Demi Sebuah Kata Bakti (Kau Abaikan Anak Istri)

Demi Sebuah Kata Bakti (Kau Abaikan Anak Istri)
Fakta Tentang Arum


__ADS_3

Siang itu, Abhi mendapatkan full sevis dari istrinya dihari ulang tahunnya. Dia tidak peduli entah itu pagi, siang ataupun malam, dia selalu memintanya kepada istrinya itu. Apalagi usia kandungan Yesha yang memasuki trimester ke dua, tidak begitu membuatnya khawatir seperti saat trimester yang pertama. Karena janinnya sudah lebih kuat.


"Faster sayang... " racau Abhi yang sudah melakukan pelepasan yang ke dua kalinya dan akan menjadi ketiga kalinya saat dia meminta istrinya itu berada diatas.


Dengan nafas yang sudah tersengal dan gerakan yang sudah hampir melemah, Yesha menyerah dan akhirnya Abhi yang membalikan keadaan, dia sekarang berada di atas Yesha, dengan masih terus memompa untuk mengejar pelepasan yang ketiga kalinya.


Dan Akhirnya, dia ambruk di samping istrinya itu. Sungguh benar-benar gila permainan Abhi siang ini. Setelah menghajar Yesha semalam, dia melakukannya lagi siang ini, hingga waktu menjelang sore.


"Terimakasih sayang, kamu memang luar biasa. " ucap Abhi sambil memeluk tubuh istrinya yang masih polos, dan terus mengusap perut Istrinya yang membuncit dan berisi darah dagingnya di sana.


"Aku tidur sebentar saja ya, mas capek banget. " keluh Yesha.


"Tidurlah, aku akan memasang alarm. nanti jam empat kita bangun. " kata Abhi menyusul Yesha yang sepertinya akan tebuai ke alam mimpi.


*


"


Sore itu sepulang dari kantor, Mario kembali ke apartemennya untuk bersiap karena harus menjemput adik dan anak bosnya. Lelah memang, tapi ini harus dia lakukan karena ini sudah menjadi tugasnya sebagai seorang asisten, yang harus siap kapan pun untuk melakukan tugasnya. Sebenarnya ada sopir yang bisa menjemput mereka, tapi dengan dalih keamanan Mario tidak bisa menolak nya lagi.


Tepat pukul enam, mobil Mario sudah terparkir di depan rumah Yesha dia membunyikan bel berkali-kali agar seseorang membukakan pintu pagarnya, dan bi Sumi yang keluar membukakan pagar untuk Mario.


"Sore bi, apa anak-anak sudah siap. "


"Sudah mas, tinggal Aksa yang belum, dia barusan mandi karena tadi susah di suruh mandi." kata bi Sumi.


"Ya sudah saya tunggu disini saja bi. " Mario memutuskan menunggu anak-anak itu diluar saja, karena dia ingin menikmati rokoknya.


Namun sesosok wanita yang keluar dari tempat kost mengalihkan pandangannya. Mario urung menyalakan rokok ditangannya dan berjalan menghampiri Maya.


"May.. " sapanya saat sudah berhadapan dengan Maya.


"Ehh, Kamu. Ada apa? "


"Aku disuruh pak Abhi menjemput anak dan adik-adiknya untuk makan malam. Karena hari ini adalah hari ulang tahun Pak Abhi. "

__ADS_1


"Ooohhh, pantas saja. Tadi Yesha ada yang jemput juga. "


Mario mengangguk.


"Mario, ada yang ingin aku katakan padamu. " kata Maya yang tidak ingin basa basi.


"Apa? "


"Arum ingin bertemu denganmu. Dan ingin memberikan jawaban atas semua pertanyaanmu kemarin. " ujar Maya yang menyampaikan pesan dari Arum.


"Arum? ingin bertemu denganku? " tanya Mario tak percaya.


Dan dibalas anggukan kepala oleh Maya.


"Kapan? " tanya Mario tak sabaran.


"Terserah kamu Mario. Kapan kamu punya waktunya. " ujar Maya yang menyerahkan semuanya pada Mario.


"Baiklah, nanti kalau aku tidak ada tugas malam aku akan memberi kabar padamu, atau di akhir pekan. Sehingga kita bisa sekalian liburan. " usul Mario yang di angguki Maya.


"Terserah padamu, Mario. Dan berdoalah semoga Arum memberikan jawaban yang baik untukmu.


" Ah iya, aku lupa.. "


"Om, ayo. " teriak Jihan yang sudah siap dengan bersama Aksa dan Danu.


Mario akhirnya pamit kepada Maya, dan berjanji akan menghubunginya nanti.


Mereka akhirnya, menuju hotel tempat Abhi merayakan ulang tahunnya dengan makan malam bersama.


"Om... Om Mario kenal sama tante Maya? " Aksa Tiba-tiba bertanya pada Mario.


"Iya memang kenapa Aksa? Dulu tante Maya adalah teman sekolah om waktu SMA. "


"Oohhh... " semua anak itu membulatkan bibirnya.

__ADS_1


"Om tau nggak, sama mbak Arum? anaknya tante Maya. " tanya Aksa lagi


"Iya, kenapa? " tanya Mario balik karena penasaran dengan Arum.


"Mbak Arum sering di bully om, karena nggak punya ayah.Mbak Arum kan sama kayak Aksa, ibu Aksa dulu juga pisah sama ayah Dika. Tapi Aksa sekarang bersyukur ibu atau mama sekarang udah menikah sama papa Abhi. " Aksa mulai cerita tentang Arum.


"Mbak Arum juga nggak pernah jajan di sekolah. Kadang Aksa yang ngasih uang mbak Arum dua ribu biar mbak Arum bisa beli jajanan." Cerita Aksa tadi sungguh mengiris hati Mario sebagai ayah biologis Arum.


"Memang Aksa uang sakunya berapa? " tanya Jihan yang ikut masuk dalam cerita Aksa.


"Cuma lima ribu sih. Tapi Aksa kan bawa bekal sama minum dari rumah mbak. Jadi Aksa masih bisa kenyang. "


"Aksa pinter ya, mau berbagi. " Danu juga ikut menimpali.


"Tentu saja mama Sama papa kan yang ngajari Aksa, supaya Aksa mau berbagi sama orang lain. Karena berbagi itu, pahalanya besar. " Kata Aksa membanggakan nasehat orangtuanya.


Mario terdiam mendengarkan semua cerita Aksa, dia semakin bertekad bulat untuk menikahi Maya dan tidak akan menyia-nyiakan mereka berdua.


Setelah menempuh perjalanan yang lumayan memakan waktu akhirnya mereka sampai di tempat Abhi dan Yesha berada.


"Mama dan papa kemana kok nggak ada? "


'Mungkin masih bersiap, Ayo kita tunggu di meja yang sudah di pesan." ujar Mario dia lalu menanyakan meja reservasi atas nama Abhiseva Pradipta.


Mereka lalu duduk di tempatnya. Sedangkan Mario segera menghubungi Abhi, dan memberi tahu kalau mereka sudah datang.


"Aku akan segera kesana, tunggu sebentar. " ujar Abhi diseberang telpon.


Mendengar itu, Mario menyampaikan kepada anak-anak itu kalau Abhi dan Yesha akan segera datang. Dan benar saja, mereka berdua akhirnya datang juga.


Abhi dan Yesha segera duduk di tempatnya, Mario yang merasa pekerjaan nya sudah selesai dia segera pamit undur diri.


"Kalau begitu karena tugas saya sudah selesai bolehkan saya undur diri tuan, nyonya. " pamit Mario kepada sepasang suami istri itu.


"Kenapa buru-buru sekali?" ujar Yesha. "Kami sudah menyiapkan satu tempat dudukmu Mario. Jangan pergi dulu, kita makan malam bersama, hanya tinggal menunggu papa dan mama. " ujar Yesha lagi.

__ADS_1


"Istri ku benar Mario. Kami juga menyiapkan satu kursi untukmu. Duduk lah kita makan malam bersama, dan tidak ada penolakan. Karena aku yang mengundangmu. " Abhi juga angkat bicara. Kali ini bukan hanya permintaan tapi lebih kepada perintah.


Akhirnya dengan terpaksa Mario duduk di tempatnya dan menunggu Pradipta dan istrinya yang sepertinya masih dalam perjalanan. Mario sebenarnya merasa sangat tidak enak karena hanya dia orang asing di sana. Tapi permintaan Abhi tidak bisa di bantah nya.


__ADS_2