
Keesokan harinya Maira bangun pagi-pagi sekali,setelah menjalankan kewajibannya, dia langsung mengerjakan semua pekerjaan rumah sesuai kesepakatan yang telah di buat semalam. Di mulai dari mencuci baju. Dia mulai mencuci baju milik bu Ayu dan Dika tanpa ada rasa keberatan sekalipun, malahan senyuman selalu tersungging di wajahnya. Dia akan tinggal di rumah ini, tanpa harus tanpa memikirkan biaya bulanannya. Bisa menonton TV dan bisa berjualan nanti kalau diijinkan. Maira sangat bahagia diterima di rumah Bu Ayu ,dia berjanji akan melakukan semua pekerjaannya dengan baik .
Setelah mencuci baju, dia lanjutkan menjemurnya lalu menyapu lantai dan mengepel . Di akhir tugasnya Ia memasak bahan apa saja yang tersimpan di dalam kulkas untuk sarapan pagi ini .
Bu Ayu dan Dika yang masih tertidur lelap ,mulai mengerjapkan mata mereka saat mencium aroma sedap dari dapur. Mereka berpikir Siapa yang sudah masak pagi-pagi buta seperti ini . Akhirnya Dika dan Bu Ayu bangun dan langsung menuju dapur, dilihatnya Maira yang sudah menyelesaikan masakannya .
Dika dan Bu Ayu saling berpandangan mereka tidak menyangka bahwa Maira sudah bangun dan menyelesaikan semua pekerjaan . Dilihatnya jemuran pun sudah terisi penuh dengan pakaian yang sudah di cuci .
"Maira Apa yang kau lakukan." Tanya Bu Ayu dan itu membuat Maira sangat terkejut karena saat itu Dia sedang fokus memasak
" Eh ibu ,sudah bangun Apakah aku membangunkan kalian, Maaf ya ?" Ujar Maira yang merasa bersalah .
"Tidak Mai ,memang sudah waktunyabkami bangun. Kamu bangun jam berapa? " Kenapa semuanya sudah selesai ? " Tanya Bu Ayu lagi penasaran.
"Aku tadi bangun sebelum subuh , lalu aku langsung mengerjakan semua pekerjaan . Biasanya aku , bangun pagi langsung mencuci pakaian setelah itu baru membuat kue untuk dijual. " kata Maira sambil menata makanan di meja makan.
"Maaf bu, mas. Aku masaknya cuma kyk gini. soalnya aku hanya memasak apa yang ada di dalam kulkas. hanya ada tahu tempe dan kangkung jadi aku masak seperti ini. " kata Maira sedikit takut yang melihat reaksi Dika yang sejak tadi hanya diam.
"Nggak apa-apa, Maira. Ini sudah enak kok. Ibu juga belum belanja. Nanti kamu ikut belanja ya di abang-abang penjual sayur keliling. Buat makan siang dan malam. " ujar bu Ayu dengan tersenyum senang, pilihannya memang tepat. Meminta Maira tinggal di rumahnya. Dia bisa bersantai dan tidak melakukan pekerjaan berat lagi.
"Sekalian buat, sarapan besok bu. Jadi seperti hari ini, aku sudah bisa membuat sarapan pagi-pagi seperti ini tanpa harus menunggu abang-abang penjual sayur. " Kata Maira mengingatkan
"Ah iya , rupanya aku sekarang harus belanja sekalian untuk besok pagi. "Kata Bu Ayu Sambil tertawa
Melihat tawa ibunya Dika merasa senang karena selama ini ,dia juga merasa kalau ibunya sudah lelah mengurus rumah tangga . Jadi kali ini dia setuju untuk menampung Maira tinggal di rumahnya dan membantu mengerjakan pekerjaan rumah .
"Aku mandi dulu Bu ." Kata Dika sambil berlalu menuju kamar mandi
Maira hanya memperhatikan Dika yang sejak tadi hanya diam , sedangkan Bu Ayu dia masih tersenyum senang.
Setelah beberapa saat mereka semua berkumpul di meja makan, dan memulai sarapan masakan buatan Maira .
"Kamu Ternyata pintar masak ya Mai . Masakanmu lumayan enak. " Puji Bu Ayu ketika akan menyuapkan makanan ke dalam mulutnya
"Alhamdulillah jika ibu suka , tapi aku tidak bisa masak yang aneh-aneh bu. Aku hanya bisa masak masakan rumahan . Kalau hanya sekedar goreng-goreng, bikin tumis , dan sayur asem atau sayur bayam aku bisa bu . Selain itu mungkin aku harus belajar sama ibu . Kata Maira merendahkan dirinya
__ADS_1
"Ah itu juga sudah cukup Mai , Ibu juga nggak bisa masak yang aneh-aneh. Masakan seperti ini saja sudah nikmat bagi ibu , bener kan Dik?" Bu Ayu melemparkan pertanyaannya kepada Dika
Dan Dika hanya menjawabnya dengan anggukan kepala .
"Lumayanlah masih bisa dimakan ,Terima kasih untuk sarapan hari ini." Ucapnya sambil berdiri dan berlalu meninggalkan meja makan.
"Bu, boleh aku bertanya sesuatu ?" Maira berkata sambil berbisik kepada bu Ayu.
"Apa ?" Tanya Bu Ayu sambil ikutan berbisik
"Mas Dika itu orangnya pendiam ya ,dari tadi aku lihat Kok cuma diam saja . Bahkan kemarin juga begitu. " Ujar Maira yang menanyakan tentang sikap Dika.
"Ooooh Dika, dia memang orangnya pendiam ,dia irit sekali bicara . Kamu jangan kaget dengan sikapnya karena memang seperti itu sifatnya .
Maira mengangguk mengerti dengan ucapan bu Ayu . Dia Lalu membersihkan meja makan yang hanya menyisakan beberapa potong tahu dan tempe saja sedangkan sambal dan cah kangkungnya sudah habis . Dalam hati Maira bersyukur, karena semua orang di sini menyukai masakan yang dia buat.
Dika kembali ke kamarnya dan mulai melakukan persiapan untuk berangkat kerja . Setelah semua selesai Dia kemudian berpamitan kepada ibunya untuk berangkat kerja
"Aku berangkat dulu ya Bu ,ibu harus baik-baik di rumah karena aku tidak ingin ibu kenapa-napa ."
"Iya kamu tenang saja ,Karena sekarang ada Maira yang akan menemaniku di rumah ini ,benarkan May ?" tanya balik bu Ayu pada Maira.
"Ya sudah kalau begitu aku berangkat dulu. " pamit Dika setelah mencium punggung tangan ibunya.
Dika pun mulai meyalakan motornya, dan berangkat kerja.
Setelah kepergian Dika ,Bu Ayu mengajak Maira masuk ke dalam rumah . Dia ingin membicarakan masalah Maira yang ingin berjualan di depan rumah . Mereka berdua duduk di ruang keluarga sambil menonton TV yang hanya berfungsi untuk meramaikan suasana agar tidak sepi .
"Maira kamu kan ingin berjualan di depan rumah, apa kamu sudah punya modal ? " tanya bu Ayu.
Kemarin kan aku sudah bilang, kalau aku hanya memiliki uang seratus ribu. yang diberikan Mas Dika untuk ganti rugi kue jualanku yang jatuh berserakan kemarin. "
"Uang ini mungkin hanya akan cukup untuk membuat gorengan saja Bu seperti bakwan ,aku hanya perlu membeli tepung terigu wortel tauge dan kubis aku juga perlu membeli minyak goreng dan gas untuk menyalakan kompor ." kata Maira menggambarkan ide jualannya itu.
Bu Ayu mengangguk mengerti , "Mai, Bagaimana kalau ibu berinvestasi kepadamu ,ibu akan memberikan beberapa uang untuk modal daganganmu nanti, jika daganganmu laris kamu bisa menggantinya pada ibu. " tawar Bu Ayu
__ADS_1
"Tapi Bu ,Maira sangat malu karena Mai sudah menumpang di sini dan sekarang mau dimodalin sama ibu . Lebih baik tidak usah Bu, Mai bener-bener malu ." ujar Maira dengan menundukkan kepalanya.
"Kalau begini bagaimana ? Ibu titip dagangan kepadamu dan kamu jual. Kamu yang jual bakwan, ibu pisang goreng atau tahu isi . Nah nanti kamu yang jual . Kalau laku ,kamu kembalikan uang modal Ibu saja .Daan keuntungannya buat kamu, atau bisa buat beli gas elpiji di dapur." Kata Bu Ayu lagi yang ingin membantu Maira .
"Tapi Bu ...,"
"Sudahlah kamu Jangan membantah ikuti saja perintah ibu , biar daganganmu itu banyak. Orang juga banyak pilihan untuk membeli tidak hanya membeli bakwan saja." terang bu Ayu.
Setelah dipikir-pikir benar juga kata Bu Ayu ,masak dia hanya berjualan bakwan saja . Pasti pembeli juga menanyakan gorengan yang lainnya .
"Baiklah Bu ,saya terima saran yang kedua ."
Mendengar ucapan terakhir dari Maira membuat hati Bu Ayu senang. karena dia bisa membantu Maira berjualan dengan banyak kue gorengan Rumahnya pasti nanti banyak pembeli.
Bu Ayu dan Maira mendengar pedagang sayur keliling yang berhenti di depan rumah . Mereka lalu keluar untuk Belanja bersama .Bu Ayu segera memilih sayur apa saja yang akan dimasak nanti siang dan nanti malam sekalian belanja untuk besok pagi
May belanjalah untuk membuat tahu isi dan pisang goreng Nanti ibu yang membayar.
"Baik bu ." Kata Maira patuh
"Eh Jeng Ayu sama siapa nih" kata bu Retno salah seorang tetangga yang julid.
"Oh dia Maira , "
"Calonnya Dika ya ? "Tanya Bu Retno lagi yang kepo
"Bukan , Dia anak yang ngekos di rumah saya . Sekarang saya terima kos-kosan untuk satu orang anak .lumayan buat tambahan iang belanja." Kata Bu Ayu sambil memilih-milih sayuran.
"Oh aku kirain calon istrinya Dika . Kalau memang calon istrinya Dika maka Dika akan sangat beruntung karena mendapatkan daun muda. "
"Memang Bu Retno pikir Dika sudah tua apa ." ketus bu Ayu yang tidak terima dengan ucapan Bu Retno tadi .
"Bu, aku sudah selesai belanjanya. " kata Maira yang tidak ingin melihat perdebatan khas ibu-ibu.
"Ya sudah, suruh abangnya menghitung semuanya habis berapa. " kata bu Ayu dengan ketus, sambil melirik ke arah bu Retno yang masih memilih belanjaannya.
__ADS_1
"Enak aja ngatain anakku. " kata Ayu yang terus ngedumel sambil berjalan masuk ke dalam rumahnya.
"Sudah bu, jangan dipikirkan. " ujar Maira.