
"Jadi, Berhati-hatilah Yesh. Mungkin nanti atau suatu hari nanti Dika akan mencarimu kemari. " Maya memberikan peringatan kepada Yesha agar berhati-hati.
Deg...
Jantung Yesha berdebar kencang. Dia tidak menyangka kalau mantan suaminya akan berani mencarinya walau dia sudah punya istri sendiri. Begitu juga dengan Abhi yang mendengarkan semua percakapan Yesha dengan mantan iparnya itu.
"Yesh... Yesha... " Maya mencoba menyadarkan Yesha dari lamunannya.
"Ah, iya mbak. Ada apa lagi. "
"Tentang, tadi. Aku pinjam uangmu, atau beri aku pekerjaan sepertimu boleh Yesh. Demi kelangsungan hidupku dan Arum. Karena kami benar-benar tidak punya uang dan tidak punya tempat yang harus kami tuju.
Lagi-lagi Yesha berpandangan dengan Jihan, tapi kini Jihan hanya menggedikkan bahunya.
"Mbak Maya bisanya apa? dari penjaga toko sembako, jaga toko baju atau pelayan rumah makan? "
"Terserah, Yesh. Aku akan bekerja dengan baik dan tidak akan mengecawakan pemilik usaha dan dirimu. "
"Cih, mbak Maya ini rupanya nggak tau siapa mbak Yesha ya? " kaya Jiihan mencibir.
"Jihan.... " Yesha menggelengkan kepala nya kepada Jihan.
"Abisnya kesel banget. Semua orang disini tau lho siapa mbak Yesha, tapi orang ini malah menganggap mbak yesha sebagai pelayan. "
"Yesh, dia siapa sih. "
"Aku adik iparnya mbak Yesha, emang kenapa? "
"Jihan.. " panggil Yesha dengan lembut.
"Kamu sudah nikah, Yesh. " tanya Maya dengan terkejut. Karena ternyata benar tentang rumor yang ia dengar.
"Belum. InsyaAllah, empat hari lagi. "
"Apa dengan pengacaramu? "
Lagi, Jihan dan Yesha berpandangan. Tapi dia langsung mengangguk.
"Syukurlah kalau begitu. Semoga kamu bahagia dengan pria pilihanmu. "
"Tante Yesha, Boleh Arum minta makan? Arum laper, dari tadi belum makan. " celetuk Arum.
Yesha langsung menoleh ke arah Arum. Dia melihat gadis kecil itu telihat memegangi perutnya. Lalu melihat ke arah Maya yang salah tingkah.
__ADS_1
"Kalian berdua belum makan? "
Maya dan Arum menggelengkan kepalanya bersamaan.
Lalu Yesha memanggil bi Sumi, agar menyiapkan makanan untuk mereka berdua. Yesha memang baik hati, tapi tidak akan membiarkan sembarangan orang untuk masuk ke dalam rumahnya selain orang-orang yang sudah lama dekat dengan nya. Maya memang sudah kenal lama dengan Yesha, tapi mereka tak sedekat itu. Jadi, Yesha membatasi diri dengan Maya. Walau dia tau kalau Maya sudah berubah.
"Ini mbak Yesha. " bi Sumi memberikan dua piring nasi dengan lauk nya kepada Yesha.
Lalu Yesha memberikannya kepada Maya dan Arum.
"Makanlah dulu. nanti kita bicara lagi. " Yesha lalu meninggalkan mereka berdua, agar tidak merasa canggung saat makan.
"Mbak Yesha akan memberi mereka kerjaan? " Tanya Jihan saat mereka berada di dalam rumah.
"Entahlah, Jihan. Dilain sisi aku kasihan, tapi disisi lain, aku juga sedikit kesal. Karena dulu mbak Maya juga sering menghinaku dan meremahkanku walau tidak separah ibu dan Dila. Melihat keadaannya seperti ini, aku jadi ingat dengan diriku yang dulu. Tapi dulu aku masih sangat beruntung. Keluar dari rumah keluarga itu, aku sudah memiliki tujuan rumah ini. " Kata Yesha yang mengingat masa lalunya.
"Iya sih mbak, kalau mengingat masa lalu kita memang nggak ada habisnya. Kalau sudah begini, terserah mbak Yesha. Apakah jiwa kemanusiaan mbak Yesha yang bicara atau dendam masa lalu. " ucap Jihan menyerahkan segala keputusan kepada Yesha.
"Apa mbak Yesha, perlu bertukar pikiran dan meminta pendapat mas Abhi? "
Yesha langsung menatap Jihan. "Nggak perlu Jihan, biar mbak sendiri yang memutuskannya. "
"Baiklah, terserah mbak Yesha kalau begitu. "
"Sudah selesai makannya? "
"Sudah, tante. Makasih, enak sekali. " kata Arum
"Makasih ya, Yesh udah ngasih kami makan."
"Setelah ini mbak Maya mau kemana? "
Maya menggelengkan kepalanya. "Aku sudah bilang padamu kalau kami tidak punya tempat tujuan. "
Yesha menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskan nya perlahan. Sepertinya jiwa kemanusiaannya yang harus bergerak.
"Aku punya kamar kost mbak, jika mbak mau kost di tempat ku. sewanya tujuh ratus ribu tiap bulan. Bisa aku diskon buat mbak Maya dan Arum jadi lima ratus ribu tiap bulan. " kata Yesha yang menawarkan tempat kostnya.
"Dan untuk pekerjaan, mbak Maya bisa bantu di toko sembako. Disana hanya satu orang yang jaga. Buka tokonya setengah delapan pagi sampai jam lima sore. Tapi gajinya murah, cuma satu juta tiap bulan. Untuk toko sembako sama toko baju gajinya cuma segitu. Malamnya mbak Maya kalau mau ambil lembur, bisa bantu di rumah makan mulai jam 6 sampai jam 10 malam. Lemburannya cuma 50rb mbak perorang, kita bayaran nya perhari. " Yesha juga menawarkan pekerjaan untuk Maya.
Mendengar hal itu, Mata maya berbinar bahagia. Berapa pun gajinya pasti dia terima, apalagi untuk tempat kost dia juga sudah mendapat harga diskon yang lumayan. Mungkin benar Yesha membawa keberuntungan buat semua orang.
"Mau, Yesh. Aku mau asalkan bisa bertahan hidup bersama Arum. Kalau begitu apa aku boleh bertemu dengan pemilik kost dan pemilik tokonya. aku ingin berterima kasih kepadanya. " kata Maya dengan semangat.
__ADS_1
Yesha dan Jihan hanya menghembuskan nafasnya mendengar kebodohan orang di depannya ini. Kenapa dia tidak sadar juga kalau pemilik semua usaha itu ada di depannya.
"Mbak, Mbak Maya nggak sadar apa, siapa pemilik rumah dan semua usaha itu? " tanya Jihan dengan gemasnya.
Maya hanya menggelengkan kepalanya tak mengerti.
"Pemilik kost dan semua pekerjaan itu adalah orang yang berada di depan mbak saat ini. " kata Jihan pada akhirnya, karena Yesha tidak mau mengaku juga.
Maya terbelalak mendengar penuturan Jihan.
"Benarkah? " pekik Maya tak percaya.
Dan hanya di angguki Jihan.
"Baiklah, sekarang akan aku tunjukkan kamar kostnya mbak Maya. Ayo. " Yesha bangkit dari duduknya dan menuju tempat kost milik nya
Walau hanya delapan kamar kost, tapi itu sudah lumayan, untuk mendapatkan pemasukan dari sana. Bulan kemarin ada satu orang yang keluar dari tempat kostnya, karena itu Yesha menawarkan kamar itu kepada Maya.
Di depan post, Yesha bertemu dengan Aryo dan mengenalkan nya kepada Maya. Kalau dia adalah satpam disana, yang akan menjaga kamar kost mereka sekaligus tempat usaha Yesha lainnya. Setelah berkenalan, Yesha lalu mengajak mereka berdua ke kamar kost yang kosong.
"Ini mbak, kamarnya. Mbak Maya bisa ngecek ke dalam. Suka apa enggak. " kata Yesha menunjukkan kamar untuk Maya.
Maya lalu masuk ke dalam kostannya dan melihat-lihat keadaan di dalam. Ada kasur lantai, sebuah lemari dan kipas angin. Dan meja dapur kecil yang belum terisi apapun. Yang paling utama adalah ada kamar mandi di dalam ruangan.
"Baiklah Yesha. Aku ambil ini. Tapi bagaimana aku membayarnya? "
"Tinggallah dulu mbak, nanti setelah gajian kamu bisa bayar. "
"Terima kasih, Yesh. kamu baik sekali. "
"Untuk pembayaran nya bagaimana kalau langsung potong gaji saja mbak. Karena aku tidak memberikan tempat ini secara gratis. " Kata Yesha pada akhirnya. Dia juga ingin memberikan pelajaran kepada mantan kakak iparnya ini bagaimana rasanya hidup dalam kekurangan.
"Ta... tapi.. yesh, aku belum punya apa-apa sekarang. Bagaiman aku dan Arum bisa makan kalau cuma dapat gaji langsung dipotong uang kost. " kata Maya yang merasa lemas setelah mendengar ucapan Yesha.
"Gini ya mbak. Aku sudah memberikan tempat tinggal walau tidak gratis, dan bayarnyapun bulan depan. Itu karena aku kasihan padamu dan Arum. Takut kalian terlunta-lunta dijalanan. Sekarang, jika kamu mau dapat makan ya harus kerja dong. Mulai malam ini, kamu bisa ambil lembur di rumah makan. Bisa jadi pramu saji atau cuci piring, apapun bisa mbak kerjakan disana. dan besok pagi kamu bisa mulai kerja di toko ku. Hanya itu yang bisa aku lakukan untukmu saat ini. Aku bukan manusia berhati malaikat yang mau membantu seseorang yang sudah ikut menyakitiku dulu. " Kata Yesha sambil bersedekap dada.
"Dan ingat ini baik-baik mbak, kita sudah tidak punya hubungan apapun lagi. Bahkan hubungan ipar. Karena kita sama-sama sudah bercerai dari dua pria sialan itu. Jadi, mbak maya dan aku disini hanya sebatas orang asing. Jangan terlalu berharap lebih padaku. Jika ingin makan dan dapat uang, mbak Maya harus kerja untuk mendapatkan nya. Oke. " kata Yesha menekankan setiap kata di akhir kalimat yang ia ucapkan.
Maya hanya mengangguk pasrah. Karena dia tau, saat dia tidak punya Siapa-siapa untuk diandalkan. Benar kata Yesha, mereka tidak punya hubungan apa-apa, mereka hanya orang asing sekarang. beruntung Yesha mau menolongnya dan memberikan keringanan untuk tempat kost ini. jika tidak, dia dan Arum akan menjadi gelandangan diluar sana.
"Aku mengerti, Yesha. Terimakasih sudah membantuku. " Maya hanya bisa menunduk mengatakan semua itu.
"Ini kunci kostnya. Dan ini buat Arum. " Yesha memberikan kunci kamar kost kepada Mayaa dengan selembar uang ratusan ribu. Lalu iya pergi dari sana.
__ADS_1
"Terimakasih Yesh. Kamu memang baik. Sudah mau membantuku yang pernah menyakitimu dulu." Maya meneteskan air matanya memandang kepergian Yesha, dan selembar uang yang diberikan Yesha kepadanya.