
Akhir pekan ini Abhi mengajak keluarga kecilnya untuk pergi ke rumah impianAbhi, termasuk Jihan dan Danu yang ikut serta. Urusan pekerjaan di rumah, Yesha serahkan kepada Lusi orang kepercayaannya. Jadi Yesha tidak akan di pusingkan dengan pekerjaan jika dia sedang pergi dengan keluarganya.
Abhi ingin keluarga kecilnya tau, rumahnya yang dia bangun setahun terakhir ini dan akan menjadi rumah masa depan keluarga mereka kelak. Satu jam perjalanan mereka tempuh, untuk sampai ke rumah impian Abhi. Letaknya memang jauh dari perkotaan karena Abhi menginginkan suasana yang tenang dan nyaman.
"Nah, Kita sampai. " ucap Abhi saat mobilnya memasuki rumah yang besar dengan halaman yang luas.
"Waahhhh, gede banget rumahnya pa. " Aksa terkagum-kagum melihat penampakan rumah papanya itu.
Abhi hanya tersenyum mendengar celetukan Aksa. Dia membantu Danu membawa barang bawaan yang mereka bawa. Rencananya mereka akan menginap dua hari disana.
"Siapa yang jaga rumah disini mas? " tanya Yesha kepada Abhi saat memasuki rumah mewah itu.
"Ada, seorang pembantu rumah tangga dan suaminya yang jaga rumah ini. Suaminya yang ngurus taman dan jaga rumah ini, istrinya yang bersih-bersih rumah. " Abhi memberitahukan perihal rumah ini kepada Yesha, karena bagaimana pun dialah nyonya di rumah ini.
"Eh, mas Abhi sudah datang." Sapa seorang gadis remaja yang menyambut kedatangan Abhi dan keluarganya.
"Iya nih Sar. Kenalin ini istri ku, dan ini anakku. Ini Jihan dan Danu adikku." Abhi mengenalkan keluarganya kepada Sarah anak dari pembantunya di sana.
Sarah dengan tak rela menjabat tangan Yesha, lalu dia segera berpaling dan meninggalkan mereka semua.
"Dasar nggak sopan. " gumam Jihan.
"Dia siapa mas? "
"Oh, dia anak pembantu disini. Aku yang biayai sekolahnya selama satu tahun lalu, dan sekarang dia sudah lulus. " jelas Abhi.
Yesha mengangguk mengerti, saat ini mereka sedang beristirahat di ruang keluarga. Sedangkan Yesha menuju dapur untuk menyiapkan makan siang buat keluarganya.
"Pah, rumah ini besar ya? lebih besar dari rumah mama. " ucap Aksa ketika mereka sedang nonton televisi.
"Apa Aksa suka? "
"Suka banget pah. "
"Kalau begitu, tiap liburan kita main kesini ya? "
"Kenapa nggak tinggal di sini aja pah? "
"Karena sekolah Aksa di kota, Kuliah kak Danu dan kak Jihan juga ada di sana. Terus usaha mama Aksa juga ada disana. Kalau kita tinggal disini akan memakan waktu lama buat aksa sekolah dan semuanya. " jelas Abhi kepada Aksa.
"Bener juga ya, pa. "
"Mas si Sarah itu kenapa sih, kok ketus banget orangnya. " tanya Jihan menanggapi sikap Sarah tadi.
"Enggak kok, Jihan. Dia baik anaknya, Nurut kok. "
"Cih, mas Abhi mah tetep aja buta, antara nurut sama yang punya rasa. " ketus Jihan kepada kakaknya yang nggak peka.
"Maksudnya? " tanya Abhi tak mengerti.
"Taulah, aku mau bantu mbak Yesha dulu. " Jihan meninggalkan para lelaki disana.
"Danu, kamu ngerti maksud Jihan? "
__ADS_1
Danu mengangguk.
"Apa? "
"Sarah suka sama mas Abhi, dan dia merasa nggak suka saat mas Abhi ngenalin mbak Yesha kepadanya. " Danu menjelaskan maksud perkataan Jihan
"Ah, masa sih. " Abhi masih tak percaya, karena Abhi merasa Sarah hanyalah bocah.
Danu menggedikkan bahunya cuek sambil memainkan ponselnya.
Di dapur, Jihan sedang membantu Yesha menyiapkan bahan masakan yang akan mereka olah.
"Kemana sih pembantu disini. Sudah tau pemilik rumah mau datang, eh malah ditinggal kelayapan. Harusnya yang nyiapin semua ini kan dia, bukan kita... bla.. bla.. bla.... " Jihan terus saja mengoceh, karena dia merasa pembantu di rumah kakaknya hanya makan gaji buta.
Yesha yang mendengar ocehan adik iparnya hanya tersenyum. "Sudah nggak apa-apa Jihan. Lagi pula apa kamu lupa kalau masmu itu nggak suka dengan masakan dari tangan orang lain. "
"Iya sih, tapi kan harus nya mereka yang nyiapin minuman dan cemilan buat kita. " terus saja Jihan mengomel.
Yesha menggelengkan kepalanya.
"Mbak, tadi mbak perhatiin sarah nggak. Anak pembantu itu. Sepertinya dia punya rasa sama mas Abhi, sampai-sampai dia buang muka waktu salaman sama, mbak. "
"Iya, mbak merasakannya kok. Mbak ini sudah berpengalaman dengan sikap-sikap orang seperti itu. "
"Hati-hati mbak, pelakor sekarang nggak tau malu."
"Itu semua tegantung masmu, Jihan. Jika iman masmu nggak goyah, maka se-nggaktau dirinya pelakor dia nggak akan bisa masuk dan mengganggu rumah tangga kami. "
"Iya juga sih, tapi mbak juga harus hati-hati. "
Mereka terus saja mengobrol, sampai makanan semuanya jadi, Dan terhidang di meja makan. Tapi si pembantu rumah tangga di rumah itu tidak juga menampakkan batang hidung nya.
Siang itu semua orang makan masakan Yesha yang sangat nikmat dilidah semua orang.
"Mas, kemana sih pembantu rumah ini. Masak tuannya datang, rumah nggak ada orang. " Jihan berkata dengan nada kesal yang tak tertahankan lagi.
"Nanti mas tegur, dek. udah makan dulu, habis itu istirahat. "
Setelah makan siang selesai mereka menuju kamar masing-masing untuk istirahat, sesuai yang ditunjuk kan Abhi.
Abhi masuk ke dalam kamar utamanya, betapa tekejutnya Abhi melihat penampakan kamar utamanya itu, Seprei yang belum di rapikan dan banyak buku berserakan. Dia kemudian melihat isi lemari, makin meradanglah Abhi saat melihat ada beberapa pakaian wanita disana.
"Sial.. " geramnya.
Yesha juga tak habis pikir kenapa kamar utamanya jadi seperti ini. Yesha tak banyak bicara, sebenarnya ia juga sangat marah melihat semua ini. Dia lalu mencopot sprei dan menggantinya dengan yang baru. merapikan buku yang berserakan lalu menyimpannya ke dalam kardus. Abhi juga ikut membantu istrinya itu membersihkan kamarnya dari sampah yang mengisi kamarnya.
Jihan juga merasa geram, saat melihat kamar yang akan dia tempati berantakan seperti itu. Namun setelah mengatakan kepada kakaknya dan Yesha, Dia malah memintanya untuk membersihkan dulu kamar itu, dibantu Danu dan Aksa.
"Nanti, kita beri pelajaran kepada meraka. " kata Abhi dengan geram.
Setelah membersihkan kamarnya, Yesha memutuskan untuk mengunci semua pintu, termasuk pintu gerbang. Agar orang-orang tak tau diri itu tidak bisa masuk ke dalam rumah selama mereka beristirahat.
Karena acara bersih-bersih dadakan itu, mereka semua kelelahan dan akhirnya bisa tidur nyaman di tempat yang bersih dan rapi. Hingga waktu menjelang sore hari, Yesha mulai membuka katanya. Dilihatnya jam dinding, ternyata sudah jam empat. Lumayan kurang lebih dua jam mereka tertidur, itu bisa membuat tubuh mereka segar kembali.
__ADS_1
Yesha segera membersihkan tubuhnya setelah itu baru membangunkan suaminya agar segera mandi. Abhi menurut dan segera bergegas mandi tanpa drama manja seperti biasanya. Karena dia harus melakukan sesuatu kepada pembantunya itu.
Seperti biasa, Yesha langsung menuju dapur untuk membuat makan malam, makan malam yang sederhana saja menggunakan bahan seadanya di dapur. Jihan yang mencium aroma wangi masakan menusuk hidung nya langsung terbangun dan langsung menuju dapur tempat kakak iparnya memasak.
"Masak apa, mbak? " tanyanya ketika sudah berada di belakang Yesha.
Dan itu membuat Yesha berjingkat kaget.
"Jihan... bikin kaget aja. " Yesha mengelus dadanya yang berdebar kencang karena kaget.
Jihan si pelaku hanya cengengesan melihat kakak iparnya itu kaget.
"Mbak masak tumis kangkung, goreng tempe sama telur sama ada sambel juga. Habisnya di lemari es hanya ada itu. " kata Yesha yang meneruskan acara masaknya.
"Itu aja sudah enak mbak, aku mandi dulu ya. "
Yesha menghidangkan makanannya di meja, sedangkan yang lainnya sudah berkumpul di ruang keluarga. Mereka sedang memperhatikan CCTV yang Abhi pasang secara tersembunyi.
Dari sana mereka mengetahui kalau para pembantu nya itu bersikap seperti pemilik rumah ini, tanpa rasa sungkan atau bersalah sedikitpun.
"Mas denger deh, ada yang teriak-teriak di luar. " kata Jihan sambil memasang telinganya dengan seksama.
"Mungkin para pembantu nya mas. " Danu menimpali.
Abhi langsung beranjak dari kursinya dan segera keluar rumah. Dan benar, mereka bertiga berdiri diluar pagar dengan tampang memelas.
Abhi membuka pagar rumahnya dan menyuruh mereka masuk.
"Dari mana saja kalian, bukankah aku sudah memberi tau kalau aku akan datang kemari. " bentak Abhi dengan sorot mata tajamnya kepada dua pasangan paruh baya didepannya.
"Ma... maaf tuan, kami lupa. "
"Cih kamu bilang lupa tadi. Tapi anakmu tadi yang menyambut ku datang. Memangnya kalian dari mana sih. "
Kedua orang itu saling berpandangan, bingung akan menjawab apa.
"Dan apa yang kalian lakukan pada kamarku, kenapa banyak buku berserakan, pakaian perempuan, dan sprei yang berantakan. Apa kalian menempatinya, hah.! Lancang sekali kalian. Rupanya kalian punya nyali menghadapi aku. " bentak Abhi dengan sangat keras.
"Iya kamarku juga, " Jihan ikut memarahi dua orang itu dan anaknya yang tak tau malu.
"Kalian pikir ini rumah kalian apa, menempati kamar seenaknya keluar masuk rumah seenaknya. Inget, kalian itu cuma pembantu dirumah ini, nggak usah ngelunjak. Dan nggak usah berharap jadi cinderela. Karena itu hanya ada di dunia novel dan negeri dongeng. " Jihan marah sekaligus menyindir Sarah yang tidak tau malu itu.
"Maaf kan kami tuan. Kami akan bekerja dengan baik. Tolong beri kami kesempatan. " kedua suami istri itu memelas kepada Abhi
"Tidak ada kesempatan, sekarang pergi kalian dari rumah ini. Tanpa pesangon. Karena kalian sudah menikmati fasilitas rumah ini selama aku tinggalkan kan? " usir Abhi dengan kejam.
Glek... mereka bertiga tidak bisa berkata apa-apa lagi.
"Tapi tuan... " suami istri itu masih mencoba untuk mengiba.
"Tidak ada kata tapi, aku sudah berbuat baik kepada kalian, tapi kalian malah ngelunjak. Aku sebenarnya enggan mengungkit-ungkit hal ini. Tapi karena kalian sudah sangat keterlaluan, maka aku akan mengungkitnya. Anggap saja biayaku menyekolahkan anak kalian selama setahun itu, sebagai pesangon dari ku. Sekarang pergilah. Aku muak melihat wajah kalian bertiga. "
Abhi terlihat begitu marah, terlihat dari otot-otot dilengannya yang menonjol saat dia mengepal kan tangannya. Yesha juga tidak menyangka kalau suaminya yang lembut itu bisa berubah menjadi monster, sangat menakutkan.
__ADS_1
Aksa yang juga melihat papanya marah, langsung bersembunyi dibalik tubuh mamanya.