Demi Sebuah Kata Bakti (Kau Abaikan Anak Istri)

Demi Sebuah Kata Bakti (Kau Abaikan Anak Istri)
Abhi dan Yesha


__ADS_3

Yesha saat ini sedang bersama bapak dan ibunya yang akan kembali ke kampung setelah berada di rumah Yesha selama satu minggu urusan mereka untuk memasukkan Danu ke kampus juga sudah selesai. Di kota ini, Mereka mendapat banyak kejutan saat berada di sini. Selain bertemu dengan sahabat lama, Mereka juga mendapati anaknya yang dilamar anak dari sahabatnya itu.


Orang tua Yesha sangat bahagia. Mereka berjanji akan kembali ke kota dua atau tiga hari sebelum acara pernikahan diadakan. Karena mereka harus mengurus sawah dan ternak mereka.Tidak enak sama kakaknya kalau harus menitipkan sawah dan hewan ternak terlalu lama. Karena kakaknya sendiri memiliki hewan ternak yang cukup banyak.


Abhi dan Yesha saat ini sedang mengantarkan bapak dan Ibu ke terminal. Pak Pram tidak ingin di antarkan sopir Abhi karena tidak mau merepotkan sahabatnya. Lebih baik mereka naik bus saja dan menikmati perjalanan mereka.


"Sampai di sini saja nak, Abhi. Terimakasih karena sudah mengantar kami. " ujar pak Pram kepada calon menantunya itu.


"Sama-sama Pak. Seharusnya bapak mau di antarkan sopir jadi kami tidak terlalu khawatir. "


"Tidak apa-apa nak,nggak usah repot-repot. Begini saja. Bapak sama ibu ingin menikmati perjalanan. Kami titip Yesha dan Aksa juga Danu ya, di sini. "


"Tentu pak, saya akan menjaga mereka. Sekarang Aksa dan Yesha adalah tanggung jawab saya. " ujar Abhi meyakinkan pak Pram calon mertuanya.


"Ya sudah, Yesha. Bapak sama ibu pulang dulu. Baik-baik kamu disini. Titip adikmu ya. Jadikan dia anak yang sukses. "


"Insyaa'Allah pak, Danu akan jadi anak sukses nanti. "


Mereka saling berpelukan dan bersalaman. Hingga waktunya pak Pram dan istrinya masuk ke dalam bus yang akan mengantarkan mereka kembali ke kampung halamannya.


Yesha menyeka air matanya saat bus yang dikendarai orang tuanya sudah berlalu. Begitulah, jika ada perpisahan pasti kesedihan yang akan dirasakan.


"Sudah, nggak usan sedih. Besok saat pernikahan kita bapak sama ibu pasti datang lagi. " Abhi mencoba menghibur calon istrinya itu dengan menepuk punggungnya dengan lembut. Setelah tenang, Abhi mengajak Yesha untuk kembali ke rumah.


Besok adalah jadwal kita fitting baju pengantin dibutik langganan mama, aku akan menjemputmu besok. Dan besok lusa, mama meminta kita untuk melakukan foto prewedding untuk undangan dan souvenir juga untuk foto pajangan saat resepsi. " Abhi memberitahukan kepada Yesha jadwal persiapan pernikahan mereka.


"Harus banget ya, mas. Kita ini bukan perawan dan perjaka lho, yang harus merayakan pesta pernikahan segala. Buat aku, kita sudah sah di mata hukum dan agama saja sudah cukup bagiku." ujar Yesha yang merasa tak enak dengan semua ini.


"Itu cukup bagimu, Yesha. Tapi tidak bagiku dan keluargaku. Dulu saat menikah dengan Jasmin mantan istriku, aku tidak menginginkan akan diadakan resepsi besar-besaran. Seperti katamu barusan. Aku cukup menikahinya saja asal sah di mata hukum dan agama. Karena saat itu tidak ada cinta di antara kami. " kata Abhi mengenang masa lalunya.


"Tapi sekarang situasinya berbeda. Aku mencintaimu, dan aku ingin pernikahan kita di abadikan dengan kenangan indah di hari pernikaham kita nanti. Dan tidak ada penolakan. Biar aku dan mama yang mengurusnya. Kamu dan keluargamu tinggal menikmatinya saja. " Abhi menggenggam tangan Yesha, dengan tangan kirinya. Sedang tangan kanannya fokus menyetir.


"Aku harap, secepatnya kamu bisa mencintaiku. Yesha. " kata Abhi lagi dengan menoleh sekilas ke arah Yesha.


Yesha menunduk karena malu. Dia tidak tau apa yang harus ia lakukan. Karena baru pertama kali ini dia diperlakukan sangat istimewa oleh seorang pria.

__ADS_1


"Insyaa'Allah mas. Semua akan berjalan sesuai kehendak-Nya. Jika mas Abhi benar-benar mencintaiku, maka rasa itu perlahan akan tumbuh di hatiku. Aku percaya itu. " Yesha berucap sambil memandang ke arah Abhi.


Sungguh baru kali ini Yesha memperhatikan setiap pahatan di wajah Abhi yang sempurna. Kemana saja dia selama ini, kenapa tidak pernah menyadari bahwa pria yang bersamanya ini sangat tampan dan sempurna. Apakah dia terlalu bodoh karena tidak bisa melihat kesempurnaan itu?


"Ehmmm... "


Yesha menetralkan perasaanya yang tiba-tiba berdebar kencang. Ia berpaling setelah memperhatikan Abhi dari samping dengan seksama. Dan mulai menyadari adanya makhluk ciptaan Tuhan yang sempurna.


"Yesha, apakah kita bisa makan siang dulu? sepertinya tidak keburu kalau kita harus pulang dan makan siang di rumah. " ujar Abhi, dengan sebuah ide jahil di kepalanya.


"Tapi mas, bukannya mas Abhi nggak bisa makan masakan di luar ya? " tanya Yesha yang tidak mengerti dengan jalan pikiran Abhi.


"Aku ingin mengetes sesuatu. "


Kening Yesha mengernyit tak mengerti dengan maksud Abhi.


"Maksudnya? "


"Aku ingin membuktikan sesuatu, apakah dugaanku ini benar atau salah. Apakah aku bisa makan masakan lain di luar dengan suapan darimu atau tidak. " kata Abhi dengan menaik turun kan alisnya.


"Aduh... Sakit, Yesha. " keluh Abhi sambil menggosok-gosok tangannya yang di pukul Yesha. Padahal sebenarnya tidak terlalu sakit, dia hanya mendramatisir keadaan.


"Maaf mas. " sesal Yesha.


"Ya sudah sebagai permintaan maafmu, kita makan di luar, ya. Tapi kamu harus suapi aku. "


"Modus... ya udah deh iya... sepertinya sekarang aku akan punya bayi besar. " kata Yesha sambil mengerucutkan bibirnya


Abhi tergelak mendengar gerutuan Yesha yang sangat menggemaskan itu.


Akhirnya Abhi dan Yesha berhenti di sebuah rumah makan bertema lesehan, dimana tiap tempat terdiri dari saung-saung kecil yang terpisah, sehingga privasi mereka terjaga. Dan ada kolam ikan di bawahnya. Sungguh rumah makan yang sangat indah dan memanjakan mata dengan konsep pedesaan di dalam kota yang padat.


Setelah memesan makanan Abhi dan Yesha melanjutkan obrolan mereka yang tertunda.


"Jadi Yesh, setelah menikah kita akan tinggal di mana? " tanya Abhi yang meminta pendapat Yesha.

__ADS_1


" Kalau boleh mas, aku ingin tetap tinggal di rumahku, boleh nggak? " Yesha membalikkan pertanyaan itu kepada Abhi.


"Berikan satu alasan, kenapa kita harus tinggal di rumah mu. "


"Aku ingin dekat dengan tempat usahaku mas. Jadi aku bisa mengurus usahaku dan keluargaku secara seimbang. Aku nggak perlu berangkat pagi pulang sore seperti orang bekerja. Niatku membangun usaha di rumah adalah untuk mempermudah aku, menjalani usaha dan rumah tangga secara bersamaan. Jadi nggak ada yang keteteran. " Yesha mengungkapkan alasannya kepada Abhi.


"Nanti kalau aku tinggal di rumahmu, dikira orang aku numpang dong. " pancing Abhi ingin mendengar pendapat Yesha tentang hal ini.


"Ya, jangan dengerin omongan orang lah mas. Mereka itu nggak tau apa-apa, tapi sok tau. Jadi nggak usan di hiraukan. Rumah tangga kita, ya kita yang ngejalani. Nggak ada urusan sama mereka. " Yesha memberikan jawaban yang diinginkan Abhi.


"Baiklah, kalau begitu setelah menikah nanti, kita akan tinggal di rumahmu. " putus Abhi pada Akhirnya.


"Serius mas. " tanya Yesha dengan antusias.


Abhi mengangguk.


"Sebenarnya aku tidak ada maksud sama sekali untuk mengajakmu pergi dari rumahmu itu Yesha. Karena aku juga sudah merasa nyaman kalau harus tinggal disana." kata Abhi.


"Tinggal di tempat yang penuh dengan orang. Sepertinya sangat menyenangkan. Aku sudah biasa hidup sendiri, jadi aku merasa bosan. Aku ingin suasana baru Nanti kalau kamu penat dan ingin istirahat dari padatnya aktivitas mu, kita akan pergi ke rumah yang sudah aku siapkan. Kita akan datang kesana sesekali saja, untuk liburan. "


Yesha mengangguk setuju dengan saran Abhi.


"Terima kasih mas, sudaj mengerti aku. "


"Sudah sewajarnya, Yesha. Kita kan sebentar lagi akan menikah. Dan ingat ini, jangan pernah menyembunyikan hal sekecil apapun dari pasangan kita, agar itu tidak menjadi boomerang untuk rumah tangga kita nanti. " pesan Abhi kepada calon istrinya itu.


Mereka berhenti berbincang saat makanan di hidangkan. Abhi memandang makanan itu dengan tanpa minay sama sekali.


"Kenapa mas? " tanya Yesha yang melihay raut wajah Abhi yang berubah.


"Aku tidak selera makan Yesh. " gumamnya.


Yesha menghembuskan napasnya., sepertinya dia akan benar-benar punya bayi besar sekarang. gerutu Yesha dalam hati.


Akhirnya Yesha pun menyuapi Abhi, bergantian dengan Abhi yang juga menyuapi Yesha, kadang mereka tergelak dengan candaan yang mereka lontarkan satu sama lain. . Mereka berdua terlihat mesra, dan serasi sekali bagi siapapun yang melihatnya.

__ADS_1


Tapi tidak dengan satu orang, yang melihat mereka dengan sorot mata marah, benci dan rindu secara bersamaam.


__ADS_2