Demi Sebuah Kata Bakti (Kau Abaikan Anak Istri)

Demi Sebuah Kata Bakti (Kau Abaikan Anak Istri)
Tidak Tau Malu


__ADS_3

Dika yang saat itu sedang makan siang dengan rekan kerjanya di sebuah rumah makan tiba-tiba wajahnya berubah menggelap sejak kedatangan sepasang kekasih, salah satunya adalah orang yang sangat Dika kenal, Yesha. Mereka terlihat sangat mesra, bahkan tidak sungkan-sungkan menunjukkan kemesraan mereka di tempat umum. Padahal semua itu, bukanlah yang sebenarnya.


Yang sebenarnya, Abhi tidak bisa makan tanpa suapan dari Yesha. Memang terlihat aneh dan manja, tapi itulah yang terjadi. Hanya melalui tangan Yesha Abhi bisa makan, dan hanya bisa makan masakan Yesha juga.


Dika mengepalkan kedua tangannya, dia merasa sangat kesal dengan apa yang dia lihat di depan matanya. Dulu Yesha tidak pernah bersikap seperti itu padanya. Dia hanya diam dan menurut saja , tapi tidak dengan apa yang dilihat nya sekarang.


"Bro, pulang yuk. Jam makan siang udah mau habis. " ajak temannya itu pada Dika.


"Kalian duluan deh, aku masih ada urusan. " Dika menolak ajakan temannya, karena dia ingin menemui dan bicara dengan Yesha.


"Ya udah deh kalau gitu, kita balik dulu ya. "


Setelah kepergian teman-temannya, Dika beranjak dari duduknya dan langsung menemui Yesha dan Abhi.


"Apa kabar Yesha. " Sapa Dika pada Yesha.


Yesha dan Abhi yang sedang ngobrol pun langsung membalikkan badan mereka melihat siapa orang yang telah menyapanya, walau suaranya sudah sangat Yesha kenal.


"Eh, mas Dika. kabar aku baik. " balas Yesha berbasa-basi.


Dengan tidak tau malunya Dika naik ke atas saung tempat Abhi dan Yesha berada. Dan duduk di hadapan mereka berdua.


"Sudah lama tidak ketemu, kamu makin cantik aja, Yesh. " puji Dika kepada Yesha.


"Tentu saja, karena aku melakukan perawatan tiap bulan. Dan bulan depan kami akan menikah. Benar kan, mas. " kata Yesha dengan bergelayut manja di lengan Abhi.


Abhi reflek merangkul Yesha. "Tentu saja. kita akan menikah bulan depan, dan aku akan menyuruhmu perawatan tiap minggu kalau kamu mau, agar makin cantik. " Abhi mengikuti perannya seperti Yesha.


"Jika anda mau, anda bisa datang di pernikahan kami tuan Dika. Tapi maaf undanganny belum jadi. " kata Abhi dengan senyum bahagianya.


"Cih... Ternyata begini kelakuanmu. Selingkuh di belakang ku, dan lihatlah sekarang bahkan kalian akan segera menikah. Munafik. "


"Jaga bicaramu mas. Sebenarnya siapa yang munafik, Jangan pernah lempar batu sembunyi tangan. Kamu lebih dulu selingkuh dengan Violet, sampai dia hamil. Benarkan.? Bahkan kalian sudah menikah juga. Jadi kamu nggak usah ngurusi urusanku sekarang, atau menjelek-jelekkanku, sebelum kamu berkaca pada dirimu sendiri. " geram Yesha kepada Dika.


"Dan ingat ini, kita sudah tidak ada hubungan apapun. Jadi jangan pernah ikut campur dengan urusanku. Paham.! "

__ADS_1


Yesha lalu menarik tangan Abhi agar segera pergi dari sana. Tapi Abhi melepaskan tarikan tangan Yesha.


"Ingat ini tuan Dika, sebentar lagi Yesha akan menjadi milikku. Jadi tidak ada satupun yang boleh mengganggunya, termasuk anda. Atau aku yang akan bertindak. Sekarang Yesha dan Aksa sudah menjadi tanggung jawabku. " kata Abhi sambil menunjuk wajah Dika dengan tangannya.


Setelah itu, Abhi segera menggenggam tangan Yesha dengan erat dan meninggalkan Dika yang tercengang dengan keadaan yang baru saja dia alami.


"Yesha akan menikah dengan pengacara itu? itu tidak mungkin. " Dika menggelengkan kepalanya dan duduk bersandar di dinding saung sambil memijit kepalanya. Dia masih tidak percaya dengan apa yang dia dengar barusan. Ingin meraung tapi tidak mungkin, karena ini di tempat umum Dika juga masih punya malu untuk nangis gulung-gulung di tempat umum.


Di mobil


Abhi segera menyalakan mobilnya dan segera menjauh dari tempat makan itu. Sesekali ia melirik ke arah Yesha yang terlihat kesal.


"Kenapa." Tanya Abhi pada akhirnya, sambil memegang tangan Yesha.


"Kesel aja mas. Kemarin ketemu adiknya, eh barusan ketemu kakaknya." ucap Yesha.


"Bener cuma kesel, nggak seneng gitu. " goda Abhi.


"Apaan sih, mas. " Yesha makin kesal, lalu menghempaskan tangan Abhi kemudian bersedekap dada sambil mengerucutkan bibirnya.


"Ya udah maaf. Aku cuma bercanda. Kita mampir ke kantorku bentar ya. Ada berkas yang mau aku ambil di kantor, nanti aku kerjakan dirumahmu atau rumahku. "


"Terserah mas Abhi, deh. " ketus Yesha.


Abhi tersenyum melihat sikap Yesha yang seperti ini. Tidak biasanya Yesha mengeluarkan sikap menggemaskannya. Biasanya dia hanya mengeluarkan sikap lembut dan keibuan. Baru kali ini Abhi melihat sisi lain Yesha.


Mobil yang dikendarai Abhi berhenti di tempat parkir kantornya. Ia lalu turun dan menggandeng Yesha masuk ke dalam kantornya. Semua mata tercengang dengan sikap Abhi yang menggandeng seorang wanita ke dalam kantornya, tidak seperti biasanya. Kasak-kusuk pun terdengar, tapi tidak di hiraukan Abhi. Bahkan Dea sang sekertaris pun tercengang saat melihat Abhi menggandeng seorang wanita ke kantornya. Hatinya semakin sakit dibuatnya saat melihat kenyataan di depan matanya.


Yesha jadi malu sekaligus gemas sendiri dengan tingkah Abhi itu. Saat di dalam kantornya, Yesha mulai mengomel atas sikap Abhi barusan. Abhi hanya mendengarkan saja sambil tersenyum.


"Biarlah mereka semua tau, Yesha sayang. Agar tidak ada yang berharap lagi pada suami tampanmu ini. " kata Abhi dengan santai.


Blush... wajah Yesha langsung memerah seperti kepiting rebus setelah mendengarkan ucapan Abhi barusan.


"Apa katanya, tadi? Sayang...? "

__ADS_1


"Kenapa wajahmu sangat memerah, sayang...? " bisik Abhi di telinga Yesha, bermaksud menggodanya.


Lagi-lagi wajah Yesha memerah, kali ini dengan kulit yang merinding.


"Maaassss...iiihhhh.. "


Abhi tergelak melihat Yesha yang seperti itu. Ia lalu menggandeng tangan Yesha lagi dan segera membawanya keluar dari ruangannya. Di depan meja sekertaris dia berhenti, dan menitipkan pesan kepada Dea.


"Dea, katakan pada Mario, aku pulang dulu. Suruh dia menghandle pekerjaan di kantor. Ah ya, jangan lupa juga, katakan padanya besok aku tidak masuk kerja karena harus fitting baju pengantin. "


Abhi lalu pergi dari sana sambil masih menggenggam erat tangan Yesha. Yesha yang sedikit berontak pun tidak bisa melepaskan diri dari genggaman Abhi sampai mereka keluar dsri kantor dan masuk ke dalam mobil.


Di dalam mobil, Abhi mulai angkat bicara yang karens sejak tadi Yesha terlalu berisik.


"Yesha aku sengaja melakukannya karena ada alasan. jadi jangan marah. "


"Apa alasannya, katakan padaku. Kamu sudah membuatku malu, tau... "


"Jadi kamu malu jalan sama tunangan mu sendiri?"


"Bukan begitu, mas. Aku malu dilihat karyawanmu."


"Aku sengaja, Yesha. Karena di kantor itu ada seseorang yang mengharapkan cinta dariku. Karena itu aku membawamu ke kantor dan menggenggam erat tangan mu, agar dia tidak mengharapkan ku lagi. "


Deg... rasanya seperti di hantam batu besar tubuh Yesha mendengarkan ucapan Abhi.


"Si... siapa mas? "


"Sekertarisku, Dara. Aku rasa dia sangat menyukai ku, atau lebih. "


"Dari mana kau tahu? " tanya Yesha penasaran.


Dari sorot matanya saat menatapku, dari gayabicaranya daan bahasa tubuhnya. Semua mengacu oada ketertarikannya padaku. Tapi sayang, aku tidak suka wanita seperti itu. Aku lebih suka wanita yang kuat dan apa adanya seperti dirimu.


"Tak perlu menarik perhatian seorang pria dengan berbagai cara. Tapi kamu sudah menarikku untuk jatuh cinta padamu dengan kelembutan hatimu. " Abhi terus berbicara dengan masih fokus pada setir mobilnya. Hingga mobil itu masuk ke halaman rumah Yesha.

__ADS_1


"Yesha yang mendengar ucapan Abhi sejak tadi hanya terdiam dan memaknai setiap kata yang Abhi rucapkan


__ADS_2