Maira yang masak. ibu cuma goreng ayam sama bikin sambal tadi. " bu Ayu menjelaskan
Dika hanya mengangguk menanggapi kata-kata bu Ayu.
"Kakimu gimana? apakah sudan lebih baik? "
"Alhamdulillahsudah lebih baik mas, tinggal bengkaknya aja. "
Dika lalu melanjutkan makannya lagi dengan lahap.
"Sepertinya mas Dika kelaparan deh, dia lahap gitu makannya. Apa karena makanannya enak? " batin Maira.
"Dika, nanti setelah kamu dari masjid, ibu mau bicara sama kamu. "
"Bicara apa bu, katakan saja sekarang. " kata Dika sambil memakan makanannya dengan lahap.
"Nanti aja, kamu selesikan makanmu dulu, terus ke masjid. Setelah itu kita bisa ngobrol santai sambil nonton televisi." kata bu Ayu yang melihat Dika makan tak seperti biasanya.
__ADS_1
" Lahap banget enak apa laper? " bu Ayu memiliki pemikiran yang sama dengan Maira.