
Akhir-akhir ini Vio merasa tak nyaman dengan perutnya, dia meminta Dika untuk mengantarkannya ke rumah sakit untuk memeriksakan keadaan kandungannya, karena sejak tau dia hamil Vio tidak pernah memeriksakan kehamilannya itu. Dia hanya tau kalau dia hamil hanya malalui testpack saja.
Dika pun dengan terpaksa menuruti keinginan istrinya itu untuk memeriksakan kandungan. Sesampainya dirumah sakit pun mereka tidak langsung masuk ke ruangan dokter, tapi harus menunggu antrian beberapa orang.
Tak henti-hentinya Dika mengumpat dalam hatinya, ternyata mengurusi orang hamil itu sangat ribet. Dia jadi teringat pada Yesha saat dia hamil dulu. Padahal dulu saat hamil Aksa, Yesha tidak pernah semanja ini minta di antar ke rumah sakit segala. Dia akan pergi sendiri ke bidan untuk memeriksa keadaan kandungannya. Yesha tidak pernah merepotkannya selama ini bahkan sampai melahirka pun, Yesha tidak pernah mengeluh padanya sama sekali.
Tiba giliran Vio masuk ke ruangan dokter diikuti Dika. Dokter menanyakan apa pun yang dirasakan atau di keluhkan Vio.
"Saya tidak merasakan mual dan muntah dokter, saya hanya merasakan selama beberapa hari ini perut saya tidak nyaman. Jadi saya memutuskan untuk kemari. " keluh Vio kepada dokter kandungan di hadapannya.
"Baiklah, kalau begitu. Mari silahkan rebahan di sana, biar saya periksa keadaan bayinya. "
Vio di bantu Dika dan perawat menuju brangkar pemeriksaan, untuk melakukan USG. Dokter pun mulai melakukan tugasnya sebagai dokter yaitu memeriksa Vio. Dahi dokter mengernyit berkali-kali saat memeriksa kandungan Vio.
"Apa ada masalah dokter? " tabya Vio yang khawatir melihat respon dari dokter.
"Kapan anda terlahir kali haid. '
Vio pun menceritakan kalau ini sudah bulan ke tiga di tidak haid, dan bulan ke tiga setelah dia melakukan tes.
" Jadi anda belum pernah memeriksakan kandungan anda ke bidan atau dokter. " tanya dokter lagi.
Vio membenarkan ucapan doter barusan.
Dokter kembali fokus pada alat USG nya dan melihat ke monitor.
Setelah puas memeriksa kandungan Vio, mereka kembali ke kursi, berhadapan dengan dokter.
"Jika benar anda tidak haid tiga bulan lalu, berarti usia perkiraan kandungan anda adalah tiga bulan, tapi mohon maaf nyonya, sepertinya bayi di dalam kandungan anda tidak berkembang dengan baik. Seharusnya bayi usia tiga bulan sudan hampir membentuk janin, namun ini masih berbentuk gumpalan. Lagi pula disini ada kista. Jadi kemungkinan kista inilah yang menghambat perkembangan janin anda, jadi sari makanan yang seharusnya menjadi makana bayi, malah di makan oleh kista ini. Akibatnya bayi anda tidak berkembang dan yang berkembang adalah kistanya. " Dokter memberikan penjelasan panjang lebar, sambil menunjukkan kertas hasil foto USG.
__ADS_1
Mendengar itu, baik Vio ataupun Dika merasakan shock berat.
"Lalu, apa yang harus saya lakukan dokter. " kata Vio menahan air matanya.
"Kita harus melakukan jalan operasi untuk mengeluarkan janin dan kista yang tumbuh di dalam kandungan anda. Karena janin tidak bisa di selamatkan lagi, ini bisa membahayakan anda nyonya. " kata dokter menjelaskan lagi.
"Lalu kapan saya harus operasi dokter? " tanya Vio yang sudah dilanda kecemasan.
"Tenanglah nyonya, tuan sebaiknya anda beri istri anda minum dulu. " Dokter menunjukan gelas air mineral didepannya.
Dika pun menurut dan memeberikan minuman kepada Vio yang sedang cemas saat ini. Dia jadi kasihan pada istrinya itu. Karena harus operasi untuk mengeluarkan penyakit bukan mengeluarkan bayi.
Dokter sedang berbincang dengan perawat dan asistennya untuk mengetahui jadwal operasinya yang kosong. Setelah mendapatkan jadwalnya, dokter itupun memberitahukan nya kepada Vio dan Dika.
"Saya kosong operasi minggu depan nyonya pada hari selasa. Jadi jika anda ingin saya yang mengoperasi anda, anda bisa menunggu sampai hari selasa. Namun jika anda tidak sabar, anda bisa meminta dokter lain yang mengoperasi anda. " ujar dokter itu.
Dika dan Vio saling berpandangan, mereka lalu menganggukan kepala.
Setelah membuat janji, dan prosedur apa yang harus di lakukan, Vio dan Dika akhirnya kembali ke apartemen mereka.
"Maafkan aku ya, mas, karena belum bisa mempertahankan bayi ini. " ujar Vio menunduk menyesal dengan apa yang terjadi pada dirinya.
"Nggak apa-apa, yang penting kamu baik-baik saja. Masalah anak, nanti kita bisa usaha lagi. " kata Dika menenangkan hati Vio.
Dika sudah bisa menerima Vio sepenuhnya sebagai istri tapi untuk diberi momongan dia masih belum siap, karena dia tidak mau diganggu tangisan atau rengekan anak kecil. Begitu juga dengan Vio, awalnya anak ini dijadikan Vio sebagai senjata untuk menggaet Dika agar menikahinya. Walau dia dengan berat hati harus mengandung selama sembilan bulan. Tapi pada Akhirnya anak itu tidak bisa berkembang sebelum dilahirkan. Dalam hati Vio merasa senang, walau harus mengeluarkan air mata palsu. Akhirnya tidak ada yang akan menjadi penghalang baginya untuk meniti karir.
Mungkin karena itu, Tuhan langsung mengambil anak itu dari mereka. Karena orang tuanya sendiri tidak menginginkannya. Jadi untuk apa anak itu dilahirkan. Sungguh mereka berdua sedang bersandiwara dengan kesedihan mereka masing-masing.
*
__ADS_1
*
Di rumah Yesha, Sudah dua hari ini Yesha berikhtiar dengan meminta petunjuk kepada Robb nya, tentang jalan yang harus dia tempuh. Dia melakukan dua rakaat di sepertiga malam untuk mendapat petunjuk. Dan selama dua malam ini dia selalu memimpikan wajah Abhi, yang tersenyum padanya, dan sedang bermain dengan Aksa dengan bahagia. Apakah dia sudah mendapatkan jawabannya?
Pagi harinya, Setelah Aksa berangkat sekolah, Yesha sedang ngobrol bersama bapaknya. Memang Orang tua Yesha tidak langsung pulang, mereka memutuskan untuk tetap berada dirumah anaknya itu selama seminggu. Agar mereka Benar-benar bisa melepaskan kerinduannya dengan anak dan cucunya. Masalah sawah dan ternak di kampung, Pak Pram sudah menitipkannya kepada saudaranya yang rumahnya bersebelahan dengan rumah mereka.
"Pak, Yesha mau cerita. " Yesha dengan ragu ingin menceritakan apa yang dia alami selama dua hari ini.
"Apa, ceritalah. " kata bapaknya sambil menyesap teh yang dibuatkan istrinya.
"Yesha, dua hari ini sudah berikhtiar, pak. Yesha sudah melakukan sholat malam, mulai dari sholat tahajud, hajat sampai istikharah. " ucap Yesha sambil menundukkan kepalanya.
"Lalu, apa kau sudah mendapatkan jawaban? "
Yesha mengangguk.
"Apa? "
"Di hari pertama, aku melihat mas Abhi tersenyum kepadaku. Hari kedua, aku melihat mas Abhi sedang asik bermain bola bersama Aksa, namun dia juga sesekali tersenyum padaku. "
Pak Pram menyunggingkan senyumnya mendengar perkataan anaknya itu.
"Insyaa'Allah itu jawaban dari mimpimu itu, nduk. Sekarang kamu tinggal meyakinkan hatimu saja, jika suatu hari nanti Abhi mengatakan perasaan nya padamu kamu sudah punya jawaban. Jika dalam waktu dekat dia belum mengatakan apapun, kamu jangan kecewa. Ingat, jika dia jodohmu dia tidak akan kemana. Tapi jika dia bukan jodohmu, sejauh apapun kau kejar dia tidak akan mendekat. Kamu jangan terburu-buru, ya. Jalani saja semuanya seperti air mengalir. Bapak dan ibu tidak akan memaksamu, karena bapak yakin kamu sudah bisa berdiri di atas kedua kakimu sendiri saat ini. "
"Iya, pak. Yesha sekarang tau apa yang harus Aku lakukan. Tinggal satu malam lagi, Yesha berikhtiar pak untuk memantapkan hati Yesha. "
"Baguslah, meminta petunjuk kepada yang Maha Kuasa adalah jalan terbaik bagi kita, karena kita mendapatkan jawaban langsung dari sang pemilik takdir. "
Tanpa mereka sadari, sepasang telinga mendengarkan obrolan mereka dengan seksama. Dan menerbitkan senyuman di bibirnya.
__ADS_1
"Sekarang giliranku yang akan beraksi. "