
"Kalau aku menikah lagi menurut ibu bagaimana?" tanya Dika pada ibunya
Bu Ayu yang mendengar omongan Dika barusan langsung menaruh remot dan menghadap ke arah anak ke-duanya itu.
"Kamu mau menikah lagi? sama siapa?Apakah kamu punya kenalan wanita kaya lagi? " tanya bu Ayu balik.
Dika menggeleng mendengar ocehan ibunya. "Aku belum tau, aku hanya berandai-andai, "
"Ya terserah kamu, Dik. Cari wanita kaya, mapan, royal dan bisa ngasih uang bulanan buat ibu. Jangan kayak Vio pelit.
Dika menggelengkan kepalanya lagi, rupanya ibunya ini masih saya menyedapkan materi. Kapan ibunya ini bisa berubah.
" Enggak bu, kalaupun aku nanti menikah lagi. Aku akan mencari sosok wanita biasa saja seperti Yesha, dan mau menerimaku apa adanya. Mau merawatku. " ujar Dika menyampaikan keinginannya.
"Ck... kamu ini, nyari wanita biasa buat apa? nggak ada yang bisa dibanggakan dengan mereka. " ketus bu Ayu sambil kembali melihat televisi.
"Aku ingin kehidupan sederhana saat aku bersama Yesha dulu. Dicintai dan mencintai. Aku ingin mencari seorang wanita yang bisa merawatku dihari tuaku besok tidak menelantarkan ku saat aku sakit. Jika aku menikah lagi nanti, aku akan menjaga pernikahanku dengan baik dan tidak akan menelantarkan keluargaku lagi. "
Bu Ayu memandang remeh ke arah Dika, seolah dia tidak percaya dengan kata-kata yang terucap dari mulut Dika.
"Kalau kau menikah dengan wanita biasa, dan tidak menelantarkan keluargamu. Kamu pasti lupa sama ibu, dan nggak akan ngasih ibu jatah bulanan lagi. Gitu? "
"Enggak bu... bagaimanapun aku tetap milik ibu. Seorang anak laki-laki tetap menjadi milik ibunya. Tapi kewajiban utama seorang anak laki-laki yang sudah menikah adalah kepada istri dan anaknya." Dika menghela nafasnya
"Aku sudah sering mengikuti pengajian di masjid beberapa hari ini, yang membahas bab rumah tangga. Yang tidak pernah aku ketahui, karena memang ilmu agamaku minim. Minim sekali. Aku ingin menebus semua kesalahanku dulu kepada Yesha tapi itu sudah tidak mungkin karena dia sudah mendapatkan pria yang lebih segalanya dari aku. Dan kini yang bisa aku lakukan adalah memperbaiki hidupku dan menjalani rumah tangga yang baik dengan pasanganku kelak. "
"Dan aku nggak mau, karma itu datang lagi menimpa keluarga kita. Kita sudah sangat menyakiti Yesha dulu. Aku sudah menelantarkan anakku dan istriku. Aku nggak mau hal itu terjadi lagi. "
"Maksud kamu apa? Karma? Karma apa? "
"Mungkin Dila mendapatkan Karma atas perbuatan yang aku lakukan dulu. Aku mengabaikan anak istriku dan bermain dengan wanita lain. Dan sekarang adik ku... Aku tidak bisa membayangkannya. "
Mendengar semua ucapan Dika membuat bu Ayu terdiam. Karma? Dia jadi mengingat semua perbuatannya kepada para menantunya baik Yesha atau Maya. Di jadi sadar kalau selama ini dia sudah menjadi ibu yang jahat dan mertua yang kejam.
Bu Ayu menangkupkan kedua tangannya di wajah. Dia menyadari semua kesalahannya sekarang. Terlalu banyak. Sampai dia tidak tau harus mulai dari mana memperbaiki semua kesalahannya.
"Kamu benar Dik, sekarang ibu sadar kalau apa yang ibu lakukan selama ini salah. Ibu terlalu kejam kepada para menantu ibu. " ujar bu Ayu dengan meneteskan air matanya.
__ADS_1
Dika akhirnya bisa bernafas lega karena bisa menyadarkan ibunya. Alhamdulillah... ucapnya dalam hati.
Malam itu, kedua ibu dan anak itu saling introspeksi diri dengan semua keadaan dan kejadian yang menimpa mereka dan keluarganya.
***********
Yesha dan keluarga kecilnya sudah bersiap ke tempat praktek dokter untuk memeriksakan kandungannya. Danu dan Jihan juga iku serta seperti yang dikatakan Abhi kemarin, setelah periksa mereka akan pergi ke mall untuk bersenang-senang dan membeli keperluan mereka.
Mereka sudah sampai di tempat praktek dokter Dwi, dokter yang memeriksa Yesha pertama kali. Abhi dan Yesha langsung masuk ke ruangan dokter tanpa antrian, karena mereka sudah buat janji sebelumnya.
"Selamat sore bapak, ibu. " sapa dokter Dwi ramah menyambut kedatangan mereka berdua.
"Sore dokter. " Abhi dan Yesha membalas sapaan dokter bersamaan.
Mereka pun saling sharing mengobrol seputar kehamilan dan kendala yang Yesha rasakan selama hamil. Hingga dokter Dwi menyuruh Yesha berbaring di tempat pemeriksaan.
"Bayinya sehat ya, ayah, bunda sesuai usia kandungan yang mencapai lima bulan. Gerakannya aktif. Semuanya baik." Dokter Dwi terus menjelaskan perkembangan janin.
"Untuk jenis kelamin, sepertinya laki-laki. Karena sudah terlihat belalainya, ini. " ujar dokter Dwi dengan tersenyum.
Setelah melakukan pemeriksaan dan konsultasi, mereka keluar dari ruangan menemui adik dan anaknya.
"Bagaimana mbak. " tanya Jihan tak sabaran.
"Alhamdulillah semua baik, Jihan. " Abhi yang menjawab pertanyaan Jihan dan diangguki Yesha dengan senyuman.
"Wah baguslah kalau begitu, aku tidak sabar menunggu kelahiran keponakanku empat bulan lagi. " kata Jihan sambil mengelus perut buncit kakak iparnya.
"Ayo kita berangkat, kita mampir masjid dulu ya. Sebelum ke mall. " ajak Abhi karena waktu juga sudah memasuki waktu maghrib, jadi mereka tidak ingin terlambat.
Untuk saat ini, Abhi dan Yesha menyembunyikan jenis kelamin anak mereka, hingga nanti waktunya mereka tau sendiri.
Abhi dan keluarga kecilnya sudah sampai di dalam mall dan mereka mulai belanja apa saja keperluan mereka. Aksa yang meminta dibelikan tas untuk sekolah, Jihan dan Danu meminta sepatu yang cocok untuk dipakai kuliah dan hangout. Sedangkan Yesha hanya membutuhkan susu untuk ibu hamil. Karena hanya itu yang ia butuhkan untuk menutrisi bayi dalam perutnya saat ini. Abhi memintanya membeli pakaian untuk bayi mereka tapi Yesha menolak. Karena dia masih ingat nasehat ibunya, kalau membeli pakaian bayi itu, harus saat kandungan berumur tujuh bulan. Dan Yesha masih memegang teguh nasehat ibunya itu. Abhi sebagai seorang pria yang tidak tau apa-apa hanya bisa menurut saja keinginan istrinya. Nanti saat kandungan Yesha berumur tujuh bulan mungkin dia juga akan mengajak sang mama untuk berbelanja.
Mereka menikmati malam ini dengan belanja apa yang mereka butuhkan, karena Abhi yang traktir. Hingga di jam makan malam, Abhi mengajak semuanya untuk makan malam di salah satu resto di dalam mall itu. Tentu saja mereka menyetujuinya karena mereka juga sudah merasa lapar.
Semua makanan sudah tersedia di meja, dan mereka mulai memakan makanan yang mereka pesan. Dan jangan lupakan, Abhi yang selalu minta di suapi istrinya tiap makan di luar. Dia tidak pernah merasa malu akan pandangan semua orang, yang penting ia merasakan kenyamanan dan Yesha tidak keberatan.
__ADS_1
Hingga sebuah suara sapaan seorang wanita membuyarkan kebahagiaan mereka malam ini.
"Mas Abhi... "
Semua orang menatap kearah sumber suara, termasuk Abhi yang disapanya.
"Mbak Jasmin?
" Jasmin?
Lirih Abhi dan Jihan bersamaan tapi masih bisa di dengar Yesha dengan baik.
"Apa kabar mas, lama kita tidak bertemu. " sapanya sok akrab.
Abhi langsung memalingkan wajah, dan memasang wajah dinginnya, dan itu dirasakam Yesha yang berada di sebelahnya.
"Dasar wanita nggak tau malu, gunung es baru mencair, jangan sampai deh membeku lagi. " Jihan masih ngedumel dan dumelan Jihan di dengar Yesha.
"Maaf mbak ini siapa ya? " tanya Yesha pada akhirnya Pura-pura tidak tau.
"Kamu yang siapa? kenapa bisa bersama Abhi? " tanya Jasmin dengan angkuhnya.
"Tentu saja saya bersama mas Abhi, lha wong dia suami saya dan saya istrinya. "
Jasmin mencibir dan menelisik penampilan Yesha dari atas sampai bawah. "Kenapa selera Abhi jadi serendah ini sih. " gerutu Jasmin yang masih bisa didengar Abhi.
Abhi langsung menggebrak meja dan berdiri lalu menunjuk wajah Jasmin dengan telunjuknya. Membuat semua orang yang berada di sana menjadi terkejut.
"Tutup mulutmu. Mulut kotormu itu tak pantas menilai istriku sama sekali. Selera ku bukan wanita rendahan sepertimu, dia jauh lebih terhormat dari dirimu. Dia tidak bisa dibandingkan sama sekali denganmu. " ujar Abhi dengan geram.
Dua kali Yesha melihat kemarahan Abhi didepan matanya. Dan sungguh dia terharu, karena ternyata suaminya marah karena merasa istrinya direndahkan.
Sedangkan Jasmin tidak percaya, dia akan mendapatkan kata-kata pedas yang keluar dari mulut mantan suaminya. Sungguh dia tidak menyangka kalau akan dipermalukan di tempat umun seperti ini.
"Ayo pergi, aku sudah tidak selera makan. Kita cari restoran lain saja. " Ajak Abhi kepada semua orang, dan menggenggam erat tangan Yesha.
Mereka keluar dari mall itu sengan perasaan mereka masing-masing.
__ADS_1