Demi Sebuah Kata Bakti (Kau Abaikan Anak Istri)

Demi Sebuah Kata Bakti (Kau Abaikan Anak Istri)
Hasutan Bu Ayu


__ADS_3

Dika pulang ke rumahnya dengan wajah kusut, karena harus menghadapi masalah baru. Setelah perceraiannya dengan Yesha yang menimbulkan penyesalan di hatinya, kini dia harus berhadapan dengan Vio yang mengaku hamil anaknya.


Bagaimana Dika bisa menerima anak yang di kandung Vio karena hasil dosa, sedangkan anaknya sendiri Aksa yang lahir karena hasil hubungan halalnya saja, Dika tidak bisa menyayanginya. Dika bingung dengan keadaan yang harus dihadapinya saat ini.


Masuk ke dalam rumah, ternyata dia sedang di tunggu bu Ayu di ruang keluarga. Sengaja bu Ayu tidak tidur karena menunggu kedatangan Dika, untuk bicara dengannya.


"Belum tidur, bu? " tanya Dika kepada ibunya.


"Belum, ibu sengaja menunggumu pulang, ada yang mau ibu bicarakan denganmu. Sini, duduk sini." kata bu Ayu menepuk-nepuk kursi di sampingnya.


Dika menghembuskan napasnya dengan kasar, lalu mendudukkan bokongnya di kursi yang bersebelahan dengan ibunya. Dengan lembut bu Ayu mengelus punggung Dika.


"Bagaimana perasaanmu dengan Vio Dika? " kafa bu Ayu kemudian setelah lama terdiam.


"Aku nggak tau bu, selama ini aku cuma bersenang-senang sama dia. Kami hanya melakukan hubungan simbiosis mutualisme, saling memuaskan satu sama lain. Aku tidak pernah berfikir sampai sejauh ini. Dia hamil lalu menikah. " Jelas Dika kepada ibunya.


"Lalu, apa yang akan kamu lakukan sekarang? "


"Entahlah, aku bingung. Aku baru saja bercerai bu. Aku masih belum menata hati dan belum ingin menikah lagi. " kata Dika mengusap wajahnya dengan kasar.


"Jangan bilang kamu masih memikirkan Yesha. Ibu tidak akan suka jika kamu berhubungan dengan Yesha lagi. Tidak akan pernah suka. " kata Bu Ayu menolak dengan tegas.


Dika hanya terdiam mendengar ocehan ibunya itu. Dia juga berfikir, Yesha mana mungkin mau kembali padanya setelah apa yang dia dan keluarganya lakukan padanya.


"Dik, bagaimana jika kamu nikahi saja Vio. Dia kan anak orang kaya tuh, apalagi posisinya di kantor juga lebih tinggi dari posisimu. Mungkin itu bisa menguntungkan bagi kita nanti. " Bu Ayu mencoba mengompori anaknya itu.


Dika memicingkan matanya menatap ibunya.


"Maksud ibu gimana?"


"Ya, kamu bilang aja. Kamu mau menikahinya asalkan kamu dapat jatah bulanan dari dia buat ibu, Atau gimana gitu. Yang penting manfaatkan kekayaannya. Jangan lepaskan kesempatan ini. jika kamu menikah dengannya, mungkin saja kamu nanti bisa menguasai semua kekayaan keluarga Yesha. " kata bu Ayu dengan mata berbinar.


Mendengar itu, Dika memijit pelipisnya yang sangat pusing, apalagi mendapat masukan dari ibunya yang tidak berfaedah.


"Nanti aku pikirkan lagi bu, sekarang ibu tidurlah. Aku juga mau tidur. Aku sudah sangat lelah, baik tubuh dan pikiran ku sangat lelah saat ini. " kata Dika yang akhirnya mulai mengeluh.

__ADS_1


"Ya sudah, tidurlah. Dan pikirkan baik-baik saran ibu. " kata bu Ayu lalu beranjak dari duduknya menuju kamarnya.


Dika masuk ke dalam kamarnya dan langsung menghempaskan tubuhnya di atas kasur. Dengan satu tangan di atas kepala, Dika mulai memikirkan apa yang harus dia lakukan kepada Vio. Menikahinya atau menyuruhnya menggugurkan kandungan?


Selama ini dia sudah banyak berbuat dosa. Haruskan dia menambah dosanya lagi dengan membunuh bayi yang tak berdosa itu. Apa yang harus dia lakukan? Dika seolah mendapat jalan buntu untuk memecahkan masalah ini. Apalagi dia masih belum bisa melupakan penyesalan nya atas perceraian yang baru saja dia alami. Tapi jika mengingat kekayaan yang di miliki Vio, dia membenarkan juga saran dari ibunya.


"Aaarrrggghhhh..... " Dika menggeram dan mengacak rambutnya kasar.


"Sudahlah. Apa kata besok,. " putusnya lalu mulai memejamkan matanya.


*


Keesokan harinya, Yesha yang sudah mendapatkan saran dari Abhi untuk membeli rumah sebelah pun, langsung menemui pemilik rumah untuk bernegosiasi dengan pemilik rumah Barangkali dia bisa mendapatkan harga murah, seperti harga rumah yang bu Dian berikan padanya.


Tawar menawar dilakukan dengan pemilik rumah berlangsung dengan alot. Hingga membuat Yesha menyerah.


"Ya sudah, pak, bu. Mohon maaf kalau harganya segitu, saya tidak mampu membelinya. Karena uang yang saya miliki tidak sampai segitu. Saya hanya bisa memberikan penawaran sekitar enam ratus juta. Di atas itu, saya tidak bisa mu gkin belum rejeki saja. Kalau begitu, saya permisi mohon undur diri. " Ujar Yesha kepada pemilik rumah.


Pemilik rumah pun saling berpandangan.


"Baiklah, mbak Yesha. Kami juga minta maaf kalau harga segitu masih belum dapat. " ujar pria pemilik rumah.


Yesha langsung masuk ke dapur untuk memasak bekal makan siang Abhi. Dan menyuruh Aryo nanti mengantarkannya. Sejauh ini, Yesha juga masih belum memiliki perasaan pada Abhi. Dia hanya menganggap Abhi seorang penolongnya, yang membantunya disaat dia membutuhkan bantuan. Dan untuk bekal makan siang ini, Yesha memberikannya dengan senang hati sebagai ucapan terima kasih karena sudah membantunya mempermudah proses perceraian.


Usahanya juga berjalan dengan lancar selama ini, jadi dia bisa menabung sedikit demi sedikit untuk menguliahkan adiknya seperti janjinya kepada kedua orang tuanya. Walau orang tuanya tidak mengharapkan itu, karena adik Yesha Danu masih menjadi tanggung jawab orang tuanya dalam hal pendidikan. Tapi tidak ada salahnya Yesha membantu, setelah orang tuanya memberikannya uang yang luar biasa banyak kepada nya.


Aksa dan Yesha sedang makan siang, Tiba-tiba terdengar suara Jihan yang masuk ke dalam rumah untuk memakan jatah makan siangnya.


"Siang mbak.... " kata Jihan sambil mendudukkan dirinya di sebelah Aksa.


"Siang Jihan. Sudah selseai kuliahnya? " tanya Yesha sambil menyuapkan makanan ke dalam mulut nya.


"Belum mbak, ini lagi istirahat. Aku balik dulu buat makan siang. Nanti jam satu aku balik lagi lanjut kuliah sampai jam tiga. " kata Jihan sambil mengambil nasi ke piringnya.


"Jihan, nanti kalau kamu nggak repot, gimana kalau kita jalan-jalan ke mall. Mbak suntuk banget nih, pengen cuci mata. Sekalian ngajak Aksa main." Kata Yesha yang mengajak Jihan keluar malam ini.

__ADS_1


"Boleh, mbak. Lagian besok kan libur tanggal merah. jam berapa mbak? " Jihan merasa senang karena di ajak jalan sama Yesha.


"Habis maghrib gitu. Biar kita nggak punya tanggungan sholat. "


"Oke." Jihan tiba-tiba punya ide yang terlintas di otaknya, untuk mendekatkan kakaknya dengan Yesha.


Setelah makan, Jihan langsung mengotak atik ponselnya mengirimkan pesan kepada kakak nya.


✉️ "Mas, Mbak Yesha ngajak aku jalan-jalan ke mall sama Aksa. Barangkali mas Abhi mau nyusul. "


Pesan terkirim, jihan pun terkekeh geli membaca pesan yang dikirimkannya kepada Abhi.


"Kenapa, Jihan. Seneng banget kelihatannya. " tanya Yesha yang penasaran melihat tingkah Jihan.


"Nggak kok mbak, ini lho anak-anak ngirim gambar lucu. " Elak Jihan.


"Ya, sudah mbak. Aku balik ngampus dulu. Nanti aku kesini habis maghrib. " pamit jihan hendak berangkat.


"Baiklah, Oh iya nanti malam kita makan di luar aja, ya. mbak yang traktir. " ujar Yesha sebelum Jihan pergi.


"Oke mbak... " Jihan langsung melangkah keluar, menuju kampusnya lagi.


Yesha menggeleng kan kepalanya melihat tingkah Jihan. Dari semua penghuni kost, dia hanya dekat dengan Jihan. Mungkin karena Jihan sering main ke rumahnya dan sifat kekanakannya,Yesha jadi menganggapnya adik. Sedangkan penghuni kost lainnya kebanyakan sudah bekerja, mereka hanya di tempat kost jika malam hari hendak tidur.


*


Di kantor Abhi,


Abhi yang sedang menikmati makan siangnya mendpaat oesan dari Jihan. Lalu tanpa pikir panjang Abhi langsung membaca pesan yang dikirimkan adiknya itu,dan membuatnya tersedak.


" Apa-apaan Jihan ini. Kenapa memberitahu segala sih. Dasar bocah. " tanpa membalas pesan Jihan Abhi melanjutkan makan siangnya. Makan siang yang selalu di tunggunya dan membutnya kenyang.


Setelah makan, dia membaca lagi pesan yang dikirimkan adiknya itu.


"Haruskah aku datang? Lalu untuk apa juga aku datang. Kurang kerjaan aja. " Abhi sedang bergelut dengan pikirannya.

__ADS_1


"Jihaan.... kamu benar-benar ya.


" Mau ngerjainaku rupanys. Dasar bocah. "


__ADS_2