
Malam ini, sesuai kesepakatan dengan ibunya. Agus akan menemui orangtua Dila di rumahnya. Dia sudah mengamati rumah Dila selama beberapa hari, ternyata hanya ada ibunya saja dan kakak laki-laki yang tinggal dirumah itu. Kakak laki-lakinya akan datang setiap jam pulang kerja. Sepertinya kakak Dila adalah seorang pegawai kantoran.
Pukul tujuh, mobil Agus sudah sampai di depan rumah Dila. Dengan sedikit ragu, dia mengucapkan salam kepada sang pemilik rumah.
"Assalamu'alaikum."
Tidak ada jawaban sampai salam ke tiga, baru terdengar jawaban dari dalam.
Seorang wanita paruh baya keluar dari dalam rumah.
"Mau cari siapa ya? lho... kamu kan yang beberapa hari lalu datang kemari. " ujar bu Ayu yang masih mengingat wajah Agus.
"Iya, bu."
"Kalau mau cari Dila dia nggak ada. " katanya ketus.
"Apa saya boleh masuk? Saya ingin bicara dengan anda. "
Bu Ayu mengernyit kan keningnya mendengar permintaan Agus. Tapi, akhirnya dia mengijinkan Agus masuk juga. Karena didalam juga ada Dika jadi tak mungkin dia akan macam-macam kan?
"Ayo masuk. " Bu Ayu membuka pagar rumahnya dan menyuruh Agus masuk dan mempersilahkannya duduk kursi ruang tamu.
Dika yang baru keluar dari kamarnya, merasa heran karena tidak biasanya ibunya menerima tamu pria. Masih muda lagi. Jangan sampai ibunya ini bermain di belakangnya.
"Siapa bu, " tanya Dika untuk menghilangkan rasa penasarannya.
"Nggak tau. " jawabnya cuek.
"Kalau nggak tau, kenapa disuruh masuk sih. " Dika merasa kesal dengan ibunya karena membiarkan pria asing masuk ke dalam rumah.
"Katanya ada yang mau dia bicarakan sama kita. Kapan hari dia juga mencari Dila kemari"
Mendengar nama adiknya disebut, Dika langsung duduk ikut bergabung dengan mereka. Karena merasa penasaran dengan apa yang ingin pria itu sampaikan.
"Ada apa ya, mas. " tanya Dika pada akhirnya. Karena dari tadi pria itu terdiam dan hanya mendengar kan obrolannya dengan ibunya.
"Perkenalkan, nama saya Agus. " Agus memperkenalkan dirinya kepada Dika dan ibunya.
"Saya kemari karena Dila. " kata Agus pada akhirnya angkat bicara.
"Maksudnya? " tanya bu Ayu dan Dika bersamaan.
"Saya kemari karena saya ingin bertanggungjawab, dan menikahi Dila karena anak yang Dila kandung adalah anak saya. " jelas Agus pada akhirnya.
__ADS_1
"Apaaa? " pekik Dika dan bu Ayu bersamaan.
Agus hanya mengangguk sambil menunduk.
Dika yang merasa geram dengan ucapan Aguspun langsung menarik kerah bajunya, Dia ingin memukul wajah Agus. Tapi dia urungkan, karena dia ingat pekerjaan Dila sebelumnya. Jadi dia merasa pria di depannya ini tidak sepenuhnya bersalah. Yang bersalah adalah adiknya, yang sudah menjajakan dirinya kepada pria hidung belang.
Dika melpaskan cengkeraman tangannya, lalu mendorong Agus ke kursi hingga dia terjatuh. Sesak rasanya, saat ingin memukul seseorang, tapi dia tidak bisa. Karena semua bukan sepenuhnya salah dia.
"Katakan dari mana kamu tau kalau anak yang di kandung Dila adalah anakmu. " ujar Dika kemudian dengan wakah tertunduk lesu.
Agus langsung memberikan hasil tes DNA yang Dia miliki.
"Aku mengambilnya pada bayi kami yang sudah meninggal. "
Bu Ayu yang mendengar bayi meninggal langsung lemas. Ingin teriak histeris pun tidak bisa karena malu didengar tetangga.
"Apa yang terjadi dengan Dila? "
"Dila kehilangan satu bayinya. " Ujar Agus.
Dika yang ingin mengatakannya pun tertahan, dia hampir lupa. Kalau dia harus berpura-pura tidak tau kalau Dila sudah ia temukan.
"Maksud kamu? " Tanya Dika pura-pura.
Agus lalu menceritakan semuanya. Dari awal hingga akhirnya Dila kabur dari rumah sakit. Dan semua yang dikatakan Agus sama persis dengan apa yang dikatakan Dila. Itu artinya Dila tidak bohong.
"Dila yang malang. " ujarnya kemudian sambil sesenggukan.
"Sekarang apakah kau tau dimana Dila berada? " tanya Dika cuek.
Agus menggeleng. "Saya sudah mencarinya kemana-mana. Hingga hasil test itu sudah selesai tadi aku berhenti mencarinya dan kemari. Tolong ijinkan saya untuk menikahi Dila. "
"Menikahi gundulmu. Dilanya nggak ada mau menikah. Apa kamu mau menikah dengan saya sebagai pengganti Dila. " ujar bu Ayu sedikit kesal. Karena dia sendiri kan tau kalau Dila nggak ada tapi kenapa ngotot mau menikahinya.
Dika menghela nafasnya kasar. "Jika kau menikah dengan Dila, lalu bagaimana dengan istrimu? " tanya Dika menyelidik, karena dia juga tidak mau kalau Dila akan menderita menjadi istri ke dua.
"Aku sudah mentalak istriku tadi siang. Dan besok aku mau mendaftarkan perceraian ku dengan mantan istriku. " ujar Agus dengan yakin.
Mendengar itu bi Ayu dan Dika berpandangan.
"Apa alasan kamu menceraikan istrimu? " tanya Dika yang penasaran dengan kehidupan Agus, yang digadang-gadang akan menjadi adik iparnya.
Agus menceritakan kehidupan pernikahannya dengan sang istri yang penuh dengan kepura-puraan dan toxic. Sehingga dia mencari pelampiasan di luar dan bertemu dengan Dila.
__ADS_1
Mendengar itu semua, baik Dika dan ibunya juga tidak bisa menyalahkan Agus. Karena bagaimanapun Agus tidak sepenuhnya bersalah dalam hal ini.
Agus lalu memberikan surat yang ditulis Dila sebelum kabur dari rumah sakit.
Dika dan bu Ayu pun membacanya.
"Aku siap menikahi Dila, " ucap Agus dengan yakin.
Mendengar hal itu, Dika tersenyum tipis. Sangat tipis sehingga tidak ada yang tau kalau dia sedang tersenyum.
"Baiklah, apa aku boleh minta nomor ponselmu? nanti kalau ada kabar tentang Dila aku akan menghubungimu dan jika kau mendapat kabar tentang Dila segera hubungi aku. "
Agus mengerti dan akhirnya mereka saling bertukar nomor ponsel.
"Terimakasih mas, kalau ada apa-apa segera hubungi aku. Kalau begitu, aku pamit dulu. " Agus beranjak dari tempat duduknya lalu menyalami bu Ayu dan Dika.
Dika mengantar Agus sampai di luar dan dia membisikkan sesuatu di telinga Agus.
"Selesaikan urusan perceraianmu dulu. Setelah itu kau baru bisa bertemu dengan Dila. "
Mendengar itu mata Agus membulat.
"Jadi... "
Agus langsung mengarahkan telunjuknya di bibirnya. Tanda Agus harus diam. Dan Agus langsung mengerti akan kode yang diberikan Dika.
"Pulanglah.. Aku tunggu kabar baik darimu. "
Agus mengangguk mengerti. Dan dia langsung meninggalkan kediaman bu Ayu.
Dika menatap nanar ke pergian Agus. Dia jadi mengingat masa lalunya bersama dengan Yesha. Gadis baik hati dan penurut itu, sudah memberinya seorang anak laki-laki yang cerdas. Namun dia masih kurang bersyukur sampai harus menghianati nya dengan wanita lain bahkan perlakuan nya pada Yesha sangat tidak layak jika harus disebut perlakuan suami.
Berbanding terbalik dengan Agus, yang sudah lama menikah, tapi tidak dikaruniai anak. Istrinya juga bermain gila hingga dia membalasnya dengan kegilaan yang sama. Dan sampai menghasilkan anak diluar nikah bersama adiknya.
Deg....
Karma...
Apakah ini karma yang harus dia tuai karena sudah mempermainkan hati seorang wanita dan seorang anak?
Astaghfirullah haladziiiiimmmmm.....
Baru kali ini ucapan istighfar itu terucap dari bibir Dika. Ternyata karma dan balasan itu ada. Dika sudah menerimanya dengan tunai dan karma itu ditimpakan kepada adiknya.
__ADS_1
Tanpa terasa air mata Dika jatuh membasahi pipinya. Begitu deras... Balasan itu datang dan menghasilkan penyesalan yang mendalam. Andai dia tidak melakukan penghianatan atau mempermainkan Yesha dan rumah tangganya, maka semua ini tidak akan pernah terjadi padanya, pada adiknya dan keluarganya.
Kini menyesalpun percuma, semua sudah terjadi. Yang harus ia lakukan adalah memperbaiki diri dan keluarganya. Termasuk sifat dan sikap ibunya yang suka merendahkan orang lain Ia takut karma itu berbalik pada ibunya nanti. Dan Dika berdoa semoga ibunya tidak pernah terkena karma karena perbuatan yang telah ia lakukan selama ini.