
Hari berganti minggu dan berganti bulan. Yesha menjalani kehamilan kedua kalinya ini sangat berbeda. Dia sangat menikmati kehamilannya kali ini, karena banyak limpahan cinta dan kasih sayang yang ia rasakan dari orang-orang disekitarnya. Dari suami yang memperlakukannya seperti seorang ratu. Dari anak dan Adik-adiknya. Dan jangan lupa, kasih sayang dari kedua orangtuanya dan mertuanya. Walau orangtuanya tidak tidak bisa sering-sering datang menjenguk anaknya, tapi tetap saja dia bahagia karena setiap hari baik bapak ataupun ibunya selalu menghubunginya. Begitu juga kedua mertuanya, mereka sering berkunjung ke rumahnya untuk melihat keadaan kandungan Yesha. Maklumlah, karena ini akan menjadi cucu pertama di keluarga Pradipta.
"Mama.... aku dibelkan mobil mobilan sama papa." Aksa menunjukkan hadiah yang diberikan oleh papanya kepada sang mama.
"Bagus, sayang. Kenapa kamu tidak membukanya? "
"Nanti saja, ma. Biar di dalam kotak dulu, Aksa akan menyimpannya, nanti kalau Aksa punya kamar sendiri Aksa akan simpan di kamar Aksa. "
Yesha dan Abhi saling berpandangan setelah mendengarkan celotehan Aksa. Apa katanya tadi? Kamar?
Yesha dan Abhi menghembuskan nafasnya, sepertinya memang harus membuat kamar lagi. Karena tidak mungkin mereka mengusir salah satu adiknya dari rumah itu, atau menyuruh mereka tidur di kamar kost. Mereka tidak sekejam itu.
"Baiklah, kalau Aksa masih mau menyimpannya, nanti mama dan papa akan membuatkan kamar baru buat Aksa. Apa Aksa sudah berani tidur sendiri? " tanya Abhi kemudian.
"Berani, pa. Tidur sama mas Danu berisik. " kata Aksa sambil melirik kearah Danu.
Danu yang menjadi bahan pembicaraan hanya cuek mendengar celetukan Aksa.
"Mas Danu berisik kenapa? " sekarang giliran Yesha yang bertanya.
"Kalau tidur ngorok. Kan berisik ma. "
Mendengar itu sontak Abhi dan Jihan tertawa lepas, sedangkan yang menjadi bahan gibahan hanya mencebikkan bibirnya.
"Karena itu, Aksa tidak bisa tidur? " tanya Yesha lagi. Dan Aksa mengangguk sebagai jawaban.
"Ya, sudah. Nanti mama sama papa pikirkan membuat, kamar Aksa dimana. " ujar Abhi setelah bisa menghentikan tawanya.
"Oke pa, papa memang yang terbaik. " puji Aksa dengan senangnya.
Mendengar pujian dari anak sambungnya Abhi merasa senang dan bangga. Begitu pula dengan Yesha. dia begitu bahagia, karena Abhi bisa meluruhkan hati Aksa yang sempat pernah seperti batu.
"Nanti kalau kamar Aksa sudah jadi papa akan belikan mainan yang banyak untuk Aksa. Sebagai koleksi atau teman bermain. " janji Abhi kepada anaknya itu.
"Mas.... " Yesha menegurnya. Dia takut Aksa akan menjadi anak manja yang tidak ingat kedua orang tuanya ini bekerja siang malam.
__ADS_1
"Tidak apa, sesekali. Iya kan Aksa? " kata Abhi menepuk tangan istrinya itu agar tidak terlalu khawatir.
"Terima kasih ya pa, Nanti mainnya Aksa simpan dan akan memainkannya bersama adik Aksa. " ujar Aksa dengan mata berbinar.
"Memang Aksa yakin, kalau adik Aksa laki-laki? Kalau perempuan bagaimana? " tanya Abhi kepada anaknya itu.
"Aksa yakin laki-laki, kalau perempuan ya nggak apa-apa. Nanti Aksa main mobil nemeni adik Aksa yang main boneka. " kata Aksa lagi sambil menelus perut mamanya yang sudah membuncit.
Yesha senang mendengarnya, karena Aksa bisa memposisikan dirinya menjadi seorang kakak. Karena Abhi yang selalu menasehatinya bagaimana bersikap untuk menjadi seorang kakak.
"Aksa sini." Abhi meminta Aksa medekat kearahnya, Seketika Aksa langsung memeluk papanya dan Abhi membalasnya dengan mengusap kepala Aksa gemas.
Melihat itu, Yesha jadi terharu. Mereka berdua seperti ayah dan anak kandung. Tidak seperti Dika yang tidak pernah menghujani Aksa dengan kasih sayang. Yesha selalu bersyukur mendapatkan suami yang baik dan menerima Aksa seperti anak kandungnya sendiri.
"Beruntung banget ya, Mbak Yesha menikah dengan mas Abhi, yang baik dan sayang sama Aksa. " celetuk Danu yang sebernarnya dia melihat keadaan sekitarnya melalui ekor matanya.
"Alhamdulillah, Dan. Mas Abhi memang sangat baik. " ujar Yesha yang membenarkan ucapan adiknya.
"Kapan jadwal kamu kontrol ke dokter sayang? " tanya Abhi tiba-tiba.
"Besok sore. Memang kenapa mas? "
Sontak ucapan Abhi membuat semua orang yang ada disana bersorak bahagia. Karena jarang-jarang Abhi mengajaknya keluar.
"Benerann, mas." tanya Jihan yang tak percaya.
"Iya bawel. " kata Abhi dengan mencebikkan bibirnya.
*************
"Siang mbak, Bagaimana keadaan Dila? "
Sebuah pesan masuk di ponsel Maya, dari Dika.
"Dia baik kok, Dik. "
__ADS_1
"Bagaimana kandungannya? Kapan waktunya dia kontrol kandungan? "
Dan masih banyak lagi pesan yang Dika kirimkan kepada Maya hanya untuk mengetahui kabar adiknya.
Terkadang Maya merasa risih dan bosan meladeni sikap Dika yang berlebihan itu. Maya pikir Dika hanya akan bersikap berlebihan sesekali. Tapi ternyata... haaahhh...
"Dika, bisa nggak, gak neror aku dengan pertanyaan pertanyaan seputar Dila. Aku akan menghubungimu jika Dila memang terluka, atau terjadi sesuatu padanya. "
Akhirnya pesan itu terkirim juga kepada Dika. Berharap Dika mengerti dan tidak menerornya lagi.
Dika membaca pesan dari Maya dengan kening mengernyit. Apakah dia sudah salah mengirim pesan-pesan itu kepada Maya? pikirnya.
"Maaf mbak, kalau mengganggu mbak. "
Dika membalas pesan dari Maya. Dan setelah itu Dika tidak mengirim pesan lagi kepada Maya jika tidak penting sekali.
Dika menghembuskan nafasnya kasar. Saat ini dia sedang berada di kantor, dan pekerjaannya sedikit luang. Karena itu dia mengirim pesan kepada Maya untuk menanyakan kekadaan adiknya. Ternyata respon yang didapat dari Maya diluar ekspektasinya.
"Apa selama ini pesanku mengganggunya? " Dika bermonolog dengan hatinya.
Sehari dua hari Dika tidak mengirim pesan kepada Maya dan Maya pun tidak mengirimkan pesan sama sekali kepadanya. Serasa ada yang kurang bagi Dika.
"Ck... ada apa denganku? " batinnya disuatu malam, saat dia sedang berada di kamarnya.
Dika yang sudah lama tidak mendapat perhatian dan belaian dari lawan jenis selama beberapa bulan pun kini mulai kesepian. Apalagi saat ini dia tidak dekat dengan wanita manapun. Perhatiannya hanya pada pekerjaan, Dila dan ibunya yang sudah beranjak tua.
Jenuh ia rasakan, kadang ia iri dengan keharmonisan rumah tangga Yesha mantan istrinya, dengan anaknya dan calon anaknya. Ingin sekali Dika membangun kembali rumah tangganya dengan seseorang yang bisa di ajak berbagi suka dan duka. Dan tidak melulu soal harta seperti Yesha dulu.
Hingga ingatannya tertuju pada Maya, mantan kakak iparnya. Seorang wanita yang bernasib sama seperti mantan istrinya. Mungkin dia tidak perlu mencari wanita lain, cukuplah seorang wanita yang sudah ia kenal dan tau sifatnya saja. Selama ini yang Dika tau, sifat Maya tidak terlalu buruk seperti Vio ataupun Dila. Dia masih punya sopan santun dan menghargai suaminya. Buktinya, selama hampir sepuluh tahun pernikahannya dengan kakaknya, Maya bisa bertahan walau suaminya tidak bekerja da tidak mendapat nafkah yang layak.
Yah... sepertinya Dika harus segera bertindak. Dia lalu keluar dari kamarnya dan duduk bersama ibunya. Sekarang rumah ini terasa sepi karena semua orang satu persatu pergi meninggalkan bu Ayu sendiri.
Seorang ibu dan ibu mertua yang penuh keegoisan dan tidak pernah mau mengalah dengan siapapun.
"Bu. ada yang mau aku omongin. " kata Dika saat sudah bersama ibunya.
__ADS_1
"Apa? " tanya bu Ayu dengan cuek dan terus menatap layar televisi di depannya.
"Kalau aku menikah lagi, menurut ibu bagaimana?"