Demi Sebuah Kata Bakti (Kau Abaikan Anak Istri)

Demi Sebuah Kata Bakti (Kau Abaikan Anak Istri)
Fakta


__ADS_3

"M.. Ma... Mario? "


Ucapan Maya tergagap saat melihat foto itu, Dia langsung berdiri dan menatap pada pria yang sudah bertabrakan dengan dirinya tadi. Dengan ragu Maya mengangkat wajahnya untuk melihat sosok tinggi tegap di depannya. Namun saat mata mereka bertemu dan saling mengunci, Maya tidak bisa menahan lelehan air matanya. Begitu juga dengan Mario yang sudah menatapnya dengan mata berkaca-kaca.


"Ma... Ma... Mario... "


"Maya.... "


Mario langsung menarik Maya masuk ke dalam pelukannya, dia tidak memperdulikan tatapan semua orang yang sedang menyaksikan drama pertemuan dua orang kekasih yang sudah lama tidak bertemu.


"Mario, jangan disini. Nggak enak dilihatin banyak orang. " Ujar Maya yang masih punya malu.


Mendengar itu, Mario langsung melepaskan pelukannya dan menggandeng tangan Maya untuk keluar dari sana, dan mengajaknya masuk mobil. Tapi di tolak Maya, karena dia tidak tega jika harus meninggalkan anaknya di tempat kost sendirian lagi seperti waktu itu.


"Jangan Mario, aku punya anak yang harus aku jaga. " ujar Maya yang menolak diajak masuk ke mobil oleh Mario.


Mario jadi ingat sesuatu benar, Maya masih punya anak yang masih kecil dan tidak boleh di tinggal terlalu lama.


"May, kita harus bicara. "


Maya mengangguk, dan dia mengajak Mario untuk ke tempat kost nya, dimana di sana ada tempat untuk menerima tamu bagi penghuni kost.


Mereka berdua akhirnya duduk berdua dan saling terdiam. Tidak ada yang angkat bicara saat itu. Karena mereka masih sibuk dengan pikiran mereka masing-masing.


"May... "


"Mario... "


Ucap mereka bersamaan setelah sekian lama terdiam.


"Bagaiman kabarmu May?" tanya Mario akhirnya yang akan memulai obrolan.


"Seperti yang kau lihat, seperti ini. " jawab Maya apa adanya.


"Setelah empat tahun, aku mencarimu May. Tapi kamu nggak ada. Orangtuamu juga nggak ada? Aku bingung mau mencarimu kemana, sampai aku dengar kamu sudah menikah. "


"Kenapa May, kenapa kau ingkari janjimu. Kenapa kamu menikah dengan pria lain dan tidak menunggu ku?" kata Mario dengan penuh emosi malam itu


"Aku terpaksa, Mario. " jawab Maya singkat.


"Terpaksa....terpaksa kenapa?


" Aku harus menikah dengan orang yang tidak aku cintai, untuk membayar hutan judi bapakku kepada pria itu. Dan aku terpaksa menerimanya karena aku membutuhkannya. "


"Kamu bisa kabur kan,, May? " Mario memberikan pendapatnya. Tapi Maya malah menggeleng.


"Aku harus menikah dengannya walau terpaksa, dan membutuhkan pria itu. "


"Apa maksud kamu, kamu merimanya karena membutuhkan pria itu. " tanya Mario tidak mengerti dengan jalan pikiran Maya.


"Aku hamil, saat itu Mario. "


"Ha... hamil... hamil anak siapa? " tabya Mario dnegan ragu.

__ADS_1


"Tak perlu kau tanyakan anak siapa. Karena hanya ada satu orang yang telah mengambil semuanya dariku, yaitu kamu." jelas Maya.


"Tapi aku hanya melakukannya sekali... "


"Dan mengeluarkannya berkali-kali."


Mario langsung terdiam mendengar semua fakta yang Maya katakan.


"May, aku... "


"Tak perlu merasa bersalah Mario, mungkin ini adalah karma yang harus aku petik karena tidak bisa menjaga diriku dengan baik. "


"May, maafkan aku. Aku sungguh tidak tau kalau kenakalan kita akan membuat mu menderita. Maafkan aku. " Ucap Mario penuh sesal.


"Tak ada yang perlu dimaafkan. Semua sudah terjadi. " Maya sambil menghapus air mata dipipinya.


"May, kalau dulu aku tidak bisa bertanggung jawab kepadamu. Bisakah saat ini aku bertanggung jawab padamu? " kata Mario dengan menghapus air mata Maya.


"Aku masih mencarimu, sampai saat ini dan akhirnya aku bisa menemukanmu, May. Aku masih memegang janjiku, kalau aku akan menikahimu. Kecuali kalau kau sudah menikah dan bahagia dengan pria lain. Maka aku akan melepas janji itu. "


"Tapi, aku sudah pernah menikah.... "


"Dan sekarang kau janda kan? Maka aku akan menerima jandamu. " ujar Mario dengan penuh keyakinan.


"Tapi Mar.... "


"Ibu..... "


Arum datang mendekati Maya dan Mario dengan membawa buku PRnya.


"May.... " Mario bertanya pada Maya dengan tatapan matanya dan dijawab Maya dengan anggukan kepala.


Sungguh, jika diperhatikan dengan seksama wajah Arum adalah perpaduan dari wajah Mario dan Maya. Tidak ada celah sedikit pun milik orang lain.


"Arum, kenalkan dia om Mario teman Ibu. Mario dia Arum. " Maya mengenalkan Arum pada mario, dan sebaliknya.


Arum segera mengulurkan tangannya untuk mencium tangan teman ibunya, tapi tak disangka Mario malah langsung memeluk Arum begitu saja. Yang tentu saja itu membuat Arum takut.


"Ibu.... "


"Mario... "


Mario yang sadar karena telah membuat anaknya takut pun langsung melepaskan pelukannya.


"Maafkan Om, Arum. " kata Mario dengan rasa bersalah, karena telah membuat Arum takut sampai bersembunyi di belakang tubuh ibunya.


"Pelan-pelan Mario. Aku harus bicara pada Arum dulu. " ujar Maya, sambil menenangkan anaknya yang ketakutan.


"Ibu ayo kembali. " Arum menarik baju ibunya agar mau kembali kekamar bersamanya.


"Arum kembali ke kamar dulu ya? Ibu akan bicara dengan om Mario dulu. Ibu akan menyuruhnya pulang. "


Arum mengangguk, dan langsung berlari masuk ke dalam kamarnya.

__ADS_1


"May... maafkan aku. "


"Tidak apa-apa. Aku mengerti perasaanmu. Aku akan mengatakan semuanya pada Arum, dengan pelan dan perlahan. Agar dia mau menerimamu sebagai ayahnya. "


"Tapi May, apa tidak apa-apa? "


"Meskipun usianya masih kecil. Tapi Arum bisa berfikir dewasa. Buktinya dia yang menyuruhku menolak pria yang tadi di rumah makan. Karena dia tidak mau kembali ke rumah mantan ibu mertuaku. "


"Maksudmu..."


" Dulu pria itu adalah adik iparku. Dia bercerai dengan istrinya karena sikapnya yang buruk kepada keluarga nya. Dan aku bercerai dengan suamiku. Aku tidak tau apa yang dia pikirkan sehingga memintaku menikah dengannya. Tapi Arum menolak dengan keras dan tidak mau kembali kepada keluarganya. "


"Jadi pria itu, Dika. Ya, Tuhan. kenapa tadi akuu tidak mengenali nya. "


"Kamu kenal Dika? "


"Tentu saja, dia kan kerja di kantorku juga. Aku adalah asisten tuan Abhi. otomatis Dika adalah bawahan ku. " ucap Mario dengan sombong.


"Cih... Sudah malam, pulanglah. Ada yang harus aku sampaikan pada Arum setelah ini. agar dia menerimamu sebagai ayahnya. "


"Tapi, apakah kau juga akan menerima ku? karena Aku juga membutuhkanmu May. "


"Jika Arum menerimamu, maka aku juga akan menerimamu. Tapi jika Arum menolakmu maka aku juga akan menolakmu. Aku tidak bisa mengabaikan perasaan anakku. Jadi berdoalah. "


Mario mengangguk pasrah, memang benar apa yang dikatakan Maya. Semua Arum yang menentukan.


"Aku pulang dulu. Tapi sebelum itu aku meminta nomor ponselmu, agar aku mudah menghubungimu. "


Mereka lalu bertukar nomor ponsel. Setelah itu Mario berpamitan kepada Maya. Dan mencuri sebuah ciuman singkat di pipinya.


"Mario.... " pekik Maya tertahan. Karena ia merasa malu saat Mario menciumnya, apalagi ada satpam yang melihat mereka.


Tanpa rasa bersalah Mario segera meninggalkan Maya dan menemui satpam, kemudian memberinya beberapa lembar uang.


"Titip Maya sama Arum ya pak. "


"Mas ini apanya mbak Maya. "


"Saya calon suaminya. Mungkin tidak lama lagi saya akan menikah dengannya. "


"Tapi yang kemarin?"


"Oh, dia itu orang yang mendekati Maya, tapi maya tolak. Karena. Maya lebih mencintai saya daripada pria itu. "


"Oke, deh mas. Saya akan jaga mbak Maya untuk sampean."


Mario tersenyum penuh kemenangan. "Dan kalau ada pria lain yang mencari Maya selain saya, tolong dilarang ya, pak. "


"Siap. "


Mario pun akhirnya meninggalkan tempat kost Maya dengan hati yang berbunga-bunga.


"Maya... semoga kamu menerimaku lagi. "

__ADS_1


Tanpa mereka sadari sedari tadi Arum mengintip keluar, dia juga tau apa yang terjadi saat Mario mencium ibunya.


__ADS_2