Demi Sebuah Kata Bakti (Kau Abaikan Anak Istri)

Demi Sebuah Kata Bakti (Kau Abaikan Anak Istri)
#S2 Dika 20


__ADS_3

Dus hari berlalu dan akhirnya hari yang ditunggu-tunggu Dika datang juga. Pagi hari, dia melihat Maira keluar kamar mandi dalam keadaan rambut basah , kemudian dia juga sudah melaksanakan salat subuh . Dalam hati Dika bersorak gembira karena akhirnya dia akan mendapatkan haknya nanti malam . Sedangkan Maira , dia tidak mengerti sama sekali Apa yang membuat Dika senyum-senyum sendiri sejak tadi pagi .


"Mas Dika kenapa ya ? Dari tadi pagi aku lihat Kok senyum-senyum sendiri . Aku Jadi curiga nih ." tanya Maira yang melihat Diks sedikit aneh hati ini.


"Apa sih May ? Aku hanya senang aja karena hari ini aku akan gajian. Gaji pertama yang akan kuberikan kepada istriku . Apa kau senang ? tanya Dika yang memberi alasan lain tentang sikapnya.


Maira tidak ingat kalau hari ini Dika gajian . Dia sangat antusias setelah mendengar kalau suaminya gajian hari ini .


"Jadi, beneran Mas Dika gajian hari ini ?" tanya Maira antusias.


"Iya , Apa kamu senang ?"


Maira mengangguk, dengan senyum lebar di bibirnya.


"Iya Mas , soalnya kemarin kemarin yang belanja kan masih ibu . Jadi aku sungkan untuk meminta sesuatu . Kalau aku sudah pegang uang belanja sendiri , aku bisa membeli sesuatu sesuai keinginan dan kebutuhanku .Tapi masih untuk kebutuhan rumah ini lho mas. " kata Maira yang tidak mau di anggap memanfaatkan keadaan.


Dika mengerti perasaan Maira , dia hanya membalas Maira dengan senyuman.


"Itu sudah hakmu nanti Mai, jadi pergunakan dengan baik kamu hanya perlu menjadi dirimu sendiri. Pergunakan sesuai kebutuhan dan simpan untuk tabungan jika masih ada sisa. Aku suka kamu seperti sebelumnya, memperhitungkan apapun yang dibutuhkan agar tidak mubazir . Aku suka dirimu yang seperti itu sederhana namun berkecukupan . " ujar Dika panjang lebar yang secara tidak langsung memuji istrinya.


"Minggu depan , ada acara ulang tahun perusahaan . Kamu nanti ikut ya, menemaniku. Aku sudah janji sama teman-teman kalau akan mengajak istriku untuk datang diacara itu." kata Dika sambil mengenakan kemejanya .


"Apa nggak apa-apa, Mas." tanya Maira


"Memangnya kenapa , kamu kan istriku lagi pula banyak kok yang mengajak keluarganya seperti anak dan istri mereka atau kekasih mereka ."


"Aku malu Mas, aku masih merasa tidak percaya diri, bertemu dengan rekan kerjamu. " Ujar Maira dengan menundukkan kepala .


"Kenapa mesti malu , istriku kan cantik masih muda lagi, mereka pasti iri padaku karena aku mendapatkan seorang gadis belia seperti ini ." Ujar Dika mencubit kedua pipi istrinya lalu menggoyangkan nya ke kanan dan ke kiri dengan tertawa lebar .


"Sudah pokoknya , minggu depan kamu harus libur jualan dan ikut denganku . Oke . " putus Dika.


Maira hanya mengangguk sebagai jawaban .


"Lalu aku pakai baju seperti apa Mas ? Karena aku tidak pernah datang ke acara seperti itu ."


"Besok atau besok lusa kita akan pergi ke toko , membeli baju yang cocok untukmu." ujar Dika.

__ADS_1


Lalu mereka berdua keluar dari kamar , setelah Dika siap untuk berangkat kerja .


Aku berangkat kerja dulu ya ? Kamu baik-baik di rumah bersama ibu . Pesan Dika setelah mencium kening Maira . Dia lalu pergi meninggalkan rumah untuk berangkat kerja . Sedangkan Maira kembali ke dalam rumah dan mulai berkutat dengan tugas-tugasnya sebagai seornag istri dan pekerjaannya .


Malam harinya ,


Setelah selesai berjualan Maira langsung masuk ke dalam kamar . Kemudian mandi , karena dia tahu hari ini suaminya itu pasti akan minta haknya . Oleh karena itu , dia ingin mempersiapkan dirinya untuk tampil cantik dan wangi untuk suaminya . Tidak berbau penggorengan seperti biasanya.


Dika yang melihat istrinya masuk ke dalam kamar , tidak langsung ikut masuk karena dia ingin berbincang dulu dengan ibunya


"Bu mulai besok , aku akan memberikan gajiku untuk istriku . Apa Ibu benar tidak keberatan ? " Tanya Dika memastikan .


"Ibu tidak apa-apa Dik , Ibu juga sudah tua untuk mengurus semua ini . Sebenarnya Ibu juga tidak ingin direpotkan dengan urusan rumah tangga lagi . Biarkan istrimu yang membantumu mengelola rumah tangga ini , Ibu tidak akan ikut campur lagi . Sungguh Ibu tidak apa-apa ." Ujar Bu Ayu yang meyakinkan anaknya .


Dika lalu memeluk ibunya , "Terima kasih Bu , Terima kasih karena Ibu sudah mau berubah sehingga aku mendapatkan sosok pendamping di dalam hidupku . Meskipun aku belum Mencintainya , tapi aku masih belajar untuk menerimanya dalam hidupku ." Kata Dika yang sebenarnya ragu , Apakah dia sudah mencintai Maira atau belum Mencintainya . Karena fia sudah merasa nyaman saat bersama istrinya.bDia akan membuktikannya malam ini .


"Kalau begitu aku masuk ke dalam kamar dulu . " Pamit jika kepada ibunya


"Ya sudah kamu masuk sana , Ibu juga mau istirahat . " Bu Ayu juga beranjak dari duduknya menuju kamarnya .


Dika langsung mendekat ke arah kamar mandi , untuk memastikan Apakah istrinya yang berada di dalam .


"Mai apa kamu di dalam ," tanya Dika sedikit berteriak .


"Iya Mas , aku masih buang air kecil .' Jawab Maira dari dalam kamar mandi . Dika lalu membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur sambil memainkan ponselnya .


Tak lama berselang , pintu kamar mandi terbuka . Dan Maira keluar dengan wajah yang segar dan tubuh yang sudah wangi . Dia Lalu mendekati Dika , yang sedang berbaring .


"Mas Dika ngapain ?" Tanya Maira yang sangat basa-basi .


Dika langsung mendongak setelah mendengar suara Maira dan melihat wajah Maira yang benar-benar terlihat menggairahkan malam ini .


"Duduklah di sini ." ujar Dika menepuk-nepuk tempat di sampingnya .


Maira menurut dan duduk di samping Dika.


"Apa kamu mandi?" tanya Dika yang melihat rambut Maira yang basah .

__ADS_1


"Iya Mas , biar kelihatan segar dan wangi ." Kata Maira malu-malu


Dika mengernyitkan keningnya , tidak mengerti maksud Maira .


"Maksud kamu ?"


"Katanya Mas Dika mau .... " Maira menggantungkan ucapannya .


Mendengar itu membuat Dika membulatkan matanya .


"Mai, apa benar kamu sudah siap? "


Maira hanya menganggukkan kepala sebagai jawaban kepada Dika .


Mendapat lampu hijau dari istrinya , Dika langsung memeluknya dengan erat. Setelah pelukan itu terlepas , Dika lalu mengikis jaraknya dari Maira . Hingga bibir mereka menyatu . Dika menyesap bibir kenyal dan lembut Maira atas dan bawah. Dan kini Maira mulai bisa membalas ciuman dari Dika, setelah beberapa kali Dika mengajarinya les privat tentang berciuman. Kini Maira bukanlah seorang amatir.


Ciuman yang awalnya biasa saja berubah penuh gairah, saat keduanya menginginkan hal yang lebih. Dengan perlahan Dika membaringkan tubuh Maira. Dia memandang wajah cantik Maira yang polos tanpa sapuan make up. Benar-benar cantik alami.


Dia lalu mencium kembali bibir Maira. Tapi kini tidak hanya di bibir, ciuman itu turun ke leher dan telinga Maira. Maira menggeliat kegelian saat Dika bermain main di sana. Karena ini baru pertama kalinya dia melakukan hal itu dengan suaminya. Tangan Dika yang nakal pun juga tidak tinggal diam. Dia mulai membuka baju tidur yang di gunakan Maira. Membuat Maira sangat malu dibuatnya.


Dika tertegun melihat pemandangan indah di depan matanya. Dia tidak pernah menyangka ada tubuh seindah dan semulus ini di balik pakaian yang dipakai istrinya sehari-hari. Sungguh menggoda iman Dika yang sudah lama tidak menjamah tubuh seorang wanita. Maira yang diperhatikan Dika secara intens merasa sangat malu. Dia menutupi tubuhnya yang setengah naked dengan kedua tangannya. Tapi itu percuma karena tidak bisa menutupi tubuhnya dengan sempurna.


"Mas, jangan melihatku seperti itu. Aku malu. " cicit Maira.


Dika lalu menyingkirkan tangan Maira yang menghalangi pemandangan itu, dan menariknya keatas. Dia lalu memulai aksinya lagi. Memberikan rangsangan untuk istrinya sebelum mereka melakukan kegiatan intinya. Dan tanpa terasa mereka sudah tak memakai sehelai benangpun. Hingga akhirnya Dika ingin memasukkan miliknya.


Sebuah pekikan tertahan keluar dari mulut Maira. Dika langsung mencium bibir Maira, agar Maira merasa relaks. Dan di mulailah malam pertama mereka malam itu. Setelah Dika bersabar menunggu selama beberapa hari. Akhirnya dia buka puasa juga setelah tiga tahun.


Dika hanya melakukannya sekali malam itu, karena dia tidak ingin istrinya kelelahan karena melayaninya. Dia juga tidak mau Maira merasa sakit, karena ini adalah pengalaman pertama bagi sang istri. Biarlah walau sehari sekali atau dua kali, yang penting bisa rutin setiap hari. Pikir Dika saat itu.


Setelah mendapatkan pelepasan, Dika lalu mengecup kening istrinya dan mengucapkan.


"Terimakasih."


Maira tidak menjawab, dan hanya membalasnya dengan tersenyum. Karena dia masih mengatur nafasnya yang tersengal.


Dika lalu menjatuhkan tubuhnya di samping Maira. Lalu menyelimuti tubuh polos mereka berdua. Dika lalu memeluk tubuh polos istrinya itu. Dan mereka berdua akhir nya berselancar ke alam mimpi, setelah melakukan tugas sucinya.

__ADS_1


__ADS_2