Demi Sebuah Kata Bakti (Kau Abaikan Anak Istri)

Demi Sebuah Kata Bakti (Kau Abaikan Anak Istri)
Dika Dan Maya


__ADS_3

"Ayo aku antar pulang. Karena mobilku aku jual, jadi sekarang kita naik sepeda motor aja ya? " kata Dika kepada Maya sambil mengulurkan tangannya.


Maya menerima uluran tangan Dika dan mereka berjalan bersama menuju tempat sepeda motornya terparkir. Malam ini Dika habiskan untuk jalan-jalan berdua dengan Maya memecah malam yang semakin larut.


"Dik, kenapa tiba-tiba kau memutuskan untuk menikah denganku? "


"Entahlah mbak, awalnya aku hanya berfikir nggak mau lihat Arum terlantar. Bagaimanapun Arum anak perempuan kelak dia juga butuh wali. Meskipun aku bukan wali sahnya, tapi kelak aku juga bisa menjadi walinya jika dia menikah. Beda dengan Aksa, Aksa adalah anak laki-laki jadi dia tidak membutuhkanku sebagai seorang wali. " ujar Dika dengan dada yang bergemuruh sesak saat mengatakan nya.


"Apa kau merindukan Aksa? "


"Kalau di bilang rindu pasti rindulah, mbak. Bagaiamana pun dia anakku, darah daging ku. Tapi aku nggak bisa maksa dia untuk menerimaku mengingat semua kelakuanku padanya dulu. " ujar Dika lagi dengan tatapan sendu.


Mereka terus ngobrol, sambil membelah jalanan yang masih ramai dengan hilir mudik kendaraan yang lalu lalang.


Dika lalu menghentikan sepeda motornya di depan penjual martabak. Dia turun lalu memesan beberapa martabak manis dan martabak telor untuk dibawa pulang.


"Dik, gimana mas Bagus? Apa dia pulang ke rumah? "


Dika menggeleng. "Mas bagus nggak pernah pulang ke rumah mbak. Nggak tau dia dimana sekarang. Ibu juga sudah nggak peduli. "


"Dik.... " panggil Maya lagi dengan ragu.


"apa, mbak. "


"Selain Arum, apa ada alasan lain kamu mau menikahiku? " tanya Maya masih dengan keraguannya. Bagaimana pun Maya adalah seorang wanita yang juga ingin dicintai.


Dika mengangguk. "Ada mbak. Mungkin karena aku merasa nyaman sama mbak Maya. Aku pikir mbak Maya sama seperti Yesha. "


"Maksud kamu, kamu nyamain aku seperti Yesha itu apa? " ketus Maya dengan sedikit emosi, karena dia disamakan dengan Yesha mantan istri Dika.


"Jangan marah dulu mbak. Biar aku jelasin. " Dika menarik nafasnya dalam dan menghembuskannya perlahan. "Mbak Maya orang baik, sama seperti Yesha. Mbak Maya orang yang sabar sama seperti Yesha. Yesha bertahan dengan pernikahan kami selama kurang lebih tujuh tahun. Padahal aku tidak pernah memberikan nafkah lahir dan batin yang baik kepadanya. Aku mengabaikan nya dan anaknya, tapi dia tetap bertahan denganku selama tujuh tahun. Dan mungkin karena perselingkuhan ku dengan Vio terbongkar jadinya Yesha memilih untuk mundur, karena sudah tidak tahan lagi Mungkin memang benar, Wanita lebih Baik di sakiti daripada dihianati. " jelas Dika panjang lebar.


"Kau benar, Yesha adalah wanita baik dan tangguh. " kata Maya yang secara tidak langsung membenarkan ucapan Dika.


"Lalu apa yang membuatnya menjadi sama denganku. Aku bahkan sering melukainya dengan perkataan kasarku. " protes Maya.


Dika tersenyum melihat mantan kakak iparnya itu mulai mengeluarkan tanduknya.


"Karena mbak Maya, berhasil bertahan dengan mas Bagus selama delapan sampai sembilan tahun ini. Aku tau mas Bagus tidak pernah memberikan nafkah lahir kepada mbak Maya dengan benar. Bahkan perlakuan mas Bagus kepada mbak Maya juga sering keterlaluankan? " tanya Dika to the poin,


"Tapi aku juga ikut menyakiti Yesha dulu. " kata Maya yang masih menganggapnya wanita yang tidak sebaik Yesha.


"Mungkin karena saat itu mbak Maya sedang tidak baik-baik saja dan melampiaskan nya kepada Yesha. " tebak Dika.


deg...


Benar, semua yang Dika katakan benar, Saat dia ikut menyakiti Yesha terkadang saat itu dia sedang bermasalah dengan Bagus. Karena itu dia sering ikut-ikutan memperlakukan Yesha dengan tidak baik.


Mereka berdua saling terdiam beberapa saat, sambil menunggu antrian pesanan martabak yang sedang ramai.

__ADS_1


"Dik, boleh aku mengatakan sesuatu? " tanyanya dengan ragu.


"Apa mbak, katakanlah. "


"Ini hanya Seandainya nya. "


Dika mengangguk mengerti maksud Maya. Karena mungkin saat ini dia ingin berandai-andai.


"Seandainya, aku menikah denganmu, lalu kita akan tinggal dimana? Aku nggak mau kalau harus kumpul dengan ibu lagi. " tanya Maya sambil menundukkan kepalanya.


Sudah Dika duga pertanyaan ini pasti akan ditanyakan Maya suatu hari nanti, sebelum dia menerima lamarannya nanti.


Dika menghembuskan napasnya kasar. Dia tau siapapun yang akan menjadi menantu ibu nya nanti, tidak akan ada yang mau tinggal bersamanya. Apalagi Maya, wanita yang pernah menjadi menantu nya. Dan pernah merasakan kekejaman ibunya kepada menantunya itu.


"Kita akan tinggal di rumahku mbak. Rumah yang ditinggal kan Vio untukku. Apa mbak mau, kita tinggal disana? Aku nggak mungkin menjual pemberian Vio mbak, karena bagaimanapun itu adalah hibah atau hadiah yang diberikan orang yang sudan meninggal kepada kita. Apa mbak Maya mau tinggal di sana?


"Apa tidak apa-apa kalau kita tinggal di sana? APa Vio tidak akan menghantui kita? "


Mendengar pertanyaan konyol dari calon istrinya itu Dika jadi tertawa lebar. Hingga semua orang menatap kearah mereka. Apa katanya tadi hantu?


"Dik... apaan sih. "ketus Maya dengan wajah malunya, karena dilihat orang-orang disekitarnya.


"Mbak..mbak, mana ada hantu sih. Kalau mbak maya takut, nanti kalau kita mau pindahan, kita akan mengadakan pengajian untuk mengusir hantu. " kata Dika yang masih menahan tawanya.


"Tapi Ngomong-ngomong, apa mbak Maya mau menikah dengan ku? "


Maya menggeleng dan itu membuat Dika mengernyitkan keningnya tak mengerti.


"Kan tadi aku masih berandai-andai Dik? "


Benar juga yang dikatakan Maya, tadi dia kan bilang andai. Ah Dika terlalu percaya diri dan berharap banyak.


Akhirnya pesanan Martabak mereka pun sudah jadi. Dika dan Maya memutuskan untuk pulang karena malam semakin larut. Kasihan Arum di tinggal di rumah sendiri. Nggak tau juga apakah Dila sudah kembali ke tempat kostnya apa belum Kalau sudah, Arum pasti menanyakan keberadaan ibunya itu kepada Dila.


Motor yang Dika kendarai sudah sampai di depan tempat kost mereka.


"Nih mbak buat Arum. "


Dika lalu memberikan sekantong kresek martabak yang dia beli tadi kepada Maya. Lalu merogoh kantong celananya, dia memberikan dua lembar uang merah kepada Maya.


"Aku cuma bisa ngasih segini mbak. Maklum tanggal tua belum gajian. " ucal Dika dengan nyengir kuda.


"Udah lah Dika, nggak apa-apa. Aku hanya bercanda kemarin. Aku ikhlas kok nolongin Dila. Karena aku juga wanita jadi tau perasaannya. " kata Maya yang menolak pemberian Dika.


Dika lalu menggamit tangan Maya, dan menaruh uang itu di tangannya.


"Ambil mbak. aku ikhlas kok ini. Jika mbak nggak mau Terima, berikan itu kepada Arum. Bilang di kasih om Dika untuk uang sakunya." Kata Dika lalu dia mengacak rambut maya yang hitam itu.


Mendapat perlakuan dari Dika, membuat hati Maya menghangat.

__ADS_1


"Makasih, ya Dik? " ucap Maya sambil sedikit berteriak. Karena Dika yang segera menjauh menghampiri motornya.


Dika lalu melambaikan tangannya, dan segera melajukan motornya.


Maya masuk ke dalam kost nya, dengan mendapatkan godaan dari security yang berjaga.


"Cie... mbak Maya... dianter cowoknya. "


"Apa sih pak. " kata Maya sambil terus melangkah menuju kamar kostnya.


Dia lalu masuk ke dalam, pintunya tidak terkunci. Tapi Arum tidak ada di dalam.


"Kemana dia? " batin Maya.


Lalu dia menuju kamar Dila, dan mengetuk pintunya. Ternyata yang membukakan pintu adalah Arum.


"Ibu.. ibu kok lama sih? padahal tante Dila sudah pulang dari tadi. " gerutu Arum dengan kesal.


"Maaf Arum, tadi ibu ada urusan sebentar. Ayo kembali ke kamar. " ajak Maya.


Dia pun pamit kepada Dila kalau membawa Arum kembali kekamarnya.


Sesampainya di kamar, Maya segera memberikan martabak yang Dika berikan kepada Arum.


"Nih, om Dika tadi beliin martabak buat Arum. "


"Wah, om Dika beliin ini buat Arum, bu? " tanya Arum mengulang ucapan ibunya,


Dan Maya menganggukkan kepala sebagai jawaban.


Arum memakan martabak yang dibelikan Dika itu dengan sangat lahap. Karena sudah lama dia tidak memakan makanan enak itu. Dia segan meminta pada ibunya, karena tau kondisi keuangan ibunya saat ini.


"Arum... ibu mau tanya sama Arum boleh? "


Arum mengangguk, tanda membolehkan ibunya untuk bertanya.


"Kalau ibu menikah lagi, apa Arum mengijinkan? '


Arum langsung menghentikan makanannya dan menoleh ke arah ibunya.


" Sama siapa memangnya bu? " tanya Arum kemudian dengan wajah yang sulit untuk dibaca.


"Orangnya bukan orang kaya seperti om Abhi, dia orang biasa. Pegawai kantoran dan jika ibu menikah dengannya, kita akan hidup sederhana, bukan hidup mewah seperti Aksa. "


"Apa ibu akan bahagia jika menikah dengannya? " tanya Arum yang sudah mulai bisa berfikir dewasa.


Dia tidak akan mengedepankan egonya, karena Arum selama ini tau, seperti apa perlakuan ayahnya kepada ibunya. Bahkan perlakuan neneknya kepada mereka. Arum juga bisa merasakan seperti apa hidup mereka setelah keluar dari rumah itu. ibunya harus bekerja dengan gaji yang pas-pasan dan harus lembur untuk makan besok. Kadang ibunya juga membawa makanan sisa dari rumah makan untuk mereka makan besok.


"Entahlah, nak. Ibu juga tidak tau. Ibu hanya memikirkan dirimu. Ibu ingin kita bisa hidup layak walau sederhana. tidak kekurangan seperti saat ini." kata Maya yang masih belum tau perasaannya kepada Dika.

__ADS_1


"Memang siapa sih yang mau menikah dengan Ibu? "


" Om Dika.... "


__ADS_2