Demi Sebuah Kata Bakti (Kau Abaikan Anak Istri)

Demi Sebuah Kata Bakti (Kau Abaikan Anak Istri)
Shock Therapy


__ADS_3

"Assalamu'alaikum... "


Suara salam itu terdengar dari gadis ceria yang memasuki rumah Yesha. Seperti biasa, dia akan meminta jatah makan tiga kali sehari di rumah Yesha


"Wa'alaikum salam. Jihan, ayo masuk. "


"Assalamu'alaikum, pak. " sapa Jihan kepada bapaknya Yesha yang tengah menikmati kopi diruang tamu.


"Wa'alaikum salam nak, Jihan. Masuk sana. " balas Pak Pram dengan senyumannya.


Jihan pun masuk, ke ruang makan. Disana sudah tersaji makanan untuk Jihan nikmati.


"Mbak, bapak sama ibu mbak Jihan apa sudah makan? "


"Sudah tadi makan sama Aksa. Emangnya kenapa? "


"Ya sudah kalau gitu mbak, Aku takut bapak sama ibunya mbak Yesha belum makan, dan makan sisaku nanti. "


"Jangan mikir gitu Jihan, mbak selalu menyiapkan makanan secukupnya untuk di makan. Jadi tidak ada makanan sisa. Mbak selalu menakar seberapa kebutuhan makan tiap orang. Bukannya perhitungan, tapi untuk membiasakan diri agar makan secukupnya dan tidak berlebihan. " Jelas Yesha.


Jihan mengangguk mengerti.


"Seperti contoh porsimu saat ini, apakah ini cukup untuk mengisi perutmu di pagi hari? "


"Cukup mbak, takaran mbak Yesha selalu pas. " kata jihan sambil menyatukan jari jempol dan telunjuknya membentuk huruf O.


"Baguslah kalau begitu. "


Yesha menemani Jihan makan agar dia tidak sungkan karena ada kedua orang tuanya di sana. Mereka juga membicarakan pendaftaran mahasiswa baru, yang akan diikuti Danu.


"Dan, makan sini sama Jihan. " Yesha memanggil adiknya yang baru pulang mengantar Aksa sekolah.


Dan menurut dan langsung ikut makan bersama Jihan.


Mereka berbincang seputar dunia perkuliahan yang akan Danu masuki, karena Yesha sendiri awam akan hal itu dia hanya lulusan SMA. Sekolah menengah atas yang selalu dihina mantan ibu mertuanya itu. Mengingat mantan ibu mertuanya Yesha jadi bertanya-tanya, bagaimana keadaan keluarga itu saat ini.


Jihan segera berpamitan ke kampus setelah menyelesaikan sarapannya. Sesampainya di kampus dia langsung menghubungi mamanya, karena ada yang ingin dia katakan pada mamanya itu.


"Assalamu'alaikum, ada apa Jihan. "


"Wa'alaikum salam, ma. Ada yang mau Jihan omongin sama mama, ini tentang rencana Jihan waktu itu ma. "

__ADS_1


"Katakan, mama sudah penasaran ini. "


"Mama Buat acara makan malam di rumah mbak Yesha, nanti papa juga suruh hadir ma. "


Mendengar rencana Jihan itu membuat mama Erina mengernyit keningnya tidak mengerti.


"Maksudnya gimana ya Jihan. "


Jihan lalu menceritakan rencananya kepada mamanya. Mama Erina langsung tersenyum lebar mendengar rencana Jihan itu.


"Pokoknya nanti mas Abhi datang atau nggak datang, yang penting kita makan-makan dulu. Kalau mas Abhi datang itu bonus buat kita ma.


"Oke, mama Setuju. Mama ikut rencana licikmu ini Jihan. Mama Akan menghubungi Yesha, setelah Yesha setuju, mama akan langsung belanja buat acara besok.


" Oke ma. Jihan akan bikin shock therapy buat mas Abhi, biar dia nggak sok-sokan ngilang mulu. Tiap ada masalah kok sukanya ngilang kayak bocil aja. Disini siapa sebenarnya yang udah dewasa dan masih bocah. " dumel Jihan dengan segala kekesalannya.


Telpon pun di tutup dia langsung masuk kelasnya untuk mengikuti mata kuliah hari ini.


Mama Erina dengan semangat langsung menghubungi Yesha. Dia akan mengikuti rencana Jihan. Berharap Abhi akan datang besok. Mama Erina pun langsung mengatakan maksud nya menghubungi Yesha, dia ingin mengadakan makan malam dirumah yesha bersama suaminya dan Jihan. Sebagai reuni lah, teman lama yang bertemu kembali.


Yesha menyetujui rencana mama Erina itu, Besok dia akan menunggu mama Erina dan pak Pradipta datang untuk makan malam bersama. Sedangkan siangnya mama Erina akan datang untuk membantu Yesha dan bu Hasna masak makan malam bersama. Pasti seru.


*


Abhi sendiri makin terpuruk, dia merasakan rindu dan ingin sekali melihat wajah Yesha dengan segala kelembutannya. Kemarin-kemarin dia masih bisa melawan rasa rindu itu, karena dia masih mendapatkan bekal makan siang dari Yesha. Tapi sekarang, sudah dua hari ini Yesha tidak mengirim bekal makan siang untuknya.


" Apakah benar aku mencintainya? Merasa rindu saat berjauhan, merasa gusar saar tidak menerima kabar. Itu yang dikatakan google. " Abhi setiap hari mempertimbangkan perasaan nya ini tapi dia masih ragu.


Dia masih merasakan takut. Takut dihianati setelah jatuh cinta. Sepertinya dia terlalu banyak berfikir.


Abhi mengambil kunci mobilnya, dan segera melajukan mobil ke kantornya. Ini sudah jam makan siang, dia berharap Yesha kali ini mengirimi nya makan siang. Tapi setelah sampai di kantornya, Zonk. Tidak ada bekal makan siang lagi hari ini. Abhi berjalan gontai keluar dari kantornya menuju mobil dan pergi meninggalkan kantornya itu dengan tangan hampa.


"Kenapa dia tidak memberiku bekal makan siang? Apa yang terjadi padanya? Apakah dia sakit? " gumamnya dalam hati.


Abhi melajukan mobilnya menuju rumah makan Yesha, dia akan memantau Yesha dari jauh. Dia ingin melihatnya walau sebentar saja untuk mengobati rasa rindunya. Abhi memarkirkan mobilnya agak jauh dari rumah makan Yesha, Dia terus melihat ke arah rumah makan Itu terlihat Yesha sedang melayani pengunjung yang datang. Seutas senyum terukir indah di bibir Abhi saat melihat Yesha dengan senyum ramahnya melayani pembeli.


Namun senyuman itu pudar saat seorang pria berwajah tampan menghampiri nya dan mengajak Yesha berbincang. Mendidih hati Abhi dirasakannya. Dia tidak terima jika ada pria lain yang dekat dengan Yesha. Sejurus dia teringat pesan mbah google, "merasa cemburu saat melihat si dia dekat dengan lawan jenisnya. "


Deg...


"Apakah ini yang di sebut cemburu? Apakah aku cemburu? " Abhi mencoba mengenali perasaannya itu.

__ADS_1


Saat Abhi Sedang bergelut dengan perasaan nya, Jihan tersenyum menang. Karena dia melihat mobil kakaknya sedang berada di sana tak jauh dari rumah Yesha. Jihan Yakin, kakaknya saat ini sedang kelimpungan karena melihat Yesha dekat dengan pria lain.


*


Keesokan harinya, mama Erina sudah berada di rumah Yesha setelah belanja di pasar. Dia akan membantu Yesha memasak untuk acara makan malam nanti. Jihan yang tidak ada jadwal kuliah hari ini meminta tolong kepad Danu untuk mengantarkannya ke suatu tempat.


Danu menyetujuinya, sekalian dia ingin jalan-jalan di kota besar. Jihan sampai di kantor kakaknya itu, dan menitipkan sebuah pesan untuk diberikan kepada kakaknya. Setelah itu dia kembali ke rumah Yesha untuk membantu persiapan di sana.


Sesuai prediksi Jihan. Siang itu seperti biasa, Abhi datang ke kantornya untuk mengambil bekal makan siangnya. Tapi sama seperti kemarin, Abhi tidak mendapatkan bekal makan siangnya. Saat dia akan pergi dari kantornya, suara resepsionis memanggilnya.


"Pak Abhi...ini ada pesan dari seorang gadis tadi. Saya di suruh memberikannya ke Pak Abhi langsung. Katanya ini sangat penting. " kata resepsionis itu, memberikan sepucuk surat kepada Abhi.


"Terimakasih, " Abhi langsung memasukkan surat itu ke sakunya, tanpa berniat membacanya.


Dia langsung melajukan mobilnya menuju apartemen. Rasanya kesal sekali. Sudah empat hari ini Yesha tidak mengiriminya makan.


"Apakah dia lupa dengan perjanjiannya. Atau karena pria yang kemarin. " gerutunya.


Mengingat hal kemarin membuat Abhi uring-uringan sepanjang hari. Dia tidak berselera makan atau sekedar minum susu.


Abhi sampai di apartemennya, dan langsung merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Dia ingin mengistirahatkan tubuh dan pikiran nya kali ini. Dia tidak ingin memikirkan Yesha hari ini, karena dia masih sangat kesal kepada nya.


"Kenapa aku kesal padanya, sedangkan dia tidak melakukan apapun padaku. Bodoh. " Abhi masih berperang dengan pikiran nya hingga ia terlelap.


Pukul lima sore, Abhi terbangun dari tidur siangnya yang kesorean. Dia membuka semua pakaiannya, hendak membersihkan diri. Namun sebuah kertas jatuh dari saku kemejanya. Abhi melihat kertas itu, lalu membuka isi pesan di dalamnya.


Mata Abhi membulat saat membaca pesan yang dikirimkan adiknya itu.


"Mas, mas Abhi nggak pulang. Malam ini kami sekeluarga di undang mbak Yesha untuk menghadiri acara pertunangannya. Ada mama dan papa juga ikut hadir di sana.


Apa mas Abhi tidak akan datang?


Kalau mau datang di tunggu ya mas, acaranya jam tujuh malam. "


Sebuah pesan yang membuat jantung Abhi berpacu dengan kencang. Keringat dingin keluar dari keningnya.


"Nggak... nggak boleh... Yesha, nggak boleh menikah dengan orang lain. Yesha hanya akan menikah denganku. Aku akan membatalkan pertunangan mereka. " kata Abhi dengan segala kegundahan hatinya.


Abhi segera membersihkan dirinya, dan segera berganti pakaian. Dia memakai pakaian santai tapi sopan, khas seorang Abhi. Sebelum berangkat dia menjalankan ibadah maghribnya untuk menenangkan diri, dan meyakinkan dirinya lagi.


Setelah menjalankan ibadah maghribnya, Abhipun segera melesatkan mobilnya menuju rumah Yesha dengan tenang, dia membawa jawaban dan satu keyakinan dalam hatinya.

__ADS_1


__ADS_2