Demi Sebuah Kata Bakti (Kau Abaikan Anak Istri)

Demi Sebuah Kata Bakti (Kau Abaikan Anak Istri)
Pernikahan Dika


__ADS_3

Jika Dika dan Vio sedang disibukkan dengan persiapan pernikahan yang akan dilakukan satu minggu lagi, Yaaa walau hanya pengesahan pernikahan secara hukum dan agama tetap saja Vio ingin tampil berbeda dari biasanya.


Lain lagi dengan Ayesha yang sekarang sudah memiliki sebuah rumah lagi, setelah penandatanganan akta jual beli dan pembayaran kini rumah itu sudah menjadi hak milik Yesha. Dan Yesha akan merubah rumah itu menjadi sebuah tempat usaha barunya.


Yesha memang hanya lulusan SMA, dan karena jenjang pendidikan itulah Yesha selalu mendapat hinaan dari mantan mertuanya dulu. Dia memang tidak bisa melamar kerja di kantoran, tapi dengan keuletan dan ketekunannya dia bisa membuka lapangan pekerjaan untuk orang-orang disekitarnya, dan pasti akan menggaji mereka. Itulah kenapa jangan pernah memandang seseorang hanya dari asal usul pendidikan saja, tapi lihatlah dari cara pandangnya dalam berfikir.


Selama beberapa hari terakhir Yesha melakukan pertemuan intens dengan Abhi, walau disana pasti ada Jihan diantara mereka. Yesha tidak ingin ada fitnah yang menyebar karena kedekatannya dengan Abhi. karena kedekatan mereka sampai saat ini hanyalah karena bisnis belaka, bukan dekat karena suatu hubungan.


"Kalau menurutku, jangan membuat rumah makan sederhana Yesha. Lebih baik kamu membuat sebuah kafe minimalis saja karena disini kan dekat kampus juga, trus disini juga banyak anak-anak muda yang nongkrong. Jadi, kalau menurutku tempatnya bisa kita disain seperti kafe tapi dengan makanan rumahan seperti yang kamu inginkan. Istilahnya apa ya? Warung modern lah. " Abhi mengeluarkan segala idenya untuk membantu Yesha mewujudkan keinginannya.


Abhi yang membantu Yesha untuk mendesain rumah makan impian Yesha, mungkin akan dibuat mirip kafe tapi dengan menu makanan sederhana. Karena luas rumahnya akan dibagi dua untuk toko sembako nya juga. Jadi Yesha akan mengambil tema estetik minimalis untuk warung modern, kalau menurut Abhi. Tempatnya nanti akan asik buat nongkrong para mahasiswa dan orang sekitar kalau mau ngopi.


"Jadi, semua bahan ini barang-barang ini harus segera kita beli sebelum kehabisan. Mumpung promo mbak. " kata Jihan dengan semangat saat melihat barang-barang untuk mengisi kafe nanti.


"Iya, nanti kita belanja online sebagian dan sebagian lagi kita belanja di toko saja. " kata Yesha mengiyakan usul Jihan.


"Nanti aku tanya papa mbak, apakah punya kenalan penjual furnitur yang harganya agak miring, tapi kualitasnya bagus. " kata Jihan kemudian.


"Baiklah, terimakasih Jihan. "


Abhi merasa bahagia setiap kali melihat interaksi antara Jihan dan Yesha. Sifat Yesha yang sangat keibuan dan penuh kasih sayang itu, sepertinya sudah menggetarkan hatinya. Mungkin dia hanya perlu meyakinkan dan memantapkan hatinya lagi untuk membuka diri dan masuk kedunia Yesha lebih dalam.


Sedangkan Yesha, dia selalu merasa kalau Kedua kakak adik inilah yang selalu membantu Yesha dalam mewujudkan segala keinginannya. Karena itu Yesha sangat berterimakasih kepada mereka baik Abhi atau Jihan.


Setelah semua deal sesuai kesepakatan Abhi dan Yesha, dia lalu memanggil Aryo. Dia akan meminta tolong kepada Aryo untuk mencari beberapa orang tukang untuk merenovasi rumah barunya untuk dijadikan tempat usaha. Yesha selalu bergerak cepat untuk mewujudkan keinginannya dia tidak ingin menunda-nunda sesuatu yang sudah ada di kepalanya.


*


*

__ADS_1


Hari pernikahan Dika dan Vio akhirnya diselenggarakan. Seperti dugaan sebelumnya, Vio tidak akan membuat pernikahannya akan biasa saja. Dia menggelontorkan banyak uang hanya demi membeli baju pengantin menyewa MUA dan dekorasi pernikahan untuk mengabadikan moment bersejarah untuknya dan Dika.


Dika hanya menggelengkan kepalanya saat melihat calon istrinya itu mendekat dengan pakaian yang lumayan mewah.


"Buat apa beli gaun kayak gitu, mahal-mahal toh cuma dipake 1-2 jam buang-buang uang saja. " Gerutu bu Ayu yang melirik calon menantu nya itu dengan tatapan sinis.


Vio hanya menanggapinya dengan senyuman. Dia tidak akan memperdulikan apapun ucapan ibu mertuanya itu saat ini, karena yang dia inginkan saat inj hanyalah resmi menjadi istri Dika, orang yang sangat di cintainya. Vio datang sendiri tanoa perwakilan dari orangtuanya ataupun keluarga lainnya. Karena, dia hanya hidup sebatangkara selama ini. Dibesarkan di panti asuhan dan bisa sukses sampai sekarang itu karena kerja keras yang dijalaninya selama ini. Jadi Vio bukanlah orang yang mudah untuk di injak-injak oleh orang lain.


Acara ijab qobulpun di mulai, mereka berdua akhirnya sah menjadi pasangan suami istri. Violet sangat bahagia dengan status barunya. Sedangkan Dika dia hanya biasa saja, toh ini kan pernikahan keduanya. Jadi bagi Dika tidak ada bedanya.


"Setelah ini kalian berdua akan tinggal di mana? " tanya bu Ayu setelah semua acara selesai.


"Tentu Saja...." perkataan Dika terpotong oleh kata-kata vio.


"Tentu saja kami akan tinggal di rumah kami nanti. iya kan, sayang. " Sebuah kalimat yang tidak ingin bu Ayu dengar.


"Benar itu Dika." Bu Ayu memastikannya.


"Entahlah bu, Vio mengajakku ke rumahnya. karena dia hanya tinggal sendiri. " Jawab Dika singkat.


"Kenapa tidak tinggal di sini aja sih? " tanya bu Ayu kemudian.


"Di sini sudah banyak orang bu, ada mas Bagus sama istrinya terus ada Dila juga. Nggak enak kalau rame-rame. Kita kan juga butuh privasi. Iya kan mas? " Vio melemparkan pertanyaan itu kepada Dika yang sudah menjadi suaminya.


Dika hanya menggedikkan bahunya acuh.


Vio lalu beranjak ke kamar Dika dan mulai membereskan beberapa baju Dika, yang akan di bawa ke apartemennya. Sengaja Vio tidak bilang kalau mereka akan tinggal di apartemen, tetapi di rumah. Dia tidak ingin mertuanya itu datang ke apartemennya. Setelah membereskan semua


barang-barang yang perlu di bawa, Vio keluar dengan membawa koper yang berisi semua pakaian Dika. Bu Ayu yang melihatnya pun langsung melotot tak percaya.

__ADS_1


"Apa-apaan ini. " tanyanya dengan marah.


"Ini baju mas Dika sudah aku bereskan. Ayo mas, kita segera pergi. " Ajak Vio tanpa memperdulikan ibu mertuanya yang tengah marah menatapnya.


Dika pun berdiri, dan langsung menyalami tangan ibunya dan kakaknya. Sedang kan Dila, dan Maya entahlah mereka dimana saat ini.


"Aku pamit dulu, bu. " kata Dika kemudian.


"Dik... masa kamu pergi tanpa memberikan uang pada ibu. " kata bu Ayu dengan wajah memelasnya.


Sudah Dika duga, ibunya hanya melarangnya keluar dari rumah ini hanya karena belum memberinya uang. Dika pun mengeluarkan dompetnya dan memberikan beberapa lembar uang merah kepada ibunya.


"Sudah ya bu, Dika pergi dulu. Nanti kalau ada apa-apa telpon Dika aja. " katanya sambil berlalu menggunakan mobilnya, karena mobil vio masih terparkir anteng di parkiran apartemen.


Setelah mobil itu menjauh, Bu Ayu baru tersadar. Kalau mobilnya juga nggak ada .


"Lho... lhoo... lhoo.... itu mobil kenapa di bawa? bukannya Vio sudah punya mobil sendiri. " teriaknya, tapi tidak ada yang mendengarnya karena mobil sudah melesat .


Vio yang melihat itu dari kaca spion, tersenyum sinis ke arah ibu mertuanya.


"Setelah ini, tidak akan ada lagi uang yang akan kalian dapatkan secara cuma-cuma." kata Vio dalam hati.


"Semua uang Dika akan menjad milikku." gumamnya lagi.


Sedangkan di benak Dika dia menginginkan uang Vio yang akan diberikan untuk ibunya, sedangkan uangnya sendiri akan dia simpan untuk memperkaya dirinya sendiri.


Banyak rencana licik yang sedang berada di pikiran mereka masing-masing. Ingin menguasai satu sama lain, tanpa memikirkan dampaknya pada anak yang berada di dalam kandungan Vio.


Vio sangat yakin pada dirinya sendiri, kalau dia akan mampu mengendalikan Dika dan keluarganya suatu hari nanti. Seperti yang dia lakukan kepada para bahannya di kantor. Dia bukan wanita lemah sepeti Yesha, yang hanya mau menurut saat di tindas.

__ADS_1


Vio belum tau saja, pria seperti apa yang dia nikahi itu....


to be continued


__ADS_2