
Setelah kepergian ketiga orang tidak tau diri itu, Abhi dan semua orang kembali masuk ke dalam rumah. Setelah sebelumnya Danu mengunci pagar. Yesha segera ke dapur dan mengambil kan air dingin untuk meredakan amarah suaminya.
"Minum dulu mas. " Yesah menyodorkan minuman itu kepada suaminya.
"Terima kasih. " Abhi langsung menegak habis minuman yang diberikan istrinya itu.
"Maafkan aku, aku sangat marah tadi. " ujar Abhi kepada semua orang.
"Nggak apa-apa mas. Kami mengerti. "
"Tentu saja, mas Abhi marah. Kalau rumahnya dibuat seenaknya sendiri sama orang lain, apalagi mereka hanya seorang pembantu yang di tugaskan membantu dan menjaga rumah ini. Eh, malah dibuat kayak rumah sendiri. Emang dasar pembantu nggak ada akhlak. " Jihan masih saja mengomel karena ulah pembantu kakaknya itu.
"Memangnya sudan berapa lama, mas Abhi nggak mengunjungi rumah ini? " tanya Yesha.
"Ya terakhir kesini, sebelum kenal kamu. Setelah kenal dan deket sama kamu aku nggak pernah kesini lagi, dan menitipkan rumah ini kepada mereka. "
"Pantesan." gumam Yesha.
Abhi menoleh ke arah Aksa yang menjaga jarak darinya. Dia berfikir mungkin Aksa takut melihatnya marah tadi.
"Aksa.... sini nak. " panggil Abhi lembut.
Aksa menggeleng dan mendekat kearah Danu yang ada di sampingnya.
"Aksa.. sini, sama mama. " Kini Yesha yang memanggilnya, Aksa menurut dan langsung menghambur ke pelukan sang mama.
Melihat itu, Abhi menghela nafasnya.
"Aksa, nggak usah takut sama papa Abhi. Papa Abhi kan baik orangnya. "
"Aksa takut papa marah seperti ayah. "
"Enggak... papa Abhi baik, dia tadi marah sama orang yang sudah jahat sama papa. Kalau kita nggak jahat sama papa, papa juga nggak akan marah. Iya kan, pa? " Yesha mencoba membujuk anaknya itu, agar tidak takut lagi kepada Abhi.
"Iya, papa kan sudah janji sama Aksa, kalau papa akan menjaga mama dan Aksa. Jadi, nggak mungkin papa akan menyakiti atau marah kepada kalian. Papa hanya marah sama orang yang sudah mengganggu keluarga papa. Oke. " Abhi memberikan pengertian
Aksa mengangguk.
"Kalau begitu, sini sama papa. "
Aksa langsung berhambur kepelukan Abhi.
"Papa janji kan nggak akan marah sama Aksa? " tanya Aksa hang sudah berada di pangkuan Abhi.
"Selama Aksa nggak salah atau berbuat kesalahan papa nggak akan pernah marah kepada kalian. " ujar Abhi. "Makanya, Aksa harus jadi anak yang baik, penurut dan kuat nantinya. Okey.! "
__ADS_1
Aksa mengangguk.
Yesha bahagia melihat mereka berdua yang sangat akrab, seperti ayah dan anak kandung.
"Ya sudah, ayo kita makan malan dulu. Makan malam seadanya ya... mama cuma masak apa yang ada di lemari es. Besok kita akan membeli bahan makanan di dapur. "
Semuanya akhirnya melakukan makan malam dengan menu seadanya. Tapi meski dengan menu seadanya mereka melahap makanan itu hingga tandas.
"Yah meski menu seadanya, tapi kalau mbak Yesha yang masak, beuh.... sedep bener... " puji Jihan setelah menghabiskan makanan di piring nya, membuat semua orang menggelengkan kepala.
************
Tiga bulan berlalu setelah kejadian dirumah Abhi. Setelah hari itu Abhi dan Yesha memutuskan untuk selalu mengunjungi rumah mereka setiap seminggu sekali, dan untuk pembantu Abhi sudah tidak percaya kepada siapapun. Dia meminta tolong kepada mamanya untuk mengirim dua pembantunya tiap tiga hari sekali untuk membersihkan rumah Abhi. Dan penjaga rumah, dia titipkan kepada satpam komplek dengan memberi mereka uang tambahan.
Pagi itu, Yesha merasa lemah sekali dan malas untuk keluar kamar. Biasanya, setelah sholat Subuh dia akan langsung ke dapur. Tapi tidak untuk hari ini. Yesha kembali berbaring di samping suaminya yang juga kembali tidur setelah sholat.
Abhi mengernyit heran, karena tidak biasanya istrinya bersikap seperti ini. Biasanya dia paling rajin menyiapkan makanan untuk sarapan semua orang.
"Tumben tidur lagi, kenapa sayang? Apa kamu nggak enak badan. " Abhi menempelkan telapak tangannya di kening Yesha.
"Nggak panas kok. "
Yesha diam saja tanpa menjawab semua ucapan Abhi dia malah asik menenggelamkan kepala nya di dada bidang suaminya. Dan menghirup aroma tubuh suaminya yang membuat nya tenang dan nyaman.
"Sayang, kamu nggak masak? sebentar lagi Aksa kan berangkat sekolah. "
Yesha menggeleng, dan makin mengeratkan pelukannya kepada sang suaminya.
Abhi pasrah pagi ini dengan sikap manja istrinya itu. Dia menikmati perlakuan istrinya yang tidak biasa.
Hingga gedoran pintu, membuat Yesha melepaskan pelukannya dari suaminya.
"Aku buka pintu dulu, sepertinya Aksa. " Abhi segera membukakan pintu kamar, dan benar ternyata Aksa yang menggedor pintu kamar orang tuanya.
"Ada apa Aksa? "
"Mama mana, kok nggak kelihatan. " Tanya Aksa sambil mencari mamanya.
"Mama masih tidur, katanya nggak enak badan. " kata Abhi sambil menempelkan telunjuknya di bibir, agar Aksa tidak berisik karena akan membuat Yesha tebangun.
Aksa lalu mendekati mamanya dan memeriksa keningnya sama seperti Abhi tadi.
"Tapi kok nggak panas, pa? "
"Papa juga nggak tau, dari tadi mama tidur lagi setelah sholat Subuh. Aksa kali ini bersiap sendiri, makan apa yang dibikin bi Sumi. Biarkan mama istirahat dulu. Nanti berangkatnya minta antar om Danu. "
__ADS_1
Aksa mengangguk, "papa jaga mama ya. " katanya mengecup kening mamanua dan segera berlari keluar.
Yesha membuka matanya saat mendengar anaknya sudah keluar. Dan menoleh kearah suaminya.
"Kamu baik baik saja kan? ' tanya Abhi penasaran.
" Iya aku baik-baik saja mas. Aku pengen tiduran aja hari ini. Lemes banget badanku. Nanti kalau sudah enakan aku bangun. Kamu bawa kesini sarapanmu, mas. Nanti aku suapi. " kata Yesha sebelum suaminya memasuki kamsr mandi.
"Iya, sekarang istirahatlah. " perintah Abhi lalu masuk ke dalam kamar mandi sedangkan yesha kembali tidur.
Abhi mengambilkan seporsi makanan berukuran jumbo, untuk dirinya dan Yesha. Karena dia ingin istrinya itu tetap makan dan tidak ingin dia kelaparan.
Yesha bangun dan segera menyuapi suaminya yang nggak doyan makan kecuali dari tangannya. Namun ketika Abhi ingin menyupi istrinya, Yesha segera berlari kekamar mandi dan memuntahkan semua isi perutnya yang belum diisi apapun itu.
Abhi segera menyusul istrinya ke kamar mandi. Dan melihat tubuh Yesha luruh di atas lantai kamar mandi.
"Sayang kamu kenapa? " tanya Abhi dengan panik.
Yesha hanya menggeleng lemah.
Abhi segera menggendong Yesha kembali ke kamar dan menidurkan nya di atas ranjang.
"Kita ke rumah sakit ya? Itu wajah kamu pucet banget. " kata Abhi tapi tak direspon Yesha yang memejamkan matanya.
Abhi segera berganti pakaian, dan mengganti pakaian Yesha dengan pakaian baru yang nyaman. Yesha pasrah aja dengan apa yang dilakukan suaminya kepadanya. Karena dia benar lemas dan tak punya tenaga sepertinya.
Abhi memanggil Danu yang baru saja pulang dari mengantarkan Aksa ke sekolah untuk segera memanaskan mobilnya.
"Mbak Yesha kenapa mas? " tanya Danu yang juga penasaran kakanya itu tidak keluar kamar dari pagi, dan pulang-pulang lihat wajah Abhi yang panik..
"Nggak tau Dan, ini mau mas bawa ke rumah sakit. tolong kamu siapin mobilnya ya. "
"Iya mas. " Danu segera bergegss setelah mendengar kalau mbaknya akan dibawa ke rumah sakit.
Setelah persiapan nya dan sudah selesai Abhi segera menggendong Yesha lagi masuk ke dalam mobil. Membuat semua pegawainya melongo, dan bertanya-tanya apa yang terjadi pada majikan mereka.
Abhi segera menjalankan mobilnya ke rumah sakit terdekat. Tak butuh waktu lama, dia sampai dan langsung disambut petugas rumah sakit. Setelah memarkirkan mobilnya, Abhi segera menyusul istrinya itu di ruang IGD.
Ingin melihat keadaanya pun tidak boleh, karena masih dalam penanganan dokter. Tak lama dokter pun keluar dari ruang pemeriksaan, dan langsung menemui Abhi.
"Bagaimana keadaan istri saya,dokter. "
"Maaf tuan, saya masih tidak bisa memastikan. Tapi menurut saya, sepertinya istri anda sedang hamil, sebaiknya nanti langsung diperiksakan ke dokter kandungan untuk memastikan. "
"Apa? Hamil? "
__ADS_1